Di Jakarta perjalanan mereka di mulai. Egi, Calista, Nathan, Anggun, Gery dan Pricil melepas kacamata hitamnya saat tiba di kediaman rumah keluarga besar mereka yang akhirnya pulang ke Indonesia.
Saat ketiga mobil sport hitam, putih dan merah terparkir di pekarangan rumah mewah yang memiliki halaman luas telah disambut oleh para orang tua. Calista masih terdiam di dalam mobilnya saat Egi beranjak turun dan berlari memeluk mama serta papanya. Hal ini juga dilakukan oleh mobil putih milik Nathan serta Anggun yang keluar memeluk orang tuanya masing-masing juga Gery bersama Pricil di mobil merah maroon paling belakang.
"Momi... Pricil kangen sama momi," seru Pricil memeluk momi Indah.
"Iya sayang, momi juga kangen," Indah yang dipanggil momi sama Pricil sejak kecil itu juga memeluknya dan menciumi pipi anaknya.
"Sama papi nggak kangen? Kok cuma momi aja yang dipeluk gitu?" kata papi seraya melebarkan tangannya seolah sedang menunggu pelukan dari putri tersayangnya. "Ah, gimana nggak kangen udah tiga tahun nggak ketemu papi dan momi."
"Mama sama papa akan tinggal di sini semua sama orang tuanya Pricil, Anggun, Nathan, dan Egi?" tanya Gery saat ia berada di tengah-tengah papa dan mamanya.
"Iya sayang, kita akan mengerjakan bisnis. Kalian semua tinggal di sini, tapi papa dan mama dengan yang lain hanya bermalam saja menyambut kehadiran kalian," jawab papanya Gery yang bernama Grelano.
"Ya, trus kalian semua mau tinggal di mana?" Anggun menyahut dan menatap bete kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, mukanya kok bete ditekuk gitu? Ini mami sama papa baru ketemu loh, kita bakal sering jenguk kalian sambil kerja. Mama papa dan yang lain akan tinggal di apartemennya Om Beta."
Om Beta itu papanya Egi. "Iya, bukannya Egi sudah memberitahu kalian?" tanya Om Beta.
Egi yang masih berada di dekapan mamanya hanya diam saja. Sesungguhnya ia terus memperhatikan mobilnya, tapi ia bingung ingin memulai perkenalan ini dari mana?
"Woi pangeran es, bengong mulu? Lihatin mobil? Tuh, cewek lo nggak mau disuruh turun kenali sama bokap nyokap lo kali, nggak usah malu kucing!" Nathan tertawa, ia melihat wajah Egi sedang muram sambil menatapnya tajam.
"Loh, iya, Egi udah ada cewek baru pengganti Alana? Mana anaknya sayang, mama mau kenalan dong?" tanya mama Tara, mamanya Egi yang saat ini menatap putranya.
Egi menghembuskan napas pelan, ia pun mengangguk tanpa mengatakan sepatah apa pun berjalan ke arah mobilnya dan membukakan pintu untuk tuan putri. Namun, Calista masih tidak mau keluar dari mobilnya.
"Keluar!" kata Egi seperti sebuah perintah.
"Pangeran es yang kalem dong ngajakin ceweknya!" Nathan selalu saja usil dan tidak bisa diam, sudah biasa baginya seperti ini walau ada orang tua mereka yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.
"Anakmu itu mirip kayak kamu, mas," kata Tara seraya terkekeh geli memperhatikan Egi untuk mengajak kekasihnya turun dari mobil.
"Anakmu juga!" Beta terkekeh pula.
Egi melototi Nathan dari jauh, tetapi ia melihat ke arah Calista lagi dengan tatapan melembutnya. "Elssa, papa sama mamaku ingin bertemu denganmu. Ayo, berjalan dan bergandengan tangan denganku?" ajak Egi dengan suara melembut.
