Nara menutup kedua kelopak matanya hingga kegelapan menaungi tanpa kecuali, kala kesedihan berlapis-lapis datang menghantam d**a hingga jantungnya serasa remuk. Masih basah dalam ingatan gadis itu bagaimana wajah penuh kasih sang ibu tersenyum dalam luka untuk yang terakhir kali padanya meski putaran waktu terus berlari tanpa henti.
Ibu sangat mencintaimu. Ibu juga sangat mencintai ayahmu. Kalian berdua adalah harta satu-satunya yang ibu miliki.
Jantung Nara berdenyut dan dia menekan kuat d**a kirinya begitu bisikan kalimat yang sayup-sayup ia dengar sebelum jatuh sepenuhnya ke dalam mimpi hadir bagai dejavu. Terbuai dalam himpitan sesak yang bersumber dari penyesalan berbalut amarah, tanpa sadar resonansi dari perasaan itu melemparnya ke dalam lingkaran masa lalu, di detik-detik saat kehidupan keluarga yang harmonis lambat laun berubah menjadi neraka yang merampas senyum dari bibirnya.
... OUR RESONANCE ...
"Sayang, sebentar lagi ayahmu akan pulang. Ayo kita tata kue dan makanan lainnya sebelum ayahmu datang." Wanita cantik yang mengikat setengah rambutnya dan membiarkan setengah rambutnya yang lain tergerai indah di punggung itu tersenyum hangat kepada Nara, putrinya, sementara kedua tangannya membawa kue tart hasil buatan sendiri dalam rangka memperingati hari anniversary pernikahannya yang ke delapan tahun bersama sang suami.
Nara kecil yang membawa tiga buah gelas kosong di tangannya pun mengangguk dengan penuh semangat diiringi senyum lebar yang menghiasi bibir. "Ayo, Ma," seru Nara senang, "belakangan ini ayah 'kan sibuk bekerja. Sering pergi ke luar kota juga. Kita berdua saja jarang bertemu dengan ayah sewaktu ayah sedang ada di rumah. Pasti jika ayah tahu kita berdua menyiapkan banyak makanan untuknya, dia pasti akan senang."
"Tentu saja, Sayang. Mudah-mudahan ayahmu tidak ada rapat dadakan atau apalah itu yang bisa mengacaukan semua usaha kita," kata Kim Ara, ibunda dari Nara, dengan penuh harapan.
Setelahnya, mereka berdua pun pergi ke ruang makan, meletakkan apa yang mereka bawa di atas meja lalu kembali lagi ke dapur membawa makanan yang lain sampai apa yang mereka siapkan seharian semuanya tertata rapi di sana.
"Nah, sudah selesai," Kim Ara menyatukan kedua tangannya hingga terdengar bunyi tepukan halus sebagai ungkapan rasa senang.
Ara menoleh ke arah Nara yang juga menoleh ke arahnya, mengusap lembut puncak kepala putrinya sebelum ia menjatuhkan kecupan sayang di kening dan berkata, "Terima kasih Naraku yang cantik. Kau sudah susah payah membantu ibu menyiapkan semua ini."
"Sama-sama, Bu." Pandangan Nara langsung tertuju ke salah satu cupcake yang sedari tadi sudah mencuri perhatiannya. Gadis kecil yang mengenakan dress selutut warna putih dengan motif bunga-bunga kecil, berponi, dan menguncir satu rambutnya itu menelan salivanya sendiri, menahan desakan ingin segera mencicipi cupcake coklat dengan toping stroberi di atasnya.
Ara yang menyadari ke mana mata putrinya tertuju pun tersenyum tipis. Dia melepas celemek yang menggantung di lehernya, kemudian menyampirkannya di lengan kiri sebelum pamit ke belakang untuk mengambil sesuatu. Sesampainya di dapur, rupanya sang ibu sudah menyiapkan cupcake yang sama seperti yang diinginkan oleh anaknya. Hanya saja ukurannya memang lebih besar dari kue yang sudah tersaji di atas meja supaya Nara bisa lebih puas menikmatinya nanti.
Segera, dia mengeluarkan kue tersebut dari dalam lemari es kemudian membawanya ke ruang makan. "Taraaa." Ara menyodorkan kue yang ia bawa ke hadapan Nara yang saat itu sedang duduk manis dengan kedua tangan terlipat. Tak ayal kedua bola gadis kecil itu pun membesar takjub, mendongak ke atas menatap sang ibu dengan mulut terbuka. "Ibu sudah menyiapkan kue khusus untukmu, Sayang. Tenang saja, ibu masih punya banyak di belakang."
