Dalam kehangatan pelukan yang saling mereka bagi, Teddy menyadari ada getaran lain yang masih tersimpan jauh di dasar hatinya untuk Kim Yejin. Tangan yang saling merengkuh itu mulai terlepas, tetapi tidak saling meninggalkan. Tatapan mata keduanya bertautan bagaikan medan magnet yang saling tarik menarik, hingga wajah mereka lambat laun semakin mendekat sampai akhirnya kedua bibir itu pun saling bertemu.
Ara tercengang di tempat ia berdiri bersama ribuan air mata yang jatuh berurutan di pipi, sementara petir seakan datang menghukumnya dengan sambaran kilat yang mematikan. Merasa ada yang memperhatikan mereka, Teddy memundurkan kepalanya kemudian menoleh ke samping, ke tempat di mana istrinya berdiri melihat apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu. Pria itu lantas mengerutkan alis, merasa aneh karena ternyata tidak ada orang lain selain mereka di sana.
"Kenapa?" tanya Yejin penasaran.
"Tidak ada apa-apa." Teddy menggelengkan kepala, tersenyum, menganggap siluet yang sempat ia lihat sekilas lewat ekor matanya hanyalah ilusinya saja. "Aku pulang dulu. Sudah malam. Kau temani dulu putrimu di sini."
Ketika Teddy hendak pergi, tangan Yejin menahan tangan pria itu hingga dia berhenti lalu menoleh. "Ada apa?"
"Besok kau akan datang ke sini lagi, bukan? Penyakit Hani kambuh. Dia... dia pasti sangat menginginkan kehadiranmu."
"Ya, pasti."
Setelah itu Teddy pun pergi meninggalkan rumah sakit, sama sekali tidak menyadari gelombang pasang macam apa yang sedang menantinya di rumah.
... Our Resonance ...
Teddy tiba lima belas menit lebih lambat dari Ara yang kini menunggunya di ruang tamu. Begitu pintu terbuka, sorot mata nyalang penuh kebencian dari sang istri menjadi hadiah pertama yang Teddy temui dan dia pun tersenyum masam membalas sambutan tersebut. Rasa kesal yang ia rasakan kepada Nara tiba-tiba bangkit kembali, sehingga dia mengabaikan Ara yang sudah menunggu kedatangannya dengan melangkah lebar menuju ke kamar putrinya.
Ara segera menghadang langkah Teddy dengan tubuhnya yang mungil. Lalu dengan nada tajam dan dingin wanita itu pun mulai menuntut penjelasan. "Kenapa kau tidak menjawab teleponku?"
"Bateraiku habis," jawab Teddy singkat, lagi-lagi menambah daftar kebohongan yang sudah ia perbuat kepada sang istri.
Kim Ara mendengus jijik, melipat kedua tangannya di depan d**a, mengikat manik mata Teddy dengan sulur-sulur kebencian yang menguar dari sorot matanya yang tajam. "Kau berbohong supaya aku tidak mengganggumu yang sedang berduaan saja dengan Yejin, bukan?"
"Jangan asal bicara! Anakmu yang sudah membuat Hani nyaris meninggal karena kenakalannya! Tentu saja sebagai ayahnya aku harus bertanggung jawab dengan menemani Hani di rumah sakit!"
Tidak terima anaknya disalahkan, Ara segera membela dengan tegas. "Nara tidak sengaja membuat Hani jatuh karena tersandung! Justru Hani duluan yang mencari gara-gara dengan merebut boneka milik putriku yang diberikan olehmu sebagai hadiah ulang tahunnya!"
Ara diam sejenak untuk mengatur napas tanpa melepas pandangannya dari Teddy barang sedetik.
"Ah, ya... aku ingat sesuatu." Ara memulai kembali diiringi senyum mencemooh, menatap sinis ke arah Teddy. "Hani berkata pada Nara kalau boneka pemberianmu berarti boneka miliknya juga, karena ayah putriku adalah ayahnya juga. Aneh sekali bukan perkataan itu?"
Ara memiringkan kepala, sedangkan Teddy terbelalak, beku di tempatnya seolah-olah seseorang sudah melayangkan tinju tepat di ulu hati.
