Armand sudah berada di ujung gang sejak pukul tujuh, duduk di mobil dengan mesin mati dan jendela setengah terbuka.
Sudah lima kali ia menyusun kalimat pembuka di kepalanya, dan lima kali ia membuangnya. Di kursi sebelah ada ponsel yang menyala menampilkan nama Hans. Ia menekan tombol pengeras suara.
"Kamu masih di sana?" Suara Hans serak, jelas baru bangun. "Kamu sudah duduk di depan gang itu dua jam, ya? Aku bisa merasakannya dari sini."
"Satu jam. Dan aku sedang berpikir."
"Kamu mau menemui perempuan atau mau ujian skripsi?" Hans menguap. "Dengar, Armand. Jangan menghafal. Orang yang menghafal kalimat jadi terdengar seperti pidato, dan perempuan itu lebih peka daripada alat deteksi kebohongan. Katakan saja yang benar."
"Itu yang akan kulakukan."
"Itu yang selalu kamu lakukan, dan karena itulah kamu terdengar seperti orang yang akan dieksekusi." Hans terdiam sebentar. "Aku serius. Dia yang mengajak. Dia tidak akan mengajakmu ke warung bakso kalau ia mau mengusirmu. Orang yang mau mengusir mengirim pesan, tidak mengatur meja."
Armand menatap gerbang panti dari kejauhan, teras kecilnya, punggung Ibu Aisyah. "Aku takut," akunya.
"Bagus. Itu berarti kamu peduli." Hans menutup telepon dengan tawa kecil.
***
Warung bakso di seberang panti hanya punya empat meja, dan hari Sabtu pukul sembilan pagi tiga di antaranya kosong.
Qenna memilih meja paling ujung, yang menghadap ke gerbang panti sehingga ia bisa melihat teras dan, di teras itu, punggung Ibu Aisyah yang duduk tegak dengan Aksa di pangkuannya. Ia sudah memastikan hal itu sebelum menjatuhkan diri di bangku plastik. Tempat umum. Terlihat. Dua syarat yang ia tetapkan sendiri.
Armand datang tepat pukul sembilan. Ia berjalan dari ujung gang dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, tanpa jas, tanpa sopir, tanpa Hans. Di tangannya hanya ada kunci mobil, yang ia taruh di meja dan ia dorong sedikit menjauh, seakan itu bagian dari kesopanan.
"Selamat pagi, Pak Armand."
"Pagi." Ia duduk di seberang, tidak terlalu dekat. "Terima kasih sudah mengabari. Aku tidak mau bertanya apa yang kamu mau, tapi jujur, sejak pesanmu masuk aku tidak bisa makan."
"Kalau begitu pesan dulu. Saya yang traktir."
Penjual bakso, seorang ibu bertubuh bulat yang sudah mengenal Qenna sejak ia pindah ke panti, datang membawa dua mangkuk tanpa ditanya. "Yang ini tanpa seledri, ya, Neng, soalnya Neng suka nolak." Ia melirik Armand dengan rasa ingin tahu yang bersembunyi di balik kain lap, lalu mundur.
Armand memandang mangkuknya. "Kamu tidak makan seledri?"
"Tidak. Dari kecil." Qenna mengaduk kuahnya tanpa selera. "Pak Armand, saya mau bertanya sesuatu, dan saya minta Bapak jawab sejujurnya. Saya tidak akan marah, apa pun jawabannya."
"Silakan."
"Waktu syukuran kecil di panti, saat saya masih tidak boleh bekerja. Saya mendengar sesuatu dari balik pintu dapur. Bapak bicara dengan Ibu Aisyah." Ia menarik napas. "Bapak bilang, kalau suatu hari saya bebas dan memilih, Bapak ada."
Armand membeku. Sendok di tangannya berhenti di udara.
"Saya tidak bermaksud menguping. Saya hanya lewat membawa nampan. Tetapi saya mendengar, dan saya tidak pernah menanyakannya, dan saya tidak mau terus berpura-pura tidak mendengar." Ia mengangkat mata. "Itu sungguh-sungguh?"
Keheningan di meja itu panjang. Di luar, motor tukang sayur lewat dengan klakson cempreng. Armand meletakkan sendoknya, kemudian kedua tangannya, di atas meja, telapak ke bawah.
"Sungguh-sungguh," ucapnya.
Qenna menunggu.
"Aku bisa berputar-putar, tapi kamu tidak pantas dapat itu." Suaranya rendah dan terkendali, tetapi ada getar di bawahnya. "Aku mencintaimu, Qenna. Sejak kapan persisnya aku tidak tahu. Mungkin sejak kamu menaruh sisa uang taksi di mejaku sambil memarahi aku soal sosmed. Mungkin lebih awal, sejak kopi yang kamu buat. Aku tidak tahu kapan, tapi aku tahu itu terjadi sebelum aku boleh mengatakannya. Karena itu aku diam."
