Alamat itu ia temukan dalam sepuluh menit, hanya dengan mengetik nomor telepon ke kolom pencarian.
Sebuah panti asuhan di jalan kecil pinggiran kota, gang kedua sesudah masjid. Alin duduk di kursi mobilnya yang diparkir di bawah pohon rindang, jauh dari pagar, dengan ponsel di pangkuan dan degup yang terlalu cepat. Sudah sebelas hari ia di rumah ayahnya. Sebelas hari ia makan di meja yang sama dengan masa kecilnya, tidur di ranjang yang sama, dan setiap malam ia melihat langit-langit yang sama dan bertanya pada dirinya sendiri hal yang sama: apakah perempuan itu tahu bahwa ada orang lain yang kini ikut menanggung kebohongan ini?
Ayahnya sudah melarang. Alin tidak menjawab larangan itu. Ia hanya tidak membuang kertas berisi nomor itu.
Senin siang, ia turun.
Pagar panti terbuka. Halamannya bersih, ada pohon mangga dan tali jemuran dengan seragam-seragam kecil yang tergantung berjejer, bergoyang pelan. Seorang gadis remaja berambut dikuncir tinggi sedang menyapu teras. Ia mendongak ketika bayangan Alin jatuh di lantai.
"Cari siapa, Kak?"
"Saya ...." Alin menelan ludah. "Saya ingin bertemu Ibu pengurus. Ibu Aisyah."
Gadis itu menatapnya sesaat dengan mata yang lebih tajam daripada usianya, lalu menaruh sapu dan berlari masuk. Tidak lama, seorang perempuan paruh baya berkerudung krem muncul di pintu. Ia berhenti.
Mereka saling pandang. Alin mengenali wajah itu: di tangga rumah besar, tangan yang menggenggam tas lusuh, mata yang tidak membalas hinaan.
"Nak Alin," kata Ibu Aisyah pelan.
"Ibu mengingat saya."
"Ibu tidak lupa. Kamu yang bertanya di tangga." Tidak ada keterkejutan di wajah itu, hanya kewaspadaan yang lembut. "Masuklah. Atau duduk di teras saja. Kamu mau bertemu siapa?"
"Mbak Qenna." Namanya terucap dengan getar di ujungnya. "Kalau beliau berkenan."
Ibu Aisyah menatapnya lama. Ia mungkin sedang menimbang apakah akan ada suara tinggi, air mata, atau tuduhan. Alin tidak membawa satu pun dari itu, dan ia berharap bisa terlihat begitu.
"Tunggu di sini," ujar Ibu Aisyah akhirnya.
***
Sejak dokter melarang Qenna kembali bekerja sampai melahirkan, dan kantor memperpanjang cutinya tanpa banyak tanya, hari-harinya diisi pekerjaan yang boleh dilakukan sambil duduk. Senin siang itu ia sedang menjahit kancing baju salah satu anak ketika Andin menyerbu masuk kamar.
"Kak Qenna! Ada tamu di teras. Ibu cantik, kayak orang kantoran. Katanya mau ketemu Kakak."
"Siapa namanya?"
"Tidak bilang. Tapi Ibu Aisyah wajahnya aneh."
Qenna meletakkan jarum. Perutnya, tiga puluh minggu lebih, terasa lebih berat hari ini, dan tendangan Aksa sejak pagi seolah-olah ikut menjawab firasat yang ia sendiri belum sanggup menyebutkan. Ia berjalan pelan ke teras dengan satu tangan menyangga punggung.
Perempuan di kursi tamu itu berdiri begitu melihatnya.
Qenna mengenalinya sebelum perempuan itu sempat berkata. Wajah dari foto di ponsel, foto yang dulu ia lihat dengan hati remuk ketika Rafa dan istri barunya tersenyum di pelaminan. Wajah muda, gamis hijau gelap, jari tangan yang saling menggenggam gugup.
Mereka berdiri berhadapan, dua perempuan di dua ujung teras yang tidak terlalu lebar.
"Mbak Qenna," kata Alin. "Saya Alin."
"Saya tahu, Mbak." Suara Qenna lebih tenang dari yang ia sangka. "Silakan duduk. Saya tidak bisa berdiri lama."
Alin duduk, tegak, tangannya terlipat di pangkuan. Pandangannya turun sekejap, dan Qenna melihat dengan jelas saat itu terjadi: mata Alin mengikuti lengkung gamis longgar yang tidak lagi sanggup menyembunyikan apa-apa. Wajahnya berubah sedikit demi sedikit, bukan menjadi marah, bukan menjadi terkejut. Hanya menjadi sangat pelan.
"Itu ...." Alin menarik napas. "Maaf. Saya tidak bermaksud tidak sopan. Itu anak Rafa?"
Pertanyaan itu menggantung di antara cangkir teh yang Andin taruh diam-diam di meja dan menghilang lagi.
"Ya."