"Sekarang jelaskan kepadaku, siapa sebenarnya Yejin dan Hani? Kenapa kau begitu peduli kepada mereka, sampai-sampai kau membawanya pulang ke rumah? Kenapa Hani begitu menginginkanmu menjadi ayahnya? Lalu... kenapa kau berciuman dengan Yejin di rumah sakit kalau hubunganmu dengannya memang hanya sebatas saudara!?" Nada suaranya meninggi nyaris berteriak.
Ara mulai tak tahan dan tangisnya meledak menyaingi derasnya air hujan yang turun di luar sana. Sadar kalau dia tidak lagi bisa mengelak, akhirnya Teddy mengakui semua kebohongan yang sudah ia perbuat kepada istrinya hingga pertengkaran hebat pun terjadi.
Ara sama sekali tidak bisa menerima kenyataan pahit yang menghantam rumah tangganya, apalagi dia sudah menyaksikan sendiri apa yang Teddy lakukan bersama Yejin sewaktu mereka berdua berada di rumah sakit, sehingga keinginan untuk bercerai pun tercetus dari bibir Ara. Teddy langsung menolak mentah-mentah permintaan penuh emosi dari istrinya karena dia mencintai Ara. Namun egoisnya, dia pun tidak bisa melepaskan Yejin dengan berbagai dalih yang terlihat membenarkan perbuatannya.
Ara pun pergi meninggalkan rumah menggunakan kendaraan pribadinya dalam keadaan emosi, nekat menerjang derasnya badai hujan berhiaskan kilat yang menyambar-nyambar sementara suara petir yang memekakkan telinga membuat suasana hari itu semakin mencekam. Di belakangnya, Teddy mengejar Ara menggunakan mobil lain. Tapi mobil istrinya terus melaju tanpa mempedulikan betapa licin dan berbahayanya jalanan beraspal itu jika dilewati dengan kecepatan tinggi.
"ARA KUMOHON BERHENTI!" Teriakan kaget dan takut meluncur dari d**a Teddy sementara ia menatap ke dalam kegelapan malam menyadari bahwa mobil yang dikendarai oleh Ara mulai kehilangan kendali.
Benar saja, tak lama kemudian mobil Ara pun tergelincir hingga menabrak pembatas jalan lalu terjun bebas ke sungai sewaktu melintasi jembatan. Ketakutan sampai nyaris histeris, Teddy memanggil nama istrinya keras-keras seakan-akan suaranya mampu membelah malam mengalahkan deru gemuruh di langit hitam.
Lalu, suasana di sekitar pria itu seolah berputar-putar dengan putaran yang memusingkan, setelah bunyi keras mengerikan dari benda besar yang menerjang permukaan air muncul bagai lullaby yang tak pernah ingin ia dengar di seumur hidupnya.
... Our Resonance ...
Manik mata sewarna madu yang dihiasi aura sendu itu pun terbuka sempurna, ketika Nara terlempar kembali ke masa depan setelah membuka luka lama yang tak pernah sanggup ia bebat secara sempurna. Dia menoleh ke arah Sejun yang terus menatapnya, mendengarnya tanpa bicara sepatah kata pun sambil memancarkan kehangatan yang membuat Nara tak segan menceritakan semua hal yang tidak pernah sanggup ia ceritakan kepada orang lain.
Menatap manik mata Sejun lekat-lekat, Nara tersenyum pahit kemudian berkata, "Setelah kecelakaan itu, ibuku meninggal di tempat kejadian. Andai saja...."
Gadis itu berhenti, merasa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya tetapi di lain sisi, keinginannya untuk berbagi kepada Sejun terus membesar dan tak terbendung.
"Andai saja aku tahu malam itu adalah malam terakhir aku bisa melihat ibuku, aku pasti akan memeluknya dan tidak akan pernah membiarkannya pergi."
"Semua itu pasti tidak mudah bagimu." Sejun berkomentar setelah kesunyian datang merajai suasana selama beberapa menit. "Kehilangan seseorang yang kita cintai tidak akan pernah menjadi hal yang mudah," tambahnya.
