Almaira membuka pintu rumahnya perlahan sembari menengok ke kanan dan kiri bergantian, "Mah Alma pulang" seru Almaira namun tak kunjung ada sahutan mamahnya
Almaira mengecek ke segala penjuru ruangan namun tidak ditemukan keberadaan mamah nya itu
"Tumben mamah gak ada di rumah" gumam Almaira
Almaira membuka pintu kamarnya kemudian menjatuhkan dirinya diranjang sembari menatap langit langit kamarnya, ia merogoh kocek kantong seragamnya dan mengambil sebuah foto hitam putih berukuran 4×6
"Paaahhhh....Papah gimana kabarnya Alma udah besar pah...papah gak kangen Alma? Papah ada dimana pah Alma mau ketemu" ujar Almaira menatap sendu foto ayahnya itu
Srettttt
Terdengar suara gerbang yang dibuka, sebuah mobil Pajero terlihat memasuki pekarangan rumah Almaira
"Almaaaaa!" Panggil Dian
Almaira buru buru keluar dari kamarnya, "Iyaaa mahh"
"Cepetan siniii!" Ujar Dian
Almaira pun makin mempercepat langkah kakinya hingga berlari kecil menuruni tangga
"Ada apa mah?" Tanya Almaira
Terlihat ada seorang laki-laki yang sudah berumur sedang duduk di sofa Almaira semakin kebingungan
"Duduk!"
Almaira berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Dian, " ada apa mah?" Tanya Almaira
"Kenalin ini Om Yadi" Ujar Dian
Almaira hanya mengangguk sambil tersenyum
"Ini Om bawa oleh-oleh buat Alma" ujar lelaki tua itu sembari memberikan beberapa kantong tas besar
Almaira hanya tersenyum,
"Jadi begini Alma, Om Yadi ini adalah calon papah sambung kamu" Ujar Dian
Deghhh!!!
Bagai disambar petir hati Almaira terasa begitu sakit
"Alma gamau mah, kenapa mamah jahat sama papah!" Ujar Almaira memberontak
"Jaga ucapan kamu ya Alma!" Peringat Dian
"Kenapa? Mau sampai kapan pun gak ada yang berhak buat gantiin posisi papah buat Alma, bahkan Alma gak sudi punya papah sambung kaya Om Yadi!!!"
Plakkk!!!!
"Dasar anak kurang ajar!!! Kamu saya sekolahin bukan buat jadi anak pembangkang!! Papah kamu itu udah gak ada Alma!!"
Almaira tersenyum menyeringai "KALO EMANG PAPAH UDAH GAK ADA AYO TUNJUKIN BUKTINYA SAMA ALMA MAH!! ANTARA ALMA KE MAKAM PAPAH SEKARANG!!"
Dian hanya terdiam mematung mendengar perkataan Alma, "KENAPA MAMAH DIEM HAH?!! TUNJUKIN SAMA ALMA SEKARANG MAH!!! APA JANGAN-JANGAN SELAMA INI MAMAH SENGAJA JAUHIN ALMA DARI PAPAH HAH?!!!"
PLAKKKKK!!!!!!!!
BUGHH!!!!
"Dian apa yang kamu lakuin, istighfar Dian" seru Yadi menenangkan Dian yang kian tersulut emosi
"Biarin mass biar anak gak tau diri ini sadar!"
Bughhh!!!
PLAKKKKK!!!
Plakkk!!!
"Pukul terus mah pukul!!!! Kalo bisa bunuh Alma sekalian mahh!!! BUNUH ALMA MAH!!!!"
Dian dengan amarah yang sudah mendidih mengambil vas bunga yang ada didekatnya dan..
Braghh!!
Tangg!!!
Vas bunga itu mendarat tepat dipergelangan tangan Almaira, seketika darah mulai keluar dari tangan putih bersih gadis itu "Dian apa yang kamu lakukan!!!" Ujar Yadi sembari berusaha menolong Almaira
Saat Yadi hendak membalut pergelangan tangan Almaira untuk menghentikan darah yang bercucuran dengan Jaz nya
"JANGAN SENTUH SAYA!! Buang jauh-jauh rasa kasihan anda!! Bahkan saya tidak memerlukan belas kasih anda!!!" Ujar Almaira sembari berlari menaiki tangga dengan memegangi pergelangan tangan yang terluka
Brugh!!!
