Semua tak ada yang direncanakan hingga naluri menyentuh hati keduanya. Dian mengusap wajah cantik Clara dan wanita itu sedikit membuka bibirnya seakan mengizinkan Dian untuk merasakan apa yang ada di dalamnya.
Namun ternyata tak hanya itu, hubungan mereka bahkan lebih jauh lagi. Dian dengan rakus mencumbu Clara yang nampak pasrah dan menikmati permainan dengan gelenyar tak biasa sesudahnya.
"Maaf Clara, aku akan bertanggung jawab jika ...." Dian mencium bahu polos yang halus mulus di hadapannya, sambil mendekap erat bagian lain di bawah selimut.
"Hamil? Jika aku hamil, Dian?"
"Hm, jika hamil."
Clara hanya tersenyum mengangkat lehernya, membiarkan Dian mengulanginya lagi malam itu berkali-kali. Ingatan itu seolah menguat saat bunyi ponsel lagi-lagi berdering, dengan nama yang sama tertera di sana.
Irwan yang nampak memahami kelakuan saudaranya hanya tersenyum memikirkan jika satu hubungan yang akan dibawa ke jenjang lebih serius tidak hanya melibatkan aku dan kau, namun juga 'dia'. Laki-laki bisa menebak bahwa ada wanita lain di hati Dian saat ini.
Saat ini Dian sedang memikirkan sosok 'dia' yang entah siapa dan di mana. Namun garis kasar di wajah serta reaksi penuh kecemasan tiap kali menatap layar ponsel seakan memberi jawaban bahwa sosok 'dia' mungkin saat ini sedang menunggu dirinya di suatu tempat.
"Pergilah temui perempuanmu, Dian, biar aku yang membereskan semua ini."
"Oke, thanks ya, Mas."
Selangkah Dian berlalu, wajah Mama nampak berkaca-kaca di balik pintu, menyeka bulir-bulir air mata yang mulai menetes. Mata indah nan sayu itu mengatup seakan merasakan pedih yang sungguh sangat menyayat.
Irwan dan Niken saling berpandangan, entah apa yang sudah mama bicarakan dengan keluarga Mika, namun nampaknya Dian tak punya pilihan lain melihat kesedihan mendalam di mata mama.
"Baik, Ma. Akan kunikahi dia untuk Mama, persiapkan saja semua," ucap Dian dengan expresi dingin, berlalu melewati mama yang masih mematung sambil mengurut dadanya.
Dian memacu kendaraan memecah malam dengan kencang menuju apartemen milik Clara. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Dia sudah berada di parkiran setengah berlari menuju lift yang kebetulan pintunya terbuka. Dengan cemas menatap arloji di tengan, tiba-tiba saja Dian sangat merindukan kehangatan pelukan Clara.
Wanita yang selama ini selalu mengemis cinta, perhatian bahkan hanya sekedar kehadirannya. Bagi Clara, bisa melihat Dian kembali dalam keadaan tidak mabuk-mabukan saja sudah sangat membuatnya bahagia.
Sesaat setelah mengambil kunci apartemen Clara dari saku, Dian membuka pintu apartemen perlahan.
Sepi.
Televisi dan lampu-lampu semua mati. Tersisa dengung pendingin ruangan di ruang tamu, membuat Dian memeriksa di dapur dan kamar mandi, namun lengang. Hingga akhirnya dia membuka sedikit pintu kamar mereka, ternyata ruangan itu sudah dihias sedemikian rupa dengan tulisan besar 'Happy love Anniversary 9TH .'
Damn.
Ternyata ini sudah tahun ke sembilan hubungan mereka terjalin. Pantas saja Clara sangat mengiba ingin agar malam ini Dian bisa menemuinya. Pandangan matanya beralih pada sosok wanita yang nampak terlelap dengan ponsel di genggaman.
Wanita yang selama sembilan tahun ini menghangatkan malam-malamnya, berusaha menyentuh hati dan memanjakannya setiap saat dia membutuhkan.
Clara terlihat sangat cantik dengan tubuh yang berbalut dres sangat tipis dan ringan berwarna merah menerawang itu, membuat Dian meneguk saliva beberapa kali sebelum akhirnya dia ingin memberikan kejutan manis untuk Clara.
Setelah membersihkan diri, Dian terlihat shirtless mendekati Clara yang tengah terbang ke awang-awang dalam mimpi dengan bibir yang sedikit terbuka.
Perlahan, Dian mencium pipi dan mengecupi punggung wanita itu dari belakang penuh gairah, dengan tangan meremas d**a lembut nan sintal yang sangat dia sukai di balik dress mini di tubuhnya.
"Emmhh, kau dari mana saja?" tanya Clara bersuara lembut dengan wajah bersemu merah merasakan hembusan nafas mengejar dari Dian di tengkuknya. Merasakan d**a itu menempel di punggung dan berdetak kencang.
Dian bergeming, dia meraih ponsel di tangan Clara, melemparnya ke atas nakas, lalu membalik tubuh wanita itu hingga dia bisa menjelajahi dengan leluasa saat posisinya sudah terlentang.
