Mantan pacar teman sekamarku -Martin- banyak, tapi tidak ada yang seseksi Melissa. Daya tarik seksualnya kuat sekali, dilengkapi p******a super besar dan pinggang yang mungil. Bokongnya yang semok terlihat menggiurkan dalam celana pendek merah muda kecil yang selalu dia kenakan, dan atasan kaos merah muda yang serasi, membungkus payudaranya hingga bentuknya tercetak jelas untuk siapapun yang memandang. Garis leher kaos v-necknya amat rendah, memperlihatkan belahan dadanya yang ranum yang menarik semua mata tepat ke bagian tengah dadanya yang penuh.
Pada awalnya aku cuma mendengar keriuhan mereka bercinta. Biasanya di malam-malam sepi, saat aku berada di kamar membaca majalah atau menonton televisi, suara-suara itu mulai terdengar.
"Oo, lepaskan saja ini!" terdengar suara seorang gadis mengerang, dan tiba-tiba aku tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun yang sedang kulakukan. Aku membayangkan Melissa perlahan-lahan menjelajah tubuh teman sekamarku, makin ke bawah, membuka kancing celananya dan menarik keluar k*********a, merogohnya dengan kedua tangan yang hangat dan menggosok-gosoknya.
"Barangmu besar banget," bisiknya manja, dan di dalam celanaku, aku merasakan si Johny mulai mengeras. Si Johny lumayan mungil, berdiri tegak sempurna pun, ketinggian tonjolan sejajar resleting celanaku tidak terlalu jauh. Tetap saja, aku menggenggamnya dengan kuat dari balik celana dan sensasi luar biasa mengalir ke seluruh tubuhku.
Selama sisa malam itu, aku mendengar hempasan dan jeritan Martin dan Melissa di kamar sebelah. Kubayangkan payudaranya yang besar memantul naik turun saat k****l Martin menghujam vaginanya. Kubelai penisku sendiri, seringnya o*****e dua kali sebelum mereka selesai, kemudian mematikan lampu dan tertidur, memimpikan mereka berdua melakukannya seperti anjing.
Di pagi hari Melissa duduk di meja makan, mengenakan jubah mandiku, belahan dadanya terlihat melalui celah ikatan jubah; aku bisa mencium aroma sisa-sisa s****a di pahanya. Hanya melihatnya duduk dengan manis di sana cukup membuatku keras lagi. Kutuangkan secangkir kopi untuk diriku sendiri dan berlari kembali ke kamarku untuk mengocok si Johny sambil membayangkan Melissa.
Beberapa minggu setelah itu, mereka mulai menjadi lebih kreatif. Pada suatu hari aku pulang ke rumah sore-sore dan mendengar mereka sedang bercinta lagi, kelihatannya sedang berlangsung di kamar tidur. Aku berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil, rupanya mereka disana. Buah dadanya yang indah menempel di dinding sementara teman sekamarku menyodoknya dari belakang. Posisi b****g Melissa lebih tinggi dibanding kepalanya. Mereka tidak terganggu sama sekali dengan kemunculanku, jadi aku berdiri di sana menonton sejenak sebelum menutup pintu dan berlari kembali ke kamarku, pemandangan tubuh telanjang Melissa masih segar di pikiranku.
Bahkan setelah pertempuran seru sorenya, mereka masih bercinta seperti biasanya malam itu. Aku sedang memegang penisku dengan kedua tangan, menggosok-gosoknya dengan ganas sambil membayangkan tubuh telanjang saling menempel satu sama lain, ketika dia masuk. Dia mengenakan jubahku lagi, kali ini bukaannya sedikit lebih besar; pemandangan gunung kembar sampai ke daerah lembut tepat di atas vaginanya. Ketika dia melihat apa yang sedang kulakukan, matanya melebar dan dia mulai terkikik, membuat jubahnya lebih terbuka untuk menunjukkan payudaranya yang penuh dengan p****g merah muda dan bagian luar yang lembut. Dia menertawakan ukuran si Johny, yang pasti sangat kecil dibandingkan dengan punya teman sekamarku. Kutarik selimut menutupi tubuhku, mencoba menyembunyikan perkakasku yang kerdil.