Almaira menutup pintu kamarnya dengan keras, gadis itu memeluk dirinya sendiri dilantai yang begitu dingin tangisnya semakin pecah hatinya terasa begitu sakit bahkan luka dipergelangan tangannya nyaris tak terasa, dadanya semakin sesak dengan nafas memburu ia terus saja memukuli dirinya sendiri dengan darah yang terus mengalir tanpa henti karena memang lukanya sangat panjang.
Hari semakin gelap bulan pun telah menampakkan dirinya, sementara dikamar yang sunyi terlihat seorang gadis dengan mata yang sembab sedang meringkuk dilantai yang dingin itu, Almaira bangkit mengambil jaket oversize hitamnya kemudian memakainya ia berjalan menuju balkon kamar seraya menatap bintang bintang dengan sendu, kemudian
Brughhh!
Ia melompat dari atas balkon, jelas kedua kaki nya terluka dibeberapa bagian, Almaira bangkit dan berjalan dengan tatapan kosong, ia terus berjalan tak tentu arah hingga akhirnya Almaira sampai disebuah Taman. Almaira duduk dibangku taman dengan tatapan kosong ke arah langit hatinya masih terasa sangat sesak air yang ia bendung dimata nya kini membasahi pipinya, tiba tiba hujan turun begitu deras seolah langit sedang menutupi tangis dan segala kesedihan gadis itu, Almaira terus menangis hatinya benar-benar hancur
"Paaahh... Alma mau ketemu papah Alma cape pah, kenapa papah ga bawa Alma, dunia ga adil sama Alma pah"
"Alma cape pah hidup kaya gini, gak ada yang sayang sama Alma disini pah, tolong bawa Alma pergi dari sini pahh"
Hujan terus mengguyur kota seolah ikut merasakan sakit yang dialami gadis itu, tiba tiba seorang laki-laki duduk disebelah Almaira sembari memegang payung agar gadis itu tak terkena derasnya hujan,
"Kalo Lo sedih Lo boleh luapin semuanya tapi caranya gak gini Lo bisa sakit nanti" ujar lelaki itu
Almaira menghapus air matanya menoleh ke lelaki itu, "Bukan urusan Lo!" Ujar Almaira ketus
"Gue tau mendam semuanya sendiri itu gak enak, Lo bisa cerita ke gue kalo Lo mau emang gue gak bisa menjamin rasa sakit Lo bakalan ilang, tapi seenggaknya mungkin itu bisa bikin hati Lo lebih baik"
Degggg!
Almaira kembali menangis entah mengapa ia merasa bahwa ucapan lelaki itu sangat tulus bahkan baru kali ini Almaira berani menangis didepan orang selain Jessica, Almaira terus menangis tanpa menceritakan apapun sementara laki laki itu masih setia menemani Almaira. Hari semakin larut hujan pun kini mulai reda, "Ujan nya udah reda yuk pulang biar gue anter Lo sampe rumah" ujar lelaki itu
"Lo kalo mau pulang duluan aja, gue ga minat pulang" Ujar Almaira
Lelaki itu mengerutkan keningnya, "Kenapa ga minat? Lo mau tidur disini?" Tanya nya
"Gue males pulang, lagian kalo gue ga pulang juga gabakal ada yang nyariin" Ujar Almaira tersenyum
"Baju Lo basah badan Lo juga udah menggigil, Lo harus pulang"
"Gg-gu-e takut" ujar Almaira sambil memperlihatkan pergelangan tangannya
Lelaki itu membulatkan matanya, "Shittt! Tangan Lo kenapa? Tanya nya panik
"Tadi nyokap gue bilang kalo dia mau nikah lagi, gue belum siap bahkan gue juga gatau bokap kandung gue siapa jadi tadi gue cekcok sama nyokap dan... Yaaah dia lempar vas bunga ke gue lagian ini bukan pertama kalinya dia kaya gini ke gue jadi gue udah biasa" Ujar Almaira tersenyum sendu
"Tapi Lo harus pulang, ga baik perempuan masih diluar malam malam kaya gini apa lagi ini udah jam 11"
