Orlando menatap Valeria dari atas sampai bawah. Wanita itu menggunakan rok berwarna peach dengan motif bunga-bunga yang menutupi kakinya hingga sepanjang betis. Untuk atasannya, Valeria menggunakan kaos polos berwarna putih yang diikat lucu pada bagian perutnya hingga memperlihatkan sedikit perut mulusnya, dipadukan dengan jaket berwarna coklat.
Cantik sekali.
Orlando berdeham pelan. Mencoba menutupi kegugupannya setelah melihat bagaimana cantiknya Valeria.
"Kau sudah siap ?" Tanya Orlando.
Hari ini dia akan mengajak Valeria untuk bertemu dengan orangtuanya.
Valeria mengangguk pelan. "Kau tidak harus melakukan ini. Aku sungguh tidak apa-apa jika harus membesarkan bayi ini sendiri."
Orlando menatap tajam Valeria. "Aku tidak punya waktu untuk memperdebatkan hal yang sama setiap harinya."
Valeria menyerah. Orlando bukanlah pria yang bisa di tentang dengan mudah. Bahkan kekeras kepalaannya tidak berarti apa-apa bagi Orlando.
"Ayo." Ajak Orlando, dia menarik tangan Valeria lalu melangkah menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
Valeria pun hanya pasrah ditarik oleh Orlando. Dia sudah cukup gugup hari ini. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan orangtua Orlando.
Orlando membukakan pintu mobil untuk Valeria. Memastikan wanita itu duduk dengan nyaman lalu melangkah menuju pintu samping kemudi.
"Aku ingin kau pindah ke apartemenku. Aku tidak suka kau tinggal di apartemenmu yang sekarang." Orlando memulai pembicaraan saat mobilnya sudah meninggalkan apartemen Valeria.
"Aku tidak mau, aku akan tetap tinggal disana sampai kita menikah. Lagian aku nyaman tinggal disana."
"Aku tidak meminta tanggapanmu. Aku menyuruhmu. Kau mengerti ?"
"Kau tidak bisa mengaturku seperti ini !" Bentak Valeria. Dia mulai jengah dengan sifat pemaksa dan pengatur Orlando.
"Tentu saja aku bisa. Kau itu calon istriku !"
"Baru calon, Orlando ! Aku belum istrimu." Valeria bersidekap sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Orlando. Memangnya dia siapa ? Dia tidak berhak mengatur Valeria semaunya.
Tentu saja dia berhak, dia akan menjadi suamimu.
Valeria membenci suara hatinya.
Valeria melirik Orlando yang tidak membalas perkataannya barusan. Dia mendapati pria itu sedang tersenyum geli.
"Kenapa kau tersenyum ?"
Orlando menoleh. "Kau tahu, ini pertama kalinya kau menyebut namaku. Aku suka mendengar kau menyebut namaku." Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Valeria. "Terdengar sangat sexy." Bisiknya.
Valeria lagi-lagi memalingkan wajahnya. Dia merona seketika, ditambah lagi dengan jantungnya yang mulai berdetak dengan cepat.
Sial.
Dia tidak suka Orlando mempengaruhinya seperti ini. Jangan sampai dia mencintai Orlando.
***
Valeria meneguk salivanya saat mobil yang dinaikinya memasuki gerbang sebuah rumah. Halamannya yang hijau dan bersih membuat Valeria berdecak kagum. Rumah orangtua Orlando sangat besar, harusnya Valeria tidak perlu seterkejut ini. Dilihat dari pakaiannya pun sudah jelas bahwa Orlando bukan dari kalangan orang biasa.
"Kapan kau akan turun ?" Tanya Orlando, dia berdiri di pintu samping Valeria duduk. Dia bahkan sudah membukakan pintunya.
"Aku tidak tahu kau sekaya ini." Ungkap Valeria, dengan jujur.
Orlando mengabaikan ucapan Valeria, lalu kembali menarik tangan Valeria menuju pintu utama.
Orlando mengetuk pelan pintunya, tidak beberapa lama pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya usia 50 an tersenyum lalu menundukkan tubuhnya. Sepertinya dia pelayan disini.
"Selamat datang, Tuan muda." Ucapnya pelan sambil tersenyum.
Orlando mengangguk. "Mommy dimana, Em ?" Tanya Orlando kepada wanita paruh baya itu.
