April kali ini sepertinya akan sering turun hujan. Sebab, sudah beberapa hari ini hujan terus mengguyur kotaku. Dari sejak aku berangkat sekolah, sampai pulang sekolah–sore.
“Coba cari kendaraan umum, Sa. Papah enggak bisa jemput, belum pulang. Bunda mau jemput pun enggak ada kendaraannya.”
Suara Bunda di sebrang sana membuatku menghela napas kasar.
“Ya udah, enggak papa Bun. Rissa mau coba nyari angkutan umum, barangkali masih ada yang lewat,” ucapku sambil terus memerhatikan jalan.
“Hati-hati, jangan hujan-hujanan ya.”
Aku membalas ucapan Bunda di sebrang sana, lalu pamit untuk mematikan panggilan. Lalu, segera menuju halte.
Duduk di kursi halte, aku merasa putus asa. Tidak yakin masih ada kendaraan lewat di bawah guyuran hujan yang lebat sore ini, sedari tadi pun mencari ojek online tidak ada yang bisa.
Hampir satu jam aku menunggu, tapi tak ada tanda-tanda angkutan umum lewat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membantah nasihat Bunda–jangan hujan-hujanan.
????, ???. ????? ????? ????? ????? ?????, ??????-?????? ?? ????? ????? ???? ????. Aku membatin sambil nekat berlari menerjang hujan, toh sudah tidak sederas sebelumnya.
“Buset, dingin banget,” ucapku sambil memeluk diri, masih dengan langkah kaki yang cepat.
Hingga, saat aku melewati sebuah jembatan, terdengar suara kucing mengeong. Suaranya cukup tak terdengar.
Aku yang memang suka kucing dan ber-prikekucingan pun memilih untuk berhenti dan mencari kucing tersebut.
“Lho, Meng. Kasian banget, sini ikut aku,” ucapku saat berhasil menemukan kucing tersebut.
Ia tengah menggigil kedinginan di bawah jembatan, sorot matanya sayu. Membuatku tidak tahan untuk membawanya ke dalam dekapan.
Aku saja, yang baru terkena hujan sudah merasa sangat kedinginan. Apalagi kucing ini, kasian.
“Bertahan ya, sampai rumah aku akan langsung menghangatkanmu.”
Aku kembali berlari di tengah derasnya hujan dengan mendekat kucing berwarna oranye ini.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk dengan sebelumnya sudah melepas sepatu. Menuju kamar untuk menaruh tas. Untungnya Bunda sedang tidak ada, aku aman dari omelannya.
“Sebentar, di mana handukku ya?” gumamku pada diri sendiri seraya mencari handuk kecilku di lemari.
Si oranye aku taruh di atas kasur dan sudah kuselimuti, kucing itu nampak sangat lemah. Bahkan, aku sudah tidak mendengar suaranya lagi.
“Nah, ketemu!” Aku bersorak saat berhasil menemukan handuk kecil itu, biasanya aku pakai untuk mengeringkan rambut setelah keramas.
“Duh, kasian banget kamu. Sini, sini, aku hangatkan badanmu,” ucapku sambil membawa kucing tersebut kembali ke dalam pelukan dengan diselimuti handuk.
Aku mulai mengeringkan bulu-bulunya yang basah, membersihkan wajahnya, lalu beralih ke empat kakinya, dan terakhir ekor.
“Wah, ternyata kamu cowok. Kebetulan, semoga Bunda ngijinin aku buat pelihara kamu ya.”
Setelah selesai membersih dan menghangatkannya, aku segera menuju dapur. Mencari makanan yang sekiranya mau dimakan kucing.
Kenapa begitu? Iya, karena aku belum beli pakan kucing. Di luar sana masih hujan, dan si Oyen pasti akan lebih lapar jika menungguku membeli pakan.
“Lho, udah pulang?”
Seketika aku menjengkit kanget saat mendengar suara Bunda.
“Udah,” jawabku sambil tersenyum. Berharap Bunda sedang mode kalem.
“Sama siapa?”
Duh, gawat!
“A-anu ....” Aku masih tersenyum, sambil memainkan ujung bajuku.
“Rissa bandel. Dibilangin jangan hujan-hujanan, malah hujan-hujanan. Nanti, kalau flunya kambuh baru tau rasa.”
