Cewek yang tidur di kamar Lii saat ini mengingatkannya pada malam itu, dimana cahaya lampu warna-warni berkedap-kedip di atas kepalanya, suara canda dan tawa menghiasi malam. Tapi semua itu bukanlah cahaya bintang, melainkan cahaya lampu kesenangan yang menyala ketika gelapnya malam datang.
Club yang menjadi awal kesialan beruntun di hidup Lii, ketika ia mabuk dan tanpa sengaja menyeret seorang cewek yang nggak dikenalnya kedalam neraka. Hingga mereka terbangun dengan perasaan bingung dan kacau, terlalu sulit untuk di percaya namun itulah yang ia lakukan. Lii yang menyetubuhi cewek itu maka ia juga yang harus bertanggung jawab, berharap cewek itu nggak sampai hamil.
Irel, ia terlihat seperti cewek baik-baik karna baru pertama kali “melakukannya” tapi jika memang benar begitu, apa yang membuatnya berada di sebuah club malam? Lii tersenyum kecut lalu menatap layar handphonnya yang menyala. Satu pesan dari Wenda yang menawarinya job untuk besok, bekerja sebagai fotografer yang menjadi satu-satunya sumber datangnya uang untuk memenuhi kehidupan Lii yang menyedihkan beberapa bulan terakhir. Papanya, orang paling berharga untuk Lii telah pergi untuk selamanya dengan cara yang nggak adil.
Lii mengusap tengkuknya gusar, ia belum siap betemu Wenda, entah apa yang akan cewek itu lakukan jika ia tahu bahwa Lii berkhianat pada sahabatnya. Jasmin, cewek yang udah beberapa tahun ini ia pacari. Lii mengambil rokok yang tergeletak di meja, menyelipkannya di sela-sela jari, sedetik kemudian ia mulai menghembuskan asap dari hidung dan mulutnya.
Lii bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, untuk saat ini hal yang paling ia butuhkan adalah uang. Karna udah hampir dua bulan menunggak sewa rumah, belum lagi membayar uang semester bulan depan, tagihan listrik, dan lain-lain. Sekarang ia juga harus menanggung biaya hidup cewek itu, seengaknya untuk sementara setelah Lii memastikan bahwa cewek itu nggak hamil.
Suara decitan pintu membuat Lii tersadar dari lamunannya, seorang cewek berambut panjang bergelombang sepunggung memakai midi dress selutut berwarna hitam keluar dari kamar. Irel, ia melirik Lii sejenak sebelum melanjutkan langkahnya ke arah dapur untuk mengambil minum. Lalu kembali masuk ke kamar dengan tergesa-gesa, merasa takut dengan tatapan menusuk Lii yang nggak lepas darinya.
"Kamu nggak bosen di kamar terus?" Tanya Lii membuat Irel menghentikan langkahnya, sedangkan tangannya yang lain telah memegang gagang pintu.
"Nggak kok," jawabnya cuek.
"Kamu mau ikut aku jalan? Cari angin." Lii berdiri, menguap sambil menghampiri Irel yang beringsut. Cowok itu kini hanya mengenakan celana jeans pendek dan kaos singlet menunjukkan badannya yang sedikit kurus namun tetap berotot.
"Aku nggak mau," Irel cepat-cepat masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat, membuat angin menerpa wajah berantakan Lii.
"Terus kamu mau gimana? Kita udah tinggal serumah selama dua hari dan kamu masih nggak mau bicara apa-apa." Lii berteriak di depan pintu kamar merasa putus asa, ia hanya ingin mencoba akrab agar suasananya nggak semakin kacau. "Harusnya kita selesaiin masalah ini,"
"Ini semua gara-gara kamu! Semua nggak akan terjadi kalo kamu nggak mabuk!"
"Kenapa cuma nyalahin aku? Kamu juga nikmatin itu kan!?" Lii membalasnya dengan nada tinggi, mulai emosi dengan sikap menjengkelkan cewek itu.
'Plak!'
"Jaga mulut kamu yah!" Irel keluar dari kamar dan menampar wajah Lii.
