Aku tidak pernah berpikir hidupku akan berubah hanya karena memilih treadmill yang salah.
Pagi itu, seperti biasa aku datang ke gym lebih awal. Rambutku diikat asal, wajahku tanpa make up, dan headset menggantung di leher. Rutinitas yang biasa, dengan playlist yang sama, dan niat membakar lemak setelah rapat panjang kemarin.
Tapi semua terasa berbeda saat aku merasakan ada seseorang yang berdiri di alat sebelah.
Bukan karena dia ganteng—walau kenyataannya dia memang terlalu ganteng untuk sekadar disebut "atletis". Tapi karena dari pantulan cermin, aku menangkap tatapannya. Tajam. Dalam. Seolah dia sedang membaca isi pikiranku… atau mungkin, membayangkan hal lain.
Tubuhnya tinggi, dengan bahu lebar dan lengan yang bertato, mencolok di antara semua pria berkemeja di ruang itu. Napasnya tenang, tapi aura tubuhnya terasa seperti badai yang siap meledak.
Aku pura-pura fokus. Tapi jantungku berdetak tak karuan.
"Kamu terlalu serius lari, sampai lupa orang sebelahmu bisa kehabisan napas cuma karena lihat kamu."
Suara itu… serak, berat, dan sangat dekat.
Aku menoleh sedikit. Dia tidak tersenyum. Tapi ada seringai di ujung bibirnya yang membuat seluruh tubuhku panas tanpa alasan jelas.
"Maaf?" tanyaku datar, mencoba mempertahankan kewarasan.
"Aku Revan."
Dia melanjutkan sambil menaikkan kecepatan treadmillnya. "Dan kamu kelihatan lebih seksi saat berkeringat."
Aku hampir terpeleset.
Gila. Siapa dia? Dan siapa yang ngajarin dia berbicara seperti itu kepada perempuan yang baru ditemuinya?
Tapi anehnya, aku tidak marah. Aku malah—tertantang.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku ingin tahu lebih banyak tentang pria seperti ini.
Pria yang tidak sopan, tidak tahu batas... tapi justru membuat darahku berdesir.
Dan itulah awalnya.
Awal dari sebuah permainan yang tidak pernah kuminta...
Tapi diam-diam, aku inginkan.