"Woaah, yang benar, Bu? Asyiiiikk! Terima kasih, Bu. Saranghae." Nara mengucapkan kata cinta pada ibunya sembari membentuk tanda hati di atas kepala.
Kim Ara tertawa melihat tingkah putrinya yang menggemaskan, mencubit pelan pipi chubby Nara, merasakan firasat baik kalau hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka semua. Dua detik berlalu tepat setelah Ara menjatuhkan diri di atas kursi yang empuk, suara bel dari pintu utama tiba-tiba berbunyi nyaring. Ara dan Nara sumringah dan saling bertukar pandang karena sebentar lagi pelengkap kebahagiaan mereka akhirnya hadir di sini, di tengah-tengah mereka.
"Itu pasti Ayah." Ara tersenyum lebar. "Ibu buka pintu dulu, ya."
Wanita dengan poni menutupi setengah dahinya itu lekas bangun dari tempat duduk, mengusap puncak kepala Nara, berjalan cepat menuju pintu. Tarikan tangannya pada pintu lumayan bersemangat karena Ara sudah tidak sabar melihat wajah suaminya yang tampan. Pasalnya, karena kesibukan sang suami yang semakin bertambah, membuat mereka jarang bertemu meski serumah.
"Sayang. Akhirnya kau pu—" Mata bulatnya yang berbinar-binar meredup sedangkan lekukan dalam tercipta di antara keningnya begitu seorang wanita dengan seorang gadis kecil bersembunyi di balik tubuh sang suami. "Sayang," panggil Ara lembut, bergantian menatap wajah Teddy Jung suaminya, lalu beralih ke dua orang asing yang memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Teddy menoleh ke belakang, ke arah wanita yang ia bawa kemudian tersenyum padanya seolah-olah pria itu sedang mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Ara merasakan sensasi rasa sakit tak terperi di hati ketika ia menyaksikan interaksi itu. Kepalanya pusing, detak jantungnya berdegup tak beraturan, sementara ia berusaha keras mengendalikan berbagai macam pikiran buruk yang melayang-layang di benaknya sambil memaksa kedua kakinya tetap berdiri tegar demi mendengar penjelasan dari Teddy secepat mungkin meski gemetar.
Menyadari ekspresi syok di wajah sang istri—yang ia tahu pasti akan terjadi, Teddy berusaha tersenyum seperti biasa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Kedua tangannya terbuka dan dia berkata, "Istriku, aku pulang." Teddy lantas memeluknya erat-erat sembari memejamkan mata, sementara di balik punggungnya, Ara sedang beradu pandang dengan wanita misterius yang tak langsung dijelaskan identitasnya oleh sang suami.
Setelah beberapa menit, Teddy melepaskan lilitan tangannya di tubuh langsing Kim Ara. Mencoba mengulur waktu dan menghindar dari tatapan menuntut penjelasan dengan membahas hal lain, Teddy berseru penuh semangat, "Wah, tubuhmu harum sekali. Wangi manis seperti kue. Aku jadi lapar."
Tak lama berselang, Nara yang merasa kalau ibunya terlalu lama meski sekedar membuka pintu saja, akhirnya menyusul untuk mencari tahu penyebab ibunya tak kunjung kembali ke ruang makan. Kepala Nara menyembul dari balik tubuh sang ibu, mendongak, menatap wajah ayahnya sebelum beralih ke anak kecil yang tubuhnya sedikit lebih tinggi dari pada dia.
Nara yang tidak memiliki pikiran negatif apa pun langsung mengabaikan seseorang yang sempat menarik perhatiannya karena terlalu senang melihat kedatangan sang ayah. Gadis kecil itu merangsek ke depan tubuh ibunya, tersenyum ceria, membuka tangannya lebar-lebar meminta Teddy membawanya ke dalam pelukan. "Ayah! Akhirnya Ayah pulang."
Teddy tersenyum pahit melihat wajah polos Nara, tetapi tidak mengabaikan uluran tangan buah hatinya dan tak lama kemudian, tubuh mungil itu sudah berada dalam gendongannya. "Halo anakku yang cantik," kata Teddy, mendaratkan kecupan lembut di pipi Nara.
"Ayah kenapa tidak langsung masuk? Ayo kita masuk ke dalam. Di luar dingin."
"Itu ide yang bagus. Di luar memang dingin. Ayo kita masuk ke dalam."
