Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah bioskop. Sejun sudah menegaskan kepada Ryu bahwa mereka hanya akan menonton film bersama sebagai ucapan permintaan maaf darinya, karena dia sudah meninggalkan Ryu begitu saja tempo hari. Setelah itu, mereka akan berpisah karena Sejun sudah punya acara sendiri.
Awalnya Ryu menyanggupi hal tersebut. Namun begitu film yang mereka tonton usai, Ryu malah ingkar janji dengan terus mengekori Sejun ke mana pun pria itu pergi. Pria bermarga Oh itu sudah cukup menahan diri untuk tidak mengusirnya secara terang-terangan dan membuatnya malu.
Bahkan selama menonton film horor, Sejun sudah bersabar sekuat hati untuk tidak menyentak dengan kasar tangan Ryu yang terus-terusan melingkar di lengannya, ketika gadis itu berteriak ketakutan di samping Sejun dengan harapan pria itu akan menenangkannya atau malah memeluknya jika beruntung.
"Oppa, apa kau lapar? Dari tadi kita berdua belum makan apa-apa." Ryu memodifikasi suaranya dengan kelembutan serta nada manja ketika dia berkata demikian kepada Sejun.
Di sampingnya, Sejun tersenyum pahit kemudian melepaskan lilitan tangan Ryu di lengannya secara perlahan. Namun baru sedetik terlepas, gadis itu sudah memposisikan kembali tangannya seperti semula hingga darah Sejun serasa naik ke ubun-ubun karena kesal.
"Memangnya kau mau makan apa?" tanya Sejun malas.
"Bagaimana kalau kita ke restoran Jepang?"
"Tidak mau. Aku tidak suka makanan mentah."
"Eum... kalau begitu, bagaimana kalau kita makan di restoran bulgogi dekat sini?"
"Maaf, tapi aku sedang diet."
"Kau diet? Tubuhmu 'kan sudah sempurna. Buat apa diet?"
"Tentu saja supaya sehat. Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
Ryu cemberut, namun otaknya masih memikirkan tempat mana yang paling nyaman untuk mereka menghabiskan waktu. Selagi Ryu berpikir, Nara yang berjalan di sisi lain tubuh Sejun pun berbisik. "Bagaimana kalau kita makan kue? Di sekitar sini ada kafe favoritku. Selain kue, ada banyak makanan lainnya yang tak kalah enak. Aku jamin kau pasti suka."
"Kue? Sepertinya bukan ide yang buruk. Memangnya kue apa yang paling kau suka?" tanya Sejun, kepalanya menoleh ke arah berlawanan dari posisi Ryu berada hingga gadis itu mengernyit heran.
"Apa? Kau ingin makan kue?" tanya Ryu mengira kalau Sejun sedang mengajaknya bicara, hanya saja kepalanya menghadap ke arah lain.
"Aku paling suka tiramisu."
"Oh, ya? Berarti kau sama seperti ayahku. Beliau juga suka sekali dengan tiramisu."
Lekukan dalam terbentuk di celah antara kedua alis Ryu melihat Sejun terus mengabaikannya dan berbicara sendiri. Ryu tidak pernah berkata kalau dia ingin makan kue. Ryu juga tidak bilang kalau dia menyukai tiramisu. Lantas, siapa yang sedang Sejun ajak bicara padahal mereka hanya berdua saja?
"Benarkah? Apa kau juga suka tiramisu?" Nara balik bertanya, terlihat antusias.
"Tentu. Aku juga suka. Hanya saja, kue kesukaanku memang bukan tiramisu saja. Choco lava, muffin, waffle. Aku suka semua."
Sejun terus berjalan sementara Ryu terus melambatkan langkahnya hingga jarak mereka pun semakin lama semakin melebar. Dari belakang, Ryu terus menatap aneh ke arah Sejun yang asyik berbincang-bincang entah dengan siapa sambil sesekali tertawa pelan. Bukan hanya Ryu yang merasa aneh, orang-orang yang berjalan di sekitar Sejun pun merasa demikian.
Ada yang melirik sekilas lalu tak peduli, ada yang merasa penasaran hingga menatap intens kemudian berpikir kalau pria tampan itu mungkin sedang mengobrol lewat telepon, ada juga yang terus memperhatikan Sejun secara detail dan berakhir dengan anggapan bahwa Sejun sedikit tidak waras sambil menatap kasihan ke arahnya.
Terbayang oleh film horor-thriller yang belum lama ia tonton, akhirnya Ryu kehilangan minat kepada Sejun dan mencoretnya dari daftar pria yang harus ia incar. Kepergian Ryu tidak disadari oleh Sejun atau pun Nara sampai mereka tiba di tempat yang Nara maksud.