Tuhh, mulai kan.
“Ish, Bun. Tadi, udah nunggu sampe satu jam. Tapi, enggak ada kendaraan yang lewat. Ya udah, Rissa langsung pulang aja, udah laper juga,” balasku sambil memanyunkan bibir.
Bunda tersenyum, lalu mencubit gemas pipiku.
“Ya sudah, sekarang cepat makan.” Setelah mengatakan itu Bunda langsung menuju kamarnya.
Aku menghela napas lega. Dengan segera mengambil nasi dan dua ayam goreng, kebetulan sekali Bunda masak ayam.
Setelah selesai, aku langsung bergegas ke kamar yang berada di lantai atas.
“Meng, aku ada sesuatu nih buat kamu,” ucapku senang sambil memasuki kamar.
“Tara! Ayam goyenggg.”
Aku mengulurkan ayam goreng tersebut tepat di wajah si Oyen. Seketika kucing itu menggigit ayam goreng yang kupegang tadi.
Lalu, memakannya dengan lahap. Aku tersenyum melihat tingkahnya dan memutuskan untuk makan juga.
***
“Akhirnya, aku ada teman juga.”
Kutatap kedua mata coklat itu, lalu mencium hidung mungilnya. Berlanjut memeluk hewan berbulu nan menggemaskan itu.
Namun, secara tiba-tiba si Oyen memberontak. Hingga meninggalkan goresan indah di pipiku.
“Huwaa! Sakittt.” Aku reflek berteriak, lalu segera menutup mulut saat tersadar.
Sementara Oyen sendiri sudah menatapku tajam dan merebahkan diri di sofa yang ada di dekat lemariku.
“Hei, nggak boleh begitu. Aku sayang kamu, tetap bersikap menggemaskan biar aku nggak membuangmu, oke?” ucapku sambil menunjuk si Oyen, seolah dia akan paham dengan ucapanku.
Setelah mengatakan itu, aku langsung ke bawah. Mencari obat merah di kotak P3K.
“Pipimu kenapa?” tanya Bunda yang lagi-lagi mengagetkanku dengan kemunculan beliau yang tiba-tiba.
“Dicakar kucing,” jawabku dengan santai, tanganku sibuk membuka obat merah.
Namun, detik selanjutnya aku tersadar. Sesegera mungkin aku meralat jawaban, “Eh, a-anu, kena ... kena itu, apa ya–”
“Anak Bunda yang satu ini, kalo bohong keliatan banget tau. Enggak pantes bohong, keliatan dari wajah, ucapan dan mata kamu,” ucap Bunda sambil menarik pipi kiriku.
“Bunda, enggak papa kan aku pelihara kucing? Dia jantan kok, aku nemuin dia di kolong jembatan waktu pulang sekolah tadi. Boleh ya?” Aku mencoba bernegosiasi dengan Bunda.
“Kamu yakin, bisa dengan baik melihara kucing? Dulu, waktu melihara marmut aja mati.”
Seketika aku cemberut, Bunda mengingatkanku dengan marmut-marmut imutku dulu. Pemberian dari Abang, tapi mati semua gara-gara aku lupa memberi makan.
“Itukan marmut Bun, ini kucing. Dulu, aku lupa ngasih makan marmut soalnya itu hal yang mudah, makanya aku sedikit menyepelekan. Kalau ini kan kucing, sedikit ribet, bukan makannya. Tapi, pupnya juga. Jadi, aku nggak akan menyepelekan,” jawabku dengan yakin. Berharap bunda luluh.
“Nah, justru itu Sa. Yang gampang aja kamu lupa, apa lagi yang ribet?”
Ish, Bunda. Selalu saja bisa mematahkan ucapanku.
“Bunda, please. Aku enggak tega buang Oyen, dia juga kedinginan tadi. Sekarang udah bersih, udah bobo dengan tenang di kamarku. Please ya, Bun? Dia jantan kok, jadi enggak repot hamil. Paling juga ngehamilin kucing tetangga,” ucapku masih terus berusaha dengan tatapan penuh pengharapan.
Bunda menarik napas, lalu membuangnya kasar. “Enggak usah cuma diucapkan, buktikan kalau kamu bisa merawat kucing. Nanti, kalau sampai ceroboh, Bunda buang kucingnya.”
