Sup ayam itu hampir matang ketika Alin sadar tangannya sama sekali tidak gemetar, dan itu yang paling mengherankannya.
Selama enam hari ia membawa surat keterangan dari pengadilan di dalam tasnya, dan selama enam hari pula ia memperhatikan suaminya tidur di ruang kerja. Rafa tidak bertanya mengapa ia sering melamun. Alin tidak bertanya mengapa Rafa pulang makin larut dan berbicara pada ponselnya dengan suara yang diredam. Mereka makan bersama dalam diam yang sopan, saling menyodorkan garam, saling mengucapkan terima kasih, seperti dua tamu di sebuah penginapan yang kebetulan menempati kamar bersebelahan.
Sejak Kamis sore ia sendirian di dapur. Ia sudah meminta asisten rumah tangganya pulang lebih awal dengan alasan ingin memasak sendiri, dan perempuan itu tadi menatapnya sebentar, mengerti lebih banyak daripada yang ingin diakui, lalu pamit.
Selama enam hari itu pula ia menimbang apa yang sebenarnya ia inginkan. Bukan hukuman. Ia sudah memeriksa dirinya dan tidak menemukan keinginan menghukum siapa pun, sebuah penemuan yang membuatnya heran sekaligus sedikit malu. Yang ia inginkan hanya satu: mendengar Rafa mengatakannya dengan mulutnya sendiri, tanpa dikoreksi, tanpa diperhalus. Karena kalau Rafa tidak bisa mengatakan kebenaran kepadanya di meja makan, lelaki itu tidak akan pernah bisa mengatakannya kepada siapa pun.
Alin menata meja makan sendirian. Dua piring, dua gelas, sup ayam yang ia masak setengah hati. Di sisi piringnya sendiri ia meletakkan dua benda: salinan akta cerai dari tangan ayahnya, dan surat keterangan dari pengadilan agama. Ia menyejajarkan keduanya dengan ujung jari sampai tepi kertas lurus sempurna.
Pukul tujuh lewat, bunyi mobil. Pintu depan. Langkah Rafa yang berat.
"Lin?" Ia muncul di ambang ruang makan dengan jas tersampir di lengan, dan matanya jatuh pertama pada dua piring, lalu pada sup, lalu pada kertas-kertas. Ia berhenti.
"Duduk, Mas."
Rafa menaruh jasnya di sandaran kursi. Ia duduk perlahan. Alin mendorong dua kertas itu melintasi taplak sampai berhenti tepat di depan piringnya.
"Yang kiri akta cerai dari Mama. Yang kanan surat dari pengadilan agama. Kamu boleh baca keduanya."
Rafa membaca. Alin memperhatikan wajahnya, bukan mata yang bergerak dari baris ke baris, tetapi bagian bawah matanya, tempat kulit mengendur sedikit demi sedikit. Ia tidak terkejut. Ia hanya lelah, seperti orang yang sedang membaca hasil pemeriksaan yang sudah lama diprediksi.
"Kamu sudah tahu," ujar Alin.
"Aku curiga."
"Sejak kapan?"
"Sejak ...." Rafa meletakkan kertas itu. "Sejak kamu minta melihat suratnya. Aku tidak berani bertanya pada Mama dua kali."
"Jadi surat itu tidak pernah ada."
"Aku tidak pernah menjatuhkan talak." Suaranya datar, nyaris kosong. "Aku tidak pernah mengajukan gugatan. Tidak ada sidang. Tidak ada panggilan. Aku tidak menandatangani apa pun. Mama bilang akan mengurusnya, dan aku ...." Ia menelan ludah. "Aku membiarkan Mama mengurusnya. Aku berharap urusannya selesai tanpa harus aku tahu bagaimana."
Alin mendengarkan, dan sepanjang itu ia menatap tangan Rafa di atas meja, jari-jari yang ia kenal lebih baik daripada wajahnya. Jari yang melingkar di cincin yang ia pasangkan sendiri di hari akad mereka.
"Kamu tahu apa artinya itu, Mas?"
"Aku tahu."
"Katakan."
"Artinya ...." Rafa menarik napas. "Artinya dia masih istriku secara hukum."
"Dan aku?"
Ia tidak menjawab.
"Katakan, Mas. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu, bukan dari kertas."
"Pernikahan kita ...." Suaranya pecah, dan ia berhenti sampai bisa melanjutkan. "Cacat, Lin. Maaf."
Hening menjadi benda yang bisa dirasakan. Jam dinding berdetak, dan dari dapur terdengar air menetes dari keran yang tidak rapat.
Alin tidak menangis. Ia sudah menangis di mobil, di depan pengadilan agama, sendirian, sampai tidak ada lagi sisa air. Yang tinggal sekarang adalah kejernihan dingin yang aneh.
