"Jadi, mau langsung ke dufan ?" Tanya pria yang berjalan di sisi kiriku. Kami melangkah, menuju tempat yang terasa asing bagiku. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini.
"Aku pengen ke sea world sih. Tapi, dufan juga ga masalah. Bebas kok."
"Hey. Yang belum pernah ke dufan itu bukan aku lho." protesnya.
Aku tertawa pelan. "Oh iya."
"Jadi ?" tanyanya lagi.
"Kalau kita ke dufan, terus sea world juga. Waktunya keburu ga ?" tanyaku. Masih tidak bisa menentukan pilihan tempat mana yang ingin aku datangi.
Dia melirik jam dipergelangan tangannya. "Keburu kok."
Aku tersenyum sumringah. "Kita datangin dua-duanya aja ya." Pintaku, antusias.
"Oke kalo gitu."
***
Tempat pembelian tiket masuk dufan adalah yang pertama kami datangi, karena tempat ini memang lebih dekat dari halte, tempat pemberhentian bus way yang kami tumpangi sebelumnya. Aku menatap pria tinggi yang tengah mengantri membeli tiket untuk kami berdua. Senyumku terbit begitu saja, mengingat betapa nekatnya aku hari ini, benar-benar bukan diriku.
Sejujurnya, kedatanganku ke Ibu Kota tidak ada hubungannya dengan pria itu. Aku ditugaskan kantor untuk mengikuti pelatihan selama dua hari. Awalnya aku menolak untuk mengikuti pelatihan tersebut, karena beberapa pertimbangan. Namun sepertinya keputusan atasanku tidak bisa digoyahkan. Jadilah aku yang berangkat mengikuti pelatihan tersebut.
Beberapa hari sebelum keberangkatanku, aku mengabari pria tinggi ini. Pria yang ku kenal di salah satu project yang melibatkan ia didalamnya. Namanya Gaga Winarto, dan entah bagaimana caranya, kami jadi sering bertukar cerita.
Tadinya, aku tidak ingin menambah jadwalku di Ibu kota. Jadwal pelatihan adalah hari kamis dan jumat, dan aku berniat untuk pulang sabtu pagi. Namun Gaga menyarankan untuk stay lebih lama di Ibu kota. Dia bilang "sayang lho udah sampe Jakarta tapi ga main dulu. Pulang minggu aja." Ucapnya yang membuatku menjadi bimbang.
Kufikir, dia hanya berbasa-basi menyarankanku untuk jalan-jalan di Jakarta. Namun tidak, dia justru mau menemaniku untuk jalan-jalan, meski harus menempuh perjalanan dini hari menggunakan kereta api menuju Ibu Kota.
Dan disinilah kami sekarang. Dikawasan Ancol, yang ramai oleh pengunjung yang ingin menghabiskan waktu libur mereka.
Gaga meberikan salah satu tiket untukku. "Ini udah include tiket sea world." Ucapnya.
Aku mengangguk, menerima tiket tersebut.
"Menurut kamu, kita ke dufan atau sea world dulu ?" Tanyanya. "Kalo dufan, kita tinggal masuk disana. Btw sea world tutupnya jam 5." Dia menjelaskan.
"Gimana kalau sea world dulu, habis itu baru ke dufan. Jadi, kita bisa seneng-seneng di dufan tanpa takut sea world tutup."
"Setuju." Ucapnya lalu kembali mengajakku berjalan.
Kami kembali melangkah. Aku mengikuti Gaga dari belakang, karena langkahnya yang besar sulit untuk aku susul. Namun sesekali dia berhenti, untuk mensejajarkan langkah kami.
"Bisa kali ga usah cepet gitu jalannya." Ucapku.
"Itu langkah biasa aku lho, ga lari, ga buru-buru juga."
Aku maklum, untuk seseorang dengan tinggi 185cm, pasti juga sulit baginya melangkah dengan langkah kecil.
"Oh ya, disini tu ada bus yang keliling ancol gitu. Kita bisa naikin itu, dan gratis." Ucapnya menjelaskan. Ia menoleh kearahku. "Mau naik bus atau jalan aja ?" Tanyanya lagi.
"Sea world nya jauh ?" aku balik bertanya.
"Ga terlalu, tapi lumayan kalo jalan kaki. Kita naik bus aja ya." Ajaknya.
Aku mengangguk. "Aku pasrah lho hari ini. Pokoknya aku ngikut mas nya aja."