“Yey! Makasih Bucan! Bunda cantik.” Aku bersorak senang sambil memeluk beliau.
“Bucan, Bucan. Bunda macan.”
Aku terbahak saat mendengar ucapan Bunda.
***
Akhirnya, aku benar-benar memiliki teman di rumah ini. Setelah perginya Abang untuk berkuliah di luar negeri, aku jadi kesepian.
“Sekarang, aku ada kamu. Jadi, aku nggak kesepian lagi,” ucapku sambil mengelus bulu Oyen yang terasa sangat lembut di tangan.
Dia kini sudah mau aku pegang dan kupeluk, tidak menyakar lagi. Dia seperti tau apa yang aku ucapkan tadi – setelah dicakar olehnya.
“Selamat malam.”
Aku pun mulai memejamkan mata sambil memeluk Oyen yang juga rebahan di sampingku.
Detik jam terus bergerak, alam mimpi masih membuatku nyaman dalam pejaman mata.
Hingga, sesuatu membangunkanku.
Dekapan seseorang, napas hangat yang menerpa wajahku. Apakah ini mimpi?
Saat kubuka mata, aku terdiam. Melihat seseorang yang kini begitu dekat denganku, memelukku. Matanya terpejam. Dan, oh my God! Kenapa dia enggak pakai baju?!
“Roti sobek!” ucapku sambil berusaha melepaskan dekapannya.
Namun, bukannya lepas, laki-laki itu malah semakin erat memeluk tubuhku.
Sialan. Siapa sih dia ini?! m***m sekali.
“Lepasin! Kalau enggak, aku teriak maling nih!” Aku mengancamnya.
Seketika matanya terbuka, menampakkan warna coklat kelam. Mengingatkanku akan satu hal. Matanya ini seperti milik si Oyen.
“Bisa diam tidak? Aku hanya sedang membalas pelukanmu semalam. Pelukan yang menghangatkan tubuh.”
Aku dibuat menganga oleh ucapannya itu, ini orang mabuk kecubung atau gimana sih?
Selanjutnya, dia kembali memejamkan mata. Seolah tak memedulikanku yang berusaha untuk lepas dari pelukannya.
“Bund—”
Mulutku dibungkam olehnya, badanku dipeluk erat. Sulit sekali untuk bergerak.
“Rissa, aku bukan orang jahat! Aku Oyenmu. Paham?” ucapnya sambil menatap mataku.
Aku semakin dibuat bingung, berusaha melepaskan tangannya dari mulutku.
“Aku akan melepaskan tanganku dari mulutmu, jika kamu tenang dan tidak akan berteriak.”
Segera aku menganggukkan kepala, aku juga sebenarnya penasaran dengan dia. Perlahan, dia melepas pelukan dan tangan yang membungkam mulutku.
“Jadi, kamu ini siapa? Lalu, kenapa ada di kamarku? Dan, kenapa tidak pakai baju?!” tanyaku berturut-turut. Bahkan, kini aku sudah beralih posisi menjadi duduk.
“Apa kamu merasa memberikan atau memakaikan kucing Oyen itu baju?” Dia malah bertanya balik, dan apa hubungannya dengan si Oyen?
Eh, Oyenku mana?!
“Hei, mana kucingku?!”
Aku yang sadar akan tidak terlihatnya Oyen, langsung turun dari kasur dan mencarinya di seluruh kamar. Namun, nihil.
“Sudah kubilang bukan, aku ini Oyen.”
Fix! Dia semakin gila.
“Lelucon di Minggu pagi, sama sekali tidak lucu!” ucapku kesal, enggan menatap laki-laki aneh itu.
Tanpa aba-aba, dia menarikku ke ranjang hingga aku terjatuh di pelukannya.
“Kamu ingin bukti? Tatap mataku, Risa.”
Dia menatapku, sementara aku menelisik bola mata coklat itu.
Seketika aku melihat rangkaian kejadian yang tidak runtut, sampai saat dimana aku pulang sekolah dan menemukan Oyen. Lalu, membawanya pulang.
“Sekarang kamu percaya?” tanya dia setelah menunjukkan semua kejadian itu padaku.
Oh, God. Semoga ini hanya mimpi.
_______