Sejun beringsut, menyandarkan punggungnya di atas kepala dipan, menatap sisi wajah Nara dengan instens. Andaikan saja dia bisa melakukannya, pria itu pasti sudah membaringkan kepala Nara di atas bahunya sebagai tempat untuk bersandar. Sayang keinginannya itu hanya bisa ia simpan di dalam hati, karena meskipun Nara terlihat bisa dijamah dan begitu dekat dengannya, mereka tetaplah dua tubuh yang berbeda dimensi.
"Apakah ayahmu pernah meminta maaf kepadamu?"
"Tidak," jawab Nara tegas, "tidak pernah sekali pun."
"Sejak ibuku tiada, ayahku seperti tidak bisa melihat wajahku apalagi menatapku." Nara kembali bercerita kepada Sejun, tapi kali ini dia tampak lebih tenang dan terkendali.
"Dia sibuk menjauhiku sedangkan Hani sibuk mendekatinya. Semakin aku beranjak dewasa, hubunganku dengan ayah semakin merenggang. Hal itu berbanding terbalik dengan Hani yang justru semakin akrab dengan ayah. Setiap hari aku merasa tersisih dan kesepian. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Ayahku bahkan tidak pernah meminta maaf ketika dia, entah itu sengaja atau tidak, justru menyelenggarakan pesta pernikahannya bersama Kim Yejin bertepatan dengan hari peringatan kematian ibuku. Tentu saja aku marah. Selain aku menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu kalau mereka akan menikah, dari banyak hari yang ada, kenapa mereka memilih menikah di tanggal dan bulan itu? Aku bahkan ragu kalau ayahku itu memiliki hati."
Gumpalan kemarahan bercampur kesedihan berkumpul di tenggorokan Nara dan nyaris mencekiknya. "Hari itu, aku memintanya datang mengunjungi makam ibuku bersama-sama. Cukup lama aku menunggu kedatangan ayahku di sana, karena setahuku hari itu ayah akan kembali ke Seoul setelah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang. Aku terus menghubunginya dan mencoba mengiriminya pesan. Tapi dia tidak merespon. Hari sudah mulai malam ketika bibi yang mengasuhku dari kecil datang menghampiriku dan memberitahu kalau ayah sedang melangsungkan resepsi di salah satu hotel secara tertutup. Dia juga menceritakan semua yang ia dengar sewaktu ibu bertengkar dengan ayah sebelum kejadian naas itu terjadi."
"Setelah itu, apa yang kau lakukan?" tanya Sejun penasaran.
"Tentu saja aku datang ke sana untuk memberikan selamat sekaligus hadiah." Nara pun tersenyum penuh ironi, mengingat kembali bagaimana cara dia memberikan selamat dan hadiah kepada mereka, dengan memaki-maki Yejin dan Hani sambil mengutarakan kekecewaannya kepada sang ayah di depan para tamu hingga suasana di sana berubah kacau.
Nara sudah tidak lagi peduli apa yang ia lakukan itu salah atau benar, beretika atau bar-bar, karena yang mengendalikannya saat itu adalah rasa sakit tak terhingga atas pengabaian serta ketidaksetiaan sang ayah terhadapnya, juga terhadap ibu kandung yang melahirkannya.
"Di sana aku mengamuk sambil menangis. Aku benar-benar marah dan kecewa kepada ayah, sampai-sampai kekecewaanku itu sulit dijabarkan oleh kata-kata. Lalu setelahnya, ayah langsung menamparku beberapa kali karena katanya aku sudah mempermalukan istri dan anaknya." Nara mengedikkan bahunya sembari menipiskan bibir. "Dari kata-katanya saja sudah terlihat jelas kalau dia sudah tidak lagi menganggapku sebagai anak. Aku... seperti orang lain yang berada di luar circle mereka."
"Bagaimana bisa dia memukulmu seperti itu? Apakah tidak ada orang yang membantumu?" tanya Sejun seraya menggerakkan gigi dengan rasa sakit asing di dadanya.
"Saat aku dipukuli, Jay datang melerai kemudian menolongku. Dia membantuku berdiri. Mengajakku pergi dari sana dan menghiburku. Sejak saat itulah kami berdua menjadi akrab. Dia... menjadi satu-satunya orang yang peduli kepadaku di saat aku merasa tidak memiliki siapa-siapa. Jika mengingat itu, aku jadi sedih hubungan kita berakhir seperti ini." Nara sempat melamun sebelum meralat. "Sedikit sedih saja."
