"Kamu sudah lihat jam empat kali dalam sepuluh menit," kata Sindy tanpa mengangkat mata dari majalah di ruang tunggu klinik.
"Tiga."
"Empat. Aku hitung." Sindy menutup majalahnya. "Aksa baik-baik saja, Qen. Ibu Aisyah sudah membesarkan tiga puluh anak. ASI sudah kamu pompa dua botol di kulkas. Ini cuma kontrol nifas."
"Ini pertama kalinya aku meninggalkan dia lebih dari satu jam."
"Aku tahu. Makanya aku ikut." Sindy menyenggol bahunya. "Kalau kamu pingsan di sini, aku butuh alasan yang bagus untuk Pak Armand."
"Jangan sebut dia."
"Aku cuma bilang kalau. Bukan sekarang." Sindy mengangkat dua tangan, pura-pura menyerah.
Nama Qenna dipanggil. Dokter kandungan perempuan yang dulu memeriksanya pertama kali menyambut dengan senyum yang sudah ia kenal. Ia menanyakan darah, tidur, ASI, dan jahitan. Qenna menjawab satu per satu dan baru sadar, saat dokter mengangguk puas, bahwa sejak Aksa lahir baru kali ini ia mendengar kalimat yang bukan tentang bayinya: "Ibu pulih bagus. Jahitannya sudah menutup sempurna. Sekarang giliran Ibu istirahat lebih banyak."
"Istirahat itu bagian yang paling sulit, Dok."
"Karena itu saya ulangi tiap kali." Dokter tersenyum. "Bayinya mana hari ini?"
"Di panti. Dengan Ibu saya." Ia menyebut Ibu Aisyah begitu saja, dan dokter tidak bertanya lagi.
Selesai pemeriksaan, Qenna mengeluarkan ponsel dan mendapati tidak ada satu pun pesan. Sindy mengintip layarnya. "Itu bagus kan? Tidak ada kabar berarti tidak ada masalah."
"Atau panti belum sempat mengabari."
"Qen."
"Iya, iya." Qenna memasukkan ponsel ke tas. Entah kenapa dadanya tetap terasa dingin.
"Oh ya." Sindy sengaja membuat suaranya ringan sambil mengikuti Qenna ke kasir. "Pak Hans titip pertanyaan. Katanya besok boleh bawa sup ayam ke panti, resep ibunya. Dia sudah latihan dua kali dan hasilnya katanya lumayan."
"Katanya?"
"Aku tidak percaya, tentu saja. Aku bilang akan mencicipi dulu sebelum izin diberikan."
Qenna tertawa pendek, dan tawa itu terasa seperti obat yang diminum di waktu salah. Ia ingin pulang. Ia ingin mencium kepala kecil itu dan memastikan bau susunya masih ada.
***
Di halaman belakang panti, Ibu Aisyah berlutut di samping baskom plastik biru dan memandikan Aksa dengan tangan yang sudah hafal setiap lekuk.
"Kamu itu bayi paling tenang di dunia kalau sedang mandi," gumam Ibu Aisyah kepada Aksa, yang memandangnya dengan mata hitam bulat dan mulut sedikit terbuka. "Tapi begitu dibedong, kamu mendadak jadi bos besar. Banyak maunya."
Air hangat, sabun tanpa pewangi, handuk hijau yang dijemur kemarin. Di tangga dapur Andin duduk menjaga dengan sisir di tangan, siap memakaikan baju. Anak-anak lain berlarian di halaman depan, suara mereka berbaur dengan kicau burung dan bunyi mesin jahit tetangga.
Ibu Aisyah baru saja mengangkat Aksa dari air ketika bunyi pintu pagar membuatnya menoleh.
"Maaf, Bu, aku tidak mengetuk karena gerbangnya terbuka."
Mama Jamilah berdiri di sudut rumah dengan blus krem dan tas kulit yang sama, tanpa kacamata hitam kali ini. Wajahnya lebih kurus daripada hari Rabu. Tenggat dua harinya untuk Siska sudah lama lewat tanpa jawaban, dan amplopnya kembali lewat sopir orang lain tanpa sepucuk pesan, tetapi ia tidak menyinggung itu di sini. Di belakangnya, lelaki bersafari berdiri dua langkah menjauh dengan topi di tangan.
"Bu Jamilah." Ibu Aisyah merapatkan handuk di sekeliling bayi itu. "Qenna sedang keluar."
"Aku tahu. Aku datang bukan untuk dia." Mama Jamilah melangkah satu kali, berhenti. Tatapannya jatuh pada kepala kecil yang tertutup handuk, pada rambut basah yang melekat di dahi, dan suaranya yang selama ini tegas goyah di tengah kalimat. "Hanya ... sebentar saja, Bu. Pinjamkan aku menggendongnya. Di sini. Di depan mata Ibu. Aku tidak akan ke mana-mana."
