“hihihihi......tenang.!!....aku lagi mijitin kepalamu biar rileks....lagian siapa yang mau ngambil jiwa dan makan otak kamu? Emangnya aku zombie...?” kata kuntilanak santai.
”Aku tuh lagi nolongin kamu…..tolong jangan panggil aku Kunti namaku Hayati, oke”. Kata Hayati sambil tersenyum dengan bola mata kanan yang masih menggantung di pipi.
Ekspresi Asnawi ketika melihat hal itu sangat ketakutan, namun ketika Asnawi mendegar nama kuntilanak itu, dia langsung tertawa. “kenapa kamu tertawa...?” kata Hayati heran.
“nama kamu...hehehe....itu kaya nama yayasan punya bapa aku..hahaha...yayasan Hayati...” ujar Asnawi yang dengan ekspresi yang lebih santai. “ iya bapak aku kan dokter, doi punya yayasan sunat gratis yang bernama Hayati..........hahaha”.
Hayati terdiam mendengar hal itu dan kelihatan malu karena ditertawakan Asnawi. “ okeh Hayati, Maafin aku…...udah ngetawain kamu....tapi tolong mata kamu benerin dulu, aku mau muntah nih” kata Asnawi dengan wajah mualnya.
“ oh iya maaf mas…..hihihi abisnya udah tuntutan pekerjaan”. Hayati langsung memasukan kembali bola matanya kedalam rongga mata. Setelah matanya kembali normal mulai terlihat wajah Hayati yang cantik tapi banyak bekas-bekas luka dan kulit pucatnya. Tapi bagi Asnawi sudah dianggap mendingan daripada melihat wajahnya yang sebelumnya.
“kenapa mas??....kok jadi bengong” tanya Hayati setelah melihat Asnawi yang Cuma bengong melihat perubahan wajahnya.
“ohh..engga kok Hayati, aku Cuma liatin wajah kamu ternyata cantik yah hehehe, oh iya namaku Asnawi….” Kata Asnawi sambil bangkit dari posisi berbaringnya kemudian duduk berhadapan dengan Hayati dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
Hayati pun tersenyum dan menyambutnya dengan baik, tangan putih Hayati dengan kuku berwrna hitam dan panjang langsung menyalami tangan Asnawi dengan Erat. Tangannya halus sekali dan dingin.
“Makasih banget yah Hayati atas pertolongannya , ngomong-ngomong kenapa kamu menolongku? Kan bisa aja kamu langsung mengambil jiwa aku pas aku mati .” Tanya Asnawi.
“iya mas awalnya pas liat mas kecelakaan aku mau ngelakuin itu tapi pas ngedeketin dan liat muka mas, aku jadi teringat sama pria yang aku cintai dulu semasa aku hidup.” Jawab Hayati lengkap.
“jalan ini memang sangat angker mas, disini tempat kerjaku, aku suka nakut-nakutin manusia yang lewat dan bahkan aku mengambil jiwa mereka yang kecelakaan disini, tapi buat kamu pengecualian hihihih “ kata Hayati diikuti dengan tawa khas kuntilanaknya.
“ kamu bukan manusia biasa, energi kehidupan mu sangat besar sehingga pas aku ngedeketin mas, tubuhku langsung menyerap banyak energi itu dan aku jadi bisa menyentuh tubuh mas dan bahkan aku mengankat mas dari jalan kesini” Kata Hayati.
“kok merinding yah dengernya...” kata Asnawi dengan ekspresi ketakutan. “memangya energi kehidupan itu apa?” Tanya Asnawi.
“ energi yang dipancarkan manusia, energi itu bisa aku serap dan menjadi kekuatan. Itulah makanya aku jadi bisa memegang benda fisik yang ada” jawab Hayati yang memperhatikan kaki Asnawi yang tampak terluka. Hayati kemudian mengambil pembalut dan memasangnya di kaki Asnawi .Hayati selesai mebalut kaki Asnawi dan dia berpindah ke samping kanan Asnawi kemudian duduk kembali.
