Fateh menahan diri agar tidak mendekat. Aini tampak rapuh, tetapi aturan mereka jelas: kesedihan bukan izin untuk menyentuh.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanyanya.
Aini menggeleng dan memeluk dirinya sendiri. "Di sana saja."
Fateh tetap di kursinya.
Aini mengingat makan malam mereka serta pertemuan hari berikutnya. Ia juga mengingat Fateh pada masa sekolah, meskipun Fateh tidak pernah sadar telah menjadi seseorang yang penting baginya.
"Aku menunggumu bertahun-tahun," katanya.
Fateh tidak membalas dengan kalimat romantis. "Aku tidak tahu."
"Sekarang kamu malah mencari Nia."
"Aku datang karena kalian berdua meminta pertemuan ini."
Aini memandang buku catatan di meja. Tulisan Nia dan tulisannya berada berdampingan. Rasa cemburu muncul, disusul rasa bersalah. Ia tahu Nia telah menjalani hidup yang terlalu berat untuk melindunginya.
"Aku tidak membenci dia," ucap Aini. "Aku hanya takut kalau kembali, tidak ada tempat tersisa untukku."
Dokter menjelaskan tujuan perawatan bukan memenangkan salah satu identitas. Mereka perlu membangun komunikasi serta pembagian hidup yang aman. Integrasi mungkin terjadi, mungkin juga tidak, dan tidak boleh dipaksakan demi kenyamanan keluarga.
Ramdan meminta maaf kepada Aini karena selama ini membicarakan kesembuhan seolah Nia harus hilang. Aini menangis semakin keras.
"Kak Ramdan selalu bilang Nia merusak semuanya."
"Aku salah."
Fateh baru memahami kemarahan Nia. Ia bukan hanya takut lenyap; selama bertahun-tahun orang-orang yang dicintai Aini memperlakukan keberadaannya seperti penyakit yang harus dibasmi.
Aini memandang Fateh lagi. "Kalau aku ada, kamu mau bicara denganku?"
"Kalau kamu ingin bicara dan pertemuannya aman, ya."
"Kalau Nia juga mau?"
"Aku juga akan bicara dengannya."
Jawaban itu menyakitkan Aini, tetapi jujur. Fateh tidak menawarkan dirinya menjadi hadiah yang diperebutkan.
Setelah dua puluh menit, Aini lelah. Dokter mengakhiri sesi dan meminta semua orang memberi ruang. Perpindahan terjadi ketika Aini menutup mata.
Nia kembali dengan sakit kepala. Ia tidak mengingat percakapan, hanya menemukan tisu di tangannya dan Fateh duduk jauh sesuai aturan.
"Dia menangis?"
"Ya."
"Kau menghiburnya?"
"Aku mendengarkan."
Nia membuka buku. Aini telah meninggalkan satu kalimat: Aku tidak membencimu, tetapi aku mencintai Fateh.
Nia menulis di bawahnya: Aku juga tidak membencimu. Tapi Fateh bukan milik siapa pun.
Fateh pura-pura tidak membaca, meskipun tulisan itu tepat di depannya.
Sepulang dari sesi, Nia meminta Diah berhenti dekat pantai. Beberapa emosi Aini menempel tanpa gambar: rindu, takut, dan kecewa. Di buku ia menemukan tambahan: Dia tidak menjanjikan memilihku.
Nia menulis: Bagus. Berarti dia tidak sebodoh kelihatannya.
Beberapa menit kemudian, tangannya bergerak dengan rasa asing. Tulisan Aini muncul: Kamu suka dia?
Nia memanggil dokter melalui video karena belum pernah mengalami kesadaran sedekat itu. Dokter mengatakan komunikasi bersama dapat muncul ketika batas di antara mereka mulai lebih aman. Ia diminta tidak memaksa.
Nia kembali menulis: Aku baru mengenalnya. Dia menyebalkan.
Tulisan lain menjawab: Itu bukan jawaban.
Bahkan Aini yang lembut ternyata menyebalkan bila membahas laki-laki.
Di hotel, Fateh membuat catatan mengenai batas yang disampaikan dalam sesi. Faya menelepon, tetapi ia menolak menceritakan rincian.
"Kakak tidak bertanya rahasia mereka. Kakak bertanya kamu baik-baik saja."
Fateh mengaku takut salah. Faya mengingatkan adiknya tidak perlu menjadi ahli atau pangeran penyelamat. Ia hanya perlu jujur dan bersedia belajar.