Sejun merasa darahnya berubah beku ketika memikirkan Nara kecil dipukuli oleh ayahnya sendiri di hadapan orang banyak, namun kembali berubah panas saat mengetahui sebuah fakta yang tak bisa ia ubah bahwa Jay seberarti itu untuk Nara, kemudian mendidih begitu mengingat apa saja yang sudah pria itu katakan sewaktu mereka berkelahi di taman rumah sakit.
Merasakan tatapan Sejun, Nara menoleh ke arahnya, menemukan mata sepekat malam yang tadinya penuh simpati itu seperti diliputi aura aneh yang sama sekali tidak bisa ia mengerti. Nara pun mengernyit dan bertanya, "Kenapa?"
Tanpa memutus tatapannya yang membuat detak jantung Nara terasa tak beraturan, Sejun menjawab dengan nada penuh kekaguman. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau kau itu wanita yang tangguh."
"Tangguh?"
Sejun mengangguk yakin. Komentar itu sepertinya begitu mencengangkan sampai Nara tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis. Melihat kecanggungan di manik mata sewarna madu milik Nara yang melebar, Sejun mengulurkan tangan seolah-olah dia ingin merengkuh Nara ke dalam pelukannya, melindungi gadis itu dari apa pun di dunia ini yang bisa menyakitinya.
"Kau bisa bersandar di bahuku kalau kau mau," kata Sejun, menepuk-nepuk bahunya sendiri. Setelah itu, tangannya terulur secara perlahan seakan-akan dia bisa membelai pipi Nara dengan punggung jari-jarinya, sedangkan tatapannya yang tajam menghunus mengunci mata Nara hingga tubuh gadis itu terasa kaku.
"Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Aku harap kau bisa segera sembuh supaya kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, tanpa memikirkan orang-orang yang membencimu." Sejun menjeda sejenak kalimatnya, ketika Nara perlahan merebahkan kepalanya di bahunya.
"Dengarkan aku. Kalau kau tidak bisa kembali hidup untuk bahagia, setidaknya hiduplah untuk balas dendam kepada orang yang membuatmu merasa ingin lenyap dari permukaan bumi. Dan aku... aku akan membantumu membuat perhitungan kepada mereka dengan cara yang cantik. Kau harus ingat kata-kataku. Mengerti?"
Semangat Nara bangkit. Pria berbahu bidang yang tadinya sempat membuatnya merasa remeh dan tidak penting, dengan cara yang mengejutkan, berubah menjadi malaikat tampan tak bersayap hingga desakan untuk kembali hidup memenuhi rongga dadanya.
Nara meresapi semua untaian kata yang keluar dari bibir Sejun dengan khidmat, dengan mata terpejam erat, hingga kalimat Sejun terasa menggema di setiap sudut kepalanya, merasuk di dalam hatinya, menjalar di setiap pembuluh darah di tubuhnya, memenuhinya, beresonansi dengan cara yang ajaib, hingga tubuh Nara yang tak berdaya di rumah sakit pun seolah diliputi oleh mantra dari aksara-aksara sakti yang Sejun ucapkan mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, menjadi mesin penggerak hingga jari-jari lentik itu terlihat bergerak halus sebanyak beberapa kali, sementara Nara yang bersandar di bahu Sejun semakin terlihat samar bagai bayangan yang tembus pandang.
"Terima kasih. Terima kasih banyak, Oh Sejun," ungkapnya sedih, setelah sekian lama terdiam, "aku tidak akan melupakan apa yang sudah kau lakukan untukku. Meski itu hanya berupa kata-kata yang membangun, meski itu hanya sebuah dukungan kecil, aku akan mengingatnya sampai kapan pun."
Nara tersenyum kecil, merasakan ada sesuatu yang terjadi di hatinya, walau dia tidak berani menyatakannya lewat kata-kata atau pun sebuah kesimpulan yang ia buat sendiri. Nara menengadahkan kepalanya ke atas, menatap wajah Sejun yang ternyata sudah tertidur pulas dalam posisi duduk entah sejak kapan.