Hanya satu kata. Tetapi Qenna merasakan seluruh tubuhnya sedikit mengendur setelah mengucapkannya, seperti seseorang yang meletakkan beban di tengah jalan karena sudah terlalu lama dipikul.
Alin menutup mulut dengan punggung tangan. Matanya berkaca-kaca, tetapi tidak jatuh.
"Berapa bulan?"
"Tujuh bulan lebih."
"Dia tahu?"
"Tidak." Qenna menatap lurus. Ia menimbang sesaat, lalu bertanya hal yang tidak ia rencanakan. "Mbak sudah tidak serumah dengannya?"
"Saya sedang di rumah ayah saya." Alin memilih kata satu per satu. "Saya tidak pergi karena Mbak. Saya pergi karena saya baru tahu rumah itu dibangun di atas apa."
Qenna tidak bertanya apa maksudnya. Ia menatap lurus. "Dan saya minta Mbak menyimpan soal kehamilan ini dari Rafa."
"Mbak ...."
"Saya tidak mengancam, Mbak. Saya memohon." Ia menarik napas. "Saya tidak tahu apa yang Mbak ketahui, dan saya tidak mau tahu hari ini. Saya tidak mau mendengar apa pun tentang Rafa, apa pun tentang surat dari Ibu Jamilah, apa pun tentang perkara yang mana. Hari ini saya cuma mau satu hal. Saya mau Mbak menunggu sampai bayi ini lahir sebelum memberi tahu dia."
"Kenapa?"
"Karena saya mau melahirkan tanpa Mamanya di pintu." Kalimat itu keluar lebih kasar daripada niatnya, dan Qenna menunduk sebentar. "Ibu Jamilah menampar saya, Mbak. Menawari saya amplop. Memerintahkan satpam mengusir saya. Kalau dia tahu, saya takut. Bukan pada dia, tapi pada apa yang dia bisa lakukan terhadap anak ini."
Alin tidak menjawab segera. Dari halaman terdengar anak-anak menyanyikan sesuatu yang berulang, dengan nada yang meleset, dan suara itu menjadi satu-satunya penghibur di teras.
"Sampai dia lahir," ucap Alin akhirnya. Suaranya rendah, bulat, tidak bergetar. "Saya berjanji. Saya tidak akan mengatakan apa pun sampai dia lahir."
"Terima kasih."
"Tapi saya harus jujur." Alin menegakkan bahu. "Sesudah itu saya tidak janji. Ada hal soal surat yang bukan hak saya untuk menceritakannya hari ini. Tetapi ada hal yang kelak harus Mbak dengar, dan bukan dari saya. Dan saya tidak mau Mbak merasa saya menipu dengan diam."
Qenna menatapnya lama. Di balik kata-kata yang disusun rapi itu ia melihat seseorang yang sama kelelahannya dengan dirinya, hanya dalam bentuk yang lain.
"Itu cukup," ujarnya.
Alin berdiri. Ia meraih tas dan pegangannya bergetar sedikit. Di ambang teras ia berhenti, berbalik, dan berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar:
"Maaf, Mbak. Untuk apa yang bukan salah saya, tetapi tetap terjadi pada Mbak."
Qenna tidak sempat menjawab. Alin sudah menuruni anak tangga, melewati pohon mangga dan tali jemuran yang bergoyang, dan keluar dari pagar tanpa menoleh.
***
Ibu Aisyah menemukan Qenna masih duduk di teras ketika langit mulai kuning. Cangkir tehnya tak tersentuh. Satu tangan Qenna di perut, satu lagi mengepal di paha.
"Kamu tidak bertanya apa pun padanya."
"Kalau aku bertanya, Bu, aku tidak akan bisa berhenti." Suaranya parau. "Dan aku belum kuat."
"Itu bukan kelemahan, Nak."
"Dia datang sendirian. Dia minta maaf. Padahal dia ...." Qenna menggeleng. "Aku mau membencinya, Bu. Aku sudah menyiapkan itu berbulan-bulan. Dan sekarang tidak ada tempat untuk menaruhnya."
Ibu Aisyah duduk di sampingnya, mengambil cangkir yang dingin itu, dan meminumnya sendiri tanpa komentar. "Kebencian yang tidak punya alamat memang menyusahkan," katanya. "Tapi lebih baik daripada kebencian yang salah alamat."
"Kalau aku salah alamat, Bu?"
"Maka kamu mengaku dan membetulkan. Itu pekerjaan seumur hidup, bukan hanya hari ini." Ibu Aisyah meletakkan cangkir. "Satu hal lagi. Janji perempuan tadi sepasang dengan janjimu kepada Ibu. Sampai bayi itu lahir, kamu tenang. Sesudahnya, Rafa berhak tahu dari mulutmu, atau dari mulut yang jujur."
"Aku ingat, Bu."
"Ibu tahu kamu ingat. Ibu hanya ingin mengatakannya selagi kamu tenang."