Calista tersenyum, perasaannya gugup. "Kalau gugup gimana, Gi? Aku takut mereka akan ngusir aku soalnya aku dari keluarga nggak jelas," lirih Calista yang menunduk sedih.
Egi pun berjongkok untuk bisa menyamakan posisi wajahnya dengan Calista. "Elssa dengarkan aku, mereka semua baik dan mau menerimamu. Percayalah, kamu adalah keluarga terpandang dan orang tua kamu telah menitipkan kamu kepadaku, itu janjiku dan sebuah amanat yang harus aku pegang teguh sebagai lelaki sejati."
Calista tersenyum mengangkat wajahnya sambil nyengir haru. "Baper Egi, tapi aku belum siap ketemu mereka semua. Nanti Nathan godain aku lagi," gumam Calista yang lagi-lagi kurang percaya diri.
Egi pun menghembuskan napasnya. "Yaudah kalau nggak mau ketemu mereka dulu," jeda Egi dengan wajah melasnya.
Tiba-tiba Calista menjerit. "Adaww.. Egi aku terbang! Turunin ih, malu." Calista sempat memberontak sembari menutup matanya, namun Egi yang tersenyum miring tetap bersikukuh untuk memaksa dan menggendong Calista di pelukannya.
"Salah siapa bandel juga," lanjut Egi sambil tersenyum miring ia berjalan ke arah kedua orang tuanya, membiarkan Calista menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sampai ia turunkan di depan papa dan mamanya berdiri penasaran.
"Anakmu mirip kamu pa, pemaksa. Udah nggak dingin kalau gini," kekeh Tara membuat Beta ikut terkekeh geli. "Anakmu juga, ma."
Calista yang mendengar perdebatan kecil itu perlahan membuka jari-jarinya yang menutupi wajah. "Buka matanya, Elssa."
"Halo cantik, namanya Elssa, ya?" sapa Tara seraya tersenyum manis.
Calista tersenyum kikuk, semua para orang tua sedang memusatkan perhatian padanya. "Om, tante, nama saya Calista Elssa. Teman-teman yang lain panggil saya Calista, tapi Egi panggil saya Elssa katanya biar inisial depannya sama hehehe," ujar Calista dengan jujur.
Beta menaikan alisnya heran, ia menatap Egi yang justru menggaruk kepalanya bingung mendengar pengakuan jujur dari Calista. "Yaudah, panggil mama sama papa aja. Mama Tara panggil kamu Elssa juga, ya? Soalnya anak mama namanya kan juga inisialnya Egi sama kek kamu, sayang," jawab Tara seraya menyuruh Calista untuk maju ke arahnya.
Calista pun mengangguk dan menuruti permintaan Tara, tanpa ia sangka mamanya Egi memeluknya dan berkata, "selamat datang sayang di keluarga besar kita. Jangan malu-malu dan anggap kita juga mama papa kamu, kita semua keluarga sayang. Kamu akan menjadi anggota dari kita."
Calista bersorak ria di dalam hatinya. Hangatnya dipeluk oleh Tara, membuat hati Calista teriris. Sudah berapa lama ia tidak merasakan pelukan dari bundanya? Gadis itu justru menangis haru hingga sesenggukan.
"Calista kok nangis?" celetuk Anggun saat melihat Calista di pelukan Tara sedang meneteskan air matanya.
Tara kelabakan langsung melepaskan pelukannya dan melihat wajah putrinya itu. "Sayang? Kamu kenapa? Kok sedih? Nggak seneng, ya?" Tara bertanya dengan cemas.
Calista sendiri bingung, kenapa ia bisa seperti ini. Gadis itu pun melempar tatapannya kepada Egi agar laki-laki itu bantu menjelaskannya. Saat tahu arti tatapan Calista, Egi pun mendekati kekasihnya yang terlihat terguncang.
"Mama, papa, mungkin Elssa masih trauma dan kangen sama kehangatan keluarganya. Jadi, biarin Elssa nangis, ya? Egi akan menenangkannya. Ayo masuk, Elssa kita istirahat di dalam."
