Alkanna Archie Najendra, kerap dipanggil Archie. Dia seorang dosen di salah satu universitas ternama di Indonesia. Pria matang berumur 30 tahun yang hingga saat ini masih lajang. Pria tersebut saat ini tengah memberikan materi kepada seluruh mahasiswa maupun mahasiswinya.
Jika biasanya seorang dosen dikenal memiliki kepribadian baik, berbeda dengan pria satu ini. Dia merupakan dosen yang dikenal memiliki sikap arogan, sombong, berandal dan sikap buruk lainnya. Entah bagaimana caranya dengan sikap tersebut, dia bisa diterima menjadi seorang dosen di universitas ternama.
Terlepas dari semua sikap buruknya, banyak dosen wanita dan mahasiswi yang memuja parasnya. Mereka seolah melupakan sikap buruk dari Archie. Bahkan terkadang, Archie juga mendapatkan beberapa hadiah yang dikirimkan ke alamat rumahnya. Tetapi dia tidak mengetahui siapa pengirim hadiah-hadiah tersebut.
“Baiklah, hari ini saya cukupkan. Jangan lupa untuk mempelajari bab selanjutnya.” ujar Archie kepada seluruh mahasiswa maupun mahasiswi yang tengah bersiap untuk pergi meninggalkan kelas tersebut.
Kedua mata hitam kelam dan tajam milik Archie saat ini tengah sibuk menatap seorang gadis yang tengah memasukkan beberapa buku miliknya ke dalam tas. Tidak lama kemudian, gadis tersebut berdiri sambil merapikan rambutnya. Dia menoleh ke arah depan memberi anggukan kepada Archie sebelum pergi meninggalkan kelas.
Archie membalas anggukan gadis tersebut dengan senyuman khas miliknya. Ini adalah pertama kalinya Archie menunjukkan senyuman khas miliknya, bukan seperti biasanya yang hanya terdapat senyuman meremehkan.
Ya! Siapa yang tidak mengenal gadis tersebut? Tanasha Zaara Mecha, gadis idaman mahasiswa yang memiliki kecantikan seperti bunga mawar. Cantik namun berduri. Dia juga merupakan satu-satunya gadis yang tidak tertarik dengan Archie. Bahkan terlihat jelas di mata coklat indahnya yang memperlihatkan rasa malas saat berurusan dengan Archie.
“Menarik dan cantik” gumam Archie dalam hati. Setelah itu, dia pun segera pergi meninggalkan kelas dan bergegas untuk pulang.
***
Sesampainya di rumah, Archie langsung pergi ke dalam kamarnya untuk membaringkan tubuh atletis tersebut. Bersamaan dengan itu, sebuah ketukan terdengar dari arah pintu kamar. Dengan mata terpejam, dia berkata "Masuk".
Pintu kamar miliknya terbuka, menampakkan sosok wanita yang kecantikannya tidak termakan usia. Wanita tersebut bernama Lyla, ibu dari Archie. Lyla lantas berjalan mendekati sang putra yang kini tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size tersebut.
“Rupanya putraku sudah selesai mengajar” ujar Lyla seraya duduk di samping Archie.
Archie mengangguk seraya mengusap wajahnya supaya mata miliknya tidak terpejam.
Lyla menunjukkan seulas senyuman miliknya seraya berkata "Lalu, apakah kamu sudah memikirkan permintaan kami berdua?".
“Memikirkan apa?”
Lyla terkekeh. “Jangan sampai kamu melupakan statusmu.”
Archie berdecak. Dia pun berpaling ke arah lain. “Aku mengingatnya mom.”
“Lalu?” tanya Lyla.
“Lalu apa?” tanya balik Archie.
“Archie, kapan kamu akan mengenalkan wanita pilihanmu kepada kami berdua? Kamu tidak lupa jika kami ingin segera punya cucu bukan?” ujar Lyla.
Oke, Archie telah mendengar pertanyaan tersebut lebih dari seratus kali. Dia harus bersikap dewasa untuk menghadapinya.
Ya. Orang tua Archie mendesak putranya untuk segera menikah. Selain karena usia Archie yang sudah matang, mereka juga ingin segera memiliki cucu. Namun, putranya sangat sulit untuk menikah.
“Secepatnya.” jawab Archie asal. Lagipula dia juga tidak tahu siapa yang harus dikenalkan kepada orang tuanya dikarenakan saat ini dia sedang tidak dekat dengan siapapun.
“Secepatnya? Kau selalu saja mengatakan itu” sindir Lyla.
“Aku tidak punya waktu untuk berkencan mommy, aku sibuk dengan pekerjaanku” jawab Archie.
“Kami tau kamu sibuk Archie, tapi kamu tetapi harus membangun hubungan rumah tangga karena hal tersebut juga sangat penting untukmu. Jangan sampai kamu terlalu tua untuk menikah” nasehat Lyla.