"Loh, ke mana gadis itu?" tanya Nara, ketika akan memasuki kafe.
Sejun lantas menoleh ke samping lalu ke belakang lewat celah bahu. Tak peduli ke mana Ryu pergi, pria itu pun berkata, "Mungkin dia sudah pulang. Atau bisa juga dia sedang balas dendam kepadaku karena kemarin akulah yang meninggalkannya." Sejun mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, mendorong pintu kaca di depannya hingga terbuka.
Suara lonceng kecil berbunyi ketika Sejun memasuki tempat itu dan dia langsung di sambut oleh pelayan wanita yang membantunya menemukan tempat duduk sesuai keinginan. Sejun memilih bangku untuk dua orang yang terletak di sudut ruang dekat jendela, karena katanya Nara selalu duduk di situ jika dia sedang berkunjung ke sini.
Setelah Sejun memesan apa yang ingin ia makan, Nara berkomentar, "Aku dulu sering ke sini bersama Jay. Dia sering memesan kopi americano, red velvet dan pasta, sedangkan aku, aku lebih sering memesan caramel machiato dan tiramisu."
"Apa kau sedang ingin bernostalgia dengannya, sampai-sampai kau mengajakku ke sini?"
Nara yang sedang menopang pipinya pun segera menggeleng. Perkataannya barusan memang tidak mengandung makna dan maksud apa-apa. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia menceritakan tentang Jay tanpa ditanya.
"Aku hanya asal bicara."
"Too much information," sahut Sejun cepat.
Nara hanya tersenyum mendengar kritik dari Sejun, tetapi terlihat bingung melihat cara Sejun menatapnya setelah itu.
"Jika kau sedang bersamaku," kata Sejun datar, "jangan sebut-sebut nama pria lain. Mengerti?"
Dengan suara bingung, nyaris geli, Nara berkata lirih, "Kenapa begitu? Apa kau merasa cemburu jika aku menyelipkan nama laki-laki lain di dalam obrolan kita?"
"Tentu saja," jawab Sejun santai sambil memundurkan punggungnya hingga menyentuh sandaran kursi. "Di hadapanmu ada laki-laki setampan aku. Kenapa kau masih saja memikirkan orang lain? Padahal, belum tentu orang yang kau pikirkan itu juga sedang memikirkanmu. Itu namanya tidak logis asal kau tahu."
Mulut Nara terbuka, masih belum terbiasa dengan sisi tak terduga Sejun yang seperti ini. "Ya Tuhan." Lidah gadis itu berdecak beberapa kali dengan gaya yang dilebih-lebihkan. "Oh Sejun, kau itu benar-benar mencintai dirimu sendiri, ya?"
"Betul sekali!" seru Sejun bangga, jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf v di dekat dagu. "Bukankah ucapan semacam itu sudah sering kau dengar? Sebelum kau mencintai orang lain, kau harus mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu. Begitulah kira-kira."
Nara tertunduk dengan satu tangan menutupi wajah, sementara bahunya yang mungil berguncang mencurigakan. Mungkin jika orang lain yang bersikap narsis seperti ini di depannya, Nara akan merespon dengan decihan jijik serta tatapan memicing penuh cemooh. Namun karena kata-kata menggelikan itu keluar dari bibir Oh Sejun, Nara hanya bisa menerimanya dengan penuh pemakluman karena apa yang pria itu katakan adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.
"Dasar posesif!" tuduh Nara sambil tertawa.
Sejun tidak bisa tidak tersenyum begitu tawa seperti suara kicauan burung bergema dengan merdu di telinganya. "Aku akui kalau aku memang posesif. Tapi maaf saja, aku tidak bodoh. Tidak seperti seseorang."
Nara mendesah, menatap Sejun tepat di manik matanya yang hitam. Berbeda dengan hari-hari kemarin, tidak terdapat jejak rasa sakit di raut wajahnya ketika nama Jay disebut-sebut, disindir atau bahkan dimaki-maki oleh Sejun. Mungkin kenyataan bahwa Jay bisa dengan mudah dikelabuhi oleh Hani menjadi salah satu penyebab yang membuat perasaannya berubah. Tapi pria di hadapannya sekarang adalah pendukung terbesar dari semua perubahan yang ada di dalam dirinya sekarang.