Calista pun mengangguk, mengikuti langkah Egi memasuki rumah minimalis yang besar seperti mansion ini adalah milik mereka bersama.
Sedangkan mama dan papanya Egi hanya bisa menatap prihatin. "Kasihan Elssa, pa. Gadis itu cantik, polos dan jujur. Matanya indah, dan dia bukan gadis biasa, pa. Mama bisa lihat ada garis keturunan dari lipatan dahinya."
Beta mengangguk. "Egi sudah cerita, Elssa punya kemampuan sama seperti kita semua, ma."
"NATHAN, JANGAN DI MAININ KOPER DORAEMONKU!" Pricil sudah berlarian saja di dalam rumah mansion saat Nathan kembali mengusilinya dengan berbagai cara.
"Kejar cebol, lo nggak akan bisa dapatin ini koper kalau nggak nangkep gue dulu!" Nathan menjulurkan lidahnya, ia berlari liar seperti singa di hutan sembari menyeret terus koper milik Pricil sampai ke halaman belakang.
Tetapi usaha Pricil akhirnya ada yang membela. Bukan Gery, karena laki-laki itu hanya terkekeh sambil melihat aksi jahil Nathan seperti biasa. Beginilah mereka, para orang tua juga sudah memahami keadaannya.
"NATHAN, HATYAHHH!"
"Aduh, Anggun sakit!!!"
"Mampus lo! Hahaha, enak tuh tonjokan dari Anggun, makanya jangan main-main sama kekuatan para ladies!" seru Pricil seraya berlari menghampiri Anggun yang mulai mengeluarkan jurus taekwondonya itu.
"Meskipun lo pacar gue, Nath! Jangan main-main sama sahabat gue kalau nggak mau dihajar sama gue!" sengit Anggun seraya terkekeh geli melihat ekspresi masam kekasihnya itu.
"Ampun, deh, ampun ladies!" Nathan seperti ikan takut dengan pancingan. Yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terkekeh dan geleng-geleng kepalanya dengan kelakuan anak mereka.
"Ayo makan, para mama, momi, mami sudah menyiapkan semua masakan lezat untuk kita makan besar!" teriak Tara, Indah, Angel dan Keisha para ibu dari anak-anak mereka.
Keluarga itu kembali bersatu, berkumpul dan berbagi cerita canda tawa. Calista juga sudah mulai akrab dengan mama Egi, kalau papanya sih mirip banget sama Egi pendiam gitu.
"Elssa, kamu gimana ceritanya bisa sampai jadi kekasih Egi? Ini kita pulang kesini juga karena Egi memaksa mama dan mencari pekerjaan di Indonesia, lalu minta di daftarin kuliah dan menganggap kamu sebagai anggota kita juga. Mama bingung awalnya, tapi begitu ketemu kamu, mama yakin kamu punya cara buat naklukin Egi. Dulu mama juga gitu sama papanya Egi, sulit ditaklukin."
Calista terkekeh geli mendengar celotehan Tara. "Ma, awalnya baik pas ketemu Calista. Tapi lama-lama dia nyebelin sih, trus nggak tahunya bisa jadi begini."
Mata Tara melotot. "Begini? Begini gimana maksudnya? Apa jangan bilang kamu di beginiin sama Egi?" Tara membekap mulutnya saat ia mempraktekan kedua tangannya di dekat perut.
Calista yang bingung hanya mengerjapkan matanya lucu. Keluarga lain juga tidak bisa menahan tawanya melihat mereka. "Mama, makan dulu. Jangan banyak ngomong. Kok gitu banget ke Elssanya, mana mungkin Egi begitu, sih!" protes Egi sambil berdecak kesal.
Melihat putranya protes, Tara justru tertawa sembari menepuk pundak suaminya. "Papa, anakmu lucu juga udah gede itu tahu begituan."
"Hush, mama makan, nanti keselek loh!" peringat Beta membuat Tara cemberut dan mengetuk-ngetuk sendoknya di atas piring.
