Feeling-ku benar. Pagi-pagi Daniel mendapat telpon dari pihak kargo yang meminta kami untuk pergi ke port. Wajah Daniel yang tegang sudah menjadi pertanda bahwa ini akan menjadi hari yang buruk.
"Nat...kamu tidak bawa packing list-nya?" jeritan Daniel hampir menyerupai teriakan mak lampir. Heran bagaimana seorang pria setegap dan sekokoh Daniel bisa menjerit mengeluarkan teriakan ala nenek-nenek. Aku hanya diam pertanda bahwa apa yang ia duga adalah benar adanya. Aku memang tidak membawanya karena menurut kargonya, packing list itu akan dikirim padaku saat aku tiba di Bangkok. Dalam hati aku mengutuk pihak Kargo dan tak bisa mengelak omelan Daniel sepanjang kami turun ke lobi.
Kami dijemput seorang perempuan Thailand setengah baya dari pihak kargo. Daniel sudah menunjukkan sikap tidak sukanya pada si perempuan itu sejak awal kami bertemu. Di dalam sedan yang sempit, aku harus bersedia mendengar pertengkaran Daniel dan si wanita itu gara-gara kargo kami yang sudah dua hari telat dibongkar. Untung aku duduk di antara mereka coba kalau tidak wajah Daniel pasti habis dicakar si perempuan Thailand ini. Heran bagaimana bisa Daniel mampu meladeni perempuan cerewet di sebelahku ini yang bahasa Inggrisnya sulit dipahami karena memang ia berbicara sangat cepat dengan dialek Thai.
"What happen to your boss? Why he always talk to me like that. I already explained." Si perempuan itu mengungkapkan rasa kesalnya pada Daniel melaluiku. Jujur aku hampir tertawa dan lupa dengan perang dunia ketiga yang sedang terjadi dalam mobil sempit ini gara-gara logat bicara si perempuan ini yang sangat aneh di telingaku.
"Nat...don't talk to her! Nggak ada gunanya" Seru Daniel marah yang membuatku langsung mematung diam. Ohhh...benar-benar bencana. Sedang perempun di sebelahku mulai mengoceh dengan bahasa Thailand yang membuat kepalaku rasanya mau pecah.
Dengan penuh perjuangan keringat dan air mata akhirnya barang-barang kami bisa keluar dari port. Alhasil aku dan Daniel menata barang kami di tengah jalannya pameran dan tentu saja di hari ketiga. Maka hilanglah sudah kesempatan mendapatkan buyer. Karena biasanya waktu paling tepat untuk mendapatkan buyer adalah hari pertama dan kedua. Bahkan di hari kedua Ratu Sirikit sempat lewat di depan stand kami yang kosong melompong. Yeah we are totally like stupid persons.
Karena hal ini Daniel benar-benar memusuhiku. Dia kembali menjelma menjadi a heartless jerk. Hilang sudah kesan Prince Charming yang ia ciptakan semalam. Bahkan menurutku sisi Daniel yang ini kandungannya jauh lebih tinggi dibanding sisi lembutnya. Seperti sikapnya saat ini padaku.
"Daniel bisa kamu jaga stand sebentar. Aku mau ke toilet." Kataku setengah memohon sambil meringis menahan hasrat ingin pipis.
"Okey...not more than five minutes." Jawabnya dingin.
"Ha?! Daniel kamu gila apa? Jalannya aja butuh waktu 5 menit lebih belum baliknya dari sana." Protesku dengan tubuh yang terus bergerak demi bisa menahan hasrat ini. Di gedung yang maha luas ini, posisi stand kami memang cukup jauh dari toilet yang yang seperti kubilang tadi mungkin butuh waktu 5 menit atau lebih, belum lagi lalu lintas menuju toilet yang cukup padat merayap karena begitu ramainya manusia yang berkunjung saat ini. Belum lagi waktu untuk doing my business. Coba dihitung! Paling tidak aku butuh waktu 15 menit..itu pun paling cepat.
