Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Desi S
Partner Till Jannah Penulis: Desi Siregar Sinopsis Kisah pasangan yang baru saja berhijrah, berusaha taat dan belajar mendekatkan diri pada Allah bersama. Azzam Khairil Ahkam lebih memilih menikahi Asy-syifa Raihana, gadis desa yang sederhana. Penjual lotek dan gorengan. Saat itu, Syifa ingin dijodohkan dengan anak juragan angkuh, lelaki Preman dan badboy. Namun, Allah mengirimkan lelaki soleh, untuk menyelamatkan Syifa dari perjodohan itu. Niat Azzam sungguh tulus menikahi dan mencintai Syifa tanpa pernah mengulik kisah masa lalunya. Syifa adalah gadis awam yang kurang mendalami agama. Iya juga memiliki kisah masa lalu kelam yang membuatnya tak pantas hidup bersama Azzam. Lelaki yang sesungguhnya sosok kekasih impian dan idamannya. Tapi, semenjak menikah dengan Azzam. Kini, ia lebih baik dari sebelumnya. Kisah cinta yang saling berjuang untuk taat pada ilahi. Bersama berbenah diri, demi meraih Jannah_Nya. Bab 1: Suamiku Alarmku Sayup terdengar alunan syahdu azan shubuh, menyeru umat untuk segera memenuhi kewajiban kepada Tuhannya. Menyadarkan jejiwa yang terlelap dalam selimut kemalasan. 'Ash-Shalaatu Khairun Minannauum’ [Salat itu lebih baik daripada tidur] "Sayang, bangun salat! Udah azan. Bangun, sayang!" terasa guncangan lembut Mas Azzam membangunkanku. Kubalas berdehem merespon Mas Azzam. Artinya iya, tapi sebentar lagi. Mungkin efek lelah seharian beres-beres dan merapikan rumah karena baru pindah kemarin. Awalnya, Mas Azzam menawarkan agar menyewa Asisten rumah tangga, agar aku tak perlu repot-repot dan lelah sendirian mengurus rumah dua lantai yang dibangun Mas Azzam untuk calon istrinya dua tahun silam. Jujur, aku sangat terharu mendengar perkataan Mas Azzam tentang itu. Dan tidak menyangka bahwa calon istri yang dikatakannya adalah aku, MaasyaAllah. Aku menolak karena merasa sanggup untuk mengerjakannya sendirian. Apalagi dirumah ini cuma kami berdua, dan tidak repot-repot sekali dalam mengerjakannya. Sekalian belajar jadi istri shaliha, rajin, cerdas, dan bijak mengurus rumah tangga. Jadi, aku tak ingin ada campur tangan orang lain dalam urusan rumah tanggaku. Cuti kerja Mas Azzam sisa seminggu lagi, mas Azzam memanfaatkan sisa cutinya untuk honeymoon dan membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Meskipun dibantu Mas Azzam, aku merasa lelah dan mengantuk karena merapikan rumah hingga larut malam. Awalnya Mas Azzam melarang, aku saja yang bawel dan bersikeras tetap melanjutkan karena hampir saja selesai. Bagiku meninggalkan pekerjaan tanggung itu akan malas untuk memulai esok harinya. Mas Azzam pun mengalah dan menuruti keinginanku semalam. Alhasil, aku sendiri yang kena batunya, badan pegal-pegal, lelah bahkan mengantuk. Berat rasanya membuka kelopak mata, sebab cuaca pun begitu dingin menusuk pori-pori kulit hingga ke tulang. Bulu kudukku merinding saat membayangkan, betapa dinginnya air saat wudhu nanti, apalagi saat musim hujan begini. “Belum tersentuh air saja sudah dingin.” gumamku dalam hati menggeram sambil merinding. Menunda salat beberapa menit, lalu kembali tidur adalah pilihan yang tepat menurutku. Namun ternyata tidak, kembali terdengar panggilan lembut Mas Azzam. "Sayang, ayo bangun! Salat subuh! Udah selesai adzan loh." ujarnya lembut. "Huum. Iya Mas. Masih ngantuk, Mas. Badanku pegal semua nih, Mas.” jawabku serak dengan suara khas baru bangun tidur. Sambil menggeliat manja. “Tuh kan, Mas bilang juga apa? Itu, karena kamu kecapean semalam, sayang.” ujar Mas Azzam menggeleng iba. Tapi aku suka perhatiannya. “Kebut banget sih ngerjainnya. Nanti Mas pijitin usai salat, yah.” ujar Masku lembut. Tuh kan, Masku pengertian banget. Betapa beruntungnya diriku ya Rabb. “Huum.” jawabku singkat sembari mengangguk dengan nada yang dimanja-manjain. Sembari beranjak dari ranjang untuk berwudhu, Mas Azzam mencuil pucuk hidungku manja dengan ujung telunjuknya. ‘Uuh, menggemaskan sekali suamiku.' Aku kembali menarik selimut dan berbaring. Tentu saja melanjutkan tidur beberapa menit lagi. s**l, tak bisa, karena merasa tak enak hati menunda waktu salat. Aku menyipitkan mata mengintip Mas Azzam dari balik selimut. Kulihat, Mas Azzam sudah berwudhu dan rapi dengan jubahnya. Wajahnya terlihat segar dan cerah, auranya semakin terpancar disebabkan bekas air wudhu. Lalu memakai kopiah dan mengambil sajadah di ladder hanger. Sebelum pergi kemasjid, Mas Azzam menatapku yang masih berkemul dibalik selimut. "Mas ke masjid dulu, yah. Ingat, salatlah tepat waktu" ujarnya masih memamerkan senyum terindah yang ia punya. Kubalas anggukan membalas senyumnya. Suamiku memang berjiwa seteduh dan selembut itu. Sifat yang selaras dengan namanya . Itulah mengapa wanita yang konon katanya sedang hijrah, tapi susah istiqamah ini terpesona padanya. ic_default
Karena kamu suka Pernikahan, mungkin kamu suka ini juga:
Pernikahan