"HAHAHA," mereka semua para orang tua tertawa meledek Beta dan Tara yang selalu saja menggemaskan. Kini ruang makan yang dipenuhi oleh banyak menu menjadi hal gosip riah antara para orang tua, sedangkan anaknya hanya bisa saling menggoda membuat keributan seperti Nathan dan Pricil yang ribut perang sendok. Gery dan Anggun sampai kewalahan memisahkan keduanya dengan gemas. Calista hanya bisa tersenyum kikuk melihat berbagai pemandangan di tempat ini.
"Habis makan main ke taman belakang, yuk?" bisik Egi dan Calista pun tersenyum sambil mengangguk antusias.
***
Gedung tinggi yang menjulang dan berdiri kokoh di depan mereka membuat langkah kaki keenamnya berhenti. Keenamnya yang saling merangkul kini sedang menatap ke arah depan dan menelusuri sampai mendengak ke atas. Sudah mereka tempatkan pikiran dan mata pada gedung di depannya seperti menatap keagungan gunung.
"Kita akan jadi mahasiswa di kampus ini?" tanya Pricil setelah mereka melepaskan rangkulannya pada pundak samping kanan kirinya.
Gery mengangguk. "Akankah perjalanan kita bisa berjalan normal di sini dan benar-benar melupakan kemampuan kita ini?" tanya Gery juga.
Nathan menggeleng samar. "Gue nggak tahu, yang penting gue bisa hidup sama Anggun di sini."
Anggun melirik Nathan sekilas. "Gue mau jadi normal dulu, jangan membuat mereka semua curiga pada kita. Tetap seperti ini menjadi pasena, pasukan enam yang bersaudara. Jangan pernah takut menghadapi lingkungan di sekitar kita. Tetap fokus saja ke depan, biarkan saja bisikan jahat di sampingmu yang ingin mengelabuhi. Mereka hanya mengganggu, asal kita masih bisa menjalani rutinitas ini dengan benar."
"Benar, gue mau jadi salah satu bagian dari para almamater itu."
Egi juga bersuara. Sedangkan Calista hanya bisa tersenyum sejak tadi sambil memperhatikan kelima sahabatnya yang sudah dianggap saudara itu. "Kita melangkah bersama, untuk ospek pertama ini. Semoga semua dilancarkan. Semangat kita adalah perjuangan pertama dan terakhir."
"AYO!" seru Nathan yang sudah berjalan dengan langkah lebarnya memasuki arena kampus tempat mereka akan mengabdi.
Tatapan demi tatapan mereka dapati saat keenamnya menjejakan kaki di lingkaran maba alias mahasiswa baru. Kegantengan dan kecantikan mereka di puji, sampai para mata itu tidak mau memutuskan pandang. Bahkan salah satu panitia juga ikutan terbengong. Berbeda lagi seorang Presiden BEM mereka yang berdiri di atas podium kini sedang menabur seluruh pandangannya pada barisan mereka.
"Kalian semua yang terlambat, boleh naik di atas sini?!" pasalnya, keenam manusia itu terlambat hadir pada acara pembukaan ospek pertama tanpa ada rasa bersalah.
Wajah datar Egi, dan Gery hanya mengangguk. Nathan dengan muka tengilnya mendengus karena sejak ia memasuki gerbang pertama para panitia cewek itu tidak menegur dan hanya memandang mereka dengan terbengong saja. Anggun bersama langkah panjang yang masih mendominasi tingkah tomboy-nya tidak berhenti menatap sinis para panitia cowok yang terus saja memusatkan pandang padanya. Pricil dan Calista hanya bisa memasang wajah polos meski sesekali mereka tersenyum.
Setelah keenamnya menjadi pusat pandang dan berdiri di atas panggung, para panitia segera sadar dan bekerja pada tugas masing-masing dalam menyambut mahasiswa barunya.
"Kenapa kalian terlambat?" tanya salah satu panitia beralmamater biru itu.