"Kamu sudah menghabiskan waktu dua menit." Katanya tanpa memandangku. Beneran pengen kugetok kepalanya pake pot yang ada di depanku saat ini. Tanpa mau berdebat lagi aku meninggalkan si bule gila itu. Untung aku semalam tidak jadi menitikkan air mata karena melihatnya menyanyikan sebuah lagu nan romantis buatku. Bakal sia-sia tetes air mataku itu dan tentu saja aku pasti akan menyesalinya seumur hidupku. Dan mulai saat ini aku memutuskan secara resmi bermusuhan dengan Daniel.
Marahan kami kali ini kadarnya cukup besar dibanding marahan kami sebelum sebelumnya. Aku benar-benar tersinggung dengan Daniel dengan masalah toilet tadi. Aku sudah cukup menerima omelannya selama perjalanan dari hotel ke port dan dari port ke tempat pameran. Hanya karena aku tidak membawa packing list dan kargo yang terlambat diturunkan, yang sepenuhnya bukanlah salahku, dia menjadikanku musuh terbesarnya saat ini. Okay...kalau itu maumu.
Maka malam ini setelah hari terakhir pameran, kami pun jalan sendiri-sendiri. Aku lebih banyak berdiam di kamar demi menghindar melakukan kontak dengan Daniel dan aku yakin dia pun juga sedang menghindariku.
Daniel dijadwalkan pulang sehari lebih dulu dari padaku. Dia pulang hari Minggu sedang tiketku sendiri untuk hari Senin. Kekesalannya padaku masih tampak sehingga dia sempat mengeluarkan kata-katanya yang membuat aku benar-benar sakit hati.
"Nat...aku mau kamu pulang besok bersamaku dan bukan Senin."
"Tapi jadwal tiketku hari Senin, Daniel!"
Dia terdiam.
"Okay kalau gitu. I want you to still work at the hotel. I don't want you to take advantage for sightseeing in Bangkok."
What?!! Sightseeing nenek lu kemping!!! Makiku dalam hati. Seenaknya aja dia menuduhku sengaja pulang hari Senin karena berniat akan jalan-jalan dulu sehari di sini. Pengen ku tonjok benar nih bule. Dia apa nggak tahu setiap saat aku terus online dengan buyer buyerku. Seenaknya dia bilang aku mau ngambil keuntungan dari dia. Okey mulai hari ini aku tidak akan lagi menganggap dia teman. Daniel is my boss. That's it!!
Rasa sakit hatiku karena Daniel sempat terobati dengan SMS dari Ben.
Kak...aku sudah dijemput Sam ke Ubud. Thanks for everything. Aku traktir makan kalau kk udah pulang. Be safe!!
Aku tersenyum sambil mengetik balasan untuk Ben. Setelah itu aku benar-benar tertidur pulas.
***
Setibanya di Ngurah Rai aku menelpon Daniel menanyakan apakah aku perlu ke kantor lagi atau tidak karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 sore sedang jam kantorku berakhir pukul 17.30. Ini sebenarnya kulakukan hanya sebagai formalitas seorang staf pada bosnya. Aku merasa aku harus tetap professional meskipun hubungan pribadiku dengan Daniel agak memburuk. Aku yakin sebagai bos yang baik, Daniel akan membiarkanku langsung pulang. Tapi ternyata Daniel memang sangat kekanak-kanakkan. Dia masih marah dan dendam padaku.
"Kalau kamu menanyakan aku perlu kamu atau tidak tentu saja aku sangat memerlukanmu." Aku tersenyum kecut. Mendengar kata-kata Daniel di seberang sana. Okay kalau emang itu perintahmu bos!! Dan setiba di sana aku ternyata hanya setor muka tanpa melakukan apa-apa. Semua karyawan bersiap akan pulang. Bahkan Artha dan Made sempat menanyakan kenapa aku harus ke kantor lagi dan nggak langsung pulang ke rumah. Aku merasa tidak perlu menjelaskan pada mereka tentang perintah Daniel. Dan aku putuskan untuk langsung saja memberikan laporanku pameran kemarin pada si Bos. Toh laporan itu sudah kuselesaikan semalam. Aku menuju ke ruangan Daniel dan mengatakan akau berniat akan memberikan laporannya, dan Daniel dengan seenaknya mengatakan,
"Oh nggak usah. Besok aja nggak apa apa. You must be tired." Duhhh...sekali lagi pengen kugetok kepalanya pake laptop saat ini juga. Tau gitu kan aku tidak perlu ke kantor. Dia memang sengaja mempermainkanku.