Dia tertawa pelan. "Mba nya pasrahan ah."
Didalam bus, kami kembali mengobrol. Bersamanya, ceritaku tidak pernah habis. Dan mendengarnya bercerita, membuatku antusias. Dari obrolan biasa, hingga berdebat tentangnya yang tidak membalas pesanku kemaren, padahal kami ada janji hari ini untuk pergi bersama.
"Aku beneran kesel lho." Ucapku. "Bisa-bisanya kamu ga bales chat aku. Padahal kita ada janji hari ini. Aku sampe ngiranya ga jadi terus mau main sama kakak yang barengan pelatihan sama aku." Omelku.
"Tau ga sih, aku sampe cerita sama kakak itu sambil ngomel-ngomel dan bilang emang ada ya kak, orang jaman sekarang yang ga buka wa sama sekali. Untung aku bangunnya pagi dan langsung liat hp. Kalo engga, ya selamat aja deh ya, nungguin di stasiun ampe lumutan."
Gaga menggaruk tengkuknya. "Iya-iya, maaf. Aku salah."
"Emang kamu salah. Sekarang aku tanya, emang kemaren seharian ga pegang hp ? ga buka wa ?" tanyaku, masih dengan nada kesal.
"dengerin dulu dong. Jangan ngomel-ngomel terus."
"Iya, aku dengerin. Jadi ?"
"Kemaren tu aku emang rada sibuk, tapi masih pegang hp dan buka wa kok. Nah masalahnya, chat kamu kan di wa yang satu lagi. wa itu tuh ga ada notif. Jadi aku ngiranya kamu ga ngehubungin aku juga karena ga ada notif apa-apa. Aku aja kaget pas udah malem buka wa, terus ada chat dari kamu. Aku telpon kamu, tapi ga kamu angkat." Dia menjelaskan, sementara aku menyimak.
"Aku udah tidur semalem."
Bus berhenti disalah satu pemberhentian wahana, kami masih berdebat. Mengomeli pria yang duduk disampingku. Sesekali ia juga balas mengomeliku. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Itu namanya ayunan." Ucap Gaga.
Aku menatapnya. "Aku juga tau kalo itu namanya ayunan." Balasku. Pria ini memang jahil sekali.
Dia tertawa pelan. "ya kali aja kan ditempat kamu ga ada ayunan, jadi aku bantu ngasih tau biar kamu tau. Gitu."
"Makasih lho ya info pentingnya."
Dia kembali tertawa.
"Bentar, bukannya tadi kita naik dari sana ?" aku bertanya, seraya menunjuk kedepan. Seingatku, kami naik bus dari tempat itu. Dan sekarang kami akan melewati tempat itu lagi. dan itu berarti kami sudah melewati satu putaran.
Dia menatap sekeliling. Terlihat tidak yakin lalu mengangguk. "Kayanya kita udah ngelewatin sea world deh."
Aku menatapnya tidak percaya. "Beneran ?"
Dia mengangguk, ragu.
"Kamu beneran tau tempatnya kan ?"
"Harusnya sih tau."
Aku memukulnya pelan. "Ga yakin gitu ya, mas nya."
"Tenang-tenang. Kita cukup diem duduk santai aja disini. Ntar baru perhatiin jalan lagi."
Aku mengangguk pasrah. Toh, aku memang tidak tahu apa-apa. Jadi aku akan menurut saja.
Bus kembali berjalan melewati jalanan yang tadi kami lewati. Sepanjang jalan baik aku maupun dia memperhatikan setiap papan petunjuk yang ada. Hingga suara sopir terdengar berteriak menyebut sea world, pertanda bus akan berhenti di tempat pemberhentian sea world. Aku dan dia refleks saling lirik, lalu tersenyum sumringah.
Begitu bus berhenti, aku mengerutkan dahi lalu menatap pria disampingku ini. "Ayunan itu yang bikin kita melewatkan pemberhentian."
Dia menatap keluar lalu tertawa. "Mba nya sih malah ngajak debat mulu. Jadi ga fokus kan aku." Ucapnya,
"Ga usah alesan.bilang aja emang ga tau tempatnya." Balasku.
"Udah, ayok turun. Jangan debat terus."
***
Aku antusias sekali saat memasuki sea world. Meski ramai, tidak membuatku kehilangan semangat untuk mengelilingi seluruh penjuru. Menatap ikan-ikan dari akuarium satu ke yang lainnya, kura-kura yang berenang perlahan, dan banyak hewan laut lainnya.