"Pak ...."
"Biar aku selesai." Ia menggeleng pelan, bukan memotong, hanya meminta. "Aku tidak meminta apa-apa. Tidak jawaban, tidak kesempatan, tidak kamu menyingkirkan Rafa. Aku tahu kamu belum bebas, dan aku sudah belajar, dengan cara yang buruk dan mahal, bahwa mencintai seseorang tidak memberiku hak atas dia. Aku pernah menarik tangan seseorang ke mobil dengan alasan tertentu. Aku tidak akan pernah mengulangnya dengan siapa pun, apalagi denganmu."
Qenna menatap bakso di mangkuknya yang uapnya menipis. Dadanya terasa penuh dan ringan sekaligus, seperti ruangan yang dibuka jendelanya setelah lama tertutup.
"Aku datang bukan untuk jawaban," lanjut Armand. "Aku datang supaya kamu tidak sendirian. Itu saja. Kalau suatu hari kamu bilang jangan, aku akan berdiri di tempat yang kamu tentukan dan tidak bergeser."
Qenna meletakkan sendoknya. Ia teringat secarik kertas di meja IGD, ditandatangani satu huruf, dan kalimat sederhana yang terpotong tepat sebelum ia sempat membantahnya.
"Terima kasih sudah jujur," ucapnya perlahan. "Sekarang giliran saya, dan ini juga jujur. Saya belum bisa menjawab."
"Aku tahu."
"Bukan karena saya tidak ingin tahu jawabannya. Tapi saya masih istri orang. Talak belum diucapkan. Selama itu belum terjadi, setiap kata yang saya ucapkan kepada Bapak, entah ya atau tidak, menggantung di udara dan saya tidak mau menaruh perasaan di sana." Ia menarik napas. "Dan satu lagi. Saya menolak Rafa hari Selasa. Bukan karena Bapak. Saya mau Bapak tahu itu, supaya tidak ada yang tinggal di kepala Bapak berbunyi seolah Bapak yang menang atau kalah."
Armand mengangguk, sangat pelan. Matanya basah, ia tidak menyembunyikannya, dan ia tidak mengusapnya.
"Aku mengerti."
"Satu hal lagi."
"Silakan."
"Kalau suatu hari saya sudah bisa menjawab, saya tidak mau dijawab oleh seseorang yang tidak pernah mendengar saya tertawa." Qenna memiringkan kepala. "Sindy pernah cerita, Pak Hans menyebut Bapak duren."
Armand mengerjap. Lalu, tanpa peringatan, sudut bibirnya bergerak. "Duda keren."
"Keren belum terbukti."
"Aku menolak tuduhan itu." Ia mulai tertawa, rendah dan tertahan, sampai bahunya bergetar. Qenna, yang semula berniat menahan diri, tertawa juga, tawa pendek yang terlepas begitu saja seperti selimut yang tiba-tiba jatuh dari pundak. Penjual bakso menoleh dari kuali, memandang keduanya dengan wajah orang yang menyaksikan pertunjukan gratis.
Mereka makan setelahnya. Armand menghabiskan semangkuk penuh dalam diam yang akrab, dan Qenna menghabiskan setengahnya, lebih banyak dari yang ia perkirakan.
***
Setelah membayar, Armand berjalan di sisi Qenna menyeberang gang dengan jarak satu lengan di antara mereka. Di teras, Ibu Aisyah mengangkat wajah dari Aksa dengan ekspresi yang sengaja dibuat netral.
"Boleh saya?" tanya Armand, merentangkan kedua tangan, bukan kepada Ibu Aisyah, melainkan kepada Qenna.
Qenna mengangguk.
Ibu Aisyah menyerahkan bayi itu, memperbaiki posisi tangan Armand, satu di bawah kepala, satu di bawah pantat, dengan ketelitian guru. Armand menahan napas. Aksa menatap wajah asing itu, mengerutkan dahi seakan menimbang, lalu menggenggam kerah kemeja Armand dan menariknya.
"Dia kuat," bisik Armand.
"Dia keras kepala," koreksi Qenna. "Seperti ibunya."
Ponsel Qenna bergetar di saku gamisnya. Ia menarik keluar dan membaca nama di layar: Pak Dimas. Ia memberi isyarat sebentar dan menerima panggilan itu di ujung teras.
"Bu Qenna, selamat pagi. Saya langsung saja." Suara pengacara itu tenang dan kering. "Pak Rafa mengajukan permohonan ikrar talak hari Rabu, berkasnya lengkap, dan pengadilan agama sudah menetapkan sidang pertama. Hari Jumat depan, pukul sembilan. Ibu tidak wajib hadir di sidang pertama, tetapi saya sarankan Ibu datang."
Qenna menatap ke arah dua orang di ujung teras, satu lelaki dengan bayi yang menggenggam kerahnya, satu perempuan tua yang tersenyum pada rajutannya.
"Saya akan datang, Pak."