Orang-Orang itu mulai menyerang Arga. Melayangkan pukulan serta tendangan keras padanya. Serangan mereka menghantam wajah dan tubuh Arga sampai menghasilkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Pemuda itu—Arga terlihat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, namun ia masih mampu untuk berdiri tegak dan memberikan perlawanan yang merepotkan mereka.
Arga mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang dia miliki—menggunakan tehnik—tehnik bertarung yang dia kuasai untuk mengalahkan mereka semua. Tapi, jumlah mereka terlalu banyak, Arga tidak akan mampu menghadapi mereka seorang diri. Dia tidak memiliki cukup stamina dan tenaga untuk terus bertahan. Tenaganya semakin menipis, terlihat dari nafasnya yang mulai memburu. Staminanya terkikis habis, Arga mulai merasakan pegal di setiap sendi tubuhnya, terutama sendi kaki dan tangannya. Sendi kaki ia gunakan untuk bergerak—membalikkan tubuh dan merubah arah serang. Sendi tangan ia gunakan untuk melancarkan serangan—melayangkan pukulan serta membuat sikutan.
Namun, yang paling penting dalam pertarungan adalah daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh Arga tidak sekuat teman—temannya. Tubuhnya masih harus dilatih lebih keras lagi untuk mendapatkan daya tahan tubuh yang optimal serta kemampuan bertahan dari setiap pukulan. Selain itu, kejadian tempo lalu yang dialami Arga, membuat tubuhnya masih dalam proses pengembangan untuk menjadi lebih kuat. Walaupun Nenek Bima—Ling mengatakan Arga telah pulih seutuhnya, namun jika tubuhnya terus diserang terus menerus, hal buruk akan terjadi padanya.
Sebenarnya, Arga sangat mungkin untuk mengalahkan mereka semua dengan kemampuan bertarung yang dia miliki. Hanya saja, kemungkinan itu terjadi jika pertarungan yang terjadi adalah pertarungan satu lawan satu. Namun, pertarungan kali ini berbeda, terjadi ketidakseimbangan kekuatan antara Arga dengan pasukan CanisLupus. Itu bukan lagi disebut pertarungan, melainkan upaya pembunuhan satu pemuda yang dilakukan puluhan pria dewasa.
Meskipun Arga mampu untuk menahan, menepis dan menangkis setiap serangan yang mereka lancarkan, namun ia hanya memiliki dua tangan, bagaimana pun juga, ia tidak akan mampu menghalau dua serangan yang datang bersamaan, namun dari arah yang berbeda. Tubuhnya harus secepat kilat untuk menepis dua serangan itu sekaligus. Satu atau dua pukulan ia tepis, namun pukulan lain berhasil menghantam wajahnya, itulah keterbatasan yang tidak bisa Arga lawan.
Satu hal yang mungkin terjadi, jika Arga terus terjebak dalam pertarungan tersebut, dia akan terluka sangat parah. Tubuhnya perlahan akan terkikis dan hancur jika terus menerus menerima serangan demi serangan dari orang-orang itu. Bahkan, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi padanya, mati! Satu hal yang harus Arga lakukan adalah keluar dari kerumunan itu dan membuat jarak dari mereka, secepatnya!
Bagaimana pun juga, dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Arga bukanlah pemuda istimewa yang memiliki kekuatan tersembunyi dan kemampuan khusus seperti pemuda lainnya—beberapa temannya seperti Bima, Hestra, dan Byron. Arga hanyalah pemuda biasa yang memiliki keinginan untuk menjadi kuat. Dia melatih dirinya dengan keras sehingga memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Namun, jika dibandingkan dengan teman-temannya, kekuatan Arga hanyalah sebuah berupa sekam padi diantara padi yang berisi. Kemampuannya masih sangat terbatas untuk menghadapi mereka semua.