Kedua sudut bibir Nara terasa berkedut, sementara kedua netranya terus memandangi wajah tampan Oh Sejun yang polos dengan penuh kekaguman. "Apa kau itu seorang penyihir? Atau... apakah kau seorang player yang andal? Kenapa setiap kali kau bicara, aku seperti terjatuh ke dalamnya?" Nara tertawa kecil, bingung dengan dirinya sendiri. "Dasar anak nakal! Jangan salahkan aku kalau aku jatuh cinta kepadamu. Kau... harus tanggung jawab!"
Setelah berkata demikian, gadis itu bergeser sedikit dari sisi Sejun. Mengatur posisi tubuh Sejun dengan gerakan teramat halus, supaya pria di sampingnya tidak terganggu dan mendapatkan posisi yang cukup nyaman.
"Selamat tidur, My Hero."
... Our Resonance ...
Cahaya matahari yang semakin meninggi mulai menembus serat-serat kain dari gorden yang menutupi jendela berikut ventilasinya, hingga ketika sinar yang mulai menyengat itu jatuh di permukaan kulit Sejun, dia menggeliat merasa terganggu. Nara yang sudah memperhatikan Sejun sejak satu jam yang lalu dari sisi ranjang pun menelan tawa hingga bahunya berguncang.
Dia ingin sekali mengambil rumput ilalang atau apa pun benda yang bisa ia gunakan untuk mengerjai Sejun supaya pria itu terbangun dari mimpi indahnya. Berhubung niatnya tidak bisa dilakukan, Nara pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Sejun kemudian berbisik lembut.
"Sejun." Pria itu masih bergeming, tak terusik sedikit pun.
Nara mengembuskan napas kemudian mencoba lagi. "Sejun-ah... ireona...."
Kali ini Sejun hanya bergumam sembari mengubah posisi tidurnya dari tidur miring menjadi terlentang.
"Isshh.... Dasar pemalas! Mentang-mentang hari libur, jam segini pun kau belum bangun!" Nara mengomel tetapi tidak benar-benar marah, merasa maklum karena kemarin mereka mengobrol sampai dini hari.
Gadis itu pun mulai menggelitik pinggang Sejun sembari memanggil-manggil namanya. Sejun menggeliat, membuka mata, menyunggingkan senyum tipis ketika wajah Nara berada di atas wajahnya. Dia menganggap suara Nara sebagai alarm romantis yang membuatnya justru enggan terbangun karena ingin terus mendengar suara lembut itu menyebut namanya.
Beberapa menit berlalu, Sejun mulai melingkarkan tangannya mengitari bahu Nara, menariknya mendekat namun pada akhirnya hanya tangannya sendirilah yang jatuh di atas dadanya seperti tepukan keras. "Dasar curang!" Pria bermarga Oh itu membuka kedua kelopak matanya, sementara kegembiraan kecil melesak ke dalam hati begitu senyum indah Nara memenuhi indera penglihatannya bagai vitamin.
Nara tersenyum licik mendengar gerutuan Sejun di pagi hari yang menurutnya sangat imut. Sambil ikut merebahkan diri di samping Oh Sejun, gadis itu pun membalas, "Aku tidak curang. Hanya kau yang sedang tidak beruntung."
Sejun membalik tubuhnya dengan gelisah menghadap ke arah Nara, sebelum terjaga sepenuhnya karena terkejut mendengar suara ketukan yang cukup keras di pintu.
"Sejun-ah... kau sudah bangun?"
Sejun tak segera menjawab dalam usahanya mengumpulkan nyawa. "Ah, ternyata ibuku," gumam Oh Sejun, meninggalkan kasur empuk miliknya, melangkah gontai menuju ke sumber suara.
"Aku sudah bangun, Bu," jawab Sejun begitu pintu terbuka sambil merapikan sisi rambutnya dengan usapan sambil lalu.
Wanita yang tak lagi muda namun tetap cantik dan bersahaja itu terlihat melongok, mengintip ke dalam kamar Sejun dengan raut wajah penasaran. Tak ayal Sejun pun mengikuti arah pandang sang ibu, bertanya-tanya apa yang sedang ibunya cari-cari di kamarnya.