Sudah tiga hari berlalu dan tampaknya Esa masih belum tahu kalau Ibran keluar dari OSIS. Tepatnya belum diberi tahu karena pihak sekolah hanya mengiyakan tanpa memberi pengumuman kalau Ibran mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil ketua OSIS. Well, mungkin takut kalau Esa akan mengadu ke orang tuanya dan menimbulkan hal buruk pada keuangan sekolah. Namun, Ibran tidak peduli. Yang penting ia sudah dikatakan keluar dari organisasi berisi manusia arogan itu.
Tiga harinya terasa sangat bebas tanpa beban tugas yang selalu Esa limpahkan padanya. Namun, notifikasi pesannya sangat ramai berisi spam dari Esa yang menyuruhnya untuk datang ke rapat. Cowok itu juga banyak mengumpati Ibran. Ibran sudah tidak peduli. Biar saja Esa terjebak dengan ketidaktahuannya dan terus mengomel sampai lelah sendiri. Ibran akan senang kalau ia bisa melhat ekspresi Esa secara langsung ketika tahu bahwa Ibran berhasil melepaskan diri dari organisasi yang ia ketuai.
Sekarang adalah akhir pekan dan itu artinya Ibran tidak sekolah. Meski begitu, ia tetap bangun pagi karena Anta harus diberi makan. Ibran tidak tahu sistem kerja lelaki itu bagaimana. Sebagai seorang pemilik mall besar seperti Anta, ia cenderung orang yang seenaknya sendiri. Ia hanya masuk kerja saat ingin. Dan saat malas ia akan bermalas-malasan di apartemen. Untung saja bisnisnya sukses, kalau tidak pasti lelaki itu sudah dicoret dari KK Mahawira.
Ibran tersenyum senang sambil menatap makanan di atas meja. Ada tumis kangkung dan juga sayur sop. Ini pertama kalinya ia memasak makanan selain nasi goreng dan omelet. Entah bagaimana rasanya. Toh, kalaupun rasanya terlalu asin atau hambar, Anta akan tetap makan. Lelaki itu tidak rewel soal makanan. Asal rasanya tidak sampai membuat ia muntah. Anta itu orang yang menghargai kerja keras orang lain. Akan sangat beruntung wanita yang bersanding dengan Anta nanti.
Ibran menatap meja makan sejenak, lalu beringsut membuka kamar Anta tanpa mengetuk. Dan ia disambut oleh Anta yang t*******g d**a di atas ranjang dengan posisi yang sangat tidak elit. Cowok itu menggeleng pelan. "Kalo cewek liat lo begini, pasti pada enggak mau, Ta," gumam Ibran kemudian melancarkan aksi membangunkan si raja tidur.
"Ta, bangun kebakaran! Anta!" Ibran menarik kaki panjang Anta. Berharap akan membangunkan lelaki itu. Namun, Anta hanya mengeliat dan membenahi posisi tidurnya.
Dengusan kesal terlontar dari Ibran. Ia memang harus bekerja keras untuk membangunkan seorang Antariksa. "Antaaaaa! Obat gue ilang, bantuin cari!"
"Ta, anjing, gue mati nih kalo lo enggak bangun!"
"Sumpah anaknya Gala bacot bener. Gue masih ngantuk!" Ibran mendecak keras lalu menimpuk wajah Anta berkali-kali. Sampai akhirnya lelaki itu bangkit dari posisi awal. Meski sambil menatap Ibran tajam. Ibran malah menunjukkan cengiran, lalu melemparkan handuk pada Anta.
"Mandi yang bersih, Ta. Gue udah masak. Nanti kita makan bareng-bareng, oke?" ujar Ibran lantas beranjak dari sana. Membiarkan Anta dengan dumelannya.
"Ta, jangan lama-lama!"
"Iya, bangs–– astaghfirullah, dosa apa gue punya keponakan ngalah-ngalahin alarm kebakaran." Lelaki itu mempercepat ritual paginya dan keluar dengan kaos pendek serta boxer. Dari situ Ibran bisa simpulkan kalau Anta tidak bekerja hari ini.
Anta terdiam sesaat ketika sampai di meja makan. Mengabsen satu persatu menu yang ada di meja makan. "Lo yang masak?" tanyanya sedikit tidak yakin.
"Iyalah. Terus siapa lagi?" balas Ibran. "Dah, doa dulu."
