"Aku sudah tidak tidak mau mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kamu lagi, kamu itu ternyata pembohong besar..!!! Aku mau,mulai saat ini juga kita pisah..!!!aku muak dengan semua ini..!!!"
Deg!
Pelupuk mataku yang sedari tadi sudah terasa panas kini karna menahan air mata agar tidak terjatuh kini air mataku sudah tidak bisa terbendung lagi , dan perlahan mulai bercucuran setelah mendengar dan melihat pertekaran hebat didepan mata kepalaku sendiri yang kini tengah berlangsung. Rasa sakit dan kecewa yang selama ini tertahan kini telah dimuntahkan dengan perasaan emosi dan tetesan air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi wanita itu.
Keluarga yang selama ini selalu kubangga-banggakan karna keharmonisan orang-orang yang ada didalam nya kini berubah menjadi keluarga yang berantakan hanya dalam hitungan detik. Aku terduduk dilantai dengan suara isak tangis yang semakin menjadi-jadi karna tidak tahan melihat pertengkaran hebat ini dengan seragam sekolah yang masih kukenakan.
"Papa Selingkuh..!! ".
Deg..!!
Lagi-lagi mama berteriak begitu keras hingga memaksaku untuk menutup telinga ku sendiri dengan kedua tangan ku karna tak sanggup dengan semua ini. Perdebatan adu mulut itu semakin sengit dan memanas namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan menangis menyaksikan semuanya.
Aku terus berteriak memanggil-manggil nama Mama yang kini berjalan semakin jauh meninggalkan rumah ini dengan semua pakaian yang telah terisi penuh didalam koper miliknya, entah kapan ia membereskan semua itu aku tidak tau, aku berusaha mengejarnya untuk memintanya kembali agar ia kembali namun Ia berjalan begitu cepat sehingga aku kehilangan sosok dirinya.
"Maaaa,,, Mama,,, Jangan tinggalin Alana Ma,, Alana sayang mama....!!! ".
Aku berteriak sekeras-kerasnya yang diselimuti dengan isak tangis namun Mama tak kunjung kembali bahkan Ia tak menoleh sedikit pun untuk melihat betapa sakit dan terpuruknya aku disini tanpanya. Aku terus berteriak menyebut namanya dengan diiringi suara isak tangis ku yang sudah tak bisa ku kendalikan.
"Mama,,,!!!
Aku terus memanggil-manggil namanya hingga kulihat sosok dirinya kini tengah berdiri dihadapan ku namun belum sempat aku memeluknya Ia malah menghilang. Alhasil aku semakin menjerit di buat nya.
" Mamaaaaaa...........!!!!!!!!!!
Aku terperanjat bangun dari tidurku, seluruh tubuh ku sudah dipenuhi oleh keringat dan air mata. Nafasku terdengar memburu, detak jantungku berdetak dengan sangat kencang, aku kelelahan. Perlahan ku coba menerawang ke seluruh ruangan ini, aku didalam kamar, dan ya, Mama ku kini tengah duduk diatas kasurku dan menatapku dengan tatapan penuh kekawatiran. Dan Papa, ya Papa juga disini, memasang raut wajah yang sama seperti Mama ku saat ini.
"Apa itu semua hanya mimpi?? "
"Yaah,semuanya hanya mimpi..!! "
"Syukurlaahh..!! "
"Sayang, kamu mimpi buruk lagi??". Suara mama terdengar hawatir sembari memelukku agar aku merasa jauh lebih tenang. Dan kini Papa juga ikut duduk disebelahku dan mengelus-elus puncak kepalaku sebagai bentuk rasa sayang nya terhadap ku.
" Iya ma, Alana takuutt...
Aku kembali menangis dipelukan Mama ku kala mengingat mimpi buruk yang aku alami hampir setiap hari ini. Jujur saja aku sangat takut dengan semuanya, Papa berselingkuh, Mama pergi dan aku akan sendirian. Hal itu selalu muncul dikepalaku. Namun lagi-lagi mama dan Papa berusaha menenangkanku dengan kalimat yang selalu mereka ucapkan.
