Rabu sore, entah untuk kali keberapa sejak Papa menyita semuanya, Siska duduk di kamarnya tanpa kartu, tanpa mobil, dan tanpa seorang pun yang mengirim kabar.
Ia duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar ke kaki ranjang, dan di pangkuannya ada gulungan benang wol biru muda yang kusut. Di layar ponselnya, seorang perempuan asing menunjukkan cara memegang jarum rajut. Siska sudah mengulang video itu tujuh kali. Jari telunjuknya bengkak merah ditusuk jarum, dan hasil kerjanya selama dua jam hanyalah sepotong kecil rajutan yang bentuknya tidak jelas.
Dari lantai bawah, tiap malam, Mama Sulastri bertanya dengan suara yang dibuat ringan: sudah siap bicara dengan Papa? Dan tiap malam Siska menjawab belum. Kata maaf yang dituntut Papa sudah lama menunggu di ujung lidahnya. Tetapi setiap kali ia membuka mulut, yang keluar justru pembelaan, dan ia menutup lagi.
Bunyi bel membuatnya mendongak.
Dari bawah terdengar suara Mama Sulastri, lalu suara perempuan lain yang tidak ia kenal, rendah dan sangat percaya diri. Siska berdiri, membuka pintu sedikit. Ia hanya bisa menangkap potongan: kata "Jamilah", kata "ibunya Rafa", kata "sebentar saja, Bu".
Pintu kamarnya diketuk. Mama Sulastri berdiri di sana dengan wajah bingung.
"Ada tamu mencarimu. Orang yang tidak Mama kenal. Katanya penting." Ia merapikan rambut Siska yang kusut. "Jangan lama. Papa sedang tidur siang."
Siska turun dengan kaus rumah dan celana kain. Di ruang tamu, di kursi yang biasa dipakai Papa Ahsan menerima kolega, duduk seorang perempuan paruh baya dengan setelan biru tua, tas kulit di pangkuan, dan senyum yang hanya bergerak di bagian bibir.
"Siska Mubarak," ucapnya, seolah membaca dari kertas. "Mantan istri Armand."
"Saya Siska. Maaf, Ibu ini siapa?"
"Jamilah. Ibu dari Rafa." Tamu itu menunggu sebentar, tetapi nama itu rupanya tidak berarti apa-apa bagi Siska. "Rafa adalah suami sah perempuan bernama Qenna, yang katanya bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor mantan suamimu. Dan yang sekarang punya bayi."
Tubuh Siska menegak. Nama itu ia simpan di catatan ponselnya sejak hari di koridor, dan kini keluar dari mulut orang asing seperti benda lama yang tiba-tiba dikeluarkan dari laci.
"Mama, boleh tinggalkan kami sebentar?"
Mama Sulastri ragu, lalu pergi ke dapur tanpa menutup pintu sepenuhnya.
"Saya tidak suka membuang waktu," kata Mama Jamilah begitu langkah itu menjauh. "Orang saya menelusuri siapa yang pertama menyebarkan cerita soal cleaning servis hamil itu. Namanya pesan anonim, nomor lama, SIM yang dibeli di konter pinggir jalan. Tapi pembelinya ada, dan fotonya tidak sulit dicari." Ia membuka tas dan mengeluarkan satu lembar cetakan. "Itu kamu."
Siska tidak menyangkal. Ia hanya berdiri, dan merasakan telinganya panas.
"Saya tidak datang untuk membongkar. Saya datang karena kita punya urusan yang sama." Mama Jamilah merapatkan tas. "Perempuan itu sudah menahan anak saya. Sekarang dia punya bayi, dan dia memakai bayi itu untuk mengikat Rafa. Saya bukan perempuan jahat, Nak. Saya ibu. Dan saya tahu dari gerak-gerik Armand bahwa dia lebih dari atasan bagi perempuan itu."
"Saya tidak tahu apa-apa soal itu."
"Tapi kamu bisa tahu." Suara Mama Jamilah turun jadi bisikan yang nyaris ramah. "Pengadilan akan bertanya, kapan mereka mulai dekat. Kalau ada seorang saksi yang bersedia bilang bahwa hubungan itu sudah ada sejak kamu masih menjadi istri Armand, sejak sebelum kalian bercerai, hakim akan membaca perempuan itu dengan cara lain. Seorang ibu yang pantas diragukan, bukan korban yang pantas dikasihani."
Hawa di ruangan seolah menipis. Siska menatap meja, pada vas kaca berisi mawar plastik yang dibeli Mama bertahun-tahun lalu.
"Itu tidak benar. Dia baru bekerja di sana sesudah ...."