Semakin lama, Arga kian terdesak. Seorang Pasukan Canislupus menendang lututnya dari belakang, membuat kakinya tertekuk dan bertumpu di tanah—membuat tubuhnya semakin rendah. Namun, Arga masih berusaha untuk tetap mempertahankan tegak tubuhnya. Pukulan orang-orang itu belum berhenti. Arga kini menjadi sasaran empuk bagi mereka.
Arga berusaha meluruskan kembali lututnya dan mendirikan tubuhnya, namun mereka terus menekan tubuhnya dengan pukulan demi pukulan agar Arga tetap bersimpuh di bawah. Arga semakin tersudut. Dia mencoba menyilangkan lengannya di atas kepalanya—membuat tameng pertahanan untuk menahan semua serangan mereka. Namun, satu tameng tidaklah cukup kuat untuk menghalau puluhan anak panah yang datang dari segala arah. Anak panah itu akan tetap menancap pada targetnya.
Di tengah hantaman pukulan demi pukulan, Arga mencoba melihat jauh ke depan— matanya menerobos tubuh orang-orang yang tengah menghajarnya. Arga memandangi seorang pria yang tengah berdiri jauh di depannya. Jak berdiri di sana, memandangi Arga dengan salah satu sudut bibir terangkat.
Ia terlihat sangat menikmati pemandangan di depan matanya. Kedua tangannya nyaman berada di dalam saku celananya.
Jak masih belum terlibat dalam pertarungan itu. Masih terlalu dini untuk dirinya bergerak. Dia membiarkan pasukannya terlebih dahulu melawan mereka—Pemuda Bachalpsee. Lalu saat mereka sudah kelelahan, barulah dia ikut dalam pertempuran tersebut, taktik kuno! Jak masih nyaman menjadi penonton di sana. Melihat dan menyaksikan pertempuran hebat antara pasukan Canislupus Nigreos dan Pemuda Bachalpsee. Ia menikmati pertempuran itu layaknya sebuah pertunjukan.
Semakin lama, Arga merasakan tubuhnya kian melemas. Sendi-sendi ditubuhnya seolah kehilangan fungsinya—terasa berat digerakkan. Pukulan demi pukulan terus menghantam kepala dan sekujur tubuhnya. Serangan mereka bukanlah porsi untuk tubuh Arga, itu diluar kapasitas daya tahan tubuhnya. Tidak ada cara lain yang bisa Arga lakukan. Untuk menjaga jarak dan terlepas dari kerumunan itu pun Arga tidak bisa. Seseorang harus datang dan membantunya. Tapi, siapa orangnya? Adakah seseorang yang melihatnya dalam bahaya?
Arga semakin tidak berdaya, pertahanan—tameng lengan yang dia buat semakin turun ke bawah. Satu pukulan keras menghantam leher belakangnya, membuatnya kosong dan blank seketika. Telinga berdengung kencang, bersamaan dengan itu, tubuhnya roboh dan akhirnya jatuh terbaring di tanah. Kelopak matanya sayu—menatap samar langkah kaki seseorang yang berlari ke arahnya lalu tiba-tiba menghilang begitu saja. Tiba-tiba,
BUAGH!!
Satu hentakan kuat membuat kerumunan orang-orang itu terpencar dan terhempas beberapa langkah ke belakang. Seseorang tiba-tiba masuk dari atas. Langkah kaki yang dilihat Arga sebelumnya bukanlah sebuah halusinasi semata, itu adalah bayangan kaki dari seorang pemuda yang datang untuk membantunya. Saat ia melihat Arga sudah tidak berdaya, ia tahu Arga berada dalam bahaya. Pemuda itu segera berlari menuju kerumunan itu lalu melompat dan melesat cepat masuk ke dalam kerumunan itu—menghasilkan daya dorong yang cukup kuat untuk membuat mereka terpental. Dia datang untuk menyelamatkan Arga.