"ga papa sayang,, itu hanya bunga tidur,, jadi jangan dipikirin lagi ya". Mama berusaha menenangkanku.
Yah, aku selalu berharap kalau semua ini hanya bunga tidur semata karna aku tidak akan pernah bisa membayangkan kalau seandainya keluarga ku yang terkenal harmonis ini tiba-tiba berantakan karna isu perselingkuhan, sungguh aku tidak ingin membayangkannya sama sekali, tidak lucu sama sekali. Selama ini dan sampai sejauh ini, keluarga ini selalu terlihat baik-baik saja karna sampai aku berumur 16 tahun di umurku yang sekarang, aku tidak pernah melihat orang tua ku bertengkar seumur hidupku, apalagi sampai berteriak seperti yang aku alami dalam mimpi ku barusan. Mereka dari dulu selalu terlihat begitu saling mengasihi satu sama lain dan mereka juga tak pernah lupa bahwa ada aku disini sehingga aku tidak pernah kehilangan yang namanya kasih sayang orang tua. Karna sesibuk apa pun mereka, jika menyangkut tentang diriku, mereka pasti akan meninggalkan semuanya hanya untuk ku dan demi diriku, anak semata wayang nya.
Dan itu semua adalah bukti paling autentik bahwa keluarga ini tidak kekurangan suatu apapun yang artinya, keluarga ini baik-baik saja.
"Huufffffffff,,, syukurlah ternyata hanya mimpi". Gumamku dalam hati sembali mengelus-elus dadaku.
" Mom, Dad,, andai alana punya kakak, pasti Alanan ga akan merasa kesepian and Momy sama Dady ga perlu merasa khawatir lagi ketika lembur karna meninggal kan Alana sendirian di rumah,,, hmmm". Aku memasang raut wajah sendu yang seolah-olah menunjukkan bahwa aku serius dengan ucapanku sendiri. Tentu saja hal itu langsung membuat kedua orang tuaku tertawa karna menyadari kalo aku anak tunggal dikeluarga ini. Kini mereka berdua saling bertatapan penuh arti, Papa melemparkan senyumnya ke mama dan dibalas juga oleh sang Mama namun aku menangkap ada terselip raut kesedihan dimatanya. Mungkin dia terharu mendengar ucapan ku tadi.
" Oky sweety, it's time for you to take a shower coz you have to go to school at 07:00 O'clock,,, oky Baby". Ucap mama dengan penuh semangat sembari melepas pelukannya dariku lalu berdiri dari atas kasur,aku hanya mengangguk kan kepala sebagai tanda "Iya", dan mereka berlalu keluar meninggalkan kamar ku.
"Mom and Dad gonna waiting for you on the dining table, We gonna breakfast together, right my Baby girl..!!??". Papa kembali mengingat kan dengan mengarahkan telunjuknya kearahku lalu menunjuk kearahnya sendiri dan hal tersebut tentu membuat ku gemas,aku pun tersenyum .
" Right Dady.. I'll be there,sooner"
"oky...!!! ".
Orang tuaku kini sudah turun kelantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi untuk kami sarapan pagi ini terlebih dahulu. Dan aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke kamar mandi, ku lihat jam weaker yang ada diatas meja samping ranjangku yang kini menunjukkan pukul 06:05 pagi.
Hmmmm aku butuh mandi air hangat untuk menjernihkan kepalaku dan membuatnya sedikit relax, mimpi itu sungguh menguras separuh tenagaku pagi ini.
Tidak butuh waktu satu jam buatku jikala hanya untuk sekedar bersiap-siap berangkat kesekolah. 35 menit aku sudah siap dan rapi dan tentu saja wangi setelah mandi. Aku tidak butuh make up kalau hanya sekedar pergi ke sekolah karna menurut ku sekolah bukan lah tempat yang tepat untuk kontes kecantikan karna sekolah ya tempat belajar bukan pamer goodlooking, terus apa lagi? . Tapi kalo diluar itu, bolehlah. Karna pada dasarnya aku memang suka make up.
