Hujan selalu tahu ke mana harus jatuh.
Sedangkan aku, bahkan tidak tahu ke mana harus pulang.
Aku berdiri di halte yang hampir kosong, membiarkan rintik gerimis yang jatuh seperti benang-benang tipis dari langit kelabu membasahi ujung flatshoes pink pastel favoritku. Atapnya dari seng tua, sedikit berkarat di beberapa sudut, mengeluarkan suara ”Tik...tik...tik..” pelan setiap kali air hujan menetes lebih deras. Bangku panjang di dalamnya tampak basah di bagian ujung, seolah sudah terlalu sering menahan hujan yang datang tanpa janji. Langit sore itu bewarna abu-abu, seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dijatuhi sekaligus.
Di seberang jalan, lampu kendaraan memantul samar di aspal yang mengilap, seperti cermin yang retak. Sesekali angin menyelinap masuk, membawa aroma semerbak tanah basah dan dingin yang menggigit kulit. Di sela hembusannya, sekelebat memori buruk datang tanpa diundang—suara pintu dibanting, kalimat yang tak selesai, dan tatapan yang lebih tajam dari hujan itu sendiri.
Ponselku bergetar. Pesan dari Ibu.
Aku menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol silent. Tak lama, layar ponselku hidup menandakan sebuah notifikasi masuk.
Pulang sekarang.
Aku menghela napas pelan, kata itu selalu terdengar asing bagiku. Rumah yang dianggap tempat pulang tanpa syarat justru bagiku hanyalah sekumpulan dinding yang berdiri kokoh, dimana tawa terdengar asing dan keheningan yang terlalu akrab untuk diabaikan. Pertengkaran di antara sepasang manusia yang pernah saling jatuh cinta, cacian dan sumpah serapah yang entah bagaimana masih terdengar seperti puisi romantis—terucap dari bibir yang dulu saling menyebut nama dengan lembut, kini saling melukai tanpa ragu.
Alih-alih segera pulang, aku memilih melangkah ke dalam gerimis yang kian lebat, seolah ingin tenggelam di dalamnya—membiarkan tubuh mungilku yang terbalut cardigan pink dengan perpaduan dress putih favoritku basah tanpa peduli. Aku mempercepat langkahku dengan berlari kecil menuju tempat dimana dadaku terasa sedikit lebih tingan.
Pantai, dimana suara debur ombak yang tak pernah benar-benar berhenti berpadu dengan partikel air yang jatuh dari langit menenggelamkan hiruk pikuk kota sesuatu yang samar, lalu hilang sepenuhnya. Aku duduk di atas batu besar menatap lekat pada hamparan laut biru yang luas, air hangat jatuh membasahi pipiku menembus dinginnya hujan. Di sini tak seorang pun menghakimi ku, tak seorang pun akan bertanya kenapa aku datang dengan mata sembap atau wajah yang lelah, aku tak perlu menjelaskan kenapa aku menangis.
”Kalau laut bisa bicara, kira-kira dia bakal bilang apa?” Aku tertawa kecil mendengar pertanyaanku sendiri. Lalu memandang garis cakrawala yang perlahan menghilang ditutupi awan kelabu.
“Dia pasti capek dengerin keluhanku.”
Ombak datang dan menghantam batu dibawah kakiku. Seolah menjawab pertanyaan konyolku—angin laut menyapu pelan rambut ku, membawa aroma asin yang selalu berhasil menenangkanku. Aku menarik napas panjang, membiarkan dingin hujan meresap sampai ke kulit. Dan untuk beberapa menit, dunia benar-benar terasa hanya terdiri dari aku, laut, dan hujan. Sampai akhirnya—
”Orang gila darimana yang hujan begini gak neduh.”
Suara itu memecah hening dengan nada datar yang terdengar seperti sebuah komentar, bukan pertanyaan. Aku tersentak, lalu menoleh cepat. Seorang pria berdiri di belakangku, mengenakan jaket kulit berwarna coklat dengan rambut sedikit berantakan. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh hujan, tapi anehnya aku tidak ingat kapan dia datang. Seolah memang sudah ada di sana sejak awal.