Lii mengengam pergelangan tangan Irel dengan kasar, ini pertama kalinya ada cewek yang berani menamparnya. Tapi ucapannya mungkin memang udah keterlaluan, cewek itu mungkin mengalami sedikit trauma. Irel menatap manik mata Lii dengan berani, nafasnya memburu karna menahan amarah. Tapi ia juga benci harus mengakui apa yang di katakan Lii.
"Semua masalah ini nggak akan selesai kalo kamu cuma mengurung diri," Lii berusaha untuk lebih lembut.
"Semua ini juga nggak akan terjadi kalo kamu bisa lebih menahan diri!" Tatapan Irel menusuk. Lii memalingkan mukanya lalu mengangkat kedua tangannya berjalan mudur selangkah mencoba mengontrol emosinya. "Aku belum siap buat bahas ini, tolong jangan ganggu aku." Jawab Irel mencoba menahan isakannya. Ia masuk kembali ke kamarnya.
"Oke kalo itu mau kamu," nggak lama kemudian terdengar suara pintu rumah yang tertutup dengan keras dan suara nyaring motor yang mulai menjauh dari rumah kecil itu.
Irel bersandar pada pintu kamar, air mata mulai mengucur di pipinya. Sebenarnya ia juga nggak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia nggak mungkin pulang pada Papanya dengan keadaan seperti ini. Irel merasa saat ini ia kualat karna memutuskan kabur dari rumah. Tapi ia nggak punya pilihan lain, Irel nggak betah berada di rumah, ia nggak mempermasalahkan Papanya menikah lagi, tapi bukan berarti dengan seorang wanita yang jelas-jelas adalah ibu dari seorang anak yang pernah menjadi pelaku pembullyan atas Irel.
Perlahan tubuh Irel luruh ke lantai, ia juga merasa bersalah karna memperlakukan Lii seperti ini, seharusnya ia bersyukur karna cowok itu masih memiliki niat untuk bertanggung jawab. Irel sadar semua ini bukan sepenuhnya salah Lii.
Samar-samar Irel mengingat kejadian di malam itu, saat dirinya kabur dari rumah dan memutuskan untuk menemui Nayas sahabatnya yang belakangan bekerja sebagai bartender di club malam, Irel duduk di depan meja bartender dengan perasaan gundah. Nayas memberikannya minuman non alkohol lalu pergi untuk mengantarkan pesanan pada pelanggan lain. Sepertinya saat ia melamun ada yang dengan sengaja menaruh obat di minumannya dan itu membuat badan Irel terasa panas membara. Ia berjalan cepat mencari toilet, tapi nggak sengaja menabrak d**a bidang Lii dan sepertinya cowok itu sedikit mabuk. Mata mereka bertatapan, Lii tersenyum sayu ke arahnya, perlahan mengusap pipi Irel dengan lembut sambil mengatakan “kamu cantik”. Sentuhan yang benar-benar membuat Irel merinding, ia ingin memblokir ingatan itu jauh-jauh namun nggak bisa. Andai ia bisa memutar kembali waktu.
"Jasmin pasti kecewa banget sama gue, Wen." Lii mengusap tengkuknya. Wenda nggak menunjukan respon apapun,"Gue udah hianatin dia," lanjutnya dengan ragu.
"Jadi gitu ya," Wenda menjawab dengan santai, membuat Lii mengeryit. "Teryata bener, Jillian nggak sengaja liat lo sama cewek lain di club," Lii mengeryit, sekarang Lii ingat. Jillian cewek tomboy yang hampir membunuh temannya sendiri saat SMA itu, Lii memang sering melihatnya di club.
"Itu kecelakaan," lanjut Lii.
"Gue rasa lo udah cukup dewasa, buat mutusin apa yang bakal lo lakuin," Wenda menepuk bahu Lii pelan, "perlu lo inget, lebih sakit lagi kalo kita jadi satu-satunya orang yang nggak tau tentang apa yang terjadi sekarang. Jangan bikin Jasmin keliatan bego."
Lii mengganguk, paham apa maksud dari ucapan Wenda, "gue bakal nunggu situasi yang tepat,"
"Good luck deh," Wenda tersenyum meyakinkan.