"Ayo, ayo! Ayah pasti akan terkejut nanti."
"Terkejut?" Teddy mengernyit, menahan senyum.
Lalu tiba-tiba Nara tersadar kalau dia tidak seharusnya mengatakan hal tersebut kepada ayahnya, sebelum ayahnya melihat sendiri apa yang mereka siapkan untuk merayakan hari jadi mereka secara langsung. "Oops!" Nara buru-buru menutupi mulutnya dengan kedua tangan walau yang ia lakukan itu percuma.
Teddy tertawa. Mengusap puncak kepala putrinya gemas, kemudian melirik kembali ke seseorang yang sedang menunduk di belakang punggungnya. "Ya sudah, ayo kita masuk. Aku tidak sabar melihat sesuatu yang sudah disiapkan oleh malaikat kecilku."
Pria itu lantas menurunkan Nara ke bawah, memberi kode lewat anggukan kepala kepada wanita yang ia bawa agar dia tidak ragu mengikutinya masuk ke dalam. Namun baru saja satu langkah Teddy melewati garis pintu, Ara langsung mencekal kuat lengan suaminya. "Siapa mereka?" suaranya dingin, "kau belum menjelaskan apa-apa padaku."
Ara bertanya tanpa menoleh, seolah-olah dia tidak sanggup melihat kebenaran apa pun dari mata sang suami, karena jauh di dalam sana, hatinya berbisik bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik. Menghela napas panjang, Teddy menempatkan tangannya yang lain di atas tangan Nara. Memegangnya kuat sebelum menggeser paksa tangan kurus yang kekuatannya tak sebanding dengan tenaga yang ia punya.
Hingga lengannya terbebas dari belenggu, Teddy pun balik bertanya dengan nada pahit. "Tidak bisakah kita masuk terlebih dahulu ke dalam kemudian bicara? Seperti kata Nara, di luar dingin dan aku lelah."
"Tidak sebelum kau memberitahu siapa wanita dan anak kecil yang kau bawa ke rumah ini." Kim Ara bersikeras dan Teddy tahu jika ia tidak memberitahu siapa gerangan orang asing yang sengaja dia bawa ke rumah tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada istrinya, mereka akan semakin lama berada di luar bersama udara dingin menggigit yang tentu saja tidak baik bagi Yejin dan putrinya.
"Mereka saudaraku dari jauh Ara." Entah kenapa nada suaranya melembut. "Cerita selengkapnya akan aku beritahu di dalam. Oke? Aku lapar dan aku merindukan masakanmu."
Predikat cassanova yang dulu pernah tersemat di dalam dirinya membuat Teddy begitu fasih memasang ekspresi polos tanpa dosa, demi merayu sang istri yang kini tengah merajuk sementara tangannya melingkar di sekeliling bahu Ara, bergelayut manja. Ara tidak bereaksi, tidak pula menjawab ajakan sang suami.
Yang dia lakukan hanya menatap tajam ke arah Yejin sedangkan perasaan ragu akan ucapan suaminya semakin menguat dan mengguncang jiwa dengan magnitudo yang cukup mampu menimbulkan kerusakan.
Dengan gerakan lembut dan perlahan, Teddy memutar tubuh Ara menghadap ke arah berlawanan sebelum ia berganti merangkul pinggang ramping sang istri, mengajaknya berjalan dengan langkah yang sama sedangkan tangannya yang bebas terulur ke belakang, menggenggam tangan Yejin sambil lalu.
... OUR RESONANCE ...
Langkah ceria Nara menuntun Teddy menuju ke ruang makan, di mana hasil jerih payahnya bersama sang ibu tersaji dengan rapi, memanjakan mata dan tentunya menggugah selera. Berbeda dengan Nara yang senang-senang saja, kebahagiaan Kim Ara telah pupus tepat ketika matanya bersitatap dengan perempuan lain yang terus mengekor di belakang suaminya.
Senyumnya mengambang di udara bahkan sampai ke lengkung tertipis yang bisa ia tunjukkan kepada sang suami, ketika dia mendapatkan pujian serta kecupan di kedua pipi saat Teddy tahu bagaimana upaya kerasnya menghangatkan singgasana mereka di tanggal di mana ikatan suci mereka terjalin.
Kim Ara hanyut oleh gelombang keresahan sedangkan Teddy menutup mata akan hal itu. Setidaknya untuk beberapa jam, beberapa hari, atau... entahlah. Dia sendiri pun tidak tahu harus memulai dari mana dan bagaimana menjelaskan buntut panjang dari kesalahannya di masa lalu kepada Ara istrinya, sedangkan meninggalkan Yejin dan Hani sendirian di tempat kumuh itu, hati nuraninya pun tercabik-cabik merasa tak tega.