”aku nggak gila kak,” jawabku pelan
Dia mendengus pelan, lalu melirik ke arah laut.
”Ya semua orang yang duduk di batu waktu hujan juga biasanya bilang begitu.”
Aku hanya tersenyum, lalu memalingkan wajah darinya. Dia menarik napas, lalu akhirnya ikut duduk bersamaku.
”Kenapa di sini?” kali ini nadanya sedikit lebih rendah.
Aku hanya memasang ekspresi ragu untuk menjawab pertanyaannya, karena jawaban jujur terdengar terlalu panjang untuk orang yang bahkan belum aku ketahui namanya.
”Tenang aja,” lanjutnya cepat, seolah refleks, “aku cuma heran. Laut kan nggak bakal pindah ke mana-mana.” Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan, agak ketus, ”Serius, hujan begini duduk di batu itu nggak masuk akal. Kalau jatuh nanti ngerepotin tim SAR.”
Aku menatapnya.
”Kamu peduli kak?” tanyaku pelan, setengah bercanda untuk memecah suasana.
Dia langsung mengalihkan pandangan. ”Siapa yang peduli, aku cuma nggak mau kamu nambahin kerjaan tim SAR. Ini laut bukan kolam renang anak TK.”
”Tenang aja kak,” jawabku datar. “Aku belum ada niat jadi headline berita besok. Lagipula aku nggak butuh diselamatkan.”
Sudut bibirnya terangkat. Bukan tersenyum, lebih seperti reaksi kecil yang sulit di tebak. “Hm.” Ia mengeluarkan suara, terdengar hampir seperti tawa yang di tahan. ”Alasan aneh, kebanyakan orang yang bilang begitu biasanya orang yang paling perlu diselamatkan.”
Aku terdiam. Angin laut kembali berhembus, lebih dingin dari sebelumnya. Beberapa detik hening, sebelum akhirnya aku menoleh lagi ke arahnya. “Nama kamu siapa?” tanyaku pelan.
Dia menatapku sebentar, tenang. Bahkan terlalu tenang. “Raka.”
Aku hanya diam, tidak langsung menjawab. Nama itu terdengar asing tapi tidak sepenuhnya baru, seperti sesuatu yang pernah ada di ujung ingatan namun tak pernah benar-benar kupegang.
“Kamu Kaluna, kan?” ucap pria itu sembari mengernyitkan alisnya bertanya padaku.
”Kamu tahu dari mana?” aku memasang raut wajah kebingungan, sedangkan Raka hanya mengangkat bahu ringan.
”Kelihatan aja.”
”Kelihatan?”
”Orang yang duduk di pantai waktu hujan biasanya punya alasan, dan kamu kelihatan kayak lagi kabur dari sesuatu.”
Kalimat itu membuatku terdiam, bukan karena dia salah tapi terlalu tepat. Angin laut kembali berhembus, aku merapatkan cardigan pink-ku sedikit, meskipun itu tidak benar-benar membantu.
”Semua orang juga kabur dari sesuatu,” jawabku akhirnya.
”Tapi nggak semua orang kaburnya ke tempat yang sama.” ucapnya sambil melirik sekilas ke arahku.
Hening kembali jatuh di antara kami, tidak tahu harus menjawab apa. Aku menatap laut yang kabur oleh hujan. Ponselku bergetar lagi, aku tahu siapa. Aku menatap layar beberapa detik, waktu menunjukkan pukul 17.30.
Kenapa belum pulang? Pulang sekarang juga.
Aku menatap layar ponsel itu lama, jemariku mengenggam erat ponsel berukuran 6 inci itu. Layar itu terasa terlalu terang di tengah hujan, seperti memaksa aku kembali ke tempat yang tidak ingin aku sebut rumah. Raka menatap ke arah ponselku lalu tanpa aku sadari.
“Disuruh pulang?” suara Raka memecah keheningan.
”iya.” aku mengangguk pelan.
”Ya sudah pulang.”