Cewek berambut pendek itu mengeluarkan rokok dari balik saku jaket baseballnya lengkap dengan korek, ia melempar satu batang yang di tangkap sempurna oleh Lii, "haha, sejak kapan?" Tanya Lii penasaran, orang yang anti asap rokok seperti Wenda sekarang menjadi seorang pecandu? "Gara-gara masalah di Kalimantan?" Wenda hanya mengangkat bahunya nggan menjawab.
Wenda mulai menyalakan rokoknya lalu milik Lii, mereka kembali menatap ke bawah dimana mahasiswa berlalu lalang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sekarang mereka berada di lantai 3 di sudut lorong yang biasa digunakan untuk nongkrong. Wenda menatap ke langit dimana cuaca sedikit mendung sore ini, "Dammar udah bebas dari penjara, Lii." Wenda menghembuskan asap dari mulutnya.
"Lo masih dendam sama dia?"
"Nggak, lagian nggak akan ada yang berubah kalo gue lakuin itu." Wenda menatap mata hitam Lii lekat, jawaban Wenda terdengar ikhlas dengan apa yang terjadi di masalalu. "Anak-anak ngajakin lo ‘minum’ malem ini."
"Sorry banget, tapi gue nggak bisa ikut."
“Iya, nanti gue sampein.”
“Apa lo bakal terus-terusan hidup kayak gitu?" Tanya Wenda terdengar serius.
"Gue nggak tau, Wen. Gue udah kehilangan tujuan hidup semenjak Papa nggak ada. Ditambah lagi masalah ini.” Lii mengacak rambutnya frustasi.
"Lo nggak akan bunuh diri, kan?"
"Mungkin," jawab Lii dengan senyum misterius.
"Haha sialan," Wenda tertawa jenaka.
Lii menyikut lengan Wenda, "gue nggak segila itu, kali." Mereka tertawa bersama lalu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Makasih, Wen." Lii tersenyum tulus merasa lega untuk sementara ini.
***
Lii menguap menderita kurang tidur karna pekerjaan dadakan semalam, terlebih pagi-pagi buta Bu risma mengedor-gedor pintu rumahnya untuk menagih uang sewa. Wanita paruh baya itu pergi dengan wajah sumringah karna Lii membayarnya sekaligus untuk sewa dua bulan kedepan dengan uang hasil kerja kerasnya.
Sekarang ia berada di halaman belakang rumahnya yang nggak terlalu luas memanaskan motor vespa jadul berwarna biru peninggalan Papanya yang penuh kenangan. Ia ingat saat kali pertama pacaran dengan Jasmin, Lii membawa cewek itu jalan dengan motor butut ini dan berakhir dengan mogok di jalan.
Tanpa sadar Lii tersenyum, ia mematikan motornya karna harus pergi mandi, bersiap untuk berangkat ke kampus lalu kembali bekerja. Ia nggak bisa terus membolos dan menyia-nyiakan hidupnya yang di biayai dengan sisa uang tabungan papahnya, sebelum usaha mereka jatuh bangkrut dan melempar Lii ke kehidupan seperti sekarang. Tapi ia nggak merasa menyesal sedikitpun karna memilih untuk tetap ikut bersama Papanya, orang yang penuh tanggung jawab dan selalu memberikan kasih sayang pada Lii. Ia berjalan ke kamar mandi dan mendapati Irel yang sedang duduk manis bertumpu pada meja, memakan roti tawar dengan selai di dapur. Lii hendak menyapanya namun seketika menggurungkan niatnya.
Lii keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, menampakan dirinya yang sebenarnya lumayan ganteng dengan badan tegap dan tinggi 174 cm, kulitnya yang berwarna kuning langsat terlihat sangat bersih. Lii juga cowok yang lumayan populer saat masih SMA karna dirinya aktif dalam organisasi sekolah, bahkan ia pernah berfikir memanfaatkan ketampanannya untuk menjadi gigolo. Tapi untungnya itu nggak terjadi.
Ia berjalan menuju kamar hanya menggenakan handuk putih di pinggang. Kamar itu kosong karna penghuninya yang sekarang sedang asik menonton tv di ruang tamu. Kamar dengan cat putih yang mulai kusam itu terlihat lebih rapih ketika Irel berada disini, Lii kira dia hanya cewek manja yang hanya tau marah-marah dan merengek. Lii membuka lemari kayu yang nggak terlalu besar itu lalu ngeryit karna nggak menemukan satupun pakaiannya berada di dalam sana. Hanya ada baju dress dan pakaian dalam cewek yang tertata rapih, bahkan Lii nggak tau sejak kapan baju-baju itu berada di disana.
