Hal pertama yang Qenna sadari saat melangkah masuk ke masjid itu adalah bahwa ia bisa bernapas.
Karpet hijau baru digelar, bunga melati dirangkai di bingkai pintu, dan di dekat mimbar ada meja kecil dengan taplak putih. Aroma yang menyambutnya hanya aroma kayu, minyak wangi lembut para ibu, dan sabun dari lengan baju Hans. Tidak ada parfum menyengat yang dulu membuat perutnya terbalik.
"Dia betul-betul membuangnya," bisik Sindy dari balik kerudung pengantin yang dipasangkan Andin sejak subuh. Perempuan itu duduk di sisi meja, gamis putihnya berkibar tiap kali ia menggeser kaki. "Tadi pagi kuendus lehernya sebelum berangkat. Sabun bayi, Qen. Sabun bayi."
"Pak Hans memakai sabun bayi?"
"Katanya itu satu-satunya sabun yang tidak membuatku bersin." Sindy menahan senyum sampai bibirnya gemetar. "Kamu jangan bilang itu romantis. Dia akan sombong seumur hidup."
Qenna duduk di sebelahnya sebagai pengiring, dengan gamis krem yang dipermak Andin semalaman supaya pas di pinggang. Di barisan perempuan, Ibu Aisyah memangku Aksa yang sedang berusaha memakan ujung kerudungnya. Citra duduk di samping mereka dengan tisu di tangan, padahal ijab belum dimulai.
"Qen," bisik Citra, menjulurkan leher, "kamu kelihatan lain hari ini."
"Lain bagaimana?"
"Seperti orang yang baru selesai mengangkat barang berat dan sadar tangannya kosong."
Qenna ingin membantah, tetapi tidak menemukan alasannya. "Mungkin. Kamu sudah menangis, Cit."
"Aku sudah menangis di mobil. Yang ini cadangan."
Ayah Sindy, lelaki kurus berkacamata yang baru dua minggu lalu mengetahui bahwa putrinya akan menikah dengan sekretaris atasannya, duduk berhadapan dengan Hans. Penghulu membetulkan letak mikrofon. Armand duduk di sisi Hans sebagai saksi, mengenakan batik cokelat, dan tidak sekali pun menoleh ke arah barisan perempuan.
"Bismillah," ucap penghulu. "Saudara Hans, sudah siap?"
"Siap, Pak." Suara Hans pecah di kata kedua.
Mahar disebut: seperangkat alat salat dan sebuah cincin. Ayah Sindy menyebut nama Hans dan nama putrinya dalam satu tarikan napas, lalu ijab itu meluncur, lugas dan tenang. Hans menjawab. Ia mengucapkan kabul tanpa terbata, tanpa jeda, dengan lancar yang nyaris terdengar seperti pembacaan hafalan.
"Sah?" tanya penghulu pada para saksi.
"Sah."
"Sah."
Sindy menutup mulut dengan kedua tangan. Citra sudah menangis. Hans, yang baru saja menjadi suami, menoleh ke Armand dan berbisik cukup keras untuk terdengar seisi masjid, "Aku tidak salah baca, kan?"
"Dua ratus kali semalam, dan kamu tidak salah," jawab Armand, dan jemaah tertawa.
Qenna ikut tertawa, dan pada tawa itu ia sadar sesuatu yang tidak ia rencanakan. Ia sempat teringat kamar hotel putih di Denpasar, pintu yang menutup di belakang punggung Rafa. Kenangan itu datang seperti tamu lama yang mengetuk, dan ia membukakan pintu, menatapnya sebentar, lalu membiarkannya lewat. Dadanya tidak sesak. Hanya hangat, seperti bekas luka yang sudah berhenti berdenyut.
***
Sesudah ijab, para tamu berpindah ke serambi untuk makan nasi kotak dan menyalami kedua mempelai. Qenna menyerahkan Aksa pada Andin dan duduk di bangku kayu di sudut serambi, di bawah pohon trembesi. Ibu Aisyah memilih kursi tak jauh darinya, dengan seluruh jarak yang cukup untuk melihat, tetapi tidak cukup untuk mendengar.
Armand menghampiri dari sisi lain halaman. Ia berhenti di depan bangku, membawa dua gelas teh.
"Boleh duduk?"
"Boleh."
Ia duduk di ujung bangku yang satunya. Di antara mereka ada tas jinjing Qenna dan sejengkal udara yang disengaja. Ia menaruh satu gelas di sisi Qenna tanpa mendekat, lalu meluruskan punggung seperti murid yang akan melapor.
"Ada tiga hal," katanya. "Dua pertama soal Rafa."
Qenna menunggu.
"Rafa minta hadir di akadmu kelak, hanya kalau kamu mengizinkan." Armand menatap gelasnya. "Aku bilang itu bukan izinku, tapi akan kutanyakan."
