Kalimat yang ia bisikkan pada Aksa malam itu masih menggantung di kamar belakang lima hari kemudian.
Jumat pagi panti beraroma santan dan daun pandan. Dari dapur terdengar sendok membentur wajan dan suara tiga ibu pengajian yang bertukar kabar tanpa jeda. Qenna duduk di kursi goyang di dekat jendela dengan Aksa di pangkuan, membiarkan jahitannya yang masih ngilu berdenyut tanpa protes, sementara di halaman Andin dan anak-anak mengatur tikar untuk selamatan tujuh hari.
"Kak Qenna!" Andin menjulurkan kepala dari pintu dengan sebelah pipi belepotan kunyit. "Tikarnya sudah, nasinya sudah, Pak Ustaz belum datang. Tapi gunting rambut Aksa mau ditaruh di mana? Aku nggak mau salah taruh."
"Di piring kecil, Andin. Yang bunga-bunga. Sama air putih."
"Siap! Piring kecil, yang bunga-bunga!" Ia menghilang, lalu muncul lagi sedetik kemudian. "Kak, aku boleh yang menggunting?"
"Pak Ustaz yang menggunting. Kamu yang memegang piringnya."
"Itu lebih penting," putus Andin sendiri, dan pergi dengan puas.
"Kamu melamun," tegur Ibu Aisyah dari ambang pintu, membawa baki berisi gelas-gelas kecil.
"Aku menghitung, Bu."
"Menghitung apa?"
"Berapa kali aku sudah bilang 'tidak malam ini' dalam lima hari." Qenna menatap wajah Aksa yang tertidur dengan bibir mengerucut. "Sudah lima malam, Bu. Rasanya aku sedang menawar dengan sesuatu yang tidak bisa ditawar."
Ibu Aisyah tidak menjawab dulu. Ia menaruh baki di meja, mengambil selembar kertas kecil yang terlipat dari sakunya, dan menyodorkannya. "Andin menemukan ini di bawah cangkir teh di teras, hari Alin datang. Ia lupa menyerahkannya sampai kemarin."
Kertas itu kusut, ditulis tergesa dengan pulpen yang hampir kehabisan tinta. Sebuah nomor telepon, dan di bawahnya dua kata: Kalau waktunya. Alin.
Qenna meremasnya di telapak tangan, lalu memasukkannya ke saku gamis tanpa membacanya dua kali.
"Setelah selamatan," katanya. "Aku janji, Bu. Setelah selamatan."
***
Tamu pertama tiba pukul sepuluh, dan Qenna sudah siap bertemu tetangga, ibu-ibu pengajian, dan Pak Ustaz yang akan memimpin doa. Ia belum siap melihat sedan hitam berhenti di depan gerbang, disusul sebuah mobil lain yang lebih besar dan tenang.
Armand turun lebih dulu. Ia membukakan pintu belakang mobil kedua dan berdiri di sampingnya. Seorang lelaki enam puluhan, bertubuh tegap meski wajahnya agak pucat, melangkah turun dengan satu tangan bertumpu pada tongkat. Di sisinya Mama Ningsih mengenakan kerudung gading dan membawa dua kantong besar.
"Itu Papa Galih," bisik Sindy di dekat telinga Qenna. "Pertama kali dia ke sini."
Qenna berdiri, menyerahkan Aksa pada Ibu Aisyah, merapikan gamisnya, dan menyambut mereka di teras. Papa Galih berdiri kaku di depannya. Matanya tajam dan lelah, dengan alis yang menurun seperti milik anaknya.
"Kamu Qenna," katanya. Itu bukan pertanyaan.
"Iya, Pak. Selamat datang."
"Saya Galih." Ia menatapnya lama. "Armand sudah banyak cerita. Sebagian tidak pantas saya dengar, sebagian lagi yang membuat saya ingin kenal. Jadi saya datang."
"Terima kasih, Pak. Silakan duduk."
"Papa," potong Mama Ningsih lembut, "jangan berdiri di teras orang seperti hakim."
"Kamu perlu apa?" tanya Papa Galih tiba-tiba, tanpa basa-basi. "Uang, orang, tempat. Saya bertanya, bukan menawari."
"Tidak ada, Pak. Terima kasih."
"Itu jawaban yang Armand bilang akan kamu berikan." Ujung bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum, lebih mirip orang yang kalah taruhan dengan anaknya sendiri. "Baik. Kalau suatu hari berubah, kamu sudah pegang kartu nama yang diberikan istri saya. Pengacara itu orang kami. Dia akan menelepon balik kalau kamu menelepon, apa pun jamnya."
"Papa," tegur Mama Ningsih pelan.
"Saya hanya bilang kartunya, Ma."
Papa Galih berdehem, lalu duduk di kursi yang disediakan, dan untuk beberapa saat tak ada yang tahu harus bicara apa. Mama Ningsih membuka kantongnya. Ada kain bedong bermotif bintang, sebuah kotak sabun bayi, dua kaleng susu, dan terakhir sebuah selimut rajut warna krem dengan pinggiran bergelombang, dilipat rapi dan beraroma lembut.
