Proses editorial komik tukang servis jam berjalan dengan bentuk yang tidak pernah dibayangkan Yuda ketika menulis halaman-halaman pertamanya di folder "jangan dibuka dulu": dengan nama sendiri di sampul, dengan editor bernama Pak Hartono di pinggir setiap halaman, dan dengan satu meja kerja yang membaca setiap panel dengan serius sebuah karya lahir.
Dan takut yang datang adalah takut model baru — takut yang dituliskannya di buku barunya sebagai "takut yang berdiri tegak, bukan takut yang merangkak".
Takut zaman folder lama adalah takut yang merangkak: takut dibaca, takut dinilai, takut bahwa halaman-halaman itu akan dibaca dan ditemukan kurang. Takut model baru berdiri tegak: halaman-halaman itu akan dibaca ribuan orang, dengan namanya di sampul, dan tidak ada lagi folder untuk menyembunyikannya kalau dunia menemukannya kurang. Takut yang pertama menyembunyikan karyamu. Takut yang kedua memintamu berdiri di sebelahnya.
Dan Pak Hartono membaca takut itu dari cara Yuda menyerahkan halaman-halaman editorial pertamanya — dengan cara menyerahkan yang sudah dibacanya dari zaman halaman-halaman pertama Garis Kapur: terlalu cepat diserahkan, terlalu siap untuk ditarik kembali.
"Takut yang baru," kata Pak Hartono, membaca halaman pertama dengan pensil di tangan. "Dan takut yang benar. Takut merangkak itu takut pada pembaca — dan takut pada pembaca itu mematikan halaman. Takut berdiri itu takut pada halaman — dan takut pada halaman itu menghidupkannya. Kau takut halamanmu tidak cukup baik. Itu tanda halamanmu akan baik — karena orang yang takut halamannya kurang adalah orang yang akan memperbaikinya sampai cukup. Orang yang tidak takut apa-apa menulis halaman yang tidak dibaca siapa pun."
Editorial itu berjalan dengan pensil Pak Hartono di pinggir halaman — dan pensil itu menulis dengan dua warna keahlian: keahlian komikus yang membaca garis, dan keahlian editor yang membaca cerita.
Dan editorial itu berjalan dengan jadwal yang oleh Aksa ditulis di papan kerja dengan huruf yang lebih besar dari jadwal Garis Kapur — karena, katanya, jadwal komik sendiri itu harus berdiri lebih besar dari jadwal komik bersama, supaya penulisnya ingat bahwa dia sekarang menulis dengan namanya sendiri.
"Gaes, perhatikan," kata Aksa, memasang jadwal itu dengan lakban yang dipotongnya dengan gigi karena gunting studio hilang untuk kesekian kalinya. "Mulai sekarang studio ini punya dua jantung. Jantung pertama: Garis Kapur, detaknya stabil, sudah tua, sudah tahu jalan. Jantung kedua: komik jam, detaknya baru, masih belajar berdetak. Dan tugas bendahara adalah memastikan dua jantung ini tidak berdetak berbarengan sampai pemiliknya pingsan. Jadi, Le, malam untuk komikmu: Senin, Rabu, Jumat. Malam sisanya untuk tidur — dan tidur itu tidak bisa direvisi, gaes. Tidur yang dihapus tidak berdiri lebih baik keesokan harinya."
Dan malam-malam itu berjalan dengan bentuk yang sudah ditentukan: meja kerja yang menyala sampai lewat tengah malam, pensil Pak Hartono yang datang di sore hari membawa coretan-coretan pinggir dari bacaan semalam, dan satu studio yang membaca komik jam sedang lahir dengan cara membaca yang sudah menjadi caranya membaca segala hal — dengan wedang dari warung Bu Parti yang dikirim tanpa ditagih, dengan junior yang bertugas membaca panel terakhir setiap malam sebelum halaman disimpan, dengan Aksa yang menghitung halaman seperti menghitung uang: teliti, pelan, dan dengan rasa sayang yang disembunyikan di balik angka-angka.
Dan di antara malam-malam itu berdiri satu kebiasaan baru yang disadari Yuda baru di minggu ketiga: setiap kali satu halaman selesai, Pak Hartono tidak mengatakan bagus — Pak Hartono membaca halaman itu sekali lagi, pelan, dari panel pertama ke panel terakhir, lalu meletakkannya di tumpukan dengan dua tangan. "Halaman yang selesai itu diperlakukan seperti tamu yang akan pulang," katanya sekali, ketika Yuda bertanya. "Dibaca sekali lagi, diantar sampai tumpukan, dilepas dengan dua tangan. Halaman yang dilempar ke tumpukan akan ingat bahwa dia dilempar — dan halaman yang ingat dia dilempar tidak akan berdiri sekuat halaman yang dilepas dengan hormat."
Di halaman tujuh, pensil itu berhenti lama di satu panel — panel ketika tukang servis jam mendengar detak jam pertama dari seorang pelanggan dan membaca kenangan di dalamnya. Dan Pak Hartono menulis di pinggirnya, dengan huruf pensilnya yang sudah tidak stabil tapi berdiri: "Panel ini jangan diubah apa pun. Ini jantungnya. Komik ini bukan tentang jam — komik ini tentang orang yang membaca kenangan dari benda. Jaga panel ini seperti jantung, dan seluruh komik akan berdiri di sekelilingnya dengan benar."
Dan di halaman dua belas, pensil itu menulis catatan yang oleh Yuda dicatat ulang di bukunya sebagai pelajaran editorial yang paling mahal: "Di sini kau menjelaskan terlalu banyak. Kenangan itu tidak dijelaskan — kenangan itu ditunjukkan. Hapus dua baris dialog. Biarkan pembaca membaca kenangannya sendiri di antara panelmu. Pembaca yang membaca kenangannya sendiri adalah pembaca yang menjadi bagian dari halamanmu — dan halaman yang menjadikan pembaca bagian darinya tidak akan pernah dilupakan."
Halaman demi halaman, tiga puluh halaman lama dibaca ulang dengan pensil itu — diperbaiki bukan dengan tangan editor, dengan mata editor: diperbaiki oleh tangan Yuda sendiri, dengan mata yang sudah dibaca Pak Hartono. Dan tiga puluh halaman baru ditulis di atas fondasi itu — dengan dua rel berjalan, dengan malam-malam yang ditentukan, dengan waktu yang tidak dijual sehingga tidak perlu dikejar.
Dan di akhir proses editorial pertama, Pak Hartono menutup map halaman-halaman itu dan berkata satu kalimat yang oleh Yuda ditulis di halaman pertama buku komik jamnya:
"Komik ini sudah siap untuk pembaca yang paling sulit: pembaca yang membaca dengan dadanya. Dan pembaca seperti itu, Le, akan membacanya dengan dadanya — karena komik ini ditulis dengan dada, oleh tangan yang sudah belajar berdiri, dengan nama yang akhirnya benar di sampulnya."
Jam itu mulai berdetak — resmi, editorial, dengan nama yang benar.