Almaira menghela nafasnya kasar, yang dikatakan lelaki itu sangatlah benar tak sebaiknya ia terus berkeliaran apalagi hari semakin larut, tapi disisi lain Almaira tidak ingin pulang pasti ibunya akan memukulinya jika ia pulang
"Ayoo gue anter"
"Emmm... Kalo boleh tolong anterin gue kerumah sahabat gue aja, gue belum mau pulang kerumah" ujar Almaira
"Iya terserah Lo aja, tapi gue saranin Lo harus ngabarin nyokap Lo dulu"
Almaira tersenyum, "Gak akan ada yang nyariin gue"
"Ayo gue bantu Lo ke mobil gue"
Lelaki itu menuntun Almaira yang sekujur tubuhnya penuh luka, didalam hatinya ada rasa iba terhadap Almaira melihat begitu banyaknya luka pada gadis itu, mereka berdua memasuki mobil. Didalam mobil lelaki itu mengeluarkan kotak PT3K yang ada di dasbor mobil kemudian keluar dari mobil dan berlari kecil ke sisi Almaira
Lelaki itu membuka pintu, "Sini biar gue obatin dulu luka Lo"
Mata Almaira membulat sempurna ia terkejut melihat lelaki itu yang sudah berlutut didepannya, "Gak perlu gue bisa obatin sendiri nanti"
"Gue gak suka penolakan" ujar lelaki itu sembari menarik tangan Almaira
Kini jarak keduanya sangat dekat, Almaira sampai kesusahan menelan Saliva nya bahkan deruan nafas lelaki itu terdengar jelas, Almaira terus menatap wajah tenang lelaki yang sedang membersihkan lukanya dengan sangat telaten, tanpa disadari senyuman tipis terbit indah diwajah gadis itu.
Pandangan Almaira tak bisa lepas dari lelaki itu, wajah putih bersih dengan Manik mata yang indah serta bibir ranum yang sangat sexy. Tiba tiba lelaki itu mendongak melihat Almaira sembari tersenyum, tanpa disengaja manik mata keduanya bertemu seketika jantung Almaira berdetak sangat cepat tak seperti biasanya bahkan kini tubuh nya nyaris kaku seperti patung Pancoran
"Arghh jantung gue kenapa jadi jedagjedug gini" gumam Almaira dalam hati moengilnya
"Kenapa sakit ya?" Tanya lelaki itu ketika melihat tubuh Almaira yang mematung
Almaira menggeleng cepat hingga pipi chubby bergetar seperti jelly yang ingin jatuh, lelaki itu tersenyum gemas melihat tingkah Almaira yang seperti anak kecil sementara tangan kekarnya membuka plester dan menempelkan nya pada lutut dan beberapa bagian kaki Almaira yang terluka.
"Selesai" Ujarnya sembari membereskan kotak PT3K
Almaira mengangguk pelan dan tersenyum manis, "Makasih" Ujarnya
Lelaki itu langsung masuk kedalam mobil lalu memakai safety belt, "Jangan lupa pake safety belt nya" Ujarnya
Almaira mengangguk lalu menarik safety belt nya namun entah kenapa talinya susah untuk ditarik, Almaira dengan sekuat tenaga berusaha untuk menariknya namun masih saja tersangkut,
"Sini biar gue bantu" Ujar lelaki itu
Almaira yang masih berusaha langsung menoleh kedepan namun tanpa sepengetahuan nya wajah lelaki itu sudah berada tepat didepannya, sehingga saat iya menoleh bibir ranumnya langsung menempel pada pipi laki laki itu, seketika mata Almaira membulat sempurna saat menyadari itu dengan cepat ia langsung memundurkan badannya, "Ss-soo-ryyy gue gak tau kalo Lo udah didepan gue" Ujar Almaira
Clek!
Lelaki itu memasangkan safety belt Almaira dengan ekspresi datar, "Satu syarat" Ujar lelaki itu senyum penuh arti
"Mm+maksud Lo?" Tanya Almaira mengerutkan keningnya
"Karena Lo udah nyium gue tanpa izin"
"Tapi kan gue udah minta maaf"
"Gue bakal maafin Lo dengan satu syarat"
Almaira mencuramkan alisnya, "Ck sialan Lo gue kan ga sengaja" Ujarnya dengan bibir sedikit manyun
"I don't care, yes or not?"