Nathan mengedihkan bahu acuh, dia yang paling berani dan menatap terang-terangan para panitia itu dengan muka tengilnya. "Habisnya di luar kenapa nggak diomelin juga. Kita dibiarkan masuk dan kita kira karena nggak ditegor ya, nggak ada masalah dan kita nggak tahu kalau terlambat. Trus kerja kalian di depan tadi itu kayak satpam atau cuma mau jadi penyambutan para tamu?" gerutu Nathan yang sangat berani sekali menyuarakan pendapat menurut pandangannya.
"Saya kira sepenuhnya bukan salah kita juga," sahut Egi juga berkata lebih tegas.
"Jika seharusnya ada keadilan, kesalahan dari kelalaian panitia juga berhak diberikan hukuman."
Gery juga ikut bersuara, membuat para panitia dan mahasiswa di bawah sana menatap syok. Pasalnya mereka mahasiswa baru sudah berani saja melawan para seniornya.
Presiden BEM pun menengahi mereka dan berkata, "baiklah, saya akan menghukum kalian dan para panitia yang kurang benar kerjanya. Sekarang kita buka acara ospek ini. Selamat datang mahasiswa baru di kampus Gunadarma kita ini."
Akhirnya, mereka berenam mengangguk dan tersenyum tipis. Keadilan itu sesekali juga ditegakan bukan pada juniornya saja. Tapi juga pada seniornya. Di sinilah perjalanan baru mereka akan di mulai. Entah perkara apa lagi yang akan mereka dapatkan setelah ini atas keberanian mereka. Tetapi keenamnya tidak ada yang menunjukan kesan takut sama sekali. Dalam diri mereka sudah tertanam keberanian sebelum berpijak di sini. Tidak peduli tatapan orang ingin berkata apa, kebenaran dan kejujuran adalah s*****a mereka yang pertama kali mendapat sanjungan dari lelaki beralmamater gagah itu sebagai Presiden BEM mereka.
Bukannya malah memuja Presiden BEM, kebanyak para maba justru mengalihkan perhatiannya pada ketiga laki-laki yang baru saja menunjukan keberaniannya itu.
Calista, Pricil dan Anggun sampai kesal karena mereka jadi buronan pertanyaan gadis-gadis alay itu. Di sinilah ketiga gadis itu bersembunyi, taman belakang kampus yang paling sepi.
"Gila kesel banget gue sama anak Jakarta ini pada nggak bisa woles apa lihat cogan aja, emang mereka nggak tahu kita siapa woi? Dikira kita saudara Gery, Egi dan Nathan apa?" gerutu Pricil yang sudah kesal setengah mati.
Anggun yang dari tadi bergeming pun hanya bisa duduk menyandarkan bahunya di kursi putih panjang ini. Calista menghela napas perlahan, ia menatap sekeliling taman belakang kampus ini. Gara-gara dikejar oleh penggemar baru Egi, Nathan dan Gery yang terpisah oleh mereka bertiga kini tidak bisa berbuat banyak. "Kita harus sabar, ini cobaan pertama. Nggak sama hantu tapi sama manusia."
"Bener Calista, Pricil, kita mesti hati-hati. Lo nggak ngelihat sesuatu di sekitar lo tiap melewati lorong tadi, Cal?" tanya Anggun, membuat Calista tersenyum miring.
"Banyak, tapi gue berusaha buat berubah jadi manusia normal agar kita tidak terlihat aneh jika didekat mereka. Kalian ngerti, kan? Katanya kita jangan sampai berurusan sama hantu lagi?" bisik Calista membuat Pricil maupun Anggun mengacungkan jempolnya.
"Yaudah, nyari gedung fakultas kita satu persatu sekalian kenalan. Gue ada di fakultas Sastra dan itu gedungnya. Egi ngambil Psikologi ada di gedung seberangan sama gue."
Anggun mangut-mangut, mereka tengah berjalan menelusuri lorong koridor. "Sekarang kita lagi ada di mana, nih?" gumam Anggun yang melihat beberapa kelas sedang berlangsung.