Berkat Sejun, kini Nara mulai memandang hidupnya dengan sudut pandang baru dan dia semakin tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Sejun dalam wujudnya yang nyata. "Jika kita bertemu lagi, apakah kita masih bisa sedekat ini?" Sejenak pandangan Nara tampak menerawang saat ia menyuarakan pertanyaan yang tiba-tiba saja datang melintas di pikirannya. "Lalu, apa nanti kita berdua masih bisa tertawa bersama seperti ini?"
Sejun mencondongkan tubuhnya ke depan sementara kedua tangannya terlipat di atas meja, tertarik dengan pertanyaan mengejutkan yang Nara ajukan kepadanya. "Bisa," jawab Sejun lugas, "asal kau tidak melupakan aku."
Hening beberapa lama, Nara pun membalas, "Bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku sudah banyak berutang budi kepadamu, Oh Sejun. Malah bisa jadi aku sudah tinggal nama jika waktu itu kau tidak segera datang menolongku."
"Apa konsekuensinya jika kau berbohong?"
"Konsekuensinya? Eum..." Nara menunduk, berpikir, sementara Sejun terus mengawasinya dengan seulas senyum samar yang tersungging di bibir.
Waktu yang dinanti-nanti oleh Sejun akhirnya tiba ketika gadis cantik di depannya berhenti bergumam dan dia kembali membuka mulut. "Kalau aku melupakanmu, kau boleh menghukumku." Nara mengangguk yakin, tetapi sedetik kemudian dia berhenti sebab ragu tiba-tiba datang merasuki hatinya. "Kau boleh menghukumku asal tidak terlalu kejam," ralatnya cepat.
"Boleh menghukummu asal tidak terlalu kejam?"
Lagi-lagi Nara mengangguk.
"Begitu rupanya." Sejun mengernyit, mendesis, berat badannya ia bebankan di siku sebelah kiri, sedangkan arah pandangan matanya yang bergerak ke kanan atas menyatakan bahwa dia sedang berpikir.
"Hukuman yang tidak terlalu kejam," Sejun melirik Nara dengan mata tersembunyi di balik bulu matanya yang lentik, lalu tiba-tiba senyum misterius muncul malu-malu di garis bibir pria itu. "Sepertinya ciuman adalah hukuman yang tidak terlalu kejam sekaligus manis," cetus Sejun dengan nada suara menggoda.
Kedua bola mata Nara membulat bersamaan dengan rasa panas yang menjalari kedua pipinya. "Apa kau bilang? Dasar m***m!" Meskipun malu, Nara tak kuasa untuk memprotes gagasan Sejun yang terdengar nyeleneh namun indah jika dibayangkan.
Mereka berdua tidak sadar ketika tatapan mata mereka saling bertemu, percikan kembang api layaknya sebuah festival seolah memenuhi jiwa mereka. Melukis hati mereka dengan cahaya sebelum ikut terbakar oleh nyala api warna-warni secara perlahan. Namun anehnya perasaan itu justru menyenangkan. Menyenangkan tapi sukar untuk diakui secara gamblang.
Mereka berdua seakan tahu, tapi tidak tahu tentang perasaan yang sama-sama mereka rasakan terhadap satu sama lain. Hingga akhirnya mereka hanya bisa saling menggoda dalam rangka merasuk ke hati yang terdalam lalu mencuri hal yang paling berharga di sana.
"Kau tidak akan melupakanku. Janji?" Sejun mengulurkan jari kelingkingnya di depan Nara yang membuat manik sewarna madu milik gadis itu bersinar terang. Nara mulai melipat empat jari tangan kanannya selain jari kelingking, menautkannya dengan jari kelingking Sejun hingga keduanya saling melingkar, saling memeluk seperti pilinan tali.
"Iya. Aku janji."
Apa pun yang terjadi, tolong ingatkan aku tentang dirimu.
Kata-kata itu tertata rapi di hati Nara, tapi tidak di lisannya. Entah kenapa seperti itu sampai-sampai dia berharap kalau suara hatinya bisa di dengar oleh Sejun lewat sesuatu seperti telepati. Barulah beberapa menit kemudian, makanan yang Sejun pesan pun datang.
Sambil meletakkan makanan dan minuman yang dipesan pelanggannya ke atas meja, mata pelayan wanita yang masih muda itu terus melirik-lirik ke arah Sejun, tatapannya adalah campuran dari perasaan kagum atas wajah rupawan yang Sejun miliki sekaligus perasaan heran yang tak bisa ditelaah oleh akal sehatnya saat pria di sampingnya terus berbicara dan tertawa sendirian.
"Silakan dinikmati," kata si pramusaji dengan ramah.
"Terima kasih banyak."
"Jika ada lagi yang Anda butuhkan, Anda bisa menghubungi saya."
