Tasya menggenggam lembar nomor audisi sampai kertasnya basah oleh keringat tangannya sendiri. Angka 247 dicetak tebal di dada kirinya, menempel di kaus putih lusuh yang sudah dua kali ia jahit sendiri bagian lengannya.
Aula audisi Agensi Bintang Sembilan itu sebesar lapangan futsal. Lampu sorot menggantung dari langit-langit seperti mata raksasa yang menatap setiap orang tanpa berkedip. Ratusan remaja berjejal di kursi tunggu—ada yang melakukan pemanasan vokal, ada yang menari di sudut, ada pula yang sekadar duduk membeku seperti dirinya.
"Nomor dua ratus empat puluh tujuh!"
Suara dari pengeras suara memantul di dinding. Tasya berdiri terlalu cepat sampai kepalanya berkunang.
"Aku," katanya pelan. Lalu lebih keras, "Aku, Pak!"
Seorang staf berbaju hitam mengangkat tangan, menunjuk pintu di ujung lorong. Tasya melangkah, dan setiap langkah terasa seperti menyeret beban yang tak kasat mata. Di kantong celananya, ponsel butut bergetar. Ia tahu siapa itu tanpa melihat. Pasti rentenir. Pasti orang yang sama yang kemarin menggedor pintu rumah sambil meneriakkan nama ayahnya.
Tiga puluh juta. Itu angka yang menggantung di leher keluarganya seperti tali gantungan. Tiga puluh juta yang dipinjam ayahnya untuk modal warung yang akhirnya bangkrut, lalu berbunga, lalu beranak pinak menjadi monster yang tak pernah tidur.
Tasya menarik napas di depan pintu. Di balik daun pintu itu, katanya, ada juri-juri yang bisa mengubah hidup seseorang dalam tiga menit. Tiga menit untuk menyanyi. Tiga menit untuk memutuskan apakah ia akan menjadi idol—atau pulang dengan tangan kosong ke rumah yang nyaris disita.
Ia mendorong pintu.
Ruangan di dalam lebih kecil, lebih dingin. Tiga orang duduk di balik meja panjang. Yang di tengah perempuan berkacamata dengan rambut disanggul rapi, wajahnya datar seperti tembok. Di kanannya pria paruh baya berjas, sibuk dengan ponsel. Di kiri, lelaki muda dengan jaket kulit, satu-satunya yang menatap Tasya dengan sesuatu yang menyerupai minat.
"Nama?" tanya perempuan berkacamata tanpa mengangkat kepala dari berkas.
"Tasya. Anastasya Putri Wijaya."
"Umur?"
"Tujuh belas."
"Pengalaman?"
Tasya menelan ludah. "Saya... menyanyi di gereja. Dan di acara kelurahan."
Pria berjas akhirnya mengangkat kepala. Senyumnya tipis, dan tidak ramah. "Gereja dan kelurahan," ulangnya, nyaris geli. "Kamu sadar ini Bintang Sembilan, kan? Agensi yang melahirkan tiga grup idol papan atas?"
"Saya sadar, Pak."
"Lalu kenapa kamu pikir kamu pantas di sini?"
Pertanyaan itu seperti tamparan. Tasya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Jawaban jujurnya tidak akan mereka suka. Karena saya butuh uang. Karena kalau saya gagal, ibu saya akan menangis lagi malam ini. Karena ini satu-satunya pintu yang masih terbuka.
Tapi ia menelan semua itu.
"Karena saya tidak punya pilihan lain selain berhasil," jawabnya akhirnya.
Lelaki berjaket kulit di kiri sedikit menegakkan tubuh. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum kecil.
"Menarik," katanya. "Nyanyikan sesuatu. Apa saja. Tanpa musik."
Tasya menutup mata sejenak. Ia memilih lagu yang sering dinyanyikan ibunya saat mencuci piring—lagu tua tentang rumah dan rindu. Lagu yang tidak akan membuat juri terkesan dengan teknik, tapi satu-satunya lagu yang bisa ia nyanyikan dengan seluruh isi dadanya.
Ia membuka mulut. Suara pertama keluar gemetar, lalu menemukan pijakannya. Ia tidak menyanyikannya untuk juri. Ia menyanyikannya untuk ibunya, untuk warung yang bangkrut, untuk rumah yang nyaris hilang.
Ketika nada terakhir mengambang dan menghilang di ruangan dingin itu, hening menyergap. Pria berjas tidak lagi menyentuh ponselnya. Perempuan berkacamata mengangkat kepala, menatap Tasya untuk pertama kali.
Lelaki berjaket kulit mengetuk pena ke meja. Sekali. Dua kali.
"Siapa yang mengajarimu menyanyi seperti itu?" tanyanya.
"Tidak ada," kata Tasya. "Saya cuma... menyanyikannya."
Lelaki itu mengangguk pelan, lalu menulis sesuatu di berkasnya. Tasya tidak bisa membaca apa yang ia tulis. Jantungnya menabuh begitu keras sampai ia takut ketiganya bisa mendengarnya.
"Terima kasih, Nomor 247," kata perempuan berkacamata. "Tunggu pengumuman di luar."
Tasya membungkuk, lalu keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, kakinya nyaris tak sanggup menahan tubuhnya. Ia bersandar ke dinding lorong, menutup mata, dan untuk sekian detik membiarkan dirinya berharap.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini ia melihatnya. Pesan dari ibunya: *Gimana, Nak? Ibu doain dari rumah.*
Tasya mengetik balasan dengan tangan gemetar: *Belum tahu, Bu. Doain terus, ya.*
Ia tidak tahu bahwa di balik pintu yang baru saja ia tutup, lelaki berjaket kulit—Reza, kepala pelatih trainee Bintang Sembilan—sedang melingkari angka 247 dengan tinta merah, sambil berkata pada dua rekannya:
"Yang ini. Kita ambil yang ini."