"Ikan pari yang ini caper banget deh." Aku menunjuk ikan pari yang baru saja lewat didepan kami. Sejak tadi, ia berenang cepat mengelilingi akuarium. Berbeda dengan pari lainnya yang berenang dengan santai, bahkan ada yang hanya berdiam diri. Sesekali aku memotret pari tersebut.
"Dia ngapain sih ?" Gaga yang berdiri disampingku bertanya dengan nada heran.
Aku mengedikkan bahu. "Caper banget kan ?"
Dia mengangguk setuju. Kami berdua lantas tertawa memperhatikan ikan pari tersebut yang masih berenang cepat mengelilingi akuarium.
Kami beralih melihat akuarium yang berisi ikan piranha. Ikan-ikan tersebut tidak berenang seperti ikan-ikan lainnya. Mereka hanya diam, tidak ada gerakan berarti yang mereka lakukan.
"Kira-kira mereka ngobrolin apa ?" Tanyaku, menatap Gaga. Aku menengadah karena perbedaan tinggi kami yang lumayan jauh.
"Mereka lagi pada teriak kelaparan mungkin." Jawabnya asal.
"Atau mereka malah bilang gini makan aku makan aku ." celetukku, asal.
Dia tertawa. "Emangnya manusia, makanan difoto, temen malah dimakanin."
Aku tergelak. "Ciye curhat."
"Engga ya. Aku Cuma nyontohin yang banyak terjadi aja."
Aku mencibir. "Ngeles aja terus mas nya."
Kami beranjak dari ikan piranha, menyusuri akuarium-akuarium yang ada. Tadinya, kufikir akan sedikit canggung saat jalan-jalan berdua saja dengan Gaga. Karena ini pertama kalinya kami pergi bersama. Diluar ekspektasi, segala kekhawatiranku hilang begitu saja. Aku bisa tertawa lepas didepannya. Bercerita apa saja yang aku mau. Dan mengatakan apapun yang ingin aku katakan. Beruntung, dia merespon semuanya dengan baik. Akan sangat memalukan jika ia merasa risih dengan semua tingkahku.
"Jellyfish !" Aku berseru saat melihat akuarium berisi ubur-ubur. Mendekati akuarium tersebut dengan semangat.
"Cantik banget ya." Ucapku, kagum. Ubur-ubur itu berenang pelan, aku mengetuk-ngetuk akuariumnya pelan.
Aku mengeluarkan ponsel, mengambil foto ubur-ubur tersebut. Melirik Gaga yang ternyata juga sibuk mengambil foto ubur-ubur.
"Aku mau foto sama ubur-ubur. Fotoin ya." Pintaku.
Dia mengangguk. "Mau foto sama ubur-ubur yang mana ?"
Aku menatap sekitar, menatap ubur-ubur itu satu persatu. "Yang itu dulu, habis itu aku fikirin lagi." aku menunjuk salah satu akuarium.
Kami berdiri tidak jauh dari akuarium tersebut karena ada pasangan yang ingin mengambil foto terlebih dahulu. Mereka meminta tolong kepada Gaga.
"Cahayanya ga bagus, bantuin kasih flash dong." Ucap Gaga.
Aku menurut, mengambil ponsel lalu menyalakan flash. Menyoroti pasangan yang tengah ber pose sebagus mungkin. "Niat banget ya mas, bantuin orang." Aku berbisik.
"Gapapa. Bantuin orang itu dapat pahala."
Aku diam. Tidak bisa membalas jika sudah berhubungan dengan pahala. Selesai mengambil foto, pasangan tersebut mengucapkan terima kasih dan menawarkan diri untuk mengambil fotoku bersama Gaga yang masih berdiri disampingku. Refleks, Gaga menjawab tidak.
"Kenapa nolak ? Ga mau foto bareng aku ?" Tanyaku, penasaran. Tentu saja setelah pasangan itu pergi.
"Emang mba nya mau foto sama aku ?" Dia balik bertannya.
"Lah, kenapa memangnya ?"
"Emang gapapa, kalo akunya terlihat tinggi banget difoto ?"
Aku mengernyit. "Terus, masalahnya dimana ? Bukan salah mas nya kalo tinggi. Aku nya aja yang terlalu pendek."
"Yah, pasangannya udah ga ada. Mau minta fotoin sama siapa lagi dong ?"
"Salah sendiri ditawarin malah nolak."
"Ya aku kirain mba nya ga bakalan mau."