***********
"Bagaimana sekolah nya sayang?? Suka? " Tanya papa disela-sela makan. Aku pun menoleh kearahnya.
"Fine Dad, I'm happy and rencana Alana mau mencalonkan diri sebagai ketua Osis tahun ini". Jawabku singkat namun syarat akan makna yang langsung dihujani tepuk tangan oleh mereka berdua, yaa tentu saja karna mereka merasa bangga mendengar ucapanku tadi.
" Waaaahhh Dady benar-benar bangga sama anak Dady satu ini. Hmmm Dady rasa Alana pasti pemenangnya karna kan anak Dady ini dikenal karna prestasinya disekolah dan tentu saja juga karna,,, eheemmm,, ehemmm,,, Visualnya yang tidak diragukan lagi , yaa ga Mii??!! ". Papa terdengar tengah menggodaku saat ini
" Tentu saja, siapa yang ga kenal sama seorang Alana coba disekolah?? Bahkan ni Dad, Mamy denger-denger ada yang sering ngirimin bucket sama coklat loh tiap hari". Ucap Mama kini yang ikut-ikutan menggoda ku dan tentu saja hal itu langsung membuat pipiku memerah.
"Really,,?? Oohh Dady sudah tidak perlu lagi si soal itu karna Dady sudah menduganya dari awal,, ahhaha". Kini mereka berdua tengah asik menggodaku namun aku hanya memanyunkan bibir.
" Mommyyyyy..... ko dibocorin siiiiii..!!! ". Aku menutup mata karna malu dan lagi-lagi orang tuaku hanya tertawa.
" Putri kecil Dady ternyata sudah besar". Seketika suasana menjadi haru.
"Alana ga pacaran Dadyyyy..!! ". Aku memanyunkan bibir.
" Tentu saja Alana ga boleh pacaran sebelum Dady melakukan seleksi sama calon pacar anak semata wayang papa ini". Terlihat kini menggoda ku dengan memainkan kedua alisnya yang diturun naikkan, aku hanya memutar bola mataku keatas dan lagi-lagi mereka menertawakan tingkah ku itu.
Aku sungguh mencintai Keluarga ini dengan segenap jiwa ragaku.
Selama ini aku selalu memimpikan memiliki seorang kakak dikeluarga ini karna jujur saja, meskipun aku memiliki orang tua yang selalu perhatian padaku tapi aku selalu merasa kesepian dirumah ini sekalipun aku selalu mendapatkan apa saja yang ku inginkan terkecuali yang satu ini. Tentu saja hal ini tidak akan bisa terkabulkan karna pada kenyataanya aku anak tunggal dikeluarga ini. Menjadi putri tunggal kaya raya juga ternyata tidak semenyenangkan itu seperti yang selalu dikatakan oleh kebanyakan orang-orang, buktinya kini aku merasakan semuanya.
"Ok,, it's time to go sweetheart.. atau kau akan terlambat". Ucap Mama disela-sela tawanya yang langsung aku anggukin sebagai tanda iya. Kulihat arlojiku kini sudah menunjukkan pukul 07:00 yang artinya kelas 20 menit lagi akan dimulai. Aku meminum s**u hangat ku dan meneguknya hanya dalam satu tegukan.
Haaahhhhhhh...!!
Kuraih tas ku yang berada disofa lalu keluar menuju mobil yang sudah siap mengantarkanku untuk pergi kesekolah seperti biasa.
"Selamat pagi Non Alana..! ". Sapa pak Samsul sembari membukakan pintu agar aku bisa masuk, sopir kepercayaan keluargaku yang ku ketahui sudah bekerja dengan keluarga ini sejak aku menginjak usia lima tahun. Hmm lama juga, mungkin itu juga salah satu alasan beliau sudah seperti bagian dari keluarga ini. Mobi itu pun kini melaju dijalan menuju sekolahku.