Sejun menganggukan kepalanya tanda mengerti, mengambil sendok kecil di samping kue tiramisu yang terlihat begitu menggoda.
"Aku kira dia akan memberimu nomer telepon tadi," komentar Nara sesaat setelah pelayan wanita itu pergi.
"Untungnya dia tidak memberikannya."
"Kenapa memangnya?"
"Karena saat itu juga aku akan langsung menolaknya."
"Oh my... so scary." Nara pura-pura takut sembari mengusap-usap lengannya sendiri. "Omong-omong, apa kau akan menghabiskan semuanya?" Nara memandangi beberapa macam kue, puding, dan dua gelas kopi yang ada di meja, bertanya-tanya dalam hati apakah Sejun sedang selapar itu sampai memesan makanan manis sebanyak ini.
"Tidak. Aku hanya akan meminum kopi milikku lalu memakan tiramisu ini," Sejun menunjuk kue yang ia maksud dengan dagunya, "yang lain selain yang aku sebutkan tadi tentu saja untukmu."
"Untukku?"
"Ya."
"Kau sedang mengejekku atau bagaimana? Aku 'kan tidak perlu makan."
"Kalau begitu dilihat saja. Siapa tahu nanti kau jadi kenyang," jawab Sejun masa bodoh. "Aku datang berdua denganmu. Tentu saja aku tidak mau melanggar kode etik dengan tidak mentraktirmu makan."
Nara mengembuskan napas lelah karena kalah bicara. "Terserah sajalah."
Selagi Sejun menyantap makanannya, Nara menyapukan pandangannya ke sekeliling, menatap ke luar jendela, memperhatikan perubahan langit yang cukup signifikan dari cerah menjadi mendung. Ketika matanya sedang fokus menatap jalan, tiba-tiba dia melihat mobil ayahnya yang baru berhenti di tempat parkir.
Pria paruh baya itu pun keluar dari mobil bersama kakak tirinya. Saat mereka berjalan beriringan, Hani melingkarkan tangannya di lengan sang ayah lalu entah apa yang mereka berdua bicarakan, tak lama tawa pun meledak dari bibir keduanya. Pemandangan itu membuat Nara murung. Perasaan kesal, benci, dan sepi datang menutupi hati Nara seperti gerhana, dan dia pun menggelengkan kepala demi menepis semua perasaan yang tak ingin lagi ia rasakan.
"Ada apa?" tanya Sejun, mengikuti arah pandang Nara yang menembus jendela kaca di sampingnya.
"Itu ayahku."
"Apa kau ingin menyapanya? Aku bisa melakukannya untukmu."
"Tidak. Aku tidak ingin menyapanya." Nara menjalin jari-jarinya sambil meluruskan kedua tangannya ke depan, sementara kepalanya ia tengadahkan ke atas. "Aku malah bersyukur dia tidak bisa melihatku di sini."
"Apa kau tidak ingin mencoba memperbaiki hubungan kalian?"
"Entahlah... rasanya sulit. Aku sudah terlalu kecewa kepada ayah walaupun terkadang aku juga merindukannya."
"Lalu, apa rencanamu setelah kau sadar dari koma?"
"Apa kau yakin kalau aku benar-benar bisa sembuh? Aku saja masih ragu akan hal itu. Bahkan terkadang... aku malah merasa kalau kematian lebih dekat denganku dibandingkan kesembuhan."
"Kau harus memiliki tekad yang kuat untuk bangun. Barulah selanjutnya, kau bisa memasrahkan segala urusanmu kepada Tuhan." Sejun diam sebentar untuk meneguk americano miliknya. "Aku 'kan sudah bilang kepadamu. Jika kau tidak bisa hidup untuk bahagia, maka hiduplah untuk membalas dendam kepada siapa pun yang membuatmu merasa tidak bahagia."
"Dan kau akan membantuku dengan cara yang cantik," lanjut Nara sambil menjentikkan jari.
"Ya, kau betul."
"Jika kau benar-benar ingin membantuku, tolong bantu aku mengambil semua aset milik ibuku. Karena perusahaan, rumah, dan hampir semua fasilitas yang dipakai oleh ayah dan keluarga barunya, itu semua milik ibu. Dia tidak menghargai ibuku bahkan setelah beliau meninggal. Jadi aku tidak mau mereka menikmati hasil kerja keras ibu sebelum beliau menikah dengan ayah."
"Aku bisa membuatnya bangkrut kalau kau mau. Lagi pula setahuku, perusahaan ayahmu sedang tidak dalam kondisi prima. Apa kau ingin aku melakukan itu?"