"Nyonya ada dihalaman belakang bersama Tuan."
Orlando mengangguk lagi. Lalu menarik Valeria menuju halaman belakang yang disebutkan pelayan yang dipanggil "Em" oleh Orlando tadi.
"Hei, Mom." Sapa Orlando lalu mengecup pipi wanita cantik dengan terusan berwarna krem yang terlihat sangat pas ditubuhnya.
"Dad." Orlando lalu beralih kepada seorang pria yang duduk disamping wanita cantik itu.
Valeria menjadi semakin gugup. Tadinya Valeria fikir orangtua Orlando sama seperti orangtua dipanti, tempat dimana dulu dia tinggal. Wajah penuh kerutan Dengan tubuh gemuk.
Tapi Orangtua Orlando ? Valeria sama sekali tidak menemukan kerutan. Tubuh mereka juga tidak ada yang gemuk. Orang kaya tentu bisa melakukan apa saja untuk kecantikan wajah serta merawat tubuhnya. Harusnya Valeria tahu itu.
"Hai sayang, kau membawa seorang gadis ?" Tanya wanita cantik itu kepada Orlando.
"Kemarilah." Panggil Orlando.
Valeria menurut. Dia mendekat lalu menundukkan sedikit badannya sambil tersenyum.
"Mom, Dad, Ini Valeria. Dia kekasihku." Ucap Orlando dengan santainya.
Valeria membulatkan matanya kearah Orlando.
Kekasih ?
Yang benar saja !
Alih-alih membantah ucapan Orlando, Valeria malah tersenyum sambil memperkenalkan dirinya.
"Saya Valeria. Senang bertemu dengan anda, Nyonya, Tuan." Ucap Valeria dengan sopan.
Ibu Orlando, Amala tertawa pelan melihat kegugupan Valeria. Dia berdiri lalu mengecup pipi kiri dan kanan Valeria. "Jangan terlalu formal begitu. Panggil kami mommy dan daddy. Senang bertemu denganmu juga, Valeria."
Valeria kembali mengangguk dengan senyuman yang masih bertengger di bibirnya.
"Mom, aku ingin menikah dengan Valeria." Ucap Orlando mantap.
Valeria berdecak di dalam hati. Tidak bisakah Orlando membiarkan dia berbasa-basi dulu dengan orangtua Orlando ? Kenapa harus to the point begini.
Amala terlihat sangat terkejut dengan ucapan Orlando. "Benarkah ? Mommy tidak tahu kalau kau sudah melupakan..."
"Mom." Orlando menyela ucapan ibunya. "Aku ingin pernikahan ini di laksanakan satu bulan lagi. Bisakah ?" Tanya Orlando, mengabaikan Valeria yang terlihat sangat penasaran dengan ucapan Ibunya barusan.
"Tentu saja sayang. Mommy senang sekali mendengarnya. Nanti malam mommy akan mengabari Alvin, dia harus sudah dirumah seminggu sebelum pernikahanmu dilangsungkan." Ucap Amala antusias.
Valeria berdeham. "Sorry Mom, siapa Alvin ?" Tanyanya, penasaran.
"Alvin adalah putra kedua kami nak." Mahesa, ayah Orlando yang sedari tadi diam mulai berbicara. "Jadi kapan kami bisa menemui orangtuamu ?" Tanya Mahesa.
Valeria sontak menunduk dengan sendu. "Aku...tidak mempunyai orangtua." Jawab Valeria lirih.
"Tidak mempunyai orangtua ? Lalu dimana selama ini kau tinggal ?" Tanya Mahesa lagi.
"Aku menyewa apartemen bersama sahabatku. Kami berasal dari panti asuhan di pinggiran kota."
"Tidak apa-apa. Kemarilah. Mulai sekarang kami berdua akan menjadi orangtuamu."
Mahesa memeluk Valeria dengan sayang. Hati Valeria menghangat seketika. Untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana pelukan seorang ayah.
Orlando yang baru tahu fakta tentang hidup Valeria menjadi sangat yakin untuk menikahi wanita itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan yang Valeria jalani selama ini. Wanita itu terlihat kuat dari luar. Tapi Orlando tahu, bahwa sesungguhnya Valeria adalah wanita yang rapuh.
"Oh iya, aku mempunyai satu kabar lagi untuk Mommy dan Daddy." Celetuk Orlando lagi.