Lalu hening. Ibran menyatukan kedua tangan dan Anta menengadakan tangan. Mereka menyudahi doa masing-masing dalam waktu yang hampir sama. Ibran tampak sangat antusias kala Anta mengambil masakannya tanpa bertanya lebih lanjut. Mungkin matanya sudah terbuka sempurna jadi tidak perlu bertanya makanan apa yang Anta hidangkan.
"Enak enggak, Ta?" Ibran melebarkan senyumnya. Sangat berharap kalau hasil makanannya enak.
"Biasa aja," jawab Anta setelah memasukkan sesendok sayur beserta nasi. Senyum Ibran semakin melebar. Anta itu pintar menghargai, tetapi tidak pintar memuji. Entah mengapa lidah itu sangat sulit untuk sekedar melontarkan pujian.
Ibran kemudian ikut melahap sarapan hasil buatannya. Anta tidak bohong ternyata. Untuk seseorang yang baru sekali membuat masakan ini, Ibran memiliki ketepatan dalam memasukkan bumbu. Dan Ibran cukup bangga karenanya.
Sarapan pagi mereka diiringi hening seperti biasa. Fokus pada makanan masing-masing. Sejak pertama tinggal bersama Anta, Ibran sudah dibiasakan untuk makan dengan diam. Lalu terbawa sampai anak itu sebesar sekarang.
"Ayah lo ada nelpon enggak?" tanya Anta setelah selesai makan. Ia menyingkirkan piringnya kemudian menaruh kedua tangannya di atas meja. Seperti hendak membahas sesuatu yang serius.
Ibran mengangkat alisnya. Agak aneh mendengar Anta bertanya hal seperti itu. "Lo tau sendiri dia cuma nelpon kalo tau gue sakit sama waktu ultah," sahut Ibran. Ia bangkit sejenak untuk merapikan piring. Membawa dua piring kotor ke tempat cuci piring lalu kembali ke tempat semula.
"Kenapa, Ta?"
"Kayaknya ayah lo mau pindah ke sini. Udah bosen di Jogja katanya," ujar Anta. Ibran tak menanggapi dulu, karena tahu masih ada kalimat penjelas dari perkataan Anta. "Tapi, Kak Almira enggak setuju. Mungkin lo paham kenapa istri ayah lo segitunya sama Jakarta. Mereka berantem dan semalem Mas Gala bisa nelpon gue. Dia cerita kalo dia capek dikekang terus sama istrinya."
"Yaudah lah biarin aja. Ngapain lo ngurusin rumah tangga orang?" Ibran memberikan respon sederhana. Bagi Anta ini sangat aneh karena yang barusan ia bicarakan itu adalah ayah cowok itu dan tanggapannya sangat biasa saja. Bahkan terkesan seperti tidak peduli.
"Kemungkinan mama bakal ngerecokin lo lagi. Dengan alasan lo sebagai tersangka utama berontaknya mas Gala. Tapi, gue udah siaga kalo seandainya mama ngerusuhin lo."
"Alah tau ah, Ta. Capek gue punya orang tua kayak mereka. Mending dulu gue lahir dari batu."
"Hush, cocotmu!"
"Beneran, Ta. Enggak ayah enggak bunda sama aja. Pusing sendiri gue kalo inget mereka itu orang tua gue." Ibran menggelengkan kepala sambil memijit pelipisnya pelan. "Yang satu istrinya galak. Yang satunya takut ketauan media udah punya anak."
"Lah, kak Ara enggak kontekan sama lo lagi?"
Ibran mengangkat bahunya acuh. "Udah dua bulan gue blok dan cuma om Vincent yang tanya-tanya kabar. Om Vincent baik banget sampe pura-pura bilang bunda selalu penasaran sama keadaan gue. Padahal, udah tenang banget dia enggak denger kabar tentang gue."
"Bran, lo beneran? Gue enggak lagi ngajak lo ngelawak."
"Iya, Ta. Yang selama ini lo kira bunda itu om Vincent. Gue bohong aja biar enggak keliatan kasian banget. Pinter yekan?"
Anta lantas menegakkan posisi duduknya. Hatinya mencelos mendengar pernyataan dari mulut Ibran. Sepasang netra milik Anta menyelami manik gelap Ibran yang redup tak berbinar. "Kenapa lo simpen semua sendiri? Gue kayak orang g****k ngerti enggak lo," kata Anta. Ibran malah terkekeh. Namun, terbesit kesenduan di wajah itu.
"Enggak sendiri. Tuhan tau."