Ibu Aisyah memandangnya lama. Seumur hidup ia dibohongi anak-anak yang ketakutan dan orang dewasa yang memilih berbohong; ia tahu bedanya. Wajah di depannya bukan wajah orang yang berbohong. Itu wajah perempuan yang tahu ia tak punya hak dan tetap datang.
Rumah ini, kata Qenna dulu, tidak menimbun dendam.
"Sepuluh menit. Di kursi itu." Ibu Aisyah menunjuk bangku kayu di bawah jambu. "Cuci tangan dulu."
Mama Jamilah mencuci tangannya di keran dekat dapur tanpa protes, dengan sabun yang diberikan Andin sambil memelototi. Ia duduk di bangku, menerima Aksa yang sudah berbedong, dan menurunkan wajahnya.
Tak seorang pun berbicara.
"Siapa namanya?" tanya Mama Jamilah akhirnya, tanpa mengangkat wajah.
"Aksa. Ibunya yang memilih. Artinya mata."
"Mata." Mama mengulang seperti sedang mengecek kata itu di tengah gigi. "Rafa kecil dulu juga tidak mau tidur kalau tidak digendong. Aku mondar-mandir semalaman dengan dia di bahu, sampai kakiku bengkak. Kukira sudah lupa."
Ibu Aisyah tidak berkata apa-apa. Beberapa kalimat lebih baik tidak dijawab.
Aksa membuka mata. Jari kecilnya, yang tertangkap kain, membuka dan mengatup di udara. Bibir mungilnya mengerucut seperti hendak berkata sesuatu. Dan perempuan yang pernah menampar ibunya, yang membawa amplop dan alamat rumah dan ancaman, menciumi ubun-ubun bayi itu dengan mata terpejam dan bahu yang berguncang sangat halus.
"Mirip," bisiknya. "Mirip sekali."
Ibu Aisyah memalingkan wajah, memberinya sedikit ruang yang pantas. Ia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin, mungkin saja, ia salah menilai.
Ia hanya berbalik sebentar untuk mengambil lap dari tali jemuran.
Ketika menoleh lagi, bangku kayu itu kosong.
"Andin!"
Gadis itu sudah berdiri. Ia menunjuk ke sudut rumah dengan sisir masih di tangan. "Bu, Nenek itu ...."
Ibu Aisyah berlari, sandalnya terseret di lantai. Ia tiba di halaman depan tepat ketika Mama Jamilah, dengan Aksa di dadanya dan sopir berjalan setengah langkah di belakang, melewati teras menuju pagar.
"Bu Jamilah! Kembalikan!"
"Dia cucuku." Mama Jamilah tidak menoleh. Langkahnya cepat, kaku, seperti orang yang sedang menahan seluruh tubuhnya agar tidak berbalik. "Aku bawa pulang. Qenna boleh datang kalau mau. Di rumahku."
"Ibu tidak boleh membawanya tanpa seizin ibunya! Tadi Qenna menitipkan dia kepada saya, dan saya yang berjanji menjaganya!"
"Janji kepada perempuan yang dua pekan lalu kutawari rumah?" Mama Jamilah akhirnya menoleh, dan wajahnya basah, tetapi suaranya sekeras batu. "Janji seperti itu tidak mengikatku. Aku neneknya!"
Andin menerobos lewat samping Ibu Aisyah dan berdiri di tengah gerbang dengan dua lengan terentang. Dalam sekejap, sepuluh anak panti berkumpul di belakangnya: yang kecil menarik ujung rok, yang besar memegang sandal sebagai senjata, dan anak sembilan tahun yang pernah memberi Aksa boneka kuda berdiri paling depan dengan wajah merah.
"Tidak boleh lewat!" teriak Andin. "Itu adik kami!"
Sopir terhenti dengan topi masih di tangan. Ia menatap anak-anak itu, menatap majikannya, menatap ke jalan yang sepi. "Bu ...," ucapnya pelan. "Ibu yakin?"
Mama Jamilah tidak menjawab. Napasnya cepat. Aksa di dadanya mulai menggeliat, wajahnya berkerut, dan ia belum menangis hanya karena belum sepenuhnya mengerti bahwa tangan yang memegangnya tidak berbau susu.
***
Di lorong klinik, Qenna berdiri di depan apotek, menunggu Sindy menebus vitamin dan membayangkan perjalanan pulang: bis nomor sekian, gang, gerbang, dan Aksa yang akan menggeliat begitu ia menyentuhnya. Tiga puluh menit lagi, hitungnya, kalau bisnya tidak macet.
Ponselnya bergetar. Ia membaca nama di layar, Andin, dan merasakan lantai bergeser di bawah kakinya bahkan sebelum ia menekan tombol jawab.
"Andin? Kenapa, Nak?"
"Kak ...." Suara gadis itu putus-putus, tercekik antara napas dan tangis. Di latar terdengar teriakan banyak anak. "Kak Qenna, Aksa ... Aksa dibawa. Ibunya Kak Rafa bawa Aksa."