"Loh Pak,tunggu Pak, mau kemana?" seru Kayla saat ia menatap Pak Tio telah pergi tanpa membukakan gerbang tersebut.
"Pak! Ini saya masih di luar loh Pak, Pak! Pak!" Kayla terus berteriak namun sayangnya Pak Tio yang selalu taat akan peraturan tidak menghiraukan Kayla.
Akhirnya Kayla menyerah, sekeras apapun dia memanggil dan memohon itu hanya sia-sia. Pak Tio tidak akan membantu sedikitpun.
"Ck! Pak Tio iihhh, tega banget, hiksss!" gumam Kayla sembari berdecak sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Aduh ini gimana coba sekarang? masa pulang? bisa abis kena marah sama mama," gumam Kayla.
"Nggak, nggak bisa! Apapun yang terjadi gue harus bisa masuk dan ikut kelas," gumam Kayla sambil menatap gedung sekolah dengan lantai 2 tersebut.
Hingga sebuah ide gila muncul dalam benaknya. "gue tau" ucapnya sambil tersenyum, lalu pergi menuju ke belakang sekolah.
Dia menuju ke halaman belakang sekolah. Dia ingat ada sebuah dinding pembatas yang tidak terlalu tinggi.
"Ini dia, gue harus bisa manjat ini tembok,"
Kayla mendongakkan kepalanya di tembok itu. Dia menatap sekeliling dengan waspada untuk memastikan tidak ada yang melihatnya memanjat tembok itu. Setelah rasanya aman, Kayla melempar tasnya terlebih dahulu ke dalam sana. Kemudian setelah itu dia mulai memanjat tembok pembatas itu.
Bughh
Kayla melompat dia kini sudah berada di dalam.
"Berhasil," ucapnya. Saat dia kini sudah berhasil melompat ke dalam. Sebagai seorang siswi teladan dia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya akan melakukan hal segila itu, seperti seorang siswa pembangkang.
"ck.. gini banget sih gue," ucapnya seraya berdecak.
"seumur-umur ini pertama kalinya gue harus melakukan hal gila nan memalukan ini, udah kayak siswa pembangkang aja, untung gak ada yang liat," Kayla terus bermonolog sambil mengusap-usap seragamnya yang agak kotor.
Tapi masa bodoh fikirnya, itu lebih baik di bandingkan dengan bolos kelas. Dan yang terpenting dia sudah berhasil masuk dan sekarang saatnya untuk menuju ke kelas. Kayla mengambil tasnya, dia bergegas menuju ke kelas. Dia tahu jadwal pelajaran pertama kali ini adalah Kimia dan itu adalah salah satu mapel favoritnya. Meski dia tahu bahwa guru Kimia itu tidak akan menghukumnya karena Kayla yang selalu bisa memenangkan olimpiade Kimia merupakan murid kesayangan dari guru kimia di sekolahnya,bisa di bilang dia adalah anak emas di sekolah tersebut. Tapi tetap saja dia merasa tidak enak terhadap teman-teman sekelasnya. Kayla berlari menuju ke ruangan kelasnya. Karena sekolah ini terdiri dari dua lantai dan kebetulan kelasnya berada di lantai atas maka Kayla harus berlari menaiki tangga terlebih dahulu untuk bisa sampai di sana. Sehingga membuat nafasnya kembali ngos-ngosan. Akhirnya Kayla bisa sampai di depan kelasnya. Seperti dugaanya, pintu kelas sudah tertutup, itu tandanya pelajaran sedang berlangsung.
Hosshh.. Hosshh.
Kayla menuju ke pintu kelas yang tertutup itu, karena biasanya para guru tidak akan mempermasalahkan jika dia datang terlambat. Kali ini Kayla mengira hal serupa akan terjadi. Tanpa berfikir dan tanpa permisi dia langsung membuka pintu kelas itu.
CEKLEK pintu kelas terbuka, membuat semua orang menoleh ke arah sana.
"Maaf Pak! Saya terlambat," ucap Kayla sembari membungkukkan badannya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang kini berdiri di depan papan tulis. Kayla langsung menuju ke tempat duduknya begitu dia selesai meminta maaf.
Langkah Kayla berhenti saat melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan teman-teman sekelasnya. Terlihat wajah teman-temannya begitu tegang dan pucat pasi,mereka tidak berkutik sedikit pun. Suasana kelas juga tampak suram tidak seperti biasanya. Seperti ada aura yang mencekam di seisi ruangan tersebut.
Kayla menatap Livya teman sebangkunya, terlihat Livya seperti mengisyaratkan sesuatu dengan mulutnya dan matanya. yang melotot ke arah depan.
Kayla yang masih tidak paham, dia melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba...
"Berhenti! Mau kemana kamu?" terdengar suara bariton dari Pak Guru yang sedang mengajar di depan kelas. Namun suara itu terdengar berbeda dan asing di telinganya, seingat Kayla guru Kimia yang biasa mengajar di kelasnya adalah seorang pria paruh baya berusia 40 tahunan, namun mengapa suaranya kali ini terdengar begitu berbeda? Suaranya seperti seorang pria berusia 20 an.
Kayla langsung berbalik menoleh ke arah pria yang memanggilnya, pria itu berdiri di depan papan tulis dengan salah satu tangannya memegang spidol dan satunya lagi di masukkan lagi ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. Pria itu terlihat menatap Kayla dengan tatapan yang menghunus setajam pedang. Pria itu berjalan mendekat ke arah Kayla berdiri.
Saat melihat wajahnya, Kayla tertegun.
"Bukankah dia...?" Dia adalah pria yang ia tabrak tadi pagi secara tidak sengaja saat berlari dengan terburu-buru karena terlambat. Ya, Kayla tidak salah, dia memang pria itu. Bahkan aroma parfum dari pria itu masih menempel di seragam yang di kenakan oleh Kayla. Hanya saja kemeja biru muda yang dia kenakan tadi pagi kini sudah berganti menjadi kemeja berwarna merah maroon. Mungkinkah kemejanya kotor karena terjatuh tadi?
Tapi apa yang sedang dia lakukan di sini? Di kelas ini? Dan dimana Pak Eko, guru kimia yang biasanya mengajar di kelas ini? Mungkinkah pria ini adalah penggantinya? Deretan pertanyaan itu memenuhi kepala Kayla saat ini.
Lagi-lagi Kayla terperangah saat menatap sosok guru muda yang berdiri tepat di hadapannya. Guru muda yang memiliki postur tubuh tegap dan jangkung itu wajahnya begitu tampan, rambutnya yang hitam legam di sisir dengan begitu rapi dengan belahan di bagian tengahnya. Kulitnya terlihat putih bersih, bola mata berwarna hitam gelap dan garis rahang yang begitu tegas serta bibir berwarna merah delima itu terlihat begitu menggoda. Benar-benar hanya satu kata yang pas untuk menggambarkan sosok pria ini, yaitu PERFECT. Di tambah lagi kaca mata yang dia kenakan entah hanya sebagai hiasan belaka atau memang kaca itu benar-benar berfungsi yang jelas kaca mata itu menambah kesan kegeniusannya.
"Benar-benar sempurna," bisik Kayla dalam hati. Matanya nyaris tidak berkedip. Benarkah dia seorang guru? fikir Kayla saat dia menatap sosok guru yang memiliki ketampanan bak dewa Yunani, Zeus itu berdiri di hadapannya. Sejenak Kayla melupakan bahwa dirinya tengah berada dalam sebuah masalah yang besar.
"Siapa nama kamu?" pertanyaan dari guru muda yang tidak lain adalah Rayhan Pramudya Aditama,orang yang Kayla tabrak tadi, sontak membuat Kay tersadar dari lamunannya.
"Ka-Kayla Pak!" sahut Kayla dengan gugup. Kayla merasakan jantungnya berdebar tidak karuan saat guru muda itu kini balas menatapnya.
Guru muda itu menganggukkan kepalanya saat mendengar nama Kayla. Pak guru tersebut masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah polos itu saat bertatapan denganya tadi.