"Saya tidak minta kebenaran. Saya minta cerita yang bisa dipercaya." Mama Jamilah mengeluarkan amplop tebal, menaruhnya di meja. "Tunai. Ayahmu menyita kartu dan mobilmu, saya tahu itu. Isinya cukup untuk membeli mobil yang lebih bagus dari yang disita, dan masih ada sisa untuk memulai hidup lain di tempat yang tidak ada Papa di dalamnya. Kamu tidak berutang apa pun pada orang-orang itu, Siska. Armand membuangmu di depan orang tuamu sendiri."
Itu pukulan yang tepat. Siska merasakannya masuk persis di luka lama yang paling jarang disentuh. Armand menjatuhkan talak di ruang yang sama dengan ruangan ini, dengan Papa berdiri di depannya. Sesudah talak itu ia membenci lelaki itu karena satu hal itu, dan hanya itu.
Ia menatap amplop. Sebagian dirinya, bagian yang lelah, bagian yang sudah lama hidup dalam rumah ini sebagai anak yang disita, berbisik bahwa menerima tidak akan menyakiti siapa pun. Perempuan itu hanya cleaning servis. Armand toh sudah berbicara dengan nada paling dingin padanya: Pulanglah, Siska.
Tetapi di belakang matanya muncul hal yang lain. Seorang perempuan berdiri di lobi dengan pel di tangan, di tengah ponsel-ponsel yang terangkat. "Saya tidak merebut siapa pun, Bu," ucap perempuan itu dalam ingatan Siska, tanpa menaikkan suara. Tidak ada kebohongan di dalamnya, dan itulah yang membuat Siska sulit tidur sesudah peristiwa di lobi.
Ia juga teringat potongan rajutan biru di kamarnya. Ia telah menitipkan selimut itu kepada Mama Ningsih tanpa kartu, dengan jahitan yang jelek, hanya karena ia tidak sanggup menulis nama.
"Saya tidak bisa menjawab sekarang," ujarnya akhirnya.
"Tentu." Mama Jamilah tersenyum tipis, seolah itu jawaban yang ia perkirakan. "Saya beri kamu dua hari. Amplop ini kamu simpan. Kalau kamu ragu, ingat siapa yang membuang dan siapa yang datang membawa pertolongan." Ia berdiri, merapikan ujung blazernya. "Titip salam untuk ayahmu."
Setelah pintu depan tertutup dan suara sedan menjauh, Siska tetap berdiri di ruang tamu dengan lutut yang gemetar. Amplop itu masih di meja. Ia tak berani menyentuhnya, dan tak berani memindahkannya.
"Siapa itu?" Mama Sulastri muncul dari dapur sambil mengelap tangan. "Wajahnya seperti orang yang sedang menghitung isi rumah ini."
"Salah alamat, Ma."
"Salah alamat tapi tahu namamu?" Mata Mama beralih ke meja, lalu kembali ke wajah putrinya. "Mama memang tidak pernah pintar, Sis. Tapi Mama ibumu."
Siska mengambil amplop itu dan menyelipkannya di bawah lengan, di antara tubuh dan kaus rumah. Ia mencium pipi ibunya, cepat, canggung, seperti anak kecil yang menyembunyikan nilai jelek, dan tidak menjawab.
***
Papa Ahsan memang tidak tidur.
Ia terbaring di kamar di ujung lorong, di ranjang dengan pegangan besi di sisi kirinya, selimut menutupi lengan yang sejak serangan terakhir tidak lagi bisa ia angkat sampai ke bahu. Pintu kamarnya hanya beberapa langkah dari ruang tamu. Dengan telinga seorang pengusaha yang seumur hidup belajar menangkap kalimat di balik kalimat, ia mendengar hampir semuanya: Qenna, saksi, mobil yang lebih bagus, dibuang di depan orang tuamu.
Ia memejamkan mata, dan menahan napas yang menyakitkan di dada.
Yang membuatnya sakit bukan jantungnya. Di hari ia menampar Siska di rumah ini, ia mengira sedang menegakkan harga diri keluarga. Hari ini ia mendengar seorang asing menawar anaknya dengan harga yang sama seperti yang dulu ia tawarkan kepada Armand lewat perjodohan: kenyamanan, nama baik, hidup yang rapi. Bedanya, kali ini ia ada di sisi yang lain pintu, dan baru dari sana ia bisa mendengar betapa murahnya bunyi itu.
Di luar, langkah kaki Siska berhenti di depan pintu kamarnya. Gagang pintu berputar sedikit, ragu, lalu diam.
"Siska," panggil Papa Ahsan dari dalam. Suaranya pelan, serak, tetapi tidak ada orang di rumah itu yang tak mengenali nada itu. "Masuk. Dan bawa amplopnya."