Dia tidak pergi, hanya berdiri di ambang pintu, payudaranya tanpa sadar terbuka, menyeringai jahat pada wajahku yang memerah.
"Apa itu?" dia bertanya sambil tersenyum.
"Tidak ada," aku tergagap, malu, mencoba menenggelamkan diri ke dalam tempat tidurku, "Bukan apa-apa."
"Adaaaaaa," katanya, "Imuuuuutt, tapi ada."
Dia melenggang ke tempat tidurku, pinggulnya bergoyang dengan setiap langkah, dan menarik selimutku dengan jari-jarinya yang mungil. Penisku sekeras biasanya, empat setengah inci penuh, dan dia tersenyum lebih lebar saat melihatnya.
"Kecilnyaaaaaaa!" dia terkikik, "Wah, belum pernah lihat p***s sekecil itu. Pria yang kutiduri selalu berukuran sembilan, sepuluh inchi. Pernah sih dulu, delapan inchi, nggak kubiarkan dia menggagahiku karena pasti nggak kerasa. Apalagi itu!"
Aku ingin memejamkan mata untuk menahan rasa malu, tetapi aku tidak bisa menahan diri terpaku menatap gundukan daging pucat yang menggantung di dadanya. Dia menunduk untuk melihat payudaranya yang terbuka, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menutupinya.
"Kamu suka ini?" dia bertanya, meletakkan tangannya di samping d**a untuk meremas teteknya dengan menggoda, "Semua pria melakukannya. Aku tidak akan membiarkan pria sepertimu menyentuh mereka." Dia membungkuk di atas tubuhku dan meletakkan wajahnya tepat di sebelah penisku.
"Kecilnyaaaaaa," ulangnya, "Boleh kupegang?" Aku sama sekali nggak bisa ngomong, jadi dia meraih batang penisku dengan satu tangan dan menggosok payudaranya dengan tangannya yang lain. Aku nggak bisa menahan diri, langsung crot! Cairan s****a muncrat keluar dari penisku, menyemprot tangan dan wajahnya dengan krim kentalku. Dia terkejut aku meraih puncak begitu mudah, tapi ia terus membelai penisku sampai tidak ada lagi yang menetes.
"Aku belum pernah melihat k****l selesai secepat itu!" dia bercanda, "Aku yakin kamu nggak jago mainnya." Dia membersihkan cairan lengket yang menempel di rambutnya dan kemudian mengoleskannya di payudaranya. "Teman sekamarmu nggak akan tahu, aku mau balik untuk menidurinya sekarang. Aku tadi mau nyari body lotion. Dia melihat di sampingku ada lotion yang kugunakan sebagai pelicin dan mengambilnya dengan tangannya yang berbau body lotion produksiku.
"Kami pake ini aja," katanya, dan menutup pintu di belakangnya. Aku tercengang. Itu adalah momen paling memalukan sekaligus paling seksi yang pernah kualami. Aku meraih yang penisku dan mulai mengocok lagi, bahkan tanpa lotion hanya butuh waktu dua menit. Aku tidur setelah mencapai sangat kepuasan.
Keesokan paginya, pada saat teman sekamar masih sedang tidur, aku ke dapur mau minum kopi, Melissa sudah ada di sana, masih mengenakan jubah mandiku, memegang botol lotion saya di tangannya. Ketika dia melihatku muncul, dia tersenyum, aku menatap nanar ke arah payudaranya yang tertutup.
"Yah, tadi malam menyenangkan," katanya, "Dengan teman sekamarmu, maksudku, bukan denganmu. Dia meniduriku dengan sangat baik, aku bahkan tidak bisa merasakan vaginaku." Dia melebarkan kakinya, menunjukkan vaginanya yang berkilau, basah dengan jusnya sendiri dan jus teman sekamarku.
"Terima kasih untuk lotionnya juga," tambahnya, menyerahkan botol itu padaku, yang tinggal setengah dari saat aku meminjamkannya padanya.