Amala mengerutkan dahinya. "Apa itu ?"
Orlando tersenyum sumringah. "Mommy dan Daddy akan menjadi Grandma dan Grandpa."
"Maksudmu ?" Tanya Amala lagi. "Oh ! Apakah Valeria hamil ?"
Orlando mengangguk.
"Astaga. Mommy senang sekali mendengarnya." Amala lalu memeluk Valeria dengan sayang. "Jaga baik-baik cucu Mommy. Jangan sampai kelelahan. Okay ?" Nasehatnya.
Valeria mengangguk sambil tersenyum sumringah. "Tentu saja Mom. Aku pasti menjaganya dengan baik." Ucap Valeria sambil mengelus perutnya.
***
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Orlando.
Mereka berdua berada diperjalanan menuju apartemen Valeria. Wanita itu bersikeras untuk tetap tinggal disana sampai mereka resmi menikah. Dan Orlando tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Karena Valeria mengancam tidak akan menikah dengan Orlando jika pria itu tetap memaksanya untuk pindah.
"Aku baik-baik saja." Jawab Valeria pelan.
"Kau jadi lebih pendiam."
Valeria menghela napasnya. Sebenarnya dia merasa terharu luar biasa karena Orangtua Orlando memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.
Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Merasa dicintai, dibutuhkan, dan dilindungi. Selama ini yang dia rasakan hanya perasaan sepi. Dia selalu berandai-andai. Berharap Orangtuanya masih ada. Tapi kenyataannya tidak. Dia bahkan tidak tahu siapa Orangtuanya.
Tanpa Valeria sadari, air mata menetes di pipinya. Dia menangis. Dia tidak ingat kapan terakhir menangisi kehidupannya.
"Hei, kau menangis." Orlando mengulurkan tangan kirinya untuk menghapus air mata di pipi Valeria.
Dia menepikan mobilnya lalu membawa Valeria kepelukannya. "Kenapa kau menangis ?" Tanya Orlando seraya mengusap punggung Valeria. Menenangkan wanita itu yang mulai terisak.
Valeria menggeleng. "Maafkan aku."
"Kenapa kau meminta maaf ?"
Valeria masih saja menangis. Menumpahkan sesak di dadanya. Sudah lama sekali dia tidak menangis. Dan untuk kali ini saja, dia ingin seseorang memeluknya saat menangis. Saat dia merasa hidupnya benar-benar hampa. Karena selama ini Valeria hanya akan menangis sendirian.
***
"Merasa lebih baik ?" Tanya Orlando. Dia mengelus kepala Valeria.
Sepuluh menit, waktu yang dihabiskan Valeria untuk menenangkan dirinya. Dan selama itu pula Orlando memeluk Valeria.
"Terimakasih." Ucap Valeria.
"Tidak masalah. Apa aku boleh tahu alasanmu menangis ?"
Valeria menatap Orlando. "Kau tahu, aku melalui banyak hari dengan meratapi nasibku. Berandai-andai tentang kedua Orangtuaku. Aku seringkali membayangkan akan disambut oleh Ibuku saat aku pulang sekolah. Dibacakan dongeng oleh ayahku saat malam tiba. Hingga berlibur bersama saat akhir pekan." Valeria menghela napas berat lalu kembali melanjutkan. "Tapi itu semua hanya khayalanku. Karena kenyataannya tidak ada yang menyambutku saat aku pulang sekolah. Pengurus panti asuhan sibuk mengurus anak yang lain. Tidak ada dongeng sebelum tidur. Tidak ada..."
"Sssst." Orlando menempelkan jarinya di bibir Valeria. "Sudah, jangan diteruskan lagi. Aku tidak mau kau menangis lagi. Kau memiliki aku dan keluargaku sekarang. Jadi jangan pernah merasa kesepian lagi."
"Aku takut, Orlando." Ucap Valeria lirih.
"Apa yang kau takutkan ?"
"Aku takut hubungan ini tidak akan berhasil. Kau tahu dengan pasti diantara kita tidak ada cinta sama sekali. Bagaimana caranya kita menjalani kehidupan bersama tanpa cinta ?"
"Kau tidak perlu memikirkannya. Aku rasa, kehadiran dia cukup untuk membuat kita saling terikat satu sama lain." Orlando mengelus pelan perut Valeria.