Telepon itu datang pukul lima kurang sepuluh menit pagi, dan Sekar Adwitya sudah bangun. Ia selalu bangun sebelum dunia menuntutnya. Di apartemen sewa yang nyaris kosong—satu meja, satu kursi, satu rak penuh laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang sudah mati di tangannya—ia mengangkat panggilan itu sambil menatap kota yang belum menyala.
"Wanaartha," kata suara di seberang. Bankir. Nadanya seperti orang yang membaca vonis tapi berpura-pura membaca daftar belanja. "Mereka gagal bayar tahap pertama Jumat lalu. Kreditor sindikasi sudah hilang sabar. Kami butuh kamu di sana hari ini."
Sekar tidak menanyakan berapa bayarannya. Itu sudah disepakati semalam, lewat tiga pesan singkat dan satu angka yang membuat sebagian besar orang akan berterima kasih sampai menangis. Ia hanya bertanya satu hal. "Berapa banyak orang di dalamnya?"
Jeda di seberang. Orang tidak terbiasa ditanya itu olehnya. "Sebelas ribu, kurang lebih. Pabrik di pinggiran, kantor pusat, jaringan distribusi. Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Sekar, dan menutup telepon.
Sebelas ribu. Ia menuliskannya di selembar kertas, di sudut, kecil, lalu melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku jasnya. Itu kebiasaan lama. Sebelum masuk ke perusahaan mana pun yang sekarat, ia menuliskan jumlah orang yang akan terkena getahnya, dan menyimpannya di dekat dada. Bukan karena ia sentimental. Justru sebaliknya. Karena ia tahu, di ruangan tempat ia akan duduk hari ini, tidak akan ada satu pun orang yang menyebut angka itu sebagai manusia. Mereka akan menyebutnya beban gaji, kewajiban pesangon, biaya tetap. Seseorang harus menyimpan versi yang benar, sekadar untuk berjaga.
Wanaartha Manufaktur berdiri di sebuah menara kaca yang sudah tua untuk ukuran kawasan bisnis ibu kota—dua puluh sembilan lantai, sambungan aluminiumnya mulai menghitam, logo perusahaan di puncaknya menyala redup di pagi yang berkabut polusi. Di lobinya, Sekar disambut seorang sekretaris yang wajahnya pucat seperti orang yang sudah tiga malam tidak tidur. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga. Yang ada hanya bau cemas yang tipis, bau yang ia kenali di setiap perusahaan yang utangnya jatuh tempo: kopi yang terlalu sering diseduh ulang, dan keringat orang-orang yang takut kehilangan kursi.
Mereka membawanya bukan ke ruang rapat besar di lantai puncak, melainkan ke ruang kerja sempit di lantai delapan belas tempat Direktur Keuangan menunggu dengan setumpuk map. Lebih cepat, kata sekretaris itu. Lebih sopan, pikir Sekar; mereka belum siap menunjukkan padanya seluruh dewan sekaligus. Mereka ingin menakar dulu seberapa berbahaya dokter yang dikirim para kreditor ini.
Damianus Tanu berdiri saat Sekar masuk. Lelaki itu sekitar lima puluh, rambut disisir rapi ke belakang, jam tangan yang harganya sama dengan gaji setahun seorang operator mesin di pabriknya sendiri. Senyumnya terlatih. "Bu Sekar. Kami sudah banyak mendengar."
"Saya yakin tidak semuanya menyenangkan," kata Sekar. Ia tidak duduk. Ia berjalan ke jendela dan menatap ke bawah, ke jalan yang mulai macet. "Tolong jujur sejak menit pertama, Pak Damianus, supaya kita tidak buang waktu. Kas perusahaan tinggal berapa?"
Senyum itu berkedut. "Cukup untuk operasional."
"Berapa minggu?"
Jeda. "Empat. Mungkin lima kalau kami tahan pembayaran ke beberapa pemasok."
Sekar mengangguk pelan. Empat minggu. Artinya satu siklus gaji, mungkin dua kalau dipaksakan. Setelah itu, kalau tidak ada yang berubah, sebelas ribu orang akan pulang membawa amplop terakhir yang tidak penuh. Ia tidak mengatakan itu. Ia hanya menerima map yang disodorkan dan mulai membaca, berdiri, di dekat jendela, di mana cahaya paling terang.