"Kami pake agak banyak," katanya, "Dia menggosokkannya pada payudaraku dan kemudian bercinta denganku. Payudaraku cukup besar dan kami bercinta sekitar lima kali, jadi perlu banyak."
Bayangan p******a besar Melissa melumat k****l Martin membuat si Johny langsung berdiri dan dia melihat tenda di celana saya mulai terbentuk.
"Kayaknya kamu butuh lotion ini, Bang Jago," ejeknya, dan aku berjalan kembali ke kamarku untuk m********i.
Di hari lain, aku pulang sore lagi, menemukan mereka sedang kuda-kudaan, doggy style, di ruang tamu. Sama sekali nggak berusaha untuk bersembunyi, teman sekamar saya, Martin menyodokkan penisnya ke lubang v****a Melissa, payudaranya terguncang tiap kali Martin menyodok maju.
"Lihat siapa yang pulang," kata Melissa, maju mundur tiap kali goyangan, "Temen Sekamarmu, Mart, si k****l Jarum.
Aku menatap teman sekamarku yang terlalu sibuk meniduri Melissa untuk mengatakan apa pun kepadaku, lalu kembali menatap wajah Melissa yang mengerang.
"Um, aku akan meninggalkan kalian sendirian," kataku, ingin kembali ke kamarku dan memproses gambar yang kulihat, tetapi Melissa menghentikanku.
"Jangan, jangan pergi, kami tahu kamu bakal ngocok sendiri. Nonton kami aja. Jangan malu-malu, pria kecil. Bebas aja."
Aku tidak bisa menolak tawaran seperti itu, tidak untuk p******a ranum dan p****t bengkak itu. Aku duduk di sofa di seberang mereka dan memasukkan tanganku ke dalam celana. Rasanya si Johny lebih keras dari malam sebelumnya. Tidak ada suara di ruangan itu kecuali irama cepat p***s Martin memompa.
Tidak lama kemudian terasa aliran cairan hangat dalam batang penisku, aku membungkuk ke meja untuk mengambil tisu.
Melissa melihatnya.
"Oh, tidak, jangan buang di tisu," erangnya licik, "Kemari deh, aku perlu."
Aku tidak bisa mempercayai telingaku. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, teman sekamarku masih menyodoknya dengan keras dari belakang, dan membidik wajahnya. a******i saya mengalir di seluruh sisi pipinya, jatuh ke mulutnya dan meluncur ke lehernya. Sedikit jatuh ke belahan dadanya, tetapi jatuh ke lantai karena tenaga dorongan dari Martin.
Melissa menjilat sekitar mulutnya dengan lidahnya dan berkata, "Sedikit berair, tapi tidak buruk di sana. Sekarang keluar, dan tinggalkan kami sendiri."
Aku melangkah ke kamarku untuk m********i lagi, masih bisa mendengar suara-suara kegiatan di ruang tamu. Aku o*****e lagi sebelum hempasan dan teriakan berhenti dan pintu depan terbuka dan tertutup. Sesaat kemudian, pintu kamarku terbuka dan Melissa melenggang masuk.
"Temanmu harus pergi," katanya, duduk telanjang di tempat tidurku, "dan kurasa dia ingin aku memberimu ini." Dia mengangkang untuk menunjukkan vaginanya yang berlumuran s****a teman sekamarku.
"Mau bantu aku bersih-bersih?" katanya. Tak perlu diminta lagi, aku langsung membenamkan wajahku ke selangkangannya. Bau cairan v****a dan a******i teman sekamarku sangat menyengat dan kuat, tapi luar biasa. Dia mengatupkan kakinya, pahanya yang lengket menjepit wajahku, dan aku bisa mendengarnya mengerang.
"Kamu ternyata jago banget," kudengar dia berkata, teredam karena kekuatan pahanya, "Kamu tutupi kekurangan panggulmu dengan kelincahan lidahmu.
Setelah beberapa kali o*****e, dia mendorong kepalaku keluar dari posisinya, dan berdiri.
"Kamu bakal lihat kayak tadi lagi lebih banyak," katanya, dan meninggalkan kamarku.