"Ini bukan dari saya," ucap Mama Ningsih sambil menyerahkannya dengan dua tangan. "Tidak ada kartunya. Orang yang menitipkannya hanya berpesan agar saya menyebut ini titipan seseorang yang sedang belajar meminta maaf."
Qenna menerima selimut itu. Ia meraba rajutannya, simpul-simpul kecil yang belum rata, jahitan yang jelas dikerjakan orang yang baru belajar dan tidak mau menyerah. Pikirannya meloncat ke satu nama dengan kecepatan yang membuatnya sendiri terkejut. Siska. Ia tidak mengucapkannya.
"Apa Ibu tahu siapa?"
"Tahu," sahut Mama Ningsih jujur, "dan sudah berjanji tidak menyebutkannya. Saya hanya akan bilang bahwa ia menangis waktu menyerahkannya, dan itu tangisan yang tidak ia rencanakan." Ia menatap Qenna. "Kamu boleh membuangnya kalau kamu mau. Saya tidak akan tersinggung."
Qenna memandang selimut itu sekali lagi. Ia melipatnya dan menaruhnya di pangkuan. "Saya akan memakainya," katanya pelan. "Aksa tidak salah apa-apa."
***
Doa dimulai pukul sebelas. Pak Ustaz, lelaki kurus berpeci putih, membacakan doa dengan suara pelan yang menenangkan, dan anak-anak yang biasanya tak bisa diam duduk bersila dengan tangan menengadah. Rambut Aksa digunting sehelai demi sehelai, dan ia hanya mengerutkan dahi seperti mengajukan keberatan. Andin memegang piring dengan dua tangan, bibirnya bergerak tanpa suara ikut berdoa, begitu khusyuk hingga Sindy harus memalingkan wajah supaya tidak tertawa.
Doa selesai menjelang siang. Anak-anak berbaris untuk menerima nasi kuning, lalu bubar ke halaman. Papa Galih, yang sejak tadi duduk diam dengan teh yang tak diminum, mengangkat tangan pelan ketika Ibu Aisyah lewat membawa Aksa.
"Boleh saya ...?"
Ibu Aisyah menatap Qenna, dan Qenna mengangguk. Papa Galih menerima bayi itu dengan lengan yang canggung, lalu perlahan jadi luwes, seperti tubuhnya mengingat sesuatu yang lama terlupa. Aksa membuka mata dan menatapnya dengan keseriusan seorang direktur.
"Wajah ini," gumam Papa Galih. "Galak sekali."
"Papa, dia baru seminggu," kata Mama Ningsih.
"Armand dulu juga begitu. Waktu saya pertama kali pegang dia, dia menatap saya seperti saya salah menaruh tanda tangan." Mata tua itu melunak. "Kamu kuat, Nak Qenna. Saya tidak tahu seluruh ceritamu, tapi Mama Ningsih tidak pernah pulang dari sini dengan wajah cemas. Itu cukup bagi saya."
Setelah Papa Galih, Aksa berpindah ke lengan Mama Ningsih, lalu ke Sindy, lalu ke Armand.
Armand menerimanya dengan kedua tangan kaku, persis seperti Hans seminggu sebelumnya. Bedanya, ia tidak tegang. Ia menunduk, menopang kepala bayi dengan lipatan siku, dan berhenti bergerak. Aksa memandangnya, dan tak seorang pun yang tahu apa yang sedang bayi itu pikirkan. Lalu bayi itu menggenggam telunjuk Armand.
"Dia menggenggam jari saya," ucap Armand, begitu pelan sampai hanya Qenna dan Sindy yang mendengar.
"Dia menggenggam apa saja, Pak. Itu refleks."
"Saya tahu." Armand tidak mengangkat mata dari wajah bayi itu. "Biarkan saya senang sebentar."
Sindy buru-buru membetulkan letak piring di meja, pura-pura sibuk.
Qenna memperhatikan dari kursi. Ia melihat cara bahu Armand turun sedikit, cara napasnya melambat, cara ia tidak berani tersenyum karena takut senyum itu mengagetkan. Dadanya menghangat sebelum ia sempat menahannya, dan hangat itu langsung disusul rasa takut yang dingin.
Ia masih istri orang. Dan ia tahu, lebih jelas daripada hari mana pun, bahwa lelaki yang berdiri di sana itu tidak sedang meminjam bayi orang lain.
"Qen." Ibu Aisyah sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan. "Dapur."
Mereka berjalan melewati pintu samping. Di dapur yang kini sepi, panci-panci kosong bertumpuk di bak cuci dan sinar siang menembus tirai plastik.
"Waktunya, Nak," ucap Ibu Aisyah. Tak ada yang lain.
Qenna menarik napas panjang. "Lewat Alin, Bu. Aku tidak sanggup mendengar suaranya langsung. Biar Alin yang bilang."
"Itu pilihanmu."
Ia mengeluarkan kertas kusut dari saku gamisnya. Jempolnya sempat ragu, lalu menekan satu per satu angka itu. Ponsel ia tempelkan ke telinga, dan nada sambung mulai berdering, panjang dan tenang, seolah tidak tahu apa yang sedang ia mulai.