"Kenapa kamu menikahi aku?" tanyanya. "Aku bertanya bukan karena ingin tahu apakah kamu mencintaiku. Aku sudah tahu jawabannya sejak hari akad kita, ketika kamu tersenyum kepada semua tamu dan tidak sekali pun kepadaku. Aku bertanya, kenapa kamu mau."
"Aku tidak bisa menjawab itu malam ini."
"Berarti jawabannya buruk." Alin mengaduk supnya sekali, lalu meletakkan sendok. "Perempuan itu. Qenna. Apa dia tahu soal kita?"
"Aku tidak tahu apa yang dia tahu."
"Kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah bertanya, dan dia tidak tahu karena kamu tidak pernah memberi tahu." Alin menatapnya. "Enam bulan lebih, Mas. Enam bulan lebih seorang perempuan berpikir dia sendirian, dan kamu tinggal di rumah yang sama denganku dan membuka foto-fotonya diam-diam. Jangan kira aku tidak tahu."
Rafa memucat. "Lin ...."
"Aku tidak marah soal foto itu. Aku marah karena tidak ada satu pun orang di keluarga ini yang pernah memikirkan perasaannya."
"Lin ...."
"Ayahku datang malam pernikahan kita dan memelukmu dan berkata, 'Terima kasih sudah menjaga anak saya.'" Alin menarik napas, dan suaranya akhirnya bergetar, sedikit saja. "Kamu tahu, Mas, aku tidak keberatan kamu pernah mencintai orang lain. Aku bahkan tidak keberatan kamu belum mencintaiku. Tapi kamu membiarkan aku masuk ke sebuah rumah tangga yang pintunya sudah dikunci dari dalam oleh perempuan lain, dan kamu tidak pernah bilang."
"Aku tidak ingin menyakitimu."
"Kamu tidak ingin menyakiti siapa pun, makanya semua orang tersakiti." Ia mengatakannya tanpa teriak. "Kamu bukan penipu, Rafa. Aku sudah memikirkan ini enam hari. Penipu itu punya rencana. Kamu bukan itu. Kamu pengecut. Dan aku menikah dengan seorang pengecut yang tidak kukenal."
Rafa menatapnya. Wajahnya putih. Mulutnya terbuka dan tidak ada satu pun kata yang keluar, sebab kata yang pantas tidak ada.
Alin berdiri. Kursi berderit. Ia tidak membawa kertas-kertas itu; ia membiarkannya di atas meja, tepat di depan Rafa, seperti barang bukti yang kini menjadi milik orang lain.
"Aku akan pulang ke rumah Papa. Jangan antar. Jangan telepon dulu."
"Lin, tunggu. Aku akan ...."
"Jangan bilang akan." Ia menoleh dari ambang pintu, dan untuk sepersekian detik wajahnya melunak. "Mas, aku tidak membencimu. Itu yang paling menyedihkan."
Tak lama kemudian terdengar bunyi koper yang diseret di tangga, pintu yang dibuka dan ditutup, dan mesin mobil menyala lalu pergi. Rafa duduk di meja dengan dua piring penuh yang tidak disentuh dan sup yang mengepul makin tipis.
***
Ia tidak tahu berapa lama ia diam. Ketika akhirnya ia bergerak, tangannya sudah mengambil ponsel, jari-jarinya menekan nomor yang paling ia hafal sejak kecil.
Mama Jamilah menjawab pada dering kedua. "Rafa? Ada apa malam-malam?"
"Alin pergi, Ma."
"Pergi ke mana?"
"Ke rumah Pak Hendro. Dia sudah ke pengadilan agama. Dia tahu tidak ada surat itu."
Hening sebentar di seberang. Rafa membayangkan wajah ibunya, rahang yang mengeras, mata yang menyipit menghitung. Ia menunggu kemarahan, atau pembelaan, atau tuduhan.
Yang datang justru sesuatu yang lebih dingin dan lebih tenang.
"Surat itu dari mana, Ma?" Rafa memotong. "Aku mau tahu sekarang. Akta cerai itu, nomor perkaranya milik perkara orang lain."
"Besok kita bicara. Bukan lewat telepon."
"Ma."
"Besok, Rafa." Napas Mama terdengar sekali, panjang. "Dengar. Alin sedang emosi. Orang yang marah itu tidak bisa diajak bicara. Biarkan dia di rumah ayahnya satu dua hari, nanti dia sendiri yang bosan."
Rafa menatap dua piring penuh itu. "Dia tidak pergi karena emosi, Ma."
"Sudah, jangan panik." Suara Mama Jamilah stabil, hampir lembut. "Dia akan kembali. Dia mencintaimu, Rafa."