"Kira-kira aja terus mas."
***
Puas dengan ubur-ubur, kami beranjak ke akuarium yang lain. kami berhenti didepan salah satu akuarium yang berisi ikan dengan warna beragam. Akuarium itu juga diisi dengan berbagai batu karang yang disusun rapi. Cantik sekali.
"Fotoin aku disini ya." Pintaku yang langsung disanggupi oleh Gaga.
Dia menyuruhku untuk ber pose lalu mendekatiku, memperlihatkan hasil foto yang ia ambil. "Bagus." Komentarku.
"Selfie bareng yuk." Ajakku.
"Ide bagus." Ucapnya lalu membuka kamera ponselnya.
Kami mengambil foto bersama, dari senyum kaku, hingga senyum lebar. Lalu memuji hasil foto tersebut.setelah itu kami kembali berkeliling, melihat ikan-ikan lainnya.
"Bentar deh." Aku berhenti tiba-tiba. Gaga pun ikut berhenti.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Semalem, aku sempet googling gitu. Tempat-tempat yang ada di Ancol. Dan kalo ga salah aku ngeliat kaya ada terowongan gitu di sea world."
Gaga mengangguk. "Oh iya, kayanya aku juga pernah tau itu. Tapi dimana ya ?" Dia mengedarkan pandangannya. Beruntung dia tinggi. Jadi jarak pandangnya lumayan lebih jauh."Coba kesana yuk, disana keliatan rame." Dia menunjuk salah satu arah yang langsung aku iyakan.
Kami melangkah sambil sesekali bercanda. "Akhirnya nemu juga." Ucap Gaga.
"Mana ?" Tanyaku, karena aku belum melihat terowongan yang kami cari.
"Mbanya kurang tinggi, jadi ga bakal keliatan. Ikutin aku aja, oke ?"
"Ledek aja terus, pria sok tinggi."
"Hei, tinggi aku 185cm ya." Protesnya.
Aku tertawa."Iya iya. Masnya tinggi. Ayo kesana, aku udah ga sabar."
Aku mengikuti Gaga yang berjalan didepanku. Begitu sampai di pintu masuk terowongan, ia menatapku dengan bangga. "Aku bener kan ?"
Aku mengangguk. "Terima kasih karena telah tinggi." Ucapku lalu tertawa pelan.
Kami mulai masuk kedalam terowongan tersebut dengan posisi aku berada didepan Gaga. Aku menengadah, menatap ikan-ikan yang berenang diatas kami. Disini sangat sesak, kami dan pengunjung lainnya harus tetap jalan kalau tidak ingin membuat pengunjung yang berada dibelakang kami menjadi marah karena antri lama.
Ponselku berada dalam mode video. Aku mengambil video sebanyak yang kubisa. Sesekali berdecak kagum dan menatap Gaga yang masih setia dibelakangku. Dia juga sibuk mengambil gambar.
"Selfie yuk." Ajaknya, lalu menggeser dirinya untuk menepi. Memberi akses bagi pengunjung lainnya untuk tetap maju.
Aku turut menggeser diriku. Lalu mengambil posisi disamping Gaga. Kami lalu mengambil beberapa selfie. Awalnya dia yang memegang ponsel lalu memberikan ponsel itu kepadaku karena merasa hasilnya tidak memuaskan. "Aku ga ahli dalam ngambil selfie." Ucapnya.
Aku mengambil alih ponsel Gaga lalu mengarahkan kamera kearah kami berdua. Selesai mengambil beberapa selfie, kami kembali melanjutkan menyusuri terowongan. Kali ini tidak lagi sibuk mengambil gambar atau video, tapi kami fokus menatap ikan-ikan seraya mengomentari apa saja yang kami rasa lucu.
Tidak terasa, kami sudah berada di ujung terowongan. Seluruh tempat di sea world pun sudah kami kunjungi. Kami memutuskan untuk keluar dari sea world.
"Kita makan dulu ya, kamu belum makan apa-apa dari tadi." Ajak Gaga.
Aku mengangguk.
"Itu aja, gimana ?" dia menunjuk area restoran.
Aku kembali mengangguk. Menyetujui pilihan Gaga. Kami memilih salah satu stand yang ada disana.
"Beneran ga mau makan nasi ?" Gaga kembali bertanya saat aku hanya memesan sepotong ayam goreng ditambah dengan kentang goreng.
"Aku ga terbiasa sama nasi disini. Ini aja cukup kok, udah mengenyangkan."