Dian menjelajahi setiap inci kulit Clara dengan penuh gairah, meninggalkan kissmark di kulit dan seolah ingin menandai area kekuasaannya di tubuh wanita itu.
Bibir Dian bergitu liar menyapu hingga wanita itu menggeliat saat merasakan pelepasan datang.Tubuhnya meremang, nafasnya tersengal namun hentakan Dian semakin memburu.
"Ah. Dian, kenapa malam ini kamu sangat agresif?" Clara merasa begitu nikmat malam itu, Dian seperti menginginkan dirinya. Dia tentu amat menyukai bila Dian menghamba untuk dipuaskan olehnya di atas ranjang.
"Berbaliklah," bisik Dian sambil menggigit kecil telinga Clara. Pria yang biasanya selalu dingin itu mendadak sangat hot malam itu.
Tatapannya Clara sudah berkabut sembari meremas selimut di tangannya, merasakan gelenyar nikmat hingga membuat kulitnya meremang saat mereka merasakan puncak pelepasan yang datang bersamaan.
"Apa kau mencintaiku, Clara?" tanya Dian sambil menyelesaikan permainan. Tentu saja wajah Clara jadi bersemu malu-malu mendengar pertanyaan seperti itu.
Kening mereka saling menempel dengan peluh bercucuran, dengan nafas tersengal, tatapan Clara mendadak jadi membeku. Sepasang mata itu seakan tak mampu membendung rasa bahagia, setelah sekian lama seolah rasa itu tak kunjung berbalas.
Akhirnya malam itu, Dian sungguh memperlakukan Clara dengan sangat istimewa.
"Apakah kau butuh jawaban atau sedang memastikan perasaanmu?"
"Butuh jawaban."
Wanita itu memejamkan matanya namun sesekali menatap pria di hadapannya, meyakinkan bahwa dia bercinta dengan orang yang benar.
"Kau pikir sembilan tahun itu waktu yang singkat hanya untuk bersenang-senang, Dian?"
"Cleer .... " Dian menggantung desahan sambil menyelesaikan segera permainan malam itu.
Mereka menghembuskan nafas panjang lalu Dian menggeser tubuhnya turun dari atas tubuh Clara yang sudah basah karena keringat dan cairan lainnya.
Clara bersandar di d**a Dian saat mereka sama-sama merasakan gelenyar kenikmatan luar biasa malam itu. Lelah namun sama-sama terpuaskan.
Keduanya bercerita tentang banyak hal, bagaikan pasangan muda-mudi yang baru kasmaran dan melakukannya untuk pertama kali, padahal ini sudah sering mereka lakukan, hanya saja, entah.
Dian merasa sangat frustasi melihat Mika dan terpaksa menerima perjodohan orang tuanya, sedangkan Clara, wanita yang telah melewatkan malam-malamnya mengisi kesendirian dan kesepian selama ini, bagaimana akhirnya?
Ingin sekali bercerita namun untuk kali ini, dia tak tega menyakiti hati Clara. Beberapa kali dia menciumi kening wanita itu sangat dalam dan intens, dengan rasa yang memantik tiba-tiba.
"Cleer, jika ada pria yang lebih baik dari aku meminangmu, menikahlah."
Clara menarik tubuhnya dari cengkeraman tangan Dian, berjalan memungut dress untuk dikenakan kembali, lalu kembali ke dapur. Memasak sesuatu.
Tak ada suara, namun tiba-tiba saja Clara menangis. Sembari memanaskan spaghetti yang sedari tadi ingin di sajikan untuk makan malam bersama, rasanya sakit mendengar perkataan Dian.
Bagaikan di angkat setinggi langit lalu dihempas ke dasar bumi. Bekas tanda cinta di tubuh Clara rasanya masih nampak jelas terlihat akibat perbuatan Dian, bahkan kewanitaan itu masih dibasahi oleh cairan miliknya, namun pria itu malah berkata demikian.
'Sialan kau, Dian!' umpat Clara di sela tangis dalam hening dini hari itu. Tetapi dia merasakan kedua tangan Dian berada di kiri dan kanan seolah mengurung tubuhnya, menarik perlahan hingga menempel di pintu kulkas.
"Maaf," bisik Dian dengan nada sensual yang berat dan sulit diartikan.
"Jika kau tidak mencintaiku, jangan anggap aku pun begitu padamu, Dian."
"Maaf."
Dian mendekap dengan hangat tubuh Clara, menempelkan pipi mereka sambil sesekali mengecupnya, kemudian menangkupkan kedua tangan di pipi wanita itu sambil menciumi wajahnya kemudian.
"Kamu wanita terbaik dalam hidupku, Clara."
Senyum bahagia tersungging bersamaan dengan degub jantung Dian yang terasa begitu memburu. Seorang pria jika tidak memiliki perasaan apapun, hanya untuk senang-senang, seharusnya tak perlu berdebar-debar ketika bersama wanita.
Namun kali ini Dian sangat berbeda. Apakah hatinya yang dingin itu mulai mencair?
Entah.