Laporan itu seperti tubuh yang sedang ia bedah tanpa bius. Utang jangka pendek menumpuk seperti retak di tulang. Piutang yang macet. Persediaan yang menggunung di gudang—berarti barang dibuat tapi tidak terjual. Dan di bagian bawah, deretan pinjaman baru dengan bunga yang membuat alisnya naik satu milimeter, satu-satunya gerakan di wajahnya selama lima belas menit terakhir.
"Pinjaman ini," katanya tanpa menoleh, menunjuk satu baris. "Diteken empat bulan lalu. Bunganya hampir dua kali lipat di atas pasar. Kalian setuju membayar bunga semahal ini?"
"Kami tidak punya pilihan," kata Damianus. "Bank-bank besar sudah menutup keran. Ini satu-satunya yang mau memberi dana cepat."
"Siapa yang memberi?"
"Sebuah dana penyertaan. Lewat perantara."
Sekar menutup map itu pelan. Ia menyimpan pertanyaan itu—siapa yang dengan senang hati meminjamkan uang mahal kepada perusahaan yang hampir mati, dan kenapa—di tempat yang sama dengan kertas berisi angka sebelas ribu. Di dekat dada. Untuk berjaga.
Mereka akhirnya membawanya ke ruang rapat besar menjelang siang, dan di sana, untuk pertama kali, ia melihat seluruh dewan. Tetapi Sekar tidak masuk seperti pesakitan yang dipandang algojo. Ia masuk seperti algojo yang sedang menakar leher. Ada belasan orang, sebagian besar lelaki di atas lima puluh, dan di ujung meja duduk sosok yang membuat seluruh ruangan terasa berbeda: seorang lelaki tua bertubuh kurus, kulit ditarik tipis di atas tulang pipi, mata yang pernah membangun pabrik dari satu gudang sewaan dan kini menatap perempuan asing yang dikirim untuk membongkarnya.
Widya Wanaartha. Sang pendiri. Tujuh puluh satu tahun, dan tatapannya mengatakan bahwa ia lebih suka mati daripada menyerahkan kunci kerajaannya kepada orang luar bayaran.
"Saya tahu apa yang kalian dengar tentang saya," Sekar membuka, suaranya rata, tanpa basa-basi, tanpa permintaan untuk disukai. "Kalian dengar saya tukang jagal. Bahwa di setiap perusahaan yang saya datangi, ada yang berdarah. Itu sebagian benar. Tapi saya ingin kalian mengerti satu hal sejak hari ini." Ia meletakkan map tipis di meja, tidak dengan dramatis, hanya meletakkannya. "Tukang jagal datang untuk memotong dan menjual. Saya datang untuk membedah dan, kalau masih ada yang bisa diselamatkan, menjahitnya kembali. Perusahaan ini punya kas untuk empat minggu. Utang yang jatuh tempo dalam tiga. Dan sebelas ribu orang yang pagi ini berangkat kerja tanpa tahu bahwa hidup mereka sedang ditimbang di ruangan ini."
Widya Wanaartha tidak berkedip. "Dan kamu pikir kamu bisa menyelamatkan apa yang sudah saya bangun empat puluh tahun?"
"Saya belum tahu, Pak," jawab Sekar jujur. Itu yang membuat orang takut padanya—bukan kesombongannya, melainkan kejujurannya yang dingin. "Saya baru tahu setelah saya buka semuanya. Tapi saya bisa janji satu hal. Saya tidak datang untuk disukai siapa pun di meja ini."
Malam itu, di apartemennya yang kosong, Sekar mengeluarkan kertas terlipat dari saku jasnya. Sebelas ribu. Ia menatapnya lama. Lalu di bawahnya ia menuliskan satu baris lagi, kecil, untuk dirinya sendiri: siapa yang meminjamkan uang mahal kepada orang yang sekarat? Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa pekerjaan ini tidak sesederhana memangkas sampai ke tulang.