Dia memesan makanan dan minuman untuk kami berdua, menunggu sebentar hingga pesanan kami selesai lalu memilih tempat duduk.
"Curang banget, aku cuma dikasih air mineral." Protesku saat melihat ia memesan lemon ice tea sementara untukku ia hanya memesankan air mineral.
"Kamu ga boleh minum ini. Nanti asam lambungnya kumat."
Aku memberengut."Sedikit aja kayanya gapapa."
"Ga boleh." Ucapnya singkat.
Aku berhenti mendebat Gaga. Kami mulai makan sambil mengobrol hingga makanan habis.
"Aku mau sholat dulu, kamu gapapa aku tinggal disini sendiri ?" Tanya Gaga, lima belas menit setelah makanan kami habis.
Aku mengangguk. "Aku nunggu disana aja ya, sekalian charger hp kamu. Lumayan kan bisa ngisi beberapa persen."
Gaga menyetujui ideku. Aku pindah ke kursi dekat tiang yang ada colokan buat nge-charger. Gaga menyampirkan jaketnya dikursi, sementara tasnya diberikan kepadaku. Ia meletakkan minumannya yang masih bersisa diatas meja.
"Aku inget lho batas minumannya sampe mana. Jangan coba-coba diminum." Ia memberiku peringatan yang langsung aku angguki.
"Iya-iya, sana sholat."
Gaga meninggalkanku sendiri, sementara ia beranjak menuju mushola terdekat. Aku melirik minuman yang seolah memintaku untuk meminumnya. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak, jangan sampai asam lambungku kumat nanti.
Kurasa minum seteguk dua teguk tidak akan apa-apa
Suara hatiku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Menuruti suara hatiku, aku mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga dua teguk. Iya, dua teguk saja. Setelah itu aku kembali meletakkan minumannya diatas meja dengan posisi yang persis sama dengan sebelumnya agar Gaga tidak curiga.
Dua puluh menit kemudian Gaga kembali dengan wajah yang lebih fresh. Dia langsung memilih duduk di kursi yang ada dekat tiang, menghadap kearahku. Melihat ponselnya sebentar, lalu melirik minuman yang ada diatas meja.
"Kamu ga nyoba untuk minum minumannya kan ?" dia bertanya dengan selidik.
Aku sontak menggeleng. "Langsung ke dufan yuk, biar bisa main lebih lama disana." Ucapku, mengalihkan perhatian Gaga.
Aku dan Gaga beranjak menuju dufan. Kami kembali menaiki bus yang sebelumnya kami tumpangi. Begitu memasuki dufan aku langsung tersenyum lebar. Masih tidak percaya bahwa aku berada disini, bersama Gaga.
"Seneng banget mbanya."
"Iya dong." Ucapku, bangga.
Dia tertawa pelan melihatku. "Jadi, kita mau nyoba wahana yang mana dulu ?" Tanyanya.
Aku mengedikkan bahu. "Sambil liat-liat aja yuk. Ntar kalo ada wahana yang pengen dinaikin baru kita berhenti. gimana ?"
Gaga menyetujui ideku, kami berkeliling di dufan. Beberapa wahana sudah kami lewati seperti tornado, baling-baling, kincir-kincir dan juga halilintar. Aku bergidik ngeri tiap kali kami melewati wahana yang cukup ekstrim menurutku.
"Sekarang udah jam 3, kita harus milih wahana apa yang harus dinaikin. Biar ga banyak waktu yang kebuang." Ucap Gaga sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Aku pengen naik bianglala sih, tapi pengennya sore atau malam aja. Pasti pemandangannya bagus banget. Kamu mau naik apa ?" Tanyaku.
"Hysteria."
"Becanda ?" tanyaku, meyakinkan.
Dia menggeleng. Aku sontak melihat wahana hysteria yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Melihat orang-orang dilempar ke udara hingga ketinggian 60 meter dalam waktu 4 detik. Melihatnya saja sudah membuatku merasa mual.
"Berani ga ?" Gaga kembali bertanya.
"Sejujurnya engga. Ngeri banget tau. Liat aja noh, pada teriak-teriak."
"Aslinya engga sengeri itu. Seru malah. Percaya sama aku." Gaga mencoba meyakinkanku.
Aku menatapnya, ragu. "Pengen banget ya naik itu ?"
Dia mengangguk penuh harap.
Menghela napas sebentar, aku lalu mengangguk. "Ya udah, ayo."