Pemuda itu berdiri tepat di depan mata Arga yang tengah terkulai lemas di tanah dengan mata setengah terbuka. Ia mengedarkan pandangannya—menatap setiap orang dari Pasukan Canislupus yang sebelumnya menyerang Arga tanpa belas kasihan dan menghajarnya habis—habisan. Dia tidak bisa membiarkan mereka melakukan itu pada Arga. Orang—Orang dari Pasukan Canislupus menatap tajam padanya. Kepalan tangan mereka kembali terkepal. Mereka sepertinya akan kembali melangkah dan melancarkan serangan.
Arga yang sudah terbaring lemah pun semakin melebarkan bola matanya dan melihat sepasang kaki berdiri tepat di depan matanya. Ia mencoba mendudukkan dirinya lalu mendongakkan kepalanya—menatap sosok pemuda yang berdiri di hadapannya. Matanya terangkat naik saat melihat rupa pemuda itu. Dia adalah seseorang yang tidak pernah ia duga kedatangannya. Seorang pemuda yang terlihat tidak memiliki kemampuan beladiri apapun. Memang benar kata pepatah, "Jangan menilai buku daru sampulnya dan Jangan melihat seseorang dari penampilan luarnya saja." Pemuda itu adalah Axel, seorang pemuda yang juga mengikuti Bidang Keahlian Beladiri dan duduk di kelas (1—4).
Axel menurunkan pandangannya—menatap Arga yang terduduk lemas di tanah. Ia mengulurkan tangannya. "Butuh bantuan, Ar?" tawarnya.
Arga yang masih terbelalak tidak percaya pun menggapai lengan Axel kemudian kembali berdiri. Tatapannya masih terpaku pada Axel. "Axel? Kau—"
"Mereka terlalu banyak. Akan sulit jika kita hanya mengandalkan kemampuan individu. Kita harus menyatukan kekuatan dan menyerang mereka bersama—sama. Hanya dengan cara itu kita bisa menandingi kekuatan mereka," ujar Axel seraya mengedarkan pandangannya. Dia masih memandangi orang—orang berwajah sangar itu.
Arga mengangguk singkat. "Ah, iya. Kau benar. Kita harus saling melindungi satu sama lain," balas Arga seraya memindahkan pandangannya dari Axel lalu ikut menatap orang-orang itu.
Arga mengabaikan rasa terkejutnya. Jujur saja, saat ini Arga masih tidak percaya dengan kedatangan Axel. Meskipun, dari awal ia sudah tahu bahwa Axel terlibat dalam pertarungan ini karena sebelumnya pemuda itu berdiri di barisan yang sama dengan Arga. Namun, Arga sama sekali tidak mengetahui kemampuan yang Axel miliki. Hal itu dikarenakan Axel merupakan pemuda pendiam yang selalu terlihat tenang dan suka kedamaian. Beberapa orang hanya menganggapnya sebagai pemuda culun yang akrab dengan semua orang. Namun, itu hanya penilaian mereka saja. Mereka tidak tahu apapun tentang Axel.
Selain itu, Arga juga sedikit ragu kalau Axel memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Bukan karena Arga merasa hebat, namun sikap yang Axel tunjukkan membuat Arga berpikir seperti demikian. Bahkan, saat kejadian di kantin tempo lalu, ketika dirinya terlibat masalah dengan Dion, Axel hanya diam dan tidak melawan. Ia hanya terus mengucapkan permohonan maaf pada Dion walaupun ia tidak bersalah. Jika dia memiliki kemampuan beladiri, kenapa saat itu ia tidak melawan? Hal itulah yang membuat dirinya—Axel sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang memiliki kemampuan beladiri.
Mereka berdua—Arga dan Axel menatap satu sama lain sebelum kembali mengedarkan pandangannya. Mereka saling membelakangi dengan punggung bersentuhan. Keduanya melihat sisi berlawanan—memandangi Pasukan Canislupus yang terlihat sangat marah dan bersiap menyerang mereka.
Axel memalingkan wajahnya ke samping. "Hei, Ar, kita harus tetap menjaga jarak! Tidak boleh saling berjauhan! Saling menjaga dan saling menutupi kelemahan kita! Kau mengerti?" lontar Axel.