Mereka duduk memunggungi jalan dan menghadap ke arah jurang. Tampak dihadapan mereka hutan yang cukup luas tersinari oleh cahaya bulan yang benderang. Sesekali kelelawar melewati di atas kepala mereka. Asnawi masih ketakutan tapi rasa penasaran akan Hayati lebih besar dan mengalahkan rasa takut itu. “maaf Hayati, kamu kok bisa ngobatin aku, ngejahit luka sama membalut kaki aku yang terluka, apa kamu semacam dokter hantu? hehehe” Tanya Asnawi.
“hihihihi, dokter hantu….mas nih bisa aja” Hayati ketawa terbahak-bahak “ semasa hidup aku adalah mahasiswa kedokteran mas, pas aku mati, aku lagi jadi dokter KO-AS ” Jelas Hayati.
“ooh pantesan kamu bisa ngobatin aku, hehe,…” kata Asnawi takjub. “mas, kamu dokter yah? Di motor kamu ada kotak p3k lengkap bgt peralatannya?”tanya hayati.
“ah engga, aku cuman mahasiswa teknik, bapak, ibu sama kakak ku yang dokter mah, aku selalu di doktrin sama mereka harus selalu ada kota p3k di kendaraan”. Jelas Asnawi.
“waah hebat mas, kenapa mas ga ikut ortu mas? Jadi dokter? Asik loh kuliah kedokteran hihihih” Tanya Hayati.
“aku takut liat darah Ti aku gabisa jadi dokter, aku aja tadi liat kamu dengan mata menggantung itu, aku langsung mual” jawab Asnawi.
“kalo liat ini juga bikin mas mual juga yah hihihihhi” kata Hayati, yang tiba tiba Hayati memunggungi Asnawi dan memperlihatkan punggunya yang bolong dan berlumuran darah.
Seketika Asnawi langsung muntah banyak. Hayati tertawa terbahak-bahak, Asnawi pun kesal. “Yaelah fakkkk …….oooeeeekhh.....sekalian aja tempelin ke mukaku punggumu...biar puasss” gumam Asnawi sambil muntah.
”cieeee marah euy...nanti cepet tua loh...hihihih”Hayati menertawakan asanai sambil nepuk-nepuk pundak Asnawi.
“BODO AMAT...!!!!” kata Asnawi berusaha kembali duduk dan Hayati yang langsung menegakan posisi duduk Asnawi yang tadi sempat tersungkur dan muntah-muntah.
“ maafin aku mas, aku orangnya suka bercanda ” kata Hayati dengan tatapan memelasnya sepert kucing yang minta dimanja oleh majikannya, Asnawi pun akhirnya luluh hatinya melihat tatapan mata kuning Hayati yang berbinas-binar.
“kamu tuh ya jail banget” kata Asnawi sambil membersihkan sisa muntahan di mulutnya.“oh iya Hayati, aku berhutang budi padamu, gimana aku harus membalasnya” Tanya Asnawi serius.
“ ga apa apa mas, aku iklas ko menolong mas, malah aku bahagia bisa ketemu mas yang bisa nemenin aku sekarang dan ngobrol-ngobrol malem ini” jawab Hayati.
“maaf yah Hayati, ngomong-ngomong kamu matinya kenapa? Kenapa bisa gentayangan?" tanya Asnawi.
Hayati pun langsung terdiam, raut wajahnya berubah jadi sedih dan mengeluarkan air mata. “aku dibunuh mas sama pacar aku, aku dilempar ke jurang.” Jawab Hayati.
“kenapa pacar kamu jahat banget ngebunuh kamu?” Tanya Asnawi.
Tiba-tiba ekspresi ahayti menjadi murung dan mendadak suasana yang sudah cair menjadi kelam.“dia menghamili aku mas dan gamau bertanggung jawab, aku….aku……hiks..hiks” Hayati mulai menangis dan menundukan wajahnya hingga tertutup oleh rambut hitamnya.
Asnawi dengan spontan merangkul pundak Hayati dan tangan Asnawi memegang dagu Hayati, menegakkan kembali kepala Hayati yang tadi tertunduk lesu. Asnawi lalu mengusap air mata yang membasahi pipi Hayati dan dan memandang mata kuning Hayati yang berkaca-kaca.