"Seberapa banyak yang lo simpen sendiri?" Mata Anta tak lepas dari raut Ibran yang sama sekali tidak bisa ia baca. Rupanya Ibran menyembunyikan banyak hal.
"Mana gue tau. Emang harus dihitung?" balas Ibran kedengaran seperti tengah bergurau dengan Anta.
Lelaki duapuluh lima tahun itu mengambil napas gusar. Ia bersama Ibran tidak hanya satu atau dua tahun. Namun, sama sekali tidak tahu apa-apa tentang cowok itu. "Bran, lo enggak boleh nyimpen banyak masalah sendiri. Enggak baik."
"Iya, tau. Tapi 'kan kita just like a stranger to each other. Baru-baru ini aja lo peduli sama apa yang terjadi sama gue." Raut wajah Anta langsung berubah mendung mendengar ucapan Ibran yang sangat blak-blakan tersebut. "I mean, kita emang tinggal di satu tempat terus saling berbagi makanan. Cuma kaya ya udah gitu aja. Gue bangunin lo juga ya kaya udah bangunin aja. Walaupun gue tau sebelum ini juga lo peduli, gue juga peduli kok sama lo.
"Oke, ralat. Sebelum ini kita kaya orang asing yang peduli tapi enggak mengekspresikan hal itu. Terus, sekarang tiba-tiba lo sangat ekspresif dengan rasa kepedulian lo itu. Dan gue merasa ... agak sedikit aneh. Apa karena check-up beberapa hari yang lalu?"
"Okay, stop it. Gue mau kerja." Anta tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya. Membuat Ibran berdecih. Anta terlalu berterus terang saat tidak ingin membahas sesuatu.
"Gue tau, Ta. Gue tau apa yang dokter Ryan bilang sama lo," ujar Ibran membuat langkah kaki Anta terhenti. "Apa karena itu lo jadi peduli sama gue? Lo kasian, ya, sama gue?"
"Kalo diam lo adalah iya. Gue cuma mau bilang, gue enggak mau dikasihanin, Ta. Lo bisa bersikap kayak biasa aja dan anggep gue cuma sekedar temen satu apartemen. Hidup gue udah menyedihkan. Bakal tambah menyedihkan kalo lo melimpahkan rasa kasihan lo ke gue."
"I said stop it, Ibran!" Anta berbalik dan kembali ke hadapan Ibran. "Lo siapa bisa menyimpulkan kalo gue kasihan sama seseorang? Dan sejak kapan lo jadi ngurusin urusan orang lain? Gue berhak peduli, kasihan, atau apa pun itu ke orang lain."
"Oh, okay. Maaf udah buat lo emosi dan mungkin tersinggung. Gue enggak maksud." Ibran mengulas senyum lebar di wajahnya. Senyum palsu yang terasa sangat menyiksa untuk dibentangkan.
"Lo tau gue sayang lo, Bran. Dan sekarang lo bisa-bisanya nuduh gue cuma kasian?"
"Iya, makanya maaf. Gue terlalu terbawa suasana. Lagian emang kisah hidup gue bikin orang-orang kasian, siapa tau lo juga termasuk."
"Gue mohon abis ini jangan ada berantem lagi di antara kita. Entah itu lo dulu yang mulai atau gue. Please, kenapa kita enggak bisa memulai hubungan yang baik?"
Ibran tersenyum. Kali ini terasa sedikit lebih tulus dan nyata. "Kalo berdasarkan rasa sayang. Dengan senang hati gue membangun hubungan itu."
"Of course, yes. You know it."
***
Sore hari yang seharusnya diliputi udara hangat kini menjelma layaknya malam yang dingin. Dan Ibran terjebak di sekolah karena terlanjur menyuruh Alka untuk pulang terlebih dahulu. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya mengomel dalam hati. Menunggu hujan lebat yang mengguyur segera berlalu.
Sebenarnya ada sebuah alasan yang membuat Ibran ingin pulang cepat. Hari ini ada rapat OSIS dan pasti Esa akan mencarinya ke seluruh sekolah. Bahkan Ibran yakin ponselnya sudah penuh spam dari cowok itu. Sementara Ibran di sini tengah memeluk dirinya sendiri guna menghalau hawa dingin yang menusuk. Alisnya menyatu kala hujan malah semakin deras. Ia kemudian memilih untuk kembali ke dalam gedung untuk berteduh dan menghangatkan tubuhnya.