"Beneran ?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, aku ga tega liat kamu ngantri sendiri."
"Kok so sweet ?"
"Mau naik ga nih ?"
Gaga tertawa lalu mengajakku untuk mengantri naik wahana hysteria. Tadinya aku berdiri dibelakang pria itu. Namun saat ada orang lain yang mulai mengantri dibelakangku, Gaga memintaku untuk berdiri didepannya. Setelah itu kami sibuk mengobrol sambil sesekali melihat orang-orang yang naik wahana hysteria lebih dulu.
"Gak usah pucet gitu. Ga semenakutkan itu kok." Komentar Gaga saat antrian kami baru berkurang beberapa orang. Namun semakin mendekati pintu masuk untuk naik wahananya, pria itu malah mengatakan hal yang berbeda. "Ngomong-ngomong, kenapa jadi aku yang deg deg an gini ya." Ucapnya yang sontak membuatku memelototkan mata ke arahnya.
"Kita udah sejauh ini ya, ga ada cerita. Kita harus tetap naik." Kali ini, aku yang antusias.
"Iya." Ucapnya. "Nanti mending kacamata kamu dilepas dan taroh dibawah aja. Takutnya malah jatoh." Ucap pria itu lagi.
Sepuluh menit kemudian, giliran kami yang naik. Gaga melempar kacamatanya kebawah saat kami baru mulai memasang pengaman. "Yakin ga mau buka kacamata ?" Tanyanya padaku.
Aku menggeleng. "Kayanya sih aman." Ucapku.
Aku berteriak sangat kencang begitu kami dilempar keatas dengan waktu yang sangat cepat. Aku memejamkan mata. Namun teriakan Gaga membuatku sontak membuka mata. "Liat kedepan, bagus banget pemandangannya!"
Aku mengikuti perintah Gaga untuk membuka mata, dan aku tidak menyesal untuk itu. Dia benar, pemandangan didepan kami sangat bagus. Pantai yang sangat indah. Aku dan Gaga berteriak berulang kali mengatakan betapa bagusnya pemandangan itu. Hingga terasa wahana hysteria pun berhenti.
"Gak menakutkan kan ?" Pertanyaan pertama Gaga setelah kami turun dari wahana hysteria.
"Engga kok. Seru ternyata."
"Ga salah kan rekomendasi aku ?" Tanyanya lagi.
"Iya, jadi sekarang kita naik apa lagi ?" kali ini, aku yang bertanya.
"Arung jeram, mau ga ?"
Aku mengangguk antusias. "Mau banget!"
Antrian di wahana arung jeram lebih panjang dari hysteria. Namun tidak mengurungkan niat kami untuk menaikinya. Aku dan Gaga kembali mengantri sambil mengobrol. Jika sejak tadi kami masih mengobrol ringan, saat antri di arung jeram kami mulai membahas masalah pekerjaan. Saking lamanya mengantri, kami memilih duduk dilantai sambil hadap-hadapan. Tidak menghiraukan keadaan sekitar. Kami hanya akan beranjak saat antrian mulai jalan lalu memilih duduk kembali dilantai.
"Kamu paham kan gimana rasanya ? Maksud aku tu, kalo emang niat bantu kenapa ga dari awal coba ? kenapa saat kerjaannya udah 70% mereka baru berusaha untuk ikut campur. Dan bukannya ngasih saran, mereka terkesan nyari kesalahan gitu lho." Aku bercerita perihal pekerjaan yang tengah aku jalani.
Dia mengangguk paham. "Aku juga mikirnya gitu. Cuma, kalo bawahan kaya kita ini, ga bakal didenger omongannya."
"Bener banget." Ucapku. "Padahal nih ya, yang tau dilapangan kaya gimana kan cuma kita. Atasan mah taunya dari laporan kita kan."
"Udah, jangan kesel-kesel. Kamu kerjain aja apa yang sanggup dikerjain. Gak usah maksain diri. Nah selagi ada disini, ayo hilangin stresnya bareng-bareng."
Dua puluh menit kemudian, giliran aku dan Gaga yang naik arung jeram. Kami lagi-lagi berteriak begitu wahana yang kami naiki mulai meluncur. namun bedanya, teriakan kami kali ini bukan teriakan takut melainkan teriakan betapa serunya naik arung jeram. Rasanya, waktunya terlalu cepat. Kami sudah berada dipemberhentian arung jeram. Aku dan Gaga sama-sama basah karena cipratan air saat meluncur.