"Jangan jadikan mereka proyek yang harus kamu perbaiki."
"Aku tahu."
"Mengetahui dan melakukan itu berbeda."
Malamnya Fateh menerima pesan tanpa nama: Apa kamu menyesal datang?
Ia tidak menebak pengirimnya. "Tidak. Tapi aku sadar harus banyak belajar."
Balasan pertama bergaya Nia: Akhirnya sadar juga kalau bodoh.
Beberapa menit kemudian datang pesan lebih lembut: Terima kasih sudah jujur.
Fateh tersenyum. Dua cara bicara, dua jawaban, dan tidak satu pun harus dikalahkan malam itu.
Hari berikutnya, pertemuan kedua dibatalkan karena Nia mengalami migrain. Fateh menerima kabar itu tanpa meminta pengganti jadwal. Ia mengirim satu pesan agar keduanya beristirahat, lalu menghadiri rapat proyek yang memang menjadi alasan resmi perjalanannya.
Dalam rapat, salah seorang pejabat memanggil Nia sebagai Puti Aini meski Nia telah mengenalkan diri. Fateh hampir mengoreksi, tetapi menahan diri. Bukan tempatnya membuka identitas yang belum diumumkan. Seusai rapat ia memberi tahu Nia secara pribadi apa yang terjadi.
"Terima kasih tidak menjelaskan tentang kami," jawab Nia.
"Aku hampir marah."
"Kau boleh marah, tidak boleh membocorkan."
Batas itu dicatat Fateh.
Nia kemudian bertanya apa yang dibicarakan Aini. Fateh mengatakan isi sesi sebaiknya dibaca melalui catatan dokter dan buku Aini. Ia tidak mau mengulangnya dengan versi yang mungkin dipengaruhi perasaannya.
"Kau mulai pintar."
"Aku ingin sertifikat."
"Belum lulus."
Di rumah, Nia membaca ringkasan sesi bersama dokter. Mengetahui Aini menganggap dirinya tamu dalam hidup sendiri membuat kemarahan Nia melunak. Ia selama ini mengira Aini tidur nyaman sementara dirinya bekerja. Ternyata Aini pun terkurung tanpa kemampuan memilih kapan terbangun.
Nia menulis: Aku juga merasa seperti tamu. Mungkin rumah ini memang tidak pernah diberikan kepada kita.
Beberapa jam kemudian Aini menjawab: Kita bisa membuat kamar masing-masing?
Pertanyaan literal itu berkembang menjadi rencana. Mereka memilih dua lemari terpisah, dua warna buku catatan, dan jadwal yang dapat diubah bersama. Nia memilih warna merah tua. Aini memilih biru muda. Barang milik tubuh bersama tetap digunakan bersama, tetapi benda pribadi tidak boleh dibuang tanpa persetujuan.
Diah membantu menata kamar. Ia bertanya kepada siapa setiap pakaian ingin dicatat. Beberapa milik pekerjaan, beberapa disukai Aini, dan beberapa dipilih Nia.
"Selama ini saya kira semua sama," kata Diah.
"Kami juga dipaksa mengira begitu," jawab Nia.
Saat Aini muncul malamnya, ia menemukan sisi lemari berwarna biru sudah kosong menunggu pilihannya. Ia menangis, kali ini bukan karena Fateh.
Ia menulis ucapan terima kasih kepada Nia. Nia membacanya keesokan pagi dan tidak tahu cara membalas tanpa terdengar lembek.
"Jangan pilih pakaian jelek," tulisnya.
Aini menjawab dengan gambar wajah menjulurkan lidah. Hubungan mereka belum menjadi persaudaraan yang tenang, tetapi mulai memiliki hal-hal yang tidak berkaitan dengan seorang laki-laki.
Mereka juga memilih makanan berbeda untuk malam itu. Diah membagi porsi agar tidak ada yang merasa tubuhnya dipaksa mengikuti selera pihak lain. Bagi orang luar pilihan menu mungkin sepele, tetapi bagi Aini dan Nia itu latihan memiliki kehidupan.
Nia memilih rendang pedas. Aini meninggalkan catatan meminta puding.
"Manja sekali," tulis Nia.
"Kamu tetap memesankannya," balas Aini kemudian.
Nia tidak dapat menyangkal. Puding itu memang sudah menunggu di lemari pendingin.
Diam-diam, ia bahkan memesan rasa kesukaan Aini.