"Oh, ya. Sebelum duduk, bagaimana kalau kalian berdua berkenalan terlebih dahulu?" kata Teddy, merangkul bahu Nara dan Hani bersamaan kemudian berjongkok di antara mereka, menatap mereka secara bergantian sembari mengukir senyum.
Nara dengan tulus menuruti perintah ayahnya dengan mengulurkan tangannya terlebih dahulu sedangkan Hani terlihat ragu-ragu, menatap Teddy yang baru ia ketahui sebagai ayah kandungnya belakangan ini dengan tatapan bertanya. Teddy mengangguk kepada Hani, berkata lewat isyarat mata bahwa dia harus menyambut uluran tangan saudaranya dengan segera.
"Namaku Nara. Jung Nara," kata gadis kecil berkuncir kuda itu diiringi senyum merekah, ketika Hani menyambut tangannya setelah melewati beberapa detik dalam kecanggungan sepihak.
"Aku Hani," jawab Hani singkat, buru-buru menarik tangannya dari genggaman Nara.
"Apa namamu hanya Hani? Apa nama margamu?"
Pertanyaan polos Nara membuat punggung Teddy menegang, sementara Yejin membuang tatapannya yang gelisah ke lantai. Gerakan halus tubuh suaminya yang sangat tidak kentara bagi orang lain, tapi sangat jelas baginya, membuat kecemasan atas asumsi buruk yang lahir di hati dan pikirannya seolah menemukan titik terang. Sebuah pencerahan yang membuat magma panas meledak di relung hatinya, tapi sayangnya hanya dia yang terbakar.
"Kim Hani. Nama lengkapnya Kim Hani," Teddy bergegas mengendalikan suasana, menatap lekat ke arah Hani, "iya 'kan, Sayang?"
Dengan ragu Hani mengiyakan perkataan Teddy kendatipun di dalam hatinya dia berteriak bahwa dia berhak menyandang marga yang sama seperti Nara, karena Teddy adalah ayah kandungnya juga. Kejanggalan sikap mereka yang tertangkap oleh mata sewarna madu milik Ara, berusaha wanita itu abaikan seolah-olah dia sedang mati-matian melahap serbuan rasa pahit yang membuat perutnya bergejolak tanpa sisa.
Bersama kepercayaan yang menipis, Ara menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak yang mampu ia tampung. Ara memaksa senyum, berjalan perlahan ke arah Yejin setelah dia mengambil alih tas kerja milik Teddy, kemudian membuka lilitan dasi di leher suaminya seperti biasa.
"Senang berkenalan denganmu Nona...?" Ara menyodorkan tangannya, memaksa Yejin memberitahu siapa namanya dengan cara yang halus.
"Yejin," wanita itu menyambut tangan Ara, "Kim Yejin," lanjutnya.
"Ah... Kim Yejin." Kim Ara mengangguk, tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai di mata. Dia menyentak halus tangan Yejin sebelum memberikan penekanan dalam genggamannya yang membuat Yejin nyaris meringis.
"Maaf jika sambutanku agak sedikit kurang menyenangkan," kata Ara dengan sikap elegan, dagu yang sedikit mendongak, seakan-akan wanita itu sedang menunjukkan bahwa dia adalah ratu di rumah ini, "aku agak sedikit lelah jadi... mohon dimaklumi."
"Kau lihat sendiri 'kan di belakang," Ara sedikit memutar tubuhnya, membiarkan Yejin melihat dengan jelas bufet makanan lezat yang ia buat untuk sang suami, meski Ara tahu tanpa dia seperti itu pun, Yejin dan anaknya sudah pasti melihat itu semua.
"Hari ini adalah anniversary pernikahan kami," Ara lantas merangkul lengan Teddy dengan mesra, "aku ingin menciptakan momen romantis yang hanya akan aku isi bersama suami dan anakku. Makanya, ketika ada tamu tak diundang datang ke rumah, aku sedikit terkejut lalu bersikap tidak ramah. Aku harap, kau bisa memaklumi perasaanku serta sikapku yang mungkin sedikit berlebihan," kata Ara dengan ekspresi wajah tulus yang dibuat-buat.
Mendengar perkataan Ara, Teddy mengetatkan rahangnya karena kesal, tetapi memilih menahan diri dan tidak menyela.