“Tidak akan lama. Kalian hanya perlu bersabar sedikit lagi.”
“Baiklah, kami beri waktu dua minggu atau kami akan melakukan sesuatu.” .
Archie berdecak. Dua minggu katanya?Hei, jangan bercanda. Bagaimana dia bisa mendapatkan wanita dalam kurun waktu dua minggu? Mustahil.
Setelah mengatakan hal itu, Lyla pergi berlalu meninggalkan kamar putranya. Archie bangkit berdiri menuju kamar mandi pribadinya. Ya! Dia perlu air dingin untuk menyegarkan pikirannya yang sedang kacau sekaligus memikirkan solusi dari permintaan kedua orang tuanya.
***
Keesokan harinya, Archie memasuki ruangannya setelah selesai memberikan materi kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi nya. Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangannya dan langsung masuk begitu saja.
“Selamat siang, Pak. Sudah selesai mengajar?” tanya seorang dosen wanita bernama Berli.
Berli merupakan salah satu dosen wanita yang tergila-gila dengan Archie. Dia sering mengganggu waktu istirahat Archie dengan menempel seperti lintah.
“Sudah.” jawab Archie singkat.
Berli sedikit terkekeh. “Wah, dingin-dingin bikin tegang.”
Archie memilih mengacuhkannya. Berli yang merasa diacuhkan pun lantas malu dan segera pergi meninggalkan ruangan Archie. Setelah kepergian Berli, Archie menghela nafas berat. Dia sempat memikirkan untuk membawa Berli ke hadapan orang tuanya namun setelah dipikir ulang, lebih baik tidak.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu ruangan. Archie pun menyuruhnya untuk masuk.
Terlihat seorang gadis cantik dengan tatapan malasnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Gadis itu mengenakan pakaian casual yang terlihat cocok di tubuhnya.
“Selamat siang, Pak Archie. Saya-” ucapannya dipotong oleh Archie.
“Tanesha Zaara? Mahasiswi yang ingin menyusul ujian. Silahkan duduk.”
Tanesha segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Archie.
“Benar, Pak. Saya ingin menyusul ujian yang bapak adakan tiga hari yang lalu dan maaf karena saya tidak bisa hadir saat itu.” ucap Tanesha.
“Tidak masalah. Tetapi saat ini aku tidak bisa memberikanmu ujian. Bagaimana kalau nanti sore? Kau bisa datang ke rumahku.”
“Baik, Pak. Pukul berapa saya bisa datang ke rumah bapak? Dan bisakah saya meminta alamat lengkapnya.”
Archie terkekeh. Itu adalah reaksi yang tidak terduga. “Tidak usah bicara formal, kamu bisa memanggilku Archie.”
Tanesha memutar bola matanya malas sembari meraih ponselnya untuk meminta nomor ponsel dari dosen tersebut.
“Aku sudah menyimpan nomor ponselmu. Setelah ini aku yang akan menghubungimu lebih dulu.” ucap Archie yang mengerti maksud dari gadis ini.
Tanesha mengernyitkan dahinya merasa aneh akan hal tersebut. Dia bertanya tanya dalam hati ‘Apakah seorang dosen akan menyimpan semua nomor ponsel mahasiswa mahasiswinya? Bukankah itu aneh. Apa dosen di depanku ini memiliki waktu seluang itu untuk menyimpan nomor ponsel mahasiswa mahasiswinya?’. Dia pun segera menyudahi pikiran anehnya karena dia ingin segera pergi dari ruangan ini.
“Baik, Pak. Saya akan menunggu kabar selanjutnya. Jika begitu, saya permisi dan terimakasih.” ucapnya seraya bangkit berdiri.
“Aku belum menyuruhmu untuk pergi dari ruangan ini.” uca Archie tiba-tiba.
Tanesha memberhentikan langkahnya dan kembali duduk di tempatnya semula. Setelah itu, tidak ada perbincangan apapun. Terlihat Archie yang memperhatikan gadis cantik di hadapannya ini dengan seksama. Tanesha yang melihat hal itu lantas menaikkan alisnya bermaksud menanyakan maksud dari tatapan sang dosen.
Archie terkekeh melihat respon dari mahasiswi nya ini. Jika biasanya gadis yang ditatap Archie akan tertunduk malu, berbeda dengan mahasiswi nya ini. Dia justru menaikkan alisnya secara terang-terangan kepadanya. Bukankah gadis ini begitu menarik?
Tanesha yang muak akan situasi ini lantas bertanya “Bisakah saya keluar saat ini, Pak?”
“Baiklah, kamu boleh keluar. Tunggu pesanku setelah ini.” ucap Archie kemudian.
Tanesha langsung pergi dari hadapan dosen anehnya itu.
***