Burung-burung di pohon trembesi riuh sebentar, lalu tenang.
Qenna memandang Hans dan Sindy di tangga masjid, dua orang yang baru saja diikat janji, lalu menelan sesuatu yang sudah lama ia simpan. "Boleh," sahutnya. "Sebagai ayah Aksa."
"Hanya itu?"
"Hanya itu yang saya sanggup hari ini. Kalau kelak dia mau berdiri lebih depan dengan Aksa di lengannya, itu saya putuskan nanti." Ia memutar gelas teh di telapak. "Dia tidak pernah salah soal ini, Armand. Aksa memang butuh melihat ayahnya hadir di hari-hari penting."
Armand menghela napas lega yang tidak ia sembunyikan. "Kedua. Rafa bilang ibunya menulis surat. Tiga malam di meja makan. Dia tidak mau menyerahkannya sebelum kamu bertanya. Aku diminta bilang, kalau kamu bertanya, memang ada titipan."
Qenna terdiam. Ia tidak menyangka bahwa nama itu masih bisa membuat lehernya kaku, seolah ada tamparan yang mengendap di sana.
"Surat apa?"
"Isinya aku tidak tahu. Aku tidak membaca. Tidak akan."
"Saya tahu." Qenna menarik napas. "Bilang kepada Rafa, Jumat sore. Di gerbang panti, pukul empat. Saya tidak mau terima di rumah, tidak di dalam. Di gerbang saja."
"Kusampaikan."
Ia berdiri, merapikan lengan batiknya, lalu berhenti. Armand tidak langsung pergi, dan Qenna menyadari ada hal ketiga yang belum diucapkannya.
"Yang ketiga bukan dari Rafa." Suaranya turun. "Selama sisa iddahmu, aku tidak akan datang ke panti. Kecuali bersama orang lain, atau untuk urusan Aksa, susu, dokter, hal yang memang diperlukan. Selebihnya aku menjauh."
"Kamu tidak harus."
"Harus." Ia menatapnya langsung, tanpa senyum, tanpa nada yang dibuat-buat. "Pak Dimas pernah bilang, satu foto saja cukup untuk menjelekkan seseorang. Aku sudah melihat namamu dipakai orang untuk menyakitimu karena aku. Aku tidak mau ada yang punya alasan menyebutnya lagi. Aku akan datang kembali tepat sesudah iddah selesai, hari itu juga, dan bertanya sekali lagi seperti yang kamu minta. Bukan sebelum itu."
Qenna ingin berkata bahwa ia tidak keberatan, bahwa jarak itu tidak perlu sejauh itu. Tetapi ia tahu Armand telah menghitungnya, dan ia tahu pula bahwa hatinya membutuhkan jarak itu lebih dari yang berani ia akui.
"Berapa lama lagi?" tanyanya.
"Kata Ibu Aisyah, sepuluh pekan kurang sedikit."
"Dia menghitungnya?"
"Di kalender dapur. Dengan pensil merah."
Qenna menunduk, dan senyumnya muncul sebelum sempat ia tahan.
***
Dari tangga masjid, Sindy berdiri dengan buket melati di dua tangan, dikerumuni para perempuan yang berebut tempat. Hans di sebelahnya bertepuk keras, memandu seperti MC pesta, "Satu! Dua!"
"Sin, jangan di sini, nanti kena—" teriak Citra.
Bunga itu terbang melengkung di atas kepala-kepala yang menengadah, melewati Qenna yang sengaja mundur selangkah, dan jatuh tepat ke dada Citra. Citra memekik, memeluk buket itu, lalu menangis lebih keras dari tadi, dan menyeruak lewat kerumunan hanya untuk menabrak Qenna dengan pelukan.
"Aku bangga sama kamu," isaknya di bahu Qenna. "Dari yang mengepel lobi sampai berdiri di sini."
"Aku masih mengepel kalau disuruh."
"Jangan sok kuat, Qen."
"Qen!" seru Sindy dari tangga, berurai air mata dan tawa. "Sengaja kulempar ke arahmu! Kamu yang menghindar!"
Qenna mengangkat kedua tangan. "Aku tidak ikut lomba!"
Di seberang halaman, Armand berdiri bersama kedua orang tuanya yang datang terlambat. Ia mengangkat satu tangan sekali, bukan melambai, hanya tanda bahwa ia masih di sana. Lalu ia membukakan pintu mobil untuk ibunya dan tidak menoleh lagi.
Malam itu, di dapur panti, Ibu Aisyah mengambil pensil merah dari tempatnya. Ia membuka kalender yang tergantung di dekat lemari, menghitung dengan telunjuk, dan melingkari satu tanggal jauh di halaman bulan yang belum tiba, tanpa berkata apa-apa.
Qenna, yang sedang mencuci botol susu, pura-pura tidak melihat.