Undangan pernikahan itu datang sore harinya, dua kardus penuh, masih berbau tinta percetakan. Kirana Sastrosudarmo mengangkat satu lembar dan membacanya untuk kesepuluh kalinya, masih tidak percaya pada huruf-huruf emas itu: *Arga Mahendra & Kirana Sastrosudarmo*. Akad dan resepsi, Minggu depan, Ballroom Hotel Grand Nusantara.
'Ayah sampai lupa cara bernapas waktu melihat namamu di sini,' kata Pak Sastro dari balik kardus, matanya berkaca-kaca. 'Dua puluh tahun Ayah membangun Sastro Logistik dari satu truk bekas. Minggu depan anak Ayah jadi Nyonya Mahendra.'
Kirana memeluk ayahnya. 'Ini bukan soal jadi nyonya siapa, Yah. Aku cinta Arga. Kebetulan saja dia Mahendra.'
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bu Ratna, ibu Arga: *'Nak, malam ini ke rumah ya. Makan malam keluarga. Ada yang perlu kita finalisasi sebelum acara. Jam tujuh. Arga juga ada.'*
Kirana tersenyum. Finalisasi susunan acara, pasti. Ia memilih gaun malam yang sederhana, mencium pipi ayahnya, dan berangkat dengan hati yang ringan.
Rumah keluarga Mahendra malam itu terang seperti biasa, tetapi ada yang berbeda begitu Kirana masuk ke ruang tengah. Bukan susunan acara yang menunggu di meja panjang itu — melainkan orang-orang. Bu Ratna di kursi utama. Di kanannya, Om Wiryawan dan Tante Dewi, orang tua Salsa. Dan di samping mereka, Salsa sendiri — sepupu Kirana — duduk dengan dagu terangkat dan gaun merah yang terlalu mencolok untuk sebuah makan malam keluarga.
Arga berdiri di dekat jendela. Ia tidak menoleh saat Kirana masuk.
'Kirana, duduk, Nak.' Suara Bu Ratna datar seperti pembawa acara berita. 'Ada yang harus kami sampaikan. Sebaiknya kamu dengarkan sampai selesai.'
Kirana duduk perlahan. Jantungnya mulai berdetak tidak keruan.
'Grup Mahendra dan Wirya Group sudah menandatangani kesepakatan merger hari ini,' lanjut Bu Ratna. 'Merger senilai dua triliun. Salah satu syarat dari pihak Wirya adalah penyatuan keluarga. Maka pernikahanmu dengan Arga... dibatalkan. Bulan depan, Arga akan menikahi Salsa.'
Kalimat itu masuk ke telinga Kirana seperti suara dari dalam air. Ia menatap ibu Arga, lalu ke Salsa, lalu ke Arga — mencari satu wajah yang akan mengatakan ini lelucon sakit.
'Ini... maksud Ibu apa?' Suaranya keluar serak. 'Pernikahan saya tinggal seminggu. Undangan sudah selesai dicetak. Gedung sudah lunas.'
'Semua biaya akan kami ganti dua kali lipat,' jawab Bu Ratna, seolah bicara soal retur barang. 'Keluargamu juga akan mendapat kompensasi yang layak. Kami sudah siapkan ceknya.'
Om Wiryawan menyeringai. 'Kirana, kamu ini kan anak pintar. Pasti mengerti dunia bisnis. Perusahaan ayahmu itu pemasok kecil kami. Dengan merger ini, Sastro Logistik malah ikut naik kelas. Kamu harusnya berterima kasih.'
'Berterima kasih?' Kirana berdiri. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tetap ia jaga. 'Om menukar pernikahan saya dengan klausul kontrak, dan saya harus berterima kasih?'
'Salsa dan Arga sudah saling mengenal lama,' potong Tante Dewi ketus. 'Kalau dipikir-pikir, justru aneh kalau Mahendra menikah dengan...' Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi semua orang di ruangan itu mendengar sisanya: *dengan keluarga pemasok kecil sepertimu.*
Kirana berbalik menghadap satu-satunya orang yang sejak tadi diam. 'Arga.'
Lelaki itu akhirnya menoleh. Wajahnya — wajah yang tiga hari lalu masih mencium keningnya sambil berkata 'tinggal sebentar lagi' — kini sekeras pintu baja.
'Ini keputusan terbaik untuk semua pihak, Kirana,' katanya dingin. 'Kamu perempuan yang rasional. Kamu tahu aku tidak bisa mempertaruhkan dua ribu karyawan untuk urusan pribadi.'
'Urusan pribadi.' Kirana mengulang kata itu pelan-pelan, seolah mengeja bahasa asing. 'Tiga tahun kita bersama. Kamu melamarku di depan ayahku. Kamu sebut itu urusan pribadi?'
'Aku sudah bilang, kompensasi—'
'Aku tidak butuh kompensasimu.'
Kirana menarik cincin berlian di jarinya — cincin yang dulu disematkan Arga sambil berlutut — dan meletakkannya di tengah meja. Bunyi kecilnya terdengar seperti sesuatu yang patah.
'Kalian semua sudah menghitung harga untukku,' katanya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. 'Suatu hari nanti, kalian akan tahu hitungan kalian salah.'
Ia berjalan keluar melewati Salsa. Sepupunya itu tersenyum tipis — senyum pemenang yang tidak repot-repot disembunyikan — dan berbisik hanya untuk telinga Kirana: 'Terima kasih sudah memanaskan pelaminan untukku, ya.'
Di luar, hujan turun deras. Kirana berdiri di teras rumah besar itu, membiarkan air mata keluar tepat satu menit — ia menghitungnya — lalu berhenti. Satu menit untuk tiga tahun. Cukup.
Di rumah, dua kardus undangan masih terbuka di ruang tamu. Ayahnya tertidur di kursi dengan sehelai undangan di pangkuan, senyumnya belum hilang bahkan dalam tidur.
Kirana berdiri lama menatap ayahnya. Bagaimana ia akan mengatakan bahwa hari yang dinanti lelaki tua itu sudah dicuri? Bahwa nama anaknya yang tertera di undangan itu sudah digantikan orang lain — oleh keluarga mereka sendiri?
Ia mengambil selimut, menyelimuti ayahnya, dan mematikan lampu.
'Sabar dulu, Yah,' bisiknya dalam gelap. 'Biar aku yang menanggungnya dulu.'