Tawaran itu datang lewat email resmi dari platform komik terbesar kedua — dan dibaca Aksa dengan volume yang membuat Bu Parti menoleh dari warungnya: kontrak eksklusif untuk satu komik baru, diciptakan dan ditulis penuh oleh Yuda Pamungkas, dengan angka di halaman keduanya yang membuat ruangan diam.
Bukan komik Studio Lima Senti. Komik Yuda. Sendirian. Dengan nama besar di sampul dan angka yang berdiri di depan mata seperti masa depan yang sudah dicetak.
Dan email itu berdiri di meja kerja selama tiga hari tanpa jawaban — dibaca tiga orang dengan tiga cara yang tidak diumumkan: Pak Hartono membaca dengan mata yang sudah membaca banyak tawaran besar dalam dua puluh dua tahun, dan tahu bahwa tawaran besar selalu membawa pertanyaan besar. Aksa membaca dengan mata bendahara yang menghitung apa yang dibeli angka itu dan apa yang dibayarnya. Dan Yuda membaca dengan mata orang yang folder "jangan dibuka dulu"-nya masih berdiri di laptopnya, dengan tiga puluh halaman tukang servis jam yang menunggu gilirannya.
Dan musyawarah studio itu diadakan di warung Bu Parti — karena keputusan besar tidak boleh diputuskan di meja kerja, keputusan besar harus diputuskan dengan wedang jahe.
"Aku tidak akan bilang tolak atau terima," kata Pak Hartono, membuka. "Aku cuma akan bilang satu hal yang kupelajari dari dua puluh dua tahun: tawaran besar itu bukan pertanyaan tentang angkanya. Tawaran besar adalah pertanyaan tentang bentuk hidupmu. Angka itu membeli satu bentuk — dan pertanyaannya bukan apakah bentuk itu lebih baik dari bentukmu sekarang, melainkan apakah bentuk itu bentukmu, atau bentuk orang lain yang kebetulan dibayar mahal."
Dan Aksa, dengan cara bendahara yang tidak bisa dimatikan: "Angkanya tiga kali gaji setahun. Untuk satu komik, satu tahun, satu orang. Tapi dengar juga ini: eksklusif berarti komik itu tidak boleh muncul di mana pun selama kontrak — dan waktu menulisnya adalah waktu penuh. Satu tahun itu, Le, adalah satu tahun tanpa Garis Kapur dari tanganmu — dan Garis Kapur itu bukan pekerjaan yang bisa dititipkan. Garis Kapur itu adalah rumah yang kita bangun bersama, dan rumah tidak bisa dikontrakkan."
Dan Bu Parti, yang menjadi tuan rumah musyawarah tanpa diminta pendapatnya — yang berarti memberi pendapatnya paling akhir, sesudah wedang kedua, dengan wibawa yang hanya dimiliki orang yang tidak punya kepentingan apa pun — berkata dari balik tungkunya:
"Aku tidak tahu komik. Tapi aku tahu warung — dan warung itu sama saja dengan kerjaan kalian: dibangun dari langganan, dari orang yang pulang. Tiga puluh tahun warungku berdiri, dan tawaran besar itu datang juga ke warung, Le — yang mau membeli nama, yang mau memindahkan ke mall, yang mau menjadikan warungku cabang ketiga dari sesuatu yang bukan warungku. Dan aku selalu menjawab dengan satu pertanyaan yang bisa dipakai untuk semua tawaran besar di dunia ini: sesudah kuterima, besok pagi aku bangun jadi siapa? Kalau jawabannya masih aku — terima boleh. Kalau jawabannya jadi orang lain yang dibayar mahal — semahal apa pun itu, itu bukan rezeki, itu harga jual diri." Dia menuang wedang ketiga untuk semua orang tanpa ditanya. "Kau itu Mas Yuda yang menggambar Garis Kapur sambil menulis komik jam di malam hari. Kalau tawaran itu membuatmu bukan itu lagi, jawabannya sudah selesai sebelum rapat ini mulai."
Dan junior — yang duduk di sudut warung dengan status resmi tidak berhak bicara tapi status tidak resmi wajib mendengar — menuliskan satu kalimat di buku catatannya malam itu, yang dibacanya ulang berkali-kali: bentuk hidup tidak bisa dinegosiasikan per tahun. Dan kalimat itu kelak akan berdiri di halaman-halamannya sendiri, di tahun-tahun ketika tawaran besarnya sendiri datang — karena pelajaran yang benar tidak pernah berhenti di orang yang pertama menerimanya.
Dan Yuda membacanya dengan mata yang berdiri di dua dunia: dunia angka di halaman kedua email itu, dan dunia folder "jangan dibuka dulu" di laptopnya.
Dan jawabannya berdiri di malam ketiga — ditulis di buku catatannya sebelum ditulis di email balasan, karena keputusan besar ditulis dulu sebelum dikirim:
"Tawaran kedua: angka yang membeli satu tahun penuh untuk satu komik sendirian. Dan aku membaca tawaran itu dengan membaca dua hal: pertama, komik tukang servis jam itu tidak boleh ditulis dengan tangan yang dijual — komik itu harus kutulis dengan tangan yang bebas, di waktu yang kupilih, dengan cara yang benar, atau tidak sama sekali. Kedua: Garis Kapur itu bukan pekerjaanku. Garis Kapur itu rumahku — dan rumah tidak dijual untuk angka sebesar apa pun. Jawabanku bukan tolak. Jawabanku adalah tawaran balik: komik tukang servis jam itu akan kuterbitkan — tapi dengan cara kami, di waktu kami, dengan nama Studio di belakangnya dan namaku di depannya. Aku tidak menjual setahun. Aku membeli kebebasan untuk menulisnya dengan benar — dan kebebasan itu tidak bisa dibeli angka di halaman kedua email mana pun."
Dan email balasan itu dikirim dengan dua lampiran: surat penolakan yang sopan, dan proposal komik tukang servis jam untuk diterbitkan sendiri.
Dan email itu dijawab dalam seminggu — dengan satu kalimat yang oleh Aksa dibacakan dengan gaya yang sudah menjadi gayanya membaca kabar besar: "Kami menghormati keputusan Anda. Dan kalau komik tukang servis jam itu terbit, kami ingin menjadi pembaca pertamanya."
Dan Yuda menuliskannya malam itu:
"Tawaran besar itu ditolak dengan cara yang benar: bukan dengan kemarahan, dengan tawaran balik yang lebih benar. Dan folder 'jangan dibuka dulu' itu akhirnya akan dibuka — bukan karena dibeli angka besar, karena dibuka dengan cara yang benar. Komik tukang servis jam akan terbit — dengan namaku di depan, dengan studio di belakang, dengan waktu yang tidak dijual. Dan itu adalah tawaran yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun yang sudah pernah menunggu di laci terlalu lama."