Arga mengangguk singkat. "Ya. Aku mengerti," balas Arga dengan sorot matanya yang tajam. Tangannya sudah kembali terkepal. Arga masih memiliki sedikit tenaga untuk menghajar beberapa orang itu.
"Aku akan menyerang sisi sebelah sini dan akan menjaga area belakangmu. Kau juga lakukan hal yang sama, Ar! Yang terpenting dari kerja sama ini adalah tetap jaga jarak kita! " tegas Axel sekali lagi.
"Baiklah. Ayo lakukan!" sahut Arga.
Sepersekian detik kemudian, Pasukan CanisLupus kembali menyerang mereka secara serentak. Kedua pemuda itu bertarung melawan Pasukan Canislupus yang jumlahnya cukup banyak. Cukup membuat mereka kesulitan bergerak. Namun, mereka bekerja sama dengan sangat baik. Mereka tidak mengkhawatirkan area belakang tubuhnya dan hanya fokus pada area depan saja. Perhatiannya hanya terpusat pada lawan yang berada di depan mata mereka. Axel dan Arga tetap menjaga jaraknya. Begitu langkah mereka berjauhan dan punggung mereka terpisah, mereka akan segera melangkah mundur dan kembali berdekatan. Tanpa banyak persiapan, mereka terlihat seperti dua orang teman yang sudah terbiasa bertarung bersama.
Kerja sama yang baik menghasilkan hasil yang baik pula. Pertarungan mereka sangat epik dan mengagumkan. Tidak ada perlawanan berarti untuk mereka. Pasukan Canislupus merasa sangat kesulitan untuk menghadapi mereka berdua. Kini mereka berhadapan dengan lawan yang tangguh. Alhasil, kerja sama antara Arga dan Axel berhasil mengalahkan mereka semua—Pasukan CanisLupus dalam waktu yang cukup singkat.
Mereka menggunakan kesempatan itu untuk mengambil nafas dalam lalu mengaturnya agar kembali stabil. Orang-Orang CanisLupus itu pasti akan segera bangkit sebentar lagi dan akan kembali menyerang mereka berdua. Sebelum itu terjadi, sebaiknya mereka menyiapkan tenaga yang lebih besar dari sebelumnya. Alur hembusan nafas juga sangat penting untuk menjaga stamina. Nafas yang selalu stabil mampu menjaga tubuh agar tidak cepat merasa lelah.
Sementara itu, Bima yang baru saja berhasil menumbangkan semua lawannya kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arga. Matanya sedikit memicing saat melihat Arga sedang bersama seorang pemuda yang ternyata pernah ia temui sebelumnya. Pemuda yang ia kenal bernama Axel itu kini tengah bersama Arga.
Pandangannya berpindah pada orang-orang dari Pasukan Canislupus yang tengah terkapar di tanah. Mereka semua dapat dilumpuhkan oleh mereka berdua—Arga dan Axel. Bima menghela nafas lega. Kekhawatirannya sirna saat melihat keadaan Arga yang terlihat baik-baik saja.
Walaupun wajah Arga cukup berantakan dengan hidung dan ujung bibir mengeluarkan darah, Bima merasa hal itu wajar di alami petarung seperti mereka. Apalagi dalam pertarungan besar seperti ini. Luka di tubuh adalah hal yang biasa. Bahkan, patah tulang sekalipun adalah hal yang sangat wajar dan sangat mungkin terjadi. Namun, meskipun kejadian tersebut merupakan hal yang wajar terjadi, setiap orang menghindari hal tersebut dalam pertarungan, karena selain terasa menyakitkan, hal itu akan berdampak besar pada tubuh mereka.