"Kita lagi di fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi. Gue dan lagi-lagi ada Nathan pakai ngambil fakultas sama kek gue."
Anggun tertawa melihat ekspresi muka Pricil yang sangat lucu itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Gue senang lo satu fakultas sama Nathan, secara lo cerewet bisa jagain Nathan buat gue kalau dia genit sama cewek."
Pricil menjentikan jarinya ke udara. "Tenang aja lo, dia bakal gue jewer telinganya kalau macem-macem!" seru Pricil.
"Lo sama Gery masuk fakultas mana, Anggun?" tanya Calista.
Anggun menunjuk gedung lain yang berada di depan mereka. "Gue Ekonomi, Gery masuk Teknik Sipil dan Perencanaan."
"Tapi ingat, ini kuliah kita nggak satu fakultas semua terutama lo berdua harus hati-hati dan jaga sikap. Gue nggak mau kalau ada kasus lagi atau ada yang curiga sama kita!" sungut Pricil yang hanya bisa diangguki oleh Anggun dan Calista.
Tanpa mereka sadari kini sedang berjalan banyak sekali maba baru dari arah berlawanan. Calista yang pertama kali sadar langsung menepuk bahu Anggun dan Pricil karena ia berada di tengahnya.
"Mampus kita!" pekik Pricil seraya menepuk jidatnya.
"Hei, kalian geng PASENA saudaranya cogan, kita mau temenan dong!"
"KABURRRRR!" Mereka bertiga yang saling pandang sudah mengisyaratkan untuk berbalik lari kembali, menjauhi para gadis-gadis kurang kerjaan itu yang terus mengejarnya tanpa henti. Bukan tidak ingin berteman sama mereka, tetapi mereka berteman hanya menginginkan kekasih mereka masing-masing, bukan ikhlas ingin berteman dengan ketiganya.
Membuat Calista harus terpisah oleh kedua sahabatnya, dan kini gadis itu sedang berusaha mengatur napasnya di salah satu ruang olahroga yang terdapat banyak loker.
Suara deru napas Calista terdengar tidak teratur, Calista melihat-lihat nama loker di sana yang ia yakini milik para senior. Ada suara pantulan yang menarik perhatian Calista, ia pun berjalan mengendap. Ternyata seorang laki-laki sedang memantulkan bola basket. Calista memperhatikan laki-laki itu yang sangat serius.
"Sedang kabur dari buronan yang ingin berteman dengan lo?" Laki-laki tinggi itu tiba-tiba bersuara, membuat Calista kaget dan mundur beberapa langkah.
"Gue salah satu panitia ospek. Tapi sayangnya gue nggak ikut, karena hari ini jadwal gue latihan basket. Berhubung nanti malam giliran gue jaga, tadi sempat lihat lo dan kelima teman lo itu dihukum sama Presiden BEM. Salut aja sama ketiga temen lo yang cowok itu. Bisa seberani itu, padahal masih baru perkenalan udah begitu berani. Gue dengar nama geng kalian PASENA? Artinya apaan?"
Calista terkecekat. Kenapa bisa secepat ini mereka terkenal? Ia tidak menyangka kalau mereka menyebutnya PASENA adalah sebuah geng.
"Baiklah kalau nggak mau ngasih tahu, mau di antar gabung sama teman-teman lo yang lain? Tadi gue lihat para cowok itu sudah berkumpul mengikuti kegiatan. Kalau lo nggak ikut, bisa dapat point. Tapi tenang aja, biar gue bantuin lo agar tidak mendapat point hukuman. Mari ikuti gue!" Laki-laki itu terus berbicara dengan intonasi tegasnya.
Calista yang diam sejak tadi hanya bisa mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Walau ia sudah keringat dingin karena banyak makhluk halus berusaha membisikinya dan mengusilinya sampai ia hampir terjatuh jika kurang berhati-hati.