*************
Mobil itu kini sudah memasuki area sekolahku, aku meraih tasku dari samping dan membuka pintu ketika pak Samsul sudah selesai memarkirkannya. Kukeluargan kaki kiriku terlebih dahulu lalu mulai berdiri disamping mobil sembari menatap gedung sekolah yang terdiri dari tiga lantai itu, suasana sekolah dipagi hari sungguh menyejukkan. Angin sepoi-sepoi mulai menghantam tubuhku hingga rambutku kini sedikit terkesibak karnanya. Aku menghembuskan nafas perlahan lalu mulai melangkah menuju pintu lobi sekolah dan langsung menuju ruangan kelas ku yang terletak dilantai dua, kelas XI IPA-1.
Disepanjang kaki ku melangkah, aku selalu merasa risih dikarenakan semua orang selalu terlihat memperhatikanku. Bukannya aku G-R, tapi itu fakta. Bahkan saat ini aku bisa melihat ada begitu banyak pasang mata tengah memperhatikanku, cewek-cowok, semua sama. Terkadang aku berfikir apakah ada yang salah dengan cara berpakaian ku? kenapa semua orang selalu menatapku dengan tatapan seperti itu.
Alhirnya, setelah berjalan cukup lama aku sampai juga dikelas yang aku tuju. Aku memasuki ruangan itu, dan lagi-lagi kini disini, aku mendapakan tatapan yang sama seperti saat berada dilantai bawah tadi, ada yang terlihat iri, kagum, bahkan tertawa malu-malu saat menatapku dan mereka hanya terlihat asik berbicara dengan yang lain sembari menatapku.
"Waaaaahhhh,,, Queen,, look at that,,!!!!seperti biasa,, meja mu selalu dipenuhi oleh bunga dan coklat, bahkan ada suratnya,,, waaa aku sungguh merasa iri padamu Queen. " Angel yang kini tengah berdiri disamping meja ku dengan posisi menghadapku.
"Lihat,, bahkan mejamu sudah seperti tempat pemakaman saking banyak sekali bunga diatasnya,, hahaha". Kali ini Tiara yang berbicara sembari mengangkat bunga-bunga yang tergelatak tak berdaya diatas mejaku yang entah itu dari siapa, aku tidak tau dan tidak mau tau. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan senyum tanpa humor sedikitpun.
Aku mengambil posisi duduk disamping Tiara karna kelas akan segera dimulai sembari menggantungkan ransel ku disamping meja belajar. Aku menatap keatas meja sembari menatap semua hadiah yang diperuntukkan hanya untukku itu, aku menghela nafas perlahan sembari berpikir siapa yang sudah mau repot-repot melakukan hal-hal segila ini setiap hari yang aku sendiri terkadang merasa risih saat melihatnya. Aku begitu bukan berarti aku tidak mentukainya, hanya saja aku tidak ingin menjadi pusat perhatian apalagi sampai mengundang rasa iri dari orang lain karna memperlakukanku seperti ini.
Ku masukkan tanganku ke dalam meja itu bermaksut ingin mengambil paket untuk kukeluarkan, dan lagi-lagi itu dipenuhi oleh coklat dan kado.
"Reallyyy???? Apa mereka ingin membuat ku gendut?? dengan coklat sebanyak ini setiap hari. ". Aku sudah terbiasa dengan semua ini namun tetap saja aku merasa risih dibuatnya.
" Anya, Could you help me to move this thing from my face??". Aku berbicara kepada Anya yang kini tengah menatapku dan tentu saja langsung di iyakan olehnya.
"Thanks". Ucapku tulus lalu fokus ke buku yang kini tengah aku pegang.
" Wait..!! Surat-suratnya taruh aja diloker". Ucapku lagi dan Anya tersenyum padaku sebagai tanda iya.
Anya segera bergegas mengambil kantung kresek didalam loker miliknya yang sudah ia siapkan untuk ku pakai setiap hari seperti saat ini sebelum pelajaran dimulai. Anya dan Tiara terlihat mulai sibuk mengumpulkan semua hadiah