"Arghhhh ya udah iya, apa syaratnya?" Tanya Almaira malas
"Ketik nomer Lo disini gue bakal kasih tau Lo nanti" Ujar lelaki itu menyodorkan ponselnya
Almaira memutar bola matanya malas lalu mengambil ponsel itu dan mengetik nomor ponselnya, "Ck sialan banget nih cowo ngambil kesempatan dalam kesempitan, cih ganteng doang tapi gak ada akhlak" Dumel Almaira dalam hati moengilnya
"Nih!!"
Lelaki itu tersenyum penuh arti mengambil ponselnya dari tangan Almaira lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan Almaira terus menekuk wajahnya kesal bahkan beberapa kali iya memutar bola matanya malas, "Arghhh lagian konyoll banget gue bisa ga sadar kalo dia udah didepan muka gue bloon banget Lo Alma! Arghhhh bibir gue ternodai sialannn!" Teriak Almaira dalam hati
Almaira terus menyesali kebodohannya hingga tanpa sadar ia telah sampai didepan gerbang rumah Jessica
"Udah sampe neng betah amat disini" Ujar lelaki itu tersenyum mengejek
Sedangkan Almaira yang baru sadar langsung bergegas keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras lalu berlari terbirit-b***t seperti anak kecil, sementara didalam mobilnya lelaki itu terus memperhatikan Almaira sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd gadis itu. Setelah melihat gadis itu masuk kerumah, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ya ampun Alma Lo kenapa?!" Tanya Jessica membulatkan matanya melihat banyaknya plester pada tubuh sahabat nya itu
Almaira menutup mulut Jessica lalu buru buru menariknya masuk kedalam kamar Jessica, didalam kamar Almaira langsung mengunci pintu kamar rapat rapat,
"Lo kenapa si anjerr kesambet dimana Lo jadi kek orang gila gini" Ujar Jessica kesal
"Ck sialan, lagian Lo ngomong volumenya main full bae kalo Tante Nita sama om Arga bangun gimana Lo" Jawab Almaira
Jessica memutar bola matanya malas, "Yauda Sono Lo bersihin badan Lo dulu abis itu Lo harus jelasin semuanya dengan rinci dan faktual ngerti Lo!" Ujar Jessica melempar handuk
Almaira menangkap handuk itu dan bergegas memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi Almaira menatap dirinya sendiri dalam cermin dengan senyum yang merekah, tiba tiba senyuman itu hilang ketika Almaira mengingat kejadian didalam mobil
"Arghhh bibir gue ternodai, dasar lelaki sialan!!" Gumam almaira
"udah selesai Lo? Buruan sini" Ujar Jessica
Almaira yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan menuju Jessica, "Ada apa Ca?" Tanya Almaira
"Besok Lo jadi ikut nonton basket kan?"
Almaira mengangguk, "Iya dong, tapi Lo udah chat nyokap gue kan kalo gue nginep disini" Ujar Almaira
"Of course udah dong nyokap gue yang bilang ke nyokap Lo" Ujar Jessica dengan wajah tengil
Almaira menyentil kening Jessica hingga meringis, "Biasa aja ga usah dijelek jelekin mukanya" Timpal Almaira dengan terkekeh
"Ck sialan Lo, eh btw Lo kenapa bisa kaya gini? Terus juga Lo sama siapa kerumah gue? Aaaaa apa jangan jangan Lo udah punya pangeran? Arghh kenapa Lo ga nungguin gue" Cerocos Jessica
Almaira mengusap mukanya kasar, "Lo nanya apa wawancara gue bangke lancar bener kaya lambe turah!" Timpal Almaira
"Ya udah buruan ceritain ke gue semuanya"
Almaira pun mulai menceritakan semuanya secara rinci, hanya satu hal yang Almaira tidak ceritakan yaitu mengenai lelaki itu, Almaira lebih memilih menceritakan nya nanti diwaktu yang tepat.