Lii membuka pintu kamar dengan kasar, menatap satu-satunya orang yang berkemungkinan menjadi pelaku atas hilangnya semua pakaian Lii. "Kamu kemanain semua baju aku?!" Tanya Lii menghardik.
"Di dalam koper," jawab Irel dengan santai sambil menganti saluarn tv yang mulai membosankan. "Aku capek bongkar-bongkar koper, jadi aku pindahin." Lii menoleh kebelakang dan menemukan koper biru tua Irel yang tergeletak di sudut ruangan.
"Itu nggak mungkin muat, sisanya kamu taruh dimana?"
"Di laci meja belajar kamu," Lii dengan cepat memeriksa laci mejanya dan benar, semua pakaian dalamnya ada di sana. Ia nggak habis pikir, cewek itu benar-benar hampir membuatnya frustasi.
"Kenapa kamu taruh disini? Lemari itu masih muat buat baju kamu juga!" Seru Lii dari dalam kamar setelah merapihkan baju kaosnya dan menyisir rambutnya yang bergaya caesar cut, gaya rambut dengan bagian poni yang cenderung pendek, dan daitur ke arah depan serta samping, membuatnya terlihat seperti boyband korea. Sebenarnya orang-orang memanggilnya dengan nama “Lii” bukan tanpa sebab. Semua karna rambutnya yang bergaya seperti itu.
"Kenapa sih kamu terus-terusan protes?!" Irel menyahut dengan jengkel dari ruang tamu. Lii mengambil jaket bomber berwarna hitam yang tergantung rapih di kursi. Nggak lupa dengan tas dan buku mata kuliah yang udah ia siapkan. Lii bersiap keluar dari dalan kamar untuk menghadapi cewek itu.
"Kamu pikir ini rumah siapa?!" Lii nggak mau mengalah.
"Ya, emang rumah kamu! Sebelum ada aku disini!"
"Jangan seenaknya!" Lii mengikuti Irel yang berjalan kearah dapur karna merasa haus terus-terusan berteriak nggak jelas.
"Iya tapi aku nggak mau itu dicampur sama baju kamu," Irel teringat saat ia terlihat seperti maniak saat memindahkan boxer milik Lii menggunakan plastik sebagai sarung tangan.
"Memang apa masalahnya sih?" Suara Lii mulai terdengar lelah.
"Ya, karna itu bekas kamu," Irel menatap mata Lii yang berdiri hanya berjarak beberapa inci depannya.
"Terus kenapa kalo itu bekas aku? Itu di cuci bersih kok. Kamu juga tidur di kasur bekas aku, duduk di sofa bekas aku, pakai selimut bekas aku,"
"Itu lain cerita,"
"Aku nggak paham jalan pikir kamu,"
"Iya, karna kamu cowok mesum."
"Apa?!" Sembur Lii yang udah kembali emosi nggak terima dengan perkataan cewek itu. "Oke, iya aku cowok m***m, kalo aku nggak m***m aku nggak akan nidurin kamu." Jawab Lii tersenyum puas melihat raut wajah Irel.
"Jangan bahas itu!" Irel mulai berteriak lagi menatap Lii marah.
Lii bersedekap d**a, "Malam itu kamu yang paling ganas, karna nggak bisa berhenti. Aku cuma tiduran kehabisan tenaga dan kamu masih menari di atas aku karna efek obat itu," Irel menunjuk wajah Lii yang tersenyum mengejek.
"Kamu!!!" Muka putih Irel sekarang benar-benar merah padam karna malu dan menahan kesal. Lii masih tersenyum puas. Tapi Irel tiba-tiba menyiramkan air minumnya ke baju Lii membuat cowok itu terperangah nggak percaya. Ketika ia akan kembali membuka mulut handphone di saku jaketnya berdering menghentikan perdebatan sengit itu, ia segera mengeluarkannya dari jaket dan tertera nama Jasmin di layar. Sekarang ia baru ingat apa masalah utama yang harus segera di selesailan terlebih dahulu.
ooOoo