Yang Rio dengar, Tora dan istrinya mau bercerai. Gosipnya sih, Tora ngehamilin seorang janda. Entah benar atau tidak, Rio yakin hal itu yang membuat Lilith semalam menangis dan pulang duluan. Rio dengar hal itu dari mamanya pagi tadi.
"Sebenarnya Mama sudah tau kabar ini dari lama, sih. Cuma Bu Wulan kayanya nggak cerita sama Lilith, takut Lilith ikut stres, kan dia mau ujian. Yang Mam ngeri, Bu Tika udah tau gosip ini, kamu tau kan dia orangnya kaya apa?"
Rio cuma mengangguk-angguk sembari menghabiskan sarapannya sebelum berangkat ke sekolah. Namun di sana, Muni kembali melanjutkan. "Kalau Bu Tika udah buka mulut bisa bahaya, orang komplek pasti mulai memandang Bu Wulan sebagai orang tua yang nggak bisa mendidik anaknya. Toh, belum tentu berita itu benar."
Duta, papanya Rio ikut bergabung dengannya bersama tas kerjanya yang ia letakkan di meja. "Nah, itu tugas Mama buat ngasih pendapat positif Mama kalau orang-orang udah mulai terstigma. Mama kan ketua arisan, harus bisa kasih contoh yang baik buat yang lain. Percaya deh sama Papa, kalau ada orang yang udah mulai ngegosip lalu satu orang menyadarkan soal kesalahan mereka, mereka pasti bakal kapok."
Dahulu, Rio sering diceritakan oleh mamanya kalau Muni adalah wanita bar-bar semasa remajanya. Dahulu, mamanya sering mencuri buah di pohon milik tetangga. Ia bermain bola dengan anak laki-laki sampai menendang kaca rumah tetangga hingga pecah. Muni sering keluar malam dan nongkrong di pos dengan kawan cowoknya. Bahkan, dulu Muni pernah ikut tawuran sekaligus membatalkan tawuran tersebut. Bagaimana tidak? Muni sudah diwanti-wanti bahkan diancam teman cowoknya agar tidak ikut tawuran antar komplek, namun cewek itu justru datang dengan senapan buru milik ayahnya. Melihat hal tersebut, bukannya tawuran, komplek Muni malah bersusah payah menarik Muni untuk pulang. Pasalnya, tawuran mereka ini hanya sekedar adu bacot maju mundur di garis perbatasan, tidak membawa celurit atau lempar-lempar batu seperti tawuran layaknya. Yang mereka pertaruhkan juga bukan wilayah perbatasan, namun karena salah satu layangan adik mereka ditarik putus oleh komplek sebelah. Namun Muni, jujur saja sempat membuat kawannya kewalahan hingga musuh mereka pasrah dan membantu menggitong Muni untuk kembali ke tempatnya. Duta adalah seorang lelaki yang menyaksikan hal itu dan ia mulai tertarik dengan Muni. Hingga kini Rio bahkan masih suka mendengar papanya menela mamanya jika mereka sedang beradu pendapat. "Kamu selalu begitu, Ma. Nggak semua kesalahan kecil harus dihukum dengan berat, tergantung konsepnya dulu, dong. Kamu nggak bisa kaya dulu yang bawa senapan buru punya ayah kamu cuma karena perkara layangan putus!" Baru-baru saja, kemarin, kalau tidak salah Rio mendengar papanya berucap demikian.
Namun karena perkara ini, Rio jadi penasaran tentang bagaimana sebuah masalah perselingkuhan ditanggapi.
"Menurut pandangan Mama sebagai seorang perempuan, gimana?" Rio bertanya di sela sarapannya.
Muni tampak berpikir sebelum memberi jawaban, "Perselingkuhan itu nggak bisa dimaafkan. Tapi pasti setiap orang punya pendapat yang berbeda, tergantung bagaimana situasinya dulu. Jadi kalau Mama disuruh menilai, Mama memilih buat menanyakan si pelaku dan korbannya. Pelaku juga pasti punya alasan, tapi mau alasan seperti apapun, perselingkuhan nggak bisa dibenarkan karena dia udah m*****i sumpah atas nama Tuhan. Tanyakan dulu, korban mau memaafkan atau dia punya opsi lain, biasanya yang udah punya anak ini memilih bertahan, bukan karena dirinya, tapi karena anak mereka. Semua orang punya jalan, Gerio."
Lalu Rio menatap papanya. Duta yang menyadarinya pun memberi komentar. "Untuk kali ini Papa setuju sama pendapat Mama. Selain soal perselingkuhan mereka, mereka harus memikirkan bagaimana anak mereka. Setiap anak juga punya respons masing-masing. Ada yang biasa aja, ada yang sampe kesehatan mentalnya terganggu karena ulah orang tua mereka. Makanya, sebelum bertindak, seseorang harus berpikir lebih dulu. Memilih seorang pasangan itu nggak bisa berdasarkan perasaan mereka aja. Seseorang harus melibatkan semuanya. Bagaimana sikap pasanganya, tanggung jawabnya, segala hal yang bisa diterima kekurangannya juga. Mencari pasangan itu nggak kaya milih baju, pasangan itu satu untuk selamanya."
Dan sarapan pagi itu ditutup oleh wejangan Papanya yang berkata, "Dan kamu, Rio. Mumpung lagi bahas soal ini, Papa nggak akan ikut campur soal perasaan kamu, tapi Papa sebagai orang tua juga perli melihat bagaimana kamu tumbuh da menyikapi perasaan itu. Papa nggak masalah kamu punya seseorang yang dicinta atau apalah, tapi Papa mau bilang, seorang gadis yang kamu sukai saat ini bukan prioritas utama. Kamu harus mulai memikirkan masa depan. Kamu mau bermimpi menjadi apa, Papa akan menuruti selama itu baik."
To be continued...