Malam itu dia mengunjungiku lagi, kekacauan lengket lain yang harus kurapikan. Aku menjilatnya dengan rela, menikmati perasaan hangat pahanya di telingaku dan kemudian dia memberiku handjob cepat lain sebelum pergi.
Ketika berjalan ke dapur keesokan paginya, kulihat tidak ada orang di sana, jadi aku duduk di meja dan menuangkan semangkuk sereal dan s**u untukku.
Isi mangkukku tinggal setengah ketika Melissa masuk. Dia tetap mengenakan jubah mandi rampasan tetapi segera melepaskannya ke lantai dengan gaya berlebihan.
Meskipun setiap jengkal tubuhnya sudah kujelajahi, pemandangan tubuh telanjangnya masih membuatku segera keras. Berjalan di belakangnya adalah teman sekamar saya, telanjang, tombak sepuluh inci terkokang penuh, tanpa babibu langsung menunggangi Melissa dari belakang. Martin tidak memandang ke arahku atau menyapaku, langsung sodok bae.
Melissa bersandar ke meja, teteknya beberapa inchi dari mangkuk serealku. Begitu mereka mulai bergoyang maju-mundur, aku harus mengangkat mangkukku dari meja agar isinya tidak tumpah.
"Selamat pagi," sapa Melissa, masih sedang digoyang Martin. "Kami pikir kami quickie dulu pagi-pagi dan biarin kamu nonton."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, si Johny mau muntah, dan ada buah d**a ukuran jumbo lagi nganggur tepat di mukaku, tetapi di sisi lain, aku cuma pengen ngabisin serealku. Akhirnya kuputuskan makan saja, dan mencoba mengabaikan situasi yang serba salah ini: aku ngocok nanti aja deh.
"Apa! Ga mau dikeluarin nih? " tanya Melissa tercengang. "Oh, well, kamu tidak bisa mengabaikan kami lama-lama, kami bakal gini sepanjang waktu, jadi kamu harus manfaatin banget." Dia mendorong dirinya ke depan, membuat kepala dan dadanya mendorong mangkukku dan membuatnya tumpah ke bajuku.
"Syukurin!," katanya, "Ini p******a terbaik, kamu dan p***s kecilmu tidak akan pernah lagi lihat ginian, ayo manfaatin! Keluarin aja ! Ya udah, terserah! Aku tahu aku bisa bercinta dengan banyak k****l sesering aku mau sampai kapan pun. Kalo kamu mungkin tidak bisa nidurin lebih dari satu atau dua cewek sampai jompo."
Aku mengerutkan kening tetapi tidak bisa tidak mendengarkannya. Aku memasukkan tanganku ke dalam celanaku dan mengelus-ngelus isinya, terus lanjut buka resleting bebasin penisku.
Tiba-tiba Martin melepas Melissa, mengambil jubah mandiku dari lantai dan berjalan kembali ke kamarnya. Melissa dan aku ditinggalkan sendirian.
"Oke," katanya, "Ini sarapanmu yang sebenarnya." Dia mengayunkan kakinya ke atas meja dan genangan lengket yang hangat menganga tepat di wajahku.
Aku sekali lagi memakannya, lidahku menjadi lengket dengan campuran jus hasil senggama. Setelah selesai, dia melompat dari meja dan menggoyangkan pinggulnya dengan menggoda.
"Kami sedang berpikir untuk mencoba anal lain kali, jadi akan ada lebih banyak genangan lengket untuk dijilat." Aku menelan ludah, menelan campuran yang dia tinggalkan di mulutku.
Jadi begitulah hidup bagiku. Setiap hari Melissa meniduri temanku dan setiap hari aku memakannya. Aku pasti telah menelan jus mereka bergalon-galon, creampie selanjutnya selalu lebih panas dan lebih erotis daripada yang sebelumnya. Seperti yang dijanjikan, aku mulai menjilat lubang duburnya, menambah elemen baru dalam hidupku.
Melissa benar, p***s miniku tidak akan pernah bisa bersama siapa pun yang seseksi dia, jadi aku nikmati saja apa yang dia berikan padaku dan dikocok setiap malam.