"Hey...reimburse my cab's money." Aku menyodorkan telapak tanganku padanya. Aku sudah menghabiskan duit hampir 100 ribu for nothing. Seharusnya saat ini aku sudah tiduran di kamarku.
"Hey kamu tahu kita sudah menghabiskan 2 ribu dollar for nothing too. Tak ada buyer yang kita dapat. And you!" Daniel berbalik mengahadapku. Sial! Dia membalasku dengan telak. Aku menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Kamu juga sangat manja. Mau pindah hotel lah karena kamar mandinya jelek lah...Holliday Inn itu kan mahal." Serunya. Mataku sudah fokus pada laptop Applenya seandainya aku punya kecepatan tangan seperti Jacky Chan sudah habis kepalanya kugetok berkali-kali pake laptopnya. Bagus sekali dia mengungkit semua itu di saat ini. Apa dia lupa dengan beberapa ordernya yang aku golkan yang jumlahnya berkali-kali lipat dengan 20 juta yang ia keluarkan di Bangkok itu.
Aku mencoba menahan emosiku yang sudah menjalar ke arah ubun-ubun.
"Enough Daniel! Apa yang terjadi kemarin itu kan juga di luar kontrolku. Seandainya aku yang jadi istri si Raja itu pasti aku dengan senang hati membiarkan Port itu tetap buka dan barang-barang kita duduk manis di stand pameran sejak hari pertama." Aku balas mengomelinya.
"Sssshh....dont't bring that... that ..." Jari Daniel yang mengacung di depanku berheti bergerak. Dan dia juga tidak jadi meneruskan kalimatnya. Aku menantang matanya. Daniel tampak menahan kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Please boss... Don't go with that word...eh..eh.." aku balas mengacungkan jariku di depan wajahnya. "If anybody from Thai heard that then you will die." Bisikku tepat di depan wajahnya. Daniel menurunkan tangannya. Dia mundur dan berjalan ke mejanya.
"Oke oke...he is out of the topic so don't bring him to our conversation.. Okay." Daniel menarik kursinya kemudian duduk. Aku pun ikut menarik kursi di depan meja Daniel dan ikut duduk.
"Natalie...I'll be on top of everything. Harold is asking me...asking for my responsibility." Aku membiarkannya bicara sambil membawa nama Harold Keys, pendana perusahaan kami. 'And now I am asking for your responsibility."
"Daniel...aku sudah bertanggung jawab. Tanggung jawabku sampai kargo itu berangkat. Dan apakah itu salahku kalau barang kita sampai tepat di hari perayaan itu?" Aku bicara setenang mungkin kukendalikan emosiku. Kenapa Daniel susah sekali memahami bahwa ini bukanlah sepenuhnya salahku. Ini memang imbas dari kehilangan 20 juta tanpa ada buyer satupun yang kami tangkap.
Aku melihat dia hanya menarik napas dan menghembuskannya dengan keras. Dua jarinya mulai mengetuk-ngetuk meja di depannya. Bola matanya tidak fokus. Daniel sedang emosi dan sebaiknya aku tidak usah meladeninya.
"Okay Daniel...aku rasa aku harus pulang." Aku mencoba berkata dengan tenang padahal titik kesabaranku sudah mendekati angka nol. Percuma aku berdebat dengannya toh inti masalahnya adalah karena tidak ada buyer yang nyantol saat di Bangkok dan kita kehilang 20 juta hanya untuk biaya pesawat dan hotel di sana. Tidak ada gunanya sama sekali.
Daniel tak bereaksi apalagi mengeluarkan sepatah kata. Dan bagiku itu tandanya aku bisa keluar kapan saja dari ruangannya.