Namun, saat itu keberuntungan tidak memihak padanya. Ia malah bertemu Esa saat sampai di kelas. Cowok itu menyeringai sok ngeri pada Ibran. Ibran hanya mendengus pelan mendapati Esa seperti sudah sangat mendendam padanya. Esa tak banyak bicara di awal. Ia bergerak ke arah pintu lalu kemudian menguncinya dari dalam. Ibran bergeming di tempat. Menunggu skenario Esa yang akan segera terjadi.
"Lo pengecut. Bisanya ninggalin tugas tanpa tanggung jawab!" seru Esa tepat di depan wajah Ibran. Sepertinya kabar mengenai Ibran mengundurkan diri sudah sampai ke telinga cowok itu.
"Iya, memang. Kenapa?"
"Enggak berguna banget sih lo jadi orang. Udah miskin, enggak bertanggung jawab, g****k, enggak kompeten, pengecut, terus enggak tau terimakasih lagi. Kenapa lo masih mau hidup, sih?
"Terserah gue lah. Kan yang hidup gue, kenapa elo yang sewot?" balas Ibran tanpa setitik emosi sedikit pun. Dan hal itu tampaknya membuat emosi lawan bicaranya malah semakin memuncak. Esa tertawa sumbang. Tatapan mata cowok itu semakin menggelap.
"Gue denger lo itu anak haram."
Deg!
"Pasti dari keluarga kaya, ya, makanya bisa sekolah di sini. Hahaha."
"Ujannya udah mau berhenti, gue mau pulang," kata Ibran hendak keluar. Ia memutar knop pintu berkali-kali, tetapi tak berhasil dan baru ingat jika kuncinya dipegang oleh Esa.
Ibran terkejut saat merasa tasnya ditarik oleh Esa. Cowok yang lebih tinggi darinya itu tersenyum miring. Ia berdiri tepat di hadapan Ibran kemudian mendorong bahunya. "Gue juga denger lo berkali-kali mau digugurin, tapi selalu gagal. Sampe akhirnya lo lahir. Lo jadi kesalahan dan terbuang dari keluarga. Abis itu hidup enggak jelas di panti dan akhirnya sekarang hidup enggak tau di mana. Lo tinggal sama papa atau mama? Eh bentar, tau papa sama mama lo enggak? Kan lo hidupnya di panti."
"Siapa yang kasih hak lo untuk ngecek background kehidupan orang lain?" tanya Ibran dengan dibumbui emosi yang mulai muncul. Esa kembali tertawa dan mendorongnya mundur. Hingga punggung Ibran membentur pintu.
"Gue juga denger katanya lo cacat. Jantung dan paru-paru lo lemah karena belum tumbuh secara sempurna. Tapi, kayaknya hoax ya, liat betapa binalnya lo kalo sama gue. Ck, gue harus pecat orang kemaren." Esa memandang Ibran remeh. Di hadapannya sekarang Ibran benar-benar seperti sampah. "Lo sampah banget sih, Bran. Gue enggak pernah nemu orang sesampah lo. Kasian banget orang nampung lo selama ini. Buang-buang duit buat orang enggak berguna kayak lo. Mending mati aja. Nanti gue yang bayarin pemakamannya kalo lo enggak sanggup bayar."
"Kenapa–– kenapa lo ngomong gitu ke gue? Gue berhak menjalani hidup gue seperti apa yang gue mau. Dan gue enggak butuh campur tangan lo," sahut Ibran sambil mengatur emosinya agar tidak meledak. Menahan semua perkataan Esa yang mencabik-cabik hatinya.
"Mental lo kuat juga ya. Dan enggak tau malu banget. Sadar, Bran, lo itu cuma anak haram. Anak yang enggak seharusnya ada. Anak yang lahir dari kesalahan. Apa yang lo banggain dari hal itu? Mati lebih enak, Bran."
"Mind your own business, b*sta*d! Buka pintunya, gue mau pulang!"
"Pathetic," ujar Esa.
"Shut the f**k up, Mahesa!" bentak Ibran seraya mendorong mundur tubuh tinggi Esa sekuat tenaganya. Mengerahkan semua yang ia punya untuk segera lolos dari sana. "Open the door, now!"
"Ck. Okedeh. Gue lepasin aja, kasian makin sampah idup lo entar kalo mati di sini."
Esa memberikan kunci pada Ibran dan segera diambil cowok itu dengan tergesa. Ibran mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hujan sudah reda, tetapi malah hatinya yang kini diterjang badai. Rasanya saat itu juga Ibran ingin ambruk dan merobohkan benteng yang ia buat.
Benar kata orang, lidah melukai lebih dalam daripada pedang.