"OMG SERIUS LO?!!! NYOKAP LO MAU NIKAH LAGI?? TERUS LEMPAR VAS BUNGA KE LO GILA YA HATINYA TERBUAT DARI APAAN DAH KEJEM BENER" Bacot Jessica membulatkan matanya
"Yaa gitu deh, maaf ya Ca gue jadi ngerepotin Lo, Tante Nita, sama Om Arga"
"Gak ada yang ngerasa direpotin ko Ra, paling beban orang tua gue nambah satu" Ujar Jessica menggoda
"Emang manusia taii Lo" Timpal Almaira
"Oiya Ra besok Lo pake seragam gue aja sama nanti kita berangkat ke sekolah bareng OMG berasa punya twins gue" Bacot Jessica
Almaira hanya memutar bola matanya malas, mereka berdua pun merebahkan tubuh mereka diatas ranjang, cukup lama mereka berdua membisu Almaira hanya terus menatap langit langit kamar seraya menghilangkan segala rasa letihnya
"Huftttt cape beutt hari ini, papah lagi apa ya sekarang" Gumam Almaira dalam hati
Almaira menoleh untuk melihat Jessica yang berada disampingnya, sahabatnya itu sudah berada didalam alam mimpinya terbukti dari kelopak mata yang tertutup sempurna serta deruan nafas yang tenang. Almaira menghela nafas kasar lalu bangkit berjalan menuju balkon, malam yang tenang dengan hembusan angin yang menari di udara seakan membuat jiwa ikut menari nari. Almaira menatap langit dan bintang bintang dengan lekat, entah apa yang kini sedang gadis itu pikirkan.
Dreettttt
Tiba tiba ponsel Almaira berbunyi, gadis itu langsung mencari ponselnya ternyata ada sebuah pesan dari nomor telepon asing yang bukan dari kontak ponselnya.
Almaira mengerutkan keningnya penuh tanya, "Siapa nih nomor asing" Ujar Almaira sembari membuka pesan nya
[Inget!]
Almaira : [Inget apaan Lo siapa?]
[Rendah banget daya ingat Lo]
Almaira : [Apaan si kocak gaje, Lo siapa setan]
[Kenalin gue Reynard Cedric Quadarius lelaki yang main Lo sosor brutal aja tanpa aba-aba]
Almaira membulatkan matanya sempurna dengan tangan menutup mulutnya yang ternganga saat membaca pesan itu
Almaira : [Oh]
Reynard : [Temuin gue ditaman tadi sepulang sekolah!]
Almaira : [Plisss jangan besok, gue udah ada janji sama sahabat gue]
Reynard : [Bukan urusan gue]
Almaira mengepalkan tangannya, "Sialan banget nih orang" Gerutu Almaira
Almaira pun kembali masuk dan menutup pintu balkon lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang. Sinar matahari mulai masuk melewati celah ventilasi kamar itu, Almaira membuka matanya perlahan ia membulatkan matanya sempurna ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30
"Arghhhh!!!! OMG!!" Teriak Almaira histeris
Jessica yang baru membuka mata mengerutkan keningnya, "Anjerr ada apa sii Alma pagi pagi udah ngereog aja Lo" Ujar Jessica sembari mengucek matanya
"Pagi pala Lo peang, liat noh udah jam berapa anjerrr" Ujar Almaira sembari berlari kecil ke kamar mandi
Jessica membulatkan matanya sempurna, "WHAT THE FACKK?!!!! OMG GUE KESIANGAN" Ujar Jessica berlari menyusul Almaira
Toktoktok!!!
"Alma buruan mandinya udah mau jam tujuh bangsdd"
"Apaan Lo gue baru juga masuk taik, emang kamar mandi dirumah Lo cuma satu bangsadd gembel banget!" Sahut Almaira dalam kamar mandi
Jessica terdiam sejenak lalu langsung berlari kencang menuju kamar tamu, 15 menit telah berlalu kini keduanya langsung berpamitan kepada orang tua Jessica,
"Ica sama Alma berangkat ya mah" Ujar Jessica sembari berjari kecil menuruni anak tangga
"Ehhh kalian gak sarapan dulu?" Tanya Nita
"Engga Tante kami udah kesiangan soalnya" Jawab Almaira
"Loh kenapa kalian bisa kesiangan? Udah mah cepet siapin bekal nya biar mereka sarapan dijalan saja" Timpal Arga
Nita mengangguk, "Tunggu 5 menit ya Tante siapin bekalnya gak lama kok" Ujar Nita
"Yaudah mah kasih ke Alma aja ya Ica mau keluarin mobil" Ujar Jessica sembari berlari kecil
"Nih jangan lupa dimakan ya" Ujar Nita
"Iya Tan makasi ya, kalo gitu Alma sama Ica berangkat dulu yaa Tan, om" Pamit Almaira
Almaira dan Jessica pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan Jessica beberapa kali menyalip kendaraan lain karena memang mereka berdua sudah terlambat.