”Kalau aku nggak pulang mereka pasti nggak akan ribut.”
”Di mana-mana ribut itu tetap ribut,” katanya datar. ”Mau kamu ada atau nggak, ributnya tetap jalan.”
Aku terdiam, angin laut membuat ujung rambutku menempel di pipi. Aku menyelikannya ke belakang telinga.
“Kak Raka,” panggilku akhirnya
“Iya?”
“Kalau ada di posisiku, kakak bakal pulang?” tanyaku, Raka diam cukup lama, seperti memikirkan sesuatu yang tidak sederhana.
”Enggak tahu, tergantung rumahnya masih bisa jadi tempat pulang atau nggak.”
Aku menunduk, ponselku kembali bergetar untuk ke sekian kalinya. Isi pesan yang tetap sama ditambah isi hati Ibu yang dilampiaskan padaku usai bertengkar dengan suaminya. Aku mematikan layar ponselku tanpa membalas pesan tersebut.
”Kalau disini terus, nanti makin malam. Aku juga gamau besok pagi ada berita orang pingsan di sini.” Raka memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan.
”Gampang banget ngomongnya.” aku berdiri menepis butiran pasir yang menempel di dress putihku yang basah. Raka tidak langsung menjawab, matanya tetap ke arah laut seperti kalimatku baru saja lewat tanpa perlu ditangkap.
”Memang gampang.” Dia mengangkat bahu kecil. “Yang bikin susah itu kalau kamu terlalu banyak mikir.”
Aku terdiam, bukan karena jawabannya benar tapi karena terdengar seperti sesuatu yang sering aku pikirkan sendiri.
”Kalau besok aku datang lagi, kakak masih ada?”
”Aku nggak ke mana-mana, selama kamu masih ingat aku.” ucapnya pelan, seperti bukan jawaban untukku tapi untuk dirinya sendiri juga. Raka ikut berdiri menepis pasir pantai yang menempel di celanannya.
”Terus kakak mau ke mana?” tanyaku, yang dibalas tunjukkan pelan ke arah jalan kecil di belakang pantai.
”Ke rumah, tempat untuk berteduh.”
Aku menggangguk kecil, lalu melangkah mengikuti Raka. Gerimis masih turun pelan, seperti ragu untuk berhenti sepenuhnya, menyisakan suara halus di jalanan yang sepi. Raka ada di sebelahku, langkahnya santai, tangan dimasukkan ke saku jaketnya.
Kami melewati jalan kecil menuju area pemukiman, di depan kami ada beberapa orang yang lewat. Seorang ibu membawa belanjaan, dua remaja yang tertawa kecil. Aku sempat menoleh ke Raka, namun tak seorangpun menoleh ke arahnya. Aku hanya mengerjap pelan.
”Rumah kakak masih jauh?”
”Enggak,”
Aku dan Raka melanjutkan perjalanan, setelah lama berjalan aku merasa seakan berjalan tanpa arah yang jelas. Aku merasa lelah berjalan sempoyongan namun tidak dengan raka, langkahnya masih tetap sama.
”Enggak itu berapa lama lagi kak? Lima menit? Satu jam?”
Raka melirikku sekilas. ”Tergantung kau jalan di mana.”
”Jawaban kakak selalu nggak jelas.”
”Biar kamu nggak gampang nebak.”
Aku menggeleng kecil, tapi tanpa sadar tersenyum.
Aku dan Raka berhenti di persimpangan kecil, ia menunjuk ke arah gang di sebelah kiri. Gang itu sedikit gelap tapi masih terlihat rumah-rumah kecil di dalamnya.
“Lewat sini.”
”Di situ rumah kakak?” tanyaku, yang dibalas anggukan oleh Raka.
”Kenapa tadi kakak ada di pantai?”
Raka menoleh pelan. ” Karena kamu juga di situ.”
”Kalau aku nggak ke pantai tadi, kakak di mana?”
”Di tempat yang sama,”
”Maksudnya?”
”Ya di tempat yang sama,” ulangnya santai.