“maaf Hayati, aku ga bermaksud bikin kamu sedih….maafin aku..sudahlah jangan dinget-inget lagi” kata Asnawi yang berusaha menghibur dan tampil keren. Hayati pun langsung memeluk erat Asnawi. Tubuh Hayati sangat dingin, Asnawi menggigil karena dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh Asnawi. Asnawi pun mendorong badan Hayati untuk menjauh dari tubuhnya.
“ Hayati pelukan nya jangan lama-lama, kamu dingin banget…..”kata Asnawi kedinginan.
“ maaf mas….hihihi udah lama banget aku ga meluk orang” Hayati tersipu malu.
“ aku janji akan menemukan mayat kamu dan menguburkannya dengan layak……biar kamu ga gentayangan lagi...kamu tahu ga tempat kamu mati dimana? ”tanya Asnawi.
“aku gatau mas dimana aku mati, ………….lagian sakarang mayat aku pasti tinggal tulang dan sebagian udah jadi tanah” jawab Hayati.
“ Gapapa Hayati, mari kita cari tahu bersama…………janji yah”kata Asnawi sambil menjulurkan jari kelingking dan mengajak Hayati untuk salam kelingking sebagai ikatan janji.
“ iya mas…….” Hayati menyambut salam kelingking itu. Suasana malam semakin larut, sinar rembulan mulai menyelimuti tempat itu. Mereka berdua sedang asyik mengobrol, saling melempar candaan, ketawa bareng, memandang langit yang cerah dan dan menggambar pola pola rasi bintang, di tengah sepinya malam. Malam itu adalah malam yang tak bisa dilupakan Asnawi, berawal dari malam yang horror berubah menjadi malam yang paling romantis dan mengerikan seumur hidupnya bersama seorang KUNTILANAK.
Asnawi melihat jam tangannya sudah menunjukan jam 3 pagi. Asnawi kaget sampai lupa waktu gara-gara asyik ngobrol dengan Hayati. “waduh udah jam 3 aja, aku musti pulang nih ke Bandung, ga kerasa ngobrol sama kamu” kata Asnawi.
“iya mas,…………..ayo aku bantu jalan ke motor, kaki mas kan masih luka” kayta Hayati sambil membantu Asnawi berdiri dan membopongnya ke tempat motor berada.
“badan kamu tinggi banget yah…..heheheh sepantar sama aku” kata Asnawi heran.
“ aku kan melayang mas, ga napak bumi” jawab Hayati. Setelah sampai, Asnawi langsung naik motor dan meyalakan mesin. “mas, boleh ga aku ikut kamu, aku takut disini?” pinta Hayati ke Asnawi.
”kenapa kamu takut disini, kan kamu mahluk yang paling menakutkan disini..hehehe”. Hayati mendekati Asnawi untuk membisikan sesuatu ke kuping Asnawi.
” Aku takut sama bos ku, soalnya aku telah membangkan dan tidak mengambil jiwa mas.” Bisik Hayati. Asnawi terdiam dan mulai berpikir kenapa Hayati bisa setakut itu sama bosnya, memangnya bosnya itu siapa? Apakah lebih mengerikan dari kuntilanak.
“yuukkk…….kamu duduk di balakang sini” Asnawi pun mengajak Hayati pulang ke Bandung.
“serius mas...?” kata Hayati dengan mata kuningnya yang berbinar-binar.
” Iyalah masa aku bohong, tapi ada satu syarat mutlak” kata Asnawi serius.
“apa itu mas?” tanya hayati.
“kamu harus janji ga lagi nakutin orang dan janji engga ngambil jiwa orang yang ga berdosa lagi yah” jawan Asnawi.
“emmm.....oke mas aku janji...hihihih”. Hayati sangat senang bukan kepalang, wajahnya merona merah. Motor pun malaju dengan pelan menuju Bandung dengan Hayati duduk dibelakang Asnawi. Hayati berpegangan pada pinggang Asnawi.