Masalah itu terlihat di minggu ketiga — dan Yuda melihatnya lebih dulu dari siapa pun, karena masalah itu berdiri di cermin yang paling dikenalnya.
Junior itu bisa meniru.
Bukan meniru dengan buruk — meniru dengan sangat baik. Halaman-halaman latihannya meniru garis Yuda dengan ketepatan yang membuat Aksa berkomentar dari belakang: "Ini fotokopi atau kerja tangan?" Dan dalam dua minggu pertama, hal itu terasa seperti bakat — sampai Yuda membaca apa yang berdiri di balik bakat itu: tangan yang tidak berdiri sendiri, yang menempel pada tangan lain, yang akan patah di hari ketika tangan yang ditempelinya tidak ada.
Yuda membaca dirinya sendiri dari dua tahun lalu — tangan yang bisa meniru siapa saja, yang menemukan pekerjaan pertamanya persis karena bisa meniru, yang hampir menjadi fotokopi permanen sebelum dua orang menghentikannya.
Dan ia duduk di sebelah meja junior itu dengan satu halaman di tangannya — bukan halaman kerja, halaman dari buku catatannya sendiri yang lama: halaman-halaman tiruannya dari zaman awal.
"Lihat ini," katanya. "Ini tanganku, dua tahun lalu. Bisa meniru siapa saja — Pak Hartono, komikus favoritku, siapa pun. Dan bakat itu yang membuatku diterima kerja pertama kali, persis seperti bakatmu yang membuatmu terlihat menjanjikan minggu ini. Tapi dengar baik-baik: bakat meniru itu bukan jalan. Bakat meniru itu jembatan — dan jembatan itu punya dua pilihan di ujungnya. Kau menyeberanginya untuk menemukan tanganmu sendiri, atau kau membangun rumah di atasnya dan menjadi fotokopi selamanya."
Junior itu memandang halaman-halaman tiruan itu — dan memandang halaman latihannya sendiri yang meniru garis Yuda, dan membaca perbandingannya dengan wajah yang sedang membaca dirinya sendiri.
"Terus gimana caranya menyeberang, Mas? Bakatku cuma ini. Kalau ini dilepas, aku tidak punya apa-apa."
"Salah. Kau punya yang membuat bakat meniru itu bisa ada: mata yang membaca garis dengan teliti. Mata itu yang berharga — bakat meniru cuma efek sampingnya." Yuda menarik satu kertas kosong. "Sekarang kita latihan dengan cara yang kulalui dulu: kau tetap boleh meniru — tapi setiap selesai meniru satu halaman, kau gambar satu halaman lagi dengan pertanyaan ini: kalau ini tanganku, garisnya begini bagaimana? Dua halaman setiap hari. Satu untuk sekolah, satu untuk rumah. Dan pelan-pelan, halaman yang kedua akan berdiri — goyah dulu, salah dulu, tapi berdiri dengan namamu di bawahnya, bukan nama orang lain."
Dan latihan itu dimulai dengan goyah — persis seperti dijanjikan.
Minggu pertama, halaman kedua junior itu berdiri seperti anak rusa: kaki-kakinya belum percaya pada tanah. Garisnya masih setengah Yuda, setengah sesuatu yang belum punya nama, dan di hari ketiga junior itu hampir menyerah dengan kalimat yang langsung dibantah Aksa dari mejanya tanpa menoleh. "Aku tidak punya gaya sendiri, Mas. Gaya itu barang mahal." Dan Aksa menjawab sambil mewarnai: "Gaya itu bukan barang mahal, Le. Gaya itu sisa-sisa. Yang tertinggal setelah semua tiruan kau lepas — dan sisa itu tidak bisa dibeli, cuma bisa ditunggu."
Minggu kedua, komedi kecil datang dari arah yang tidak disangka: junior itu mulai meniru Aksa juga — warna-warnanya, cara meletakkan bayangannya — dan Aksa menangkapnya di hari Selasa dengan reaksi yang teatrikal: "Satu studio ini tidak cukup menampung dua Aksa, Le. Dunia saja tidak cukup. Kembali ke halaman keduamu — tiruanku tidak akan membantumu. Aku sendiri masih meniru orang yang lebih tua, orang itu meniru orang yang lebih tua lagi, dan kalau kau telusuri sampai ujungnya kita semua meniru langit sore. Jadi langsung saja tiru langit sore, potong jalur."
Dan Pak Hartono, yang mengamati latihan itu dari mejanya dengan mata yang sudah membaca banyak junior dalam dua puluh dua tahun, berkata satu hal di akhir minggu kedua — bukan kepada juniornya, kepada Yuda, pelan, seperti orang menyampaikan kabar yang sudah dia ketahui sejak awal:
"Dia akan menyeberang. Aku sudah melihat banyak yang tidak — dan tandanya selalu sama: yang tidak menyeberang berhenti di halaman pertama karena merasa sudah cukup. Dia berhenti di halaman kedua karena merasa belum cukup — dan merasa belum cukup itu, Le, adalah bahan bakar yang tidak bisa diajarkan."
Minggu ketiga dan keempat, halaman kedua itu mulai berdiri dengan kaki yang lebih kuat — masih goyah di tepinya, masih salah di tempat-tempatnya, tapi salah dengan cara yang mulai konsisten. Dan konsistensi kesalahan itu sendiri adalah awal dari gaya: karena gaya, seperti yang ditulis Yuda di bukunya malam itu, bukanlah kumpulan kebenaran — gaya adalah kesalahan yang kau pilih untuk kau pertahankan, kesalahan yang kau cintai sampai dia menjadi ciri, kesalahan yang kalau dirapikan orang justru akan berkata: ini bukan lagi gambarmu.
Dan latihan itu berjalan — dua halaman setiap hari, satu jembatan satu rumah — dan di minggu keenam, halaman kedua junior itu mulai berdiri dengan garis yang berbeda dari garis Yuda: lebih tebal, lebih kasar di tepinya, lebih hidup dengan cara yang tidak bisa dijelaskan tapi bisa dibaca.
"Itu dia," kata Yuda, memandang halaman kedua minggu keenam itu. "Itu garismu. Jangan dirapikan — kasar di tepinya itu bukan cacat, itu tanda tangan. Garis yang terlalu rapi adalah garis yang bisa ditulis siapa saja. Garis yang kasar dengan benar adalah garis yang cuma bisa ditulis satu orang."
Dan di buku catatannya, Yuda menulis satu halaman yang ditujukannya untuk dirinya dua tahun lalu sebanyak untuk juniornya:
"Junior yang meniru mulai menyeberang hari ini — dua halaman setiap hari, satu jembatan satu rumah. Dan aku membaca satu hal dari mengajarinya: mengajar seseorang menemukan tangannya adalah cara terbaik memastikan tanganku sendiri tidak pernah hilang lagi. Karena setiap kali aku berkata kepadanya garis yang kasar dengan benar adalah tanda tangan, aku mendengarnya kembali untuk tanganku sendiri — dan tanganku berdiri lebih tegak setiap kalinya."