"Basah banget baju aku." Ucap Gaga, menunjukkan bajunya yang mengeluarkan air saat diperas.
Aku tertawa. Meraba bajuku yang untungnya tidak sebasah baju pria itu.
Sudah maghrib, Gaga memutuskan untuk sholat maghrib terlebih dahulu. Sementara aku menunggu tidak jauh dari mushola. Aku menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. Begitu Gaga menghilang dari pandanganku, aku memperhatikan sekitar. Mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu membuka aplikasi i********:. Lumayan, untuk menghilangkan rasa bosan dari menunggu.
Gaga langsung menghampiriku setelah sholat. "Mau kemana lagi ?" Tanyanya.
"Bianglala!" ucapku antusias.
Aku dan Gaga beranjak menuju wahana bianglala. "Panjang banget antriannya." Komentarku begitu melihat banyaknya orang yang mengantri untuk naik.
"Gapapa, masih keburu." Dia melihat jam dipergelangan tangannya."Dufan tutupnya jam 8, jadi kita masih bisa naik kalo antri sekarang."
Empat puluh menit, waktu yang kami habiskan untuk mengantri. Begitu bianglala mulai begerak, aku tidak berhenti berdecak kagum. Berkali-kali memuji betapa bagusnya pemandangan yang tengah kami lihat. Pemandangan Jakarta dengan lampu yang berkerlap-kerlip.
"Selfie yuk." Ajakku, menjelang kami berada dipuncak bianglala.
Gaga mengeluarkan ponselnya, karena hanya ponselnya yang memiliki batrei saat ini.
"Aku aja yang pegang." Ucapku, mengambil alih ponsel pria itu. Kami mengambil beberapa selfie dengan latar belakang pemandangan ibu kota di malam hari. Dimulai dari pose senyum normal, sok cantik, sok berpaham hingga wajah jelek. Kami menatap hasil selfie tersebut bersama-sama.
"Bagus ya." Pujiku.
"Iya."
Perhatian kami teralihkan saat mendengar suara teriakan beberapa orang. Suara itu berasal dari wahana kora-kora yang berada disamping wahana bianglala. Aku dan Gaga sontak saling lirik.
"Pasti mual banget naik itu." Komentarku.
Gaga mengangguk. "Banget. Aku pernah naik itu, pas turun langsung muntah-muntah. Ogah deh naik itu lagi." ucapnya.
"Ngeliatnya aja udah pusing gitu." Ucapku, menambahkan.
Bianglala yang kami naiki sudah memasuki putaran kedua. Saat kami kembali berada dipuncak, aku sontak memegang erat besi disampingku. "Tiba-tiba aja aku takut." Ucapku.
"Kenapa ?" Tanya Gaga.
Aku menggeleng pelan. "Sedikit pusing. Aku kira aku udah ga takut ketinggian."
"Jangan liat bawah." Gaga mencegahku saat aku ingin melihat sudah setinggi apa posisi kami sekarang.
Aku menurut. Memilih untuk kembali melihat pemandangan saja. Mencoba menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba saja menyergapku. Untunglah tidak lama kemudian bianglala ini berhenti. Gaga memilih turun duluan. Ia mengulurkan tangannya, membantuku untuk turun.
"Seneng ?" Tanyanya begitu kami beranjak menjauh dari bianglala.
Aku mengangguk antusias. "Seneng banget."
"Setengah jam lagi dufan tutup. Kayanya ga bakal keburu lagi buat naik wahana apapun." Gaga menatap sekitar."Kita kemana lagi bagusnya ?"
"Aku pengen thai tea deh. Beli yuk."
"Kayanya ada yang jual thai tea deket pintu keluar. Beli disana aja ya. Sekalian keluar."
Aku menyetujui ide Gaga. Lalu beranjak menuju tempat yang pria itu maksud. Sepuluh menit adalah waktu yang kami habiskan untuk sampai ditempat itu.
"Lah, rame ternyata." Celetukku.
"Kayanya ada live music deh." Ucap Gaga. "Aku beli thai tea dulu." Dia mendekati stand minuman yang menjual thai tea. Sementara aku menunggu tidak jauh darinya.
Aku menikmati lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi yang berada dipanggung, tidak jauh dariku. Semua pengunjung pun larut dalam suasana yang menyenangkan ini.
"Nih minum." Gaga mengulurkan satu cup t**i tea kepadaku. Untunglah Gaga Cuma beli satu cup karena cup nya telalu besar. Aku yakin tidak akan sanggup menghabiskannya.