Aku dan Raka berhenti di depan rumah sederhana, tidak besar, tidak terang. Lampu terasnya padam, hanya menyisakan siluet bangunan yang samar di balik rintik gerimis yang turun pelan.
”Masuk.”
Aku menunduk ragu, memainkan ujung cardigan ku.
”Kalau aku masuk, nanti aku harus pulang sendiri?”
Raka menoleh pelan.
”Kenapa? Kamu takut nggak bisa pulang?” ucapnya, sembari membuka pintu rumah.
”Ayo Masuk.”
Aku mematung di ambang pintu. Angin dari luar masih menyentuh kulitku, dingin, basah, sebelum akhirnya melangkah masuk. Lantai di dalamnya kering, lebih hangat dari luar. Sunyi, seperti rumah yang memang jarang berisik. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya ruang sederhana dengan cahaya lampu kuning redup dan udara yang terasa tenang. Di luar, hujan masih terdengar pelan dari jendela tapi di dalam sini semuanya terasa jauh seolah dunia di luar hanya suara yang tidak benar-benar sampai ke sini.
Ruang tamu itu sangat sederhana. Sofa berwarna gelap diletakkan tepat menghadap meja kecil di tengah ruangan. Tidak ada karpet besar, tidak ada dekorasi mewah, hanya di dinding jam bundar tergantung sendirian. Jarumnya berdetak pelan, tiap detaknya terdengar jelas beradu dengan rintik hujan.
Aku duduk di sofa itu tanpa diminta oleh Raka, sedangkan ia berjalan menuju dapur. Langkahnya tidak tergesa, hanya perlu beberapa langkah kaki untuknya dengan tingginya yang sekitar 170 cm itu. Anehnya aku sama sekali tak mendengar pergerakkan apapun di arah dapur, tidak ada suara pemanas air, tidak ada bunyi gelas yang diletakkan, tidak ada suara lemari dibuka. Aku mencoba mendekat, tapi Raka seakan mengetahui langkahku dengan cepat menutup pintu. Aku hanya mendengus kesal dan kembali duduk, mataku kembali mengamati sekeliling.
”Nyaman?” suara Raka muncul dari arah dapur, berjalan ke arahku dengan memegang segelas s**u hangat dan duduk di sebelahku. Aku hanya membalas pertanyaan Raka dengan anggukan pelan.
“Minum.” Raka menyodorkan segelas s**u hangat itu untukku. Aku menerimanya pelan, hangat dari gelas itu terasa nyaman.
”Terima kasih.”
Raka tidak langsung menjawab, tatapannya justru turun ke arah bajuku yang masih basah.
”Dingin nggak?”
Aku melihat dress dan cardigan-ku yang sudah basah kuyup. “Lumayan.”
“Tunggu.”
“Mau ngapain kak?”
“Nyari baju.”
“Baju siapa?” aku mengernyit.
”Baju yang bisa kamu pakai.”
Beberapa menit kemudian Raka kembali membawa sebuah kaos hitam kebesaran dan celana training abu-abu.
”Pakai dulu, nanti sakit.”
”Ini baju kakak?” Aku mengambil satu set pakaian itu, mengamati ukuran kaos yang oversize bagiku.
”Kamar mandi di sana.” Raka menunjuk satu pintu yang berada tepat di sebelah pintu dapur.
Aku berdiri, lalu berhenti. ”Kalau aku kabur bawa baju ini gimana?”
”Silakan, anggap saja sumbangan buat orang gila yang nggak tahu caranya berteduh dari hujan.” Raka hanya menatapku datar.
”Nyebelin.”
”Besok kamu masih ke pantai?” tanyanya mengalihkan .
Aku menggeleng pelan. ”Nggak tahu.” ”Kakak selalu ngajak orang asing ke rumah?” sambungku cepat.
”Enggak, kamu bukan orang asing.”
Aku tak merespon ucapannya, hanya menatap ke arah Raka, lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Dan untuk pertama kalinya aku merasakan seperti sudah pernah di sini sebelumnya, tempat ini terasa familiar. Bukan seperti berkunjung tapi lebih seperti pernah tinggal.