Setelah melihat kondisi Arga, beban di pundak Bima seakan sirna begitu saja. Kekhawatirannya kini tidak ada lagi. Dia bisa bertarung dengan bebas tanpa memikirkan apapun. Stamina dan tenaganya seolah kembali meningkat dan semakin memuncak. Tubuhnya seolah terbakar hebat. Bima melesat cepat ke arah lain dan menyerang mereka dengan serangan mematikan. Dalam sekejap, dia mampu melumpuhkan puluhan Pasukan CanisLupus Nigreos. Ia tidak akan membiarkan Pemuda Bachalpsee kalah dalam pertempuran ini. Ia hanya berharap pertarungan ini segera selesai dengan kemenangan di tangan mereka.
Sementara itu, dari sisi lain, seorang pria terlihat sangat kesal saat melihat Arga dan Axel mampu mengalahkan orang-orang dari Pasukan Canislupus. Dia adalah orang yang telah membuat luka di hati Arga—menggores jiwa dan mentalnya. Pria itu adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tua Arga. Dialah orang dibalik semua rasa sakit Arga. Dia adalah Jak, seorang pria yang merupakan Kasta Kedua dalam organisasi gelapnya, Geng Canislupus Nigreos. Ia melayangkan tatapan tajam pada seseorang, yang tak lain adalah Arga, pemuda yang hampir saja mati olehnya. Melihat keadaan berbalik, membuat Jak sedikit tak percaya kalau Arga mampu selamat dari serangan Pasukan Canislupus yang menyerangnya habis-habisan.
Jak mengeraskan rahang seraya mengepalkan tangannya penuh tenaga. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Jak tidak akan membiarkan Arga hidup lebih lama lagi. Ia harus membunuh Arga, entah apapun alasannya. Melihat Arga tetap berdiri tegak membuatnya sangat marah. Matanya bersinar terang disertai geraman yang keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian, ia melesat cepat kearah Arga dan hendak menyerangnya. Tapi, tiba-tiba,
BAKH!!
Seseorang datang dan langsung menghantam keras da.danya dengan tendangan lurus. Jak terpental jauh ke belakang dan terguling—guling di tanah beberapa putaran. Jak mencengkram tanah untuk menghentikan tubuhnya yang terus terhempas jauh. Jak memegangi da.danya yang terasa sesak. Ia mendengus kesal seraya mengangkat pandanganya pada orang yang sudah menyerangnya tanpa peringatan. "Siapa orang bodoh itu? Kenapa tendangannya keras sekali?" gerutu Jak seraya mendirikan tubuhnya.
Jak menatap tajam pada orang itu. "Minggir kau, Sial*n!" titah Jak dengan geram.
Orang itu mengernyitkan kening. "Minggir? Kenapa aku harus minggir? Punya hak apa kau menyuruhku?" balasnya.
"Menyingkirlah! Aku akan membunuhmu setelah membunuh anak itu!" ujar Jak seraya menunjuk Arga dengan gerakan matanya.
"Hei, lawanmu itu aku, Bajing*n!" balas orang itu lagi dengan senyum miring di bibirnya.
Jak terkekeh singkat. "Baiklah. Jika kau ingin mati lebih dulu, dengan senang hati aku akan membunuhmu, Sial*n!" seru Jak lalu melesat cepat ke arah orang tersebut.
Orang itu tertawa lebar sejenak. "Membunuhku? Maaf saja. Tapi aku tidak berniat mati hari ini. Kau saja yang duluan! Aku akan membunuhmu tanpa meminta imbalan apapun!" balasnya lalu melesat cepat ke arah Jak.
Beberapa saat kemudian, mereka saling bertemu. Jak melayangkan pukulan lurus sedangkan lawannya melayangkan tendangan lurus. Terjadilah adu serangan yang membuat suatu dorongan kuat yang menciptakan hembusan angin kencang. Waktu berhenti sesaat, keduanya bertahan dalam posisi itu untuk beberapa detik. Jak menatap geram padanya. Pria di depan Jak menyunggingkan bibirnya. "Selalu ingat kata-kataku! Aku Chayton, Pembimbing Akademi Bachalpsee, tidak akan membiarkan sampah sepertimu menganggu ketenangan Akademi ini!" tegas Chayton dengan lantang.