"Enak." Komentarku lalu menyodorkan minuman itu kearah Gaga. Menyuruh pria itu mencicipinya.
Gaga sedikit menunduk agar ia bisa meminumnya. Maklum, tinggi kami jelas jauh berbeda. Sekitar 37cm.
"Iya, enak." Komentarnya.
"Nikmatin acaranya dulu baru pulang ya." Ucap Gaga yang langsung aku setujui.
Kami berdua ikut menyanyikan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Jingkrak-jingkrak bersama lalu tertawa bahagia. Hingga lagu terakhir membuat kami sontak kecewa karena masih belum rela acaranya usai begitu saja.
"Gimana jadinya ? Kamu mau balik ke rumah kakaknya atau jadi janjian ketemu diluar ?" Gaga bertanya padaku. Kami tengah berjalan menuju halte bus way.
"Kakaknya masih di bundaran HI. Aku nyusul kesana aja. Aku udah minta kakaknya untuk nunggu biar bisa pulang bareng." Kakak yang aku maksud adalah kakak yang sama-sama mengikuti pelatihan kemaren. Aku memang menginap ditempat saudaranya.
"Oke, aku anter kamu kesana ya. Habis itu baru aku ke stasiun."
"Memangnya masih keburu ?" Tanyaku
"Masih kok. Aku sengaja beli tiket yang jam berangkatnya tengah malem. Biar ga buru-buru."
Aku mengangguk paham. Selama di bus way, kami kembali mengobrol. Beruntung tidak banyak pengguna bus way, jadi kami bisa duduk bersebelahan.
"Ngantuk banget." Ucapku, meregangkan sedikit badanku. Mengusir penat yang terasa.
"Sama Kayanya aku bakal langsung tidur pas dikereta."
"Bentar, nanti kamu pulangnya gimana ? Dari stasiun ke rumah."
"Tenang, aku ninggalin motor di stasiun. Jadi aman lah."
Aku menghela napas lega.
Rasanya perjalanan menuju bundaharan HI begitu cepat meski kami berkali-kali berganti bus way. Sejujurnya ada perasaan tidak rela karena sebentar lagi aku harus berpisah dengannya. dan tidak ada yang bisa memastikan juga apakah kami akan bertemu kembali atau, ini justru akan menjadi pertemuan kami yang terakhir. Karena dia sudah pasti tidak ada keperluan lagi dikantorku.
"Aku ga nyangka cepet banget sampe sini." Ungkapku dengan jujur.
Gaga tersenyum menatapku. "Kapan-kapan main kesini lagi dong, biar kita bisa ketemu."
Aku mengedikkan bahu."Semoga aja masih bisa ketemu ya."
Ponselku berdering. Disana tertera nama kakak yang sedang menungguku.
"Udah ditunggu tuh." Ucap Gaga begitu melihat nama sipenelepon.
Aku menatap Gaga, sambil tersenyum. "Makasih ya buat hari ini. Makasih udah mau jauh-jauh nyamperin aku plus ngajakin aku jalan-jalan." Ucapku, tulus.
Gaga mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama. Kamu berani nyebrang sendiri kan ?" Tanyanya.
"Berani kok."
Gaga mengulurkan tangannya. Mengajakku bersalaman. Aku melihat tangannya. Salam perpisahan, entah kenapa aku merasa seperti itu. Meski begitu aku turut mengulurkan tanganku. Menjabat tangan pria itu.
"Aku pergi ya, kamu hati-hati baliknya."
"Kamu juga hati-hati." Ucap Gaga.
Aku beranjak menjauhi Gaga. Berdiri di dekat lampu hijau, menunggu lampu tersebut berubah menjadi merah agar aku bisa menyebrang. Sesaat setelah lampu tersebut berubah menjadi merah, aku menyempatkan untuk menoleh kebelakang. Disana masih ada Gaga yang melihatku. Aku melambaikan tanganku. Mengisyaratkan bahwa aku benar-benar akan pergi. Begitu pun dengannya.
Setelah itu, aku menyeberang. Meninggalkan Gaga, yang pasti juga sudah pergi naik bus way menuju stasiun agar ia tidak terlambat.
Hari ini, meski satu hari. Aku tetap bersyukur. Mengenal Gaga dan diberi kesempatan untuk bisa jalan-jalan bersamanya.
Walau hanya satu hari.
Aku bahagia.