Begitu sudah melakukan perkenalan ulang, Orph, Ariesta, dan Hoctum melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kota Julla. Perjalanan kembali mereka ditemani oleh langit senja yang menyinari bagian-bagian hutan yang tidak ditutupi oleh dedaunan pohon. Selain itu juga, selama perjalanan Hoctum memainkan sebuah seruling berkuran kecil miliknya, sehingga perjalanan mereka semakin terasa nyaman dan damai. Meskipun … sesekali ada saja hewan liar yang menyerang mereka selama perjalanan.
Bulan pun sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Mereka pun menyudahi perjalanan hari itu dan mulai membuat kemah. Hoctum memanaskan kembali sup yang masih tersisa tadi siang, Ariesta menyiapkan daging yang akan dimakannya nanti, dan Orph membuat barimeter pertahanan sihir di sekitar mereka agar terhindar dari serangan dadakan, baik itu dari hewan ataupun orang yang ingin mencuri.
Setelah makan malam selesai dan semua peralatan telah dibersihkan kembali, Orph menyimpan satu-persatu peralatan makan itu ke dalam gulungan miliknya. Saat sedang membereskan peralatan, tak sengaja dia melihat kain miliknya dalam gulungan itu.
“Hoctum, kau tidur menggunakan alas apa?” tanya Oprh.
“Aku tidur di atas pohon. Kuikat kaki kananku dengan tali pada dahan, lalu bersandar pada batang pohon. Begitu lebih nyaman dan aman.” jawab Hoctum dengan santainya.
Orph melipat kembali gulungannya karena merasa niat baiknya untuk memberikan Hoctum kain untuk tidur, ternyata sia-sia.
“Apa dia selalu seperti ini?” tanya Hoctum, menatap Orph sambil menunjuk Ariesta yang sudah tertidur pulas di dekat api unggun.
“Setelah dagingnya mulai tercerna dengan baik, dia pasti akan tertidur pulas seperti ini. Sampai pagi dia tidak akan bangun,” ucap Orph agak kesal.
Hoctum menggaruk-garukkan kepalanya dengan sedikit tersenyum begitu mengetahui kebiasaan buruk Ariesta itu. “Kalau begitu, kita bergantian saja. Aku yang akan berjaga terlebih dahulu, baru setelahnya kau.”
“Tidak perlu,” ucap Orph dengan tersenyum lebar menatap Hoctum.
Hoctum pun heran kenapa Orph mengatakan hal itu. Tapi, begitu dia melihat Orph mengeluarkan tongkat sihirnya, dia pun mengerti apa maksud dari perkataan Orph itu.
“Aku Orph, memanggil atas nama diriku. Dia, ular hitam mematikan penguasa malam. Obsoucoroz.”
Keluarlah ular berwarna hitam pekat dengan mata merahnya yang menyala dan memiliki kedua tanduk kecil di bagian atas kedua matanya. Ukurannya juga lebih besar dari ukuran ular biasa. Orph pun mengambil sisa daging bakar yang sengaja disisakannya dan memberikannya kepada Obsoucoroz untuk dimakan.
“Langsung ditelan? Kunyah sebentar saja memangnya tidak bisa? Eh, aku lupa kalau dia ular.” gumam Orph dengan sedikit tertawa.
“Baru kali ini aku melihat ada orang yang memberi makan hewan pemanggilnya,” ucap Hoctum dengan tersenyum.
“Hmm … sesekali tidak apa. Hewan-hewan pemanggil milikku memang tetap bisa bertahan hidup dengan mengonsumsi mana dalam diriku saat kupanggil. Tapi, tidak ada salahnya, kan? Memberi mereka makanan dengan rasa yang lebih enak dan masuk akal?” ucap Orph dengan tersenyum juga.
Orph duduk bersimpuh di hadapan Obsoucoroz, lalu menatap matanya dengan tajam dan memegang bagian atas kepalanya. “Dengar, Obsoucoroz. Berjagalah di sekitar sini dan lumpuhkan siapa saja yang berusaha mendekat. Terus berjaga sampai kupanggil lagi nanti.”
Obsoucoroz langsung pergi begitu saja setelah mendengarkan perintah yang diucapkan oleh Orph. Membuat Orph agak kesal karena merasa seperti tidak dianggap oleh hewan miliknya sendiri.
“Paling tidak anggukkan kepala supaya aku tahu kalau kau sudah mengerti,” ucap Orph lesu.
Hoctum sama sekali tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Orph yang sedang merasa kecewa. Dia sendiri merasa bahwa apa yang diinginkan Orph adalah sesuatu yang mustahil. Karena tidak ada lagi yang harus dilakukkannya, dia pun menaiki pohon dan menyiapkan segala sesuatunya sebelum dia tidur.
Orph pun juga memilih untuk tidur karena tidak mau merasakan rasa kekecawaan terus karena diacuhkan oleh Obsoucoroz. Dia menggelar kain miliknya di dekat api unggun, membaringkan badannya dan menjadikan tasnya sebagai bantal.
Bulan pun mulai turun perlahan seiring berjalannya waktu, hingga matahari mulai naik menggantikannya meskipun baru sebagian kecilnya saja. Dalam tidur lelapnya, Orph terganggu dengan guncangan yang sangat terasa di bagian pinggangnya. Seperti ada yang sedang menendang-nendangnya, memaksanya untuk bangun.
Dengan matanya yang masih terpejam, dia mendorong sesuatu yang telah mengganggu tidurnya itu dengan tangannya. “Pergi sana, Ariesta. Belum waktunya sarapan.”
Baru sebentar saja merasa dirinya tidak mendapatkan gangguan lagi, tubuh Orph kembali diguncang oleh sesuatu di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Orph pun mengelak dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Lima menit lagi, Hoctum.”
Karena tidak mau bangun juga, Orph pun didorong sehingga membuatnya terguling-guling sampai punggungnya terkena kayu api unggun yang masih terasa panas.
“Argh! Keterlaluan sekali cara membangunkanmu!” teriak Orph, menenunjuk sesuatu yang telah mengganggunya tidur itu.
Setelah Orph membuka matanya lebar-lebar, rasa amarahnya pun berubah menjadi heran begitu melihat siapa yang membangunkannya. Di hadapannya, Obsoucoroz sedang menatapnya dengan tajam.
“Ada apa, sampai kau membangunkanku seperti ini?” tanya Orph heran sambil mengusap-ngusap punggungnya yang terasa panas.
Obsoucoroz pergi dari hadapan Orph, pertanda bahwa dia ingin Orph mengikutinya. Orph pun berdiri dan melakukan sedikit peregangan pada tangan, kaki, leher, dan badannya. Dia cukup terkejut saat melihat Ariesta dan Hoctum justru masih tertidur dengan pulasnya. Baginya Ariesta bangun siang tidak terlalu mengejutkan, namun Hoctum yang selama beberapa hari ini selalu sudah terjaga sebelum dirinya bangun, malah tertidur dengan pulasnya.
“Karena tidak berani berkomunikasi langsung denganku, alasannya selalu terjaga sepagi ini selama beberapa hari terakhir, pasti karena sedang menjagaku dan juga Ariesta. Tapi, setelah kami mulai akrab dan aku menggunakan sihir pemanggil, dia bisa punya banyak waktu untuk beristirahat. Dasar, Elf yang tidak mau jujur.” gumam Orph dengan sedikit tertawa.
Orph pun mengambil tongkat sihir miliknya yang diletakkan di dekat tas miliknya. Kemudian, dia menancapkannya di tanah tepat di tengah-tengah kemah yang mereka buat.
“Magus, jadilah perisai fisik dan sihir sejauh satu kilo meter.”
Setelah Orph mengaktifkan sihir khusus dari tongkat Magus miliknya, sebuah perisai sihir berbentuk lingkaran membentang luas sejauh satu kilo meter. Dia pun pergi dari tempat itu, mencari keberadaan Obsoucoroz yang sudah lebih dahulu pergi.
Sihir pemanggil memungkinkan si pengguna sihir itu untuk mengetahui lokasi di mana hewan panggilannya berada melalu pantauan dari apa yang hewannya lihat. Hal itu pun memudahkan Orph untuk mencari tahu keberadaan Obsoucoroz karena dia sudah menelusuri area sekitar sini semalam.
“Heh? Oy, Obsoucoroz. Kenapa kau hanya memandangi semak-semak? Kalau begini, aku kesulitan mencari keberadaanmu. Semak-semak di sini, kan banyak …”
Kalau sudah begini, mau tidak mau Orph harus menggunakan cara standar yang sangat ampuh.
“Obsoucoroz! Di mana kau? Jawab aku!” teriak Orph dengan kencangnya.
“Tunggu, ular kan tidak bisa mengeluarkan suara selain suara desiran lidahnya. Bagaimana cara dia menjawab teriakanku?” ucap Orph sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
Setelah terus berjalan, Orph pun akhirnya menemukan Obsoucoroz yang sedang fokus melihat semak-semak.
“Di sini kau rupanya. Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan?”
Adrenalin Orph tersentak begitu melihat ke arah Obsoucoroz melihat. Banyak sekali mayat manusia tergeletak di tanah. Di antara mayat-mayat itu terdapat banyak s*****a dan juga beberapa gulungan sihir.
“Ayo.”
Orph bersama dengan Obsoucoroz pun menghampiri tanah lapang yang dipenuhi dengan mayat itu. Orph memeriksa salah satu mayat, di mana terdapat bekas gigitan di lehernya. Sementara mayat yang berada di sebelahnya, sebagian besar tulangnya patah dan remuk. Dari kedua hal itu, dia mendapatkan sebuah kesimpulan.
Orph pun menghampiri Obsoucoroz, lalu duduk bersimpuh di hadapannya. Kemudian dia memegang bagian atas kepala Obsoucoroz dan memejamkan kedua matanya. Pengguna sihir pemanggil, memungkinkan mereka untuk melihat apa yang hewan panggilan mereka lihat. Entah itu apa yang sedang dia lihat atau apa yang sudah pernah dia lihat. Hal itu lah yang sedang dilakukan Orph kepada Obsoucoroz, karena dia merasa kalau semua mayat yang ada di sini telah dibunuh oleh hewan miliknya itu.
Orph dapat melihat dengan jelas kejadian tadi malam, di mana Obsoucoroz sedang berjaga. Orang-orang yang telah meninggal itu, ternyata adalah sekawanan pencuri yang ingin mengambil barang-barang Orph dan kedua rekannya. Belum sempat mendekat, mereka sudah terlebih dahulu bertemu dengan Obsoucoroz. Hingga pada akhirnya, mereka semua tewas di sini.
Orph pun membuka matanya dan menatap tajam Obsoucoroz, kemudian menghela napas lesu setelahnya. “Ah … kau kejam sekali, ya? Bagaimana pun juga kau tidak bersalah karena kau hanya menjalankan tugas sesuai dengan yang aku berikan. Tapi, bisa kah kau lunak sedikit saat melawan manusia-manusia seperti ini?”
Obsoucoroz hanya diam saja dan tetap menatap Orph dengan mata merahnya yang membelalak. Namun, tiba-tiba dia menghampiri salah satu mayat dan berhenti tepat di sebelahnya. Kemudian, dia membalikkan badan mayat yang tengkurap itu.
Memahami kode yang diberikan Obsoucoroz, Orph pun menghampiri mayat itu. Alangkah terkejutnya dia setelah melihat bekas luka yang ada pada leher mayat tersebut. Terdapat luka berbentuk garis seperti bekas tertancap benda tajam seperti panah dan pisau.
“Jangan-jangan … dia juga ikut membantumu?” tanya Orph.
Lagi-lagi Obsoucoroz hanya diam saja. Tapi, kali ini dia menjulurkan lidahnya beberapa kali seakan sedang merespon pertanyaan Orph.
“Ah … sudahlah. Aku seperti orang bodoh berbicara dengan binatang seperti ini. Tapi, kalau benar dia membantu Obsoucoroz, itu artinya ada dua makhluk kejam dalam kelompokku ….” gumam Orph dengan lesu.
Orph pun mengeluarkan gulungan sihir miliknya untuk mengeluarkan sebuah tongkat sihir. Setelah mendapatkan tongkat sihirnya, dia menciptakan lubang yang cukup dalam di tanah lapang itu menggunakan sihir. Satu-persatu, mayat para pencuri itu dimasukkannya ke dalam lubang. Dia menutupi kembali lubang itu dengan tanah setelah semua mayat sudah dimasukkannya. Kemudian, dia masuk ke dalam hutan dan kembali membawa sebuah batu besar, lalu ditaruhnya baru besar itu di atas gundukan tanah yang dibuatnya tadi.
“Maaf, aku tidak bisa menguburkan kalian dengan layak karena tidak tahu siapa kalian. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Jadi, jangan gentayangi aku, Obsoucoroz, dan Elf kejam itu saat kami sedang tertidur lelap di malam hari, ya?”
Begitu selesai memanjatkan doa yang cukup konyol itu, Orph kembali ke kemah dan Obsoucoroz menghilang setelah Orph menarik kembali sihirnya. Dia juga menyimpan kembali tongkat sihir miliknya ke dalam gulungan, guna menghindari pertanyaan dari Ariesta dan Hoctum kenapa dia punya tongkat sihir lain selain Magus.
Sekembalinya Orph ke kemah, pemandangan mengejutkan lagi-lagi dilihatnya. Ariesta sedang memilah-milah sayur yang disimpan Orph dalam kain di dalam tasnya, kemudian menyiapkan sayuran-sayuran itu untuk dimasak.
“Ariesta … kau yakin bisa masak?”
Ariesta menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu melirik Orph dan menatapnya dengan sinis. “Tentu saja! Aku ini kan bekerja sebagai pelayan restoran. Jelas aku bisa masak,” ucapnya agak kesal.
“Palayan, bukan juru masak.” gumam Orph yang juga ikut merasa kesal.
Orph melihat ke atas pohon, tempat Hoctum tidur. Tapi, dia sudah tidak berada di sana. “Ariesta, Hoctum pergi ke mana?” tanyanya.
“Dia bilang ingin mencari buah-buahan,” jawab Ariesta.
Orph pun membantu menyiapkan sarapan dengan mempersiapkan peralatannya, sementara Ariesta memasak. Tak lama, Hoctum pun kembali membawa beberapa jenis buah-buahan. Karena ada Ariesta, Orph mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Hoctum mengenai kelompok pencuri yang tewas dibunuh Obsoucoroz.
Sarapan siap dan mereka pun menghabiskannya. Mereka membereskan semua barang bawaan dan juga menghilangkan jejak bekas api unggun agar meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Setelah itu, dilanjutkannya lah perjalanan menuju ke Kota Julla.
***
Kota Julla, wilayah Selatan Aculla.
“Akhirnya tiba juga, meskipun matahari sudah tinggi seperti ini.” ucap Orph agak kelelahan.
“Aku tidak menyangka bisa menginjakkan kakiku kembali di Kota ini,” ucap Ariesta dengan sedikit tersenyum.
Kehadiran ketiganya yang sedang berdiri tepat di gerbang depan Kota, membuat pasukan penjaga Kota itu langsung menghampiri mereka.
“Ariesta, kau baik-baik saja?”
“Syukurlah, aku pikir kau sudah dibawa oleh Komandan itu.”
“Aku senang kau bisa kembali dengan selamat.”
Beberapa penjaga itu mengutarakan rasa syukurnya melihat Ariesta masih hidup. Namun, salah satu penjaga muncul dari belakang kerumunan penjaga lainnya dan berdiri tepat di hadapan Ariesta. Tatapannya sangat tajam menatap mata Ariesta. Melihat hal itu, Orph menyiagakan tangannya pada tongkat sihirnya, sementara Hoctum sudah memegang gagang pisau yang ada di pinggangnya. Keduanya sudah siap melawan jika terjadi sesuatu.
Penjaga itu memegang pundak Ariesta dengan kedua tangannya dan tetap manatap tajam Ariesta. “Bagaimana caranya kau bisa lolos dari kejaran Komandan itu dan kembali ke sini? Apakah kau terluka?” tanyanya datar.
“Aku tidak mengalami luka yang parah kok. Hanya lecet-lecet saja karena berlari menerobos semak-semak. Kalau bagaimana caraku lolos, Pria inilah yang membantuku, Avilian.” ucap Ariesta dengan tersenyum, menunjuk Orph yang berdiri di sebelahnya.
“Hoo! Terima kasih sudah menolong Ariesta,” ucap penjaga lainnya bersamaan dengan riangnya.
“Terima kasih sudah menolong Ariesta, Tuan.” ucap Avilian dengan tersenyum dan membungkukkan badannya di hadapan Orph.
“Sama-sama, tidak perlu sampai seperti itu mengucapkannya.” ucap Orph dengan tersenyum.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Orph, Avilian kembali menatap Ariesta dengan tajam dan serius. “Condivs ….”
“Iya, aku tahu. Condivs adalah kakak angkatku yang sangat luar biasa.” ucap Ariesta dengan tersenyum lebar.
Bersambung.