(Dunia Novel)
Semua Putri dan Pangeran duduk di tempatnya masing-masing. Ratu Munmyeong duduk di samping Raja Muyeol, dan di sebelahnya lagi duduk Selir Yeongchang yang juga merupakan ibu kandung dari Putri Yoohye, Putri Yoseok, dan Pangeran Intae. Mereka duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja makan berbentuk persegi panjang. Peralatan makan yang ada di atas meja terbuat dari emas.
"Baik, semuanya sudah berkumpul. Hari ini sangatlah istimewa karena Pangeran Inmun baru saja pulang dari Tiongkok setelah beberapa bulan berada di Chang'an. Kita harus berterima kasih kepada Pangeran Inmun karena telah mengabdikan dirinya sebagai perantara diplomasi untuk Kerajaan Silla dan Dinasti Tang," puji Raja Muyeol dengan wajahnya yang sangat ramah.
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Pangeran Inmun sambil menundukkan kepalanya kepada Raja Muyeol.
Pangeran Inmun memiliki keahlian yang baik sebagai seorang diplomat, keahlian yang diturunkan oleh ayahnya yang juga terkenal sangat hebat dalam urusan diplomasi antar negara. Keahlian diplomasi yang hebat juga dimiliki oleh Pangeran Beopmin dan Pangeran Munwang. Mereka bertiga, bersama ayahnya, adalah kunci diplomasi yang menjaga hubungan baik antara Kerajaan Silla dan kerajaan sekutu di Tiongkok yaitu Dinasti Tang, bahkan semenjak era kekuasaan Ratu Jindeok.
Berurutan Pangeran Beopmin, Pangeran Inmun, dan Pangeran Munwang adalah putra pertama, kedua, dan ketiga dari Raja Muyeol dan Ratu Munmyeong. Ketiganya adalah Pangeran tertua dan usianya masih berada di sekitar awal 30-an tahun. Selain sebagai putra pertama, Pangeran Beopmin juga merupakan seorang Putra Mahkota yang akan mewarisi tahta Raja Muyeol.
Raja Muyeol memiliki 10 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan dari 3 orang istrinya, yaitu Ratu Munmyeong, Selir Yeongchang, dan mendiang Putri Bora. Ratu Munmyeong dan Selir Yeongchang adalah kakak-beradik, yang juga merupakan adik kandung dari Jenderal terhebat Silla waktu itu. Namun dari keempat anak perempuan yang ia miliki, ia telah kehilangan salah seorang dari antaranya yang merupakan putri tertua sekaligus kesayangannya.
"Hari ini aku secara khusus memerintahkan Juru Masak kerajaan untuk memasak hidangan-hidangan yang sangat istimewa untuk kita. Ada beberapa jenis daging yang akan dihidangkan di depan kalian," jelas Sang Raja dengan bangga.
"Intae, apakah kau senang akan makan makanan enak hari ini?" tanya Pangeran Beopmin dengan suara beratnya.
"Tentu, Kakak. Aku sudah mempersiapkan perutku dari tadi malam," canda Pangeran Intae sambil mengelus perutnya, disambut oleh tawa para anggota kerajaan.
Pangeran Intae adalah putra bungsu atau putra ke-10 Raja Muyeol dari pernikahannya dengan Selir Yeongchang. Sebagai anak bungsu, Pangeran Intae adalah kesayangan kakak-kakaknya.
"Bagaimana dengan Yoohye?" tanya Raja Muyeol.
"Saya sangat senang Yang Mulia, karena Pangeran Inmun pulang dalam keadaan yang baik," katanya dengan tersenyum dan disambut senyuman pula oleh Pangeran Inmun. Padahal tadi ia sempat lupa bahwa kakaknya itu pulang ke Istana.
Putri Yoohye adalah putri bungsu dari Raja Muyeol, yang juga merupakan kakak langsung dari Pangeran Intae yang usianya tidak terpaut jauh. Kakak-kakaknya juga menyayanginya sama seperti Pangeran Intae sebagai anggota keluarga kerajaan termuda.
Suasana di dalam ruangan itu sangat hangat, tidak nampak ada ketegangan seperti yang biasa orang pikirkan tentang keluarga kerajaan yang berebut tahta dan kekuasaan. Selain karena Raja Muyeol yang mendidik mereka dengan baik, Ratu dan Selirnya juga merupakan saudara kandung.
Mereka makan bersama dengan sesekali diselingi oleh obrolan ringan dan tawa kecil. Perasaan apa ini? Yura merasakan sebuah kebahagiaan. Tapi itu kan hanya mimpi. Mengapa ia bisa merasakan perasaan bahagia dengan sangat jelas seolah ia memang sedang berada disana?
***
(Dunia Nyata)
Yura tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dilihatnya ke sekeliling, ia kini sudah berada di kamarnya sendiri. Ia melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 12.30 malam. Masih tengah malam. Jarang-jarang ia terbangun tengah malam begini.
Benar kan, tadi itu aku cuma bermimpi, batinnya sambil mengusap-usap matanya.
Sebelum kembali lagi melanjutkan tidurnya, ia memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya. Perasaan bahagia masih membekas bahkan setelah ia bangun dari mimpi itu. Ia memikirkannya sambil tersenyum. Ia senang bisa melihat dirinya menjadi seorang Putri dalam mimpinya, apalagi tokoh-tokoh yang hanya bisa dibacanya di buku Sejarah dan dilihatnya di drama juga turut hadir di dalam mimpinya itu. Ia berpikir bahwa mungkin mimpinya itu adalah sebuah pertanda yang baik.
Namun ia mulai berpikir... mimpi itu terasa sangat nyata, seolah-olah dirinya benar-benar berada di sana. Ia bisa merasakan halusnya pakaian yang dikenakannya, wanginya aroma tubuh para anggota kerajaan, sejuknya udara yang berhembus, rasa makanan yang dimakannya, bahkan semua perasaan yang dirasakannya dalam mimpi itu pun terasa sangat nyata.
Luka hatinya hari itu seolah terobati dengan mimpi indah yang ia alami. Ia pun mencoba untuk kembali tidur, berharap mimpi indah itu bisa berlanjut...
***
Yura bangun di pagi hari. Mimpi semalam tidak berlanjut lagi tapi ia bangun dengan perasaan yang baik. Ia pun merasa bersemangat pagi itu. Ia turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi di lantai bawah.
Sekembalinya lagi ke kamar, ia mulai sibuk mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja pagi itu. Ia tidak menyadari bahwa buku novel "Seperti yang Kau Inginkan" yang kemarin malam ia letakkan di atas meja dalam kondisi tertutup, sekarang sudah dalam kondisi terbuka.
Ia asyik merias dirinya dan menata rambutnya. Setelah selesai, ia mengambil tasnya yang terletak di samping kasurnya, bersiap akan berangkat. Sekilas dilihatnya buku novel yang ada di atas meja itu dalam posisi terbuka, tapi ia tak menyadari adanya tulisan di halamannya yang seharusnya kosong.
Ia berjalan mendekati novel itu dengan perasaan heran karena seingatnya kemarin malam ia meninggalkan novel itu dalam kondisi tertutup. Langkahnya semakin mendekati dan mendekat ke arah meja itu... lalu tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
Tok tok tok!
"Yura, apakah kau sudah mau berangkat?" tanya ibunya dari depan pintu kamarnya.
"Iya, Bu," jawab Yura sambil bergegas menuju meja lalu menutup novel tersebut tanpa memperhatikan adanya tulisan baru di dalamnya. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, Bu?" tanyanya pada ibunya.
"Pulang kerja nanti Ibu akan mampir ke rumah Bibi Su. Dia sedang sakit. Ibu harus melihat keadaannya," kata ibunya.
Bibi Su adalah adik kandung ibunya yang tinggal di daerah Dongseon-dong, tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Bibinya sering membantu ibunya jika ibunya mengalami kesulitan. Karena itu, ibunya sangat menyayangi saudaranya itu.
"Baiklah, Bu. Apakah Ibu perlu bantuanku?" tanya Yura menawarkan bantuan. Siapa tahu ibunya ingin ia ikut atau memerlukan bantuan untuk urusan rumah tangga.
"Semua masakan sudah Ibu siapkan untuk kau dan Yeonsu. Tolong bersihkan saja semua piring dan bereskan rumah sebelum Ibu pulang. Kau tidak mau kan melihat Ibumu ini menggila lagi malam ini?" Ibunya memperingatkannya.
Ibunya akan sangat mudah marah ketika pulang kerja karena kelelahan, apalagi jika ia pulang lebih malam. Yura dan Yeonsu sudah terbiasa dengan hal itu, namun tetap saja mereka terkadang tidak sengaja melakukan kesalahan yang bisa menyulut emosi ibunya. Apalagi Yeonsu adalah seorang remaja yang cukup nakal dan agak susah diatur.
"Baiklah, Bu. Tidak usah khawatir. Ibu hati-hati di jalan ya nanti. Jangan pulang terlalu malam," pinta Yura dengan penuh perhatian. Meskipun ibunya sering mengomel, ia sangat menyayangi ibunya. Seringkali ia merasa kasihan di usia ibunya yang sudah hampir 50 tahun, ia masih harus bekerja. Tapi ia pun tak bisa membantu banyak, karena itu terkadang ia merasa seperti seorang anak yang tidak berguna.
"Baiklah, kau sarapanlah dulu sebelum berangkat," perintah ibunya, kemudian berjalan meninggalkannya dan turun ke bawah.
"Iya, Bu!" sahut Yura sedikit berteriak agar ibunya dengar. Ia segera menutup pintu kamarnya dan menuju ke lantai bawah untuk sarapan, sementara buku novel misterius itu telah tertutup rapi di atas mejanya. Setelah kejadian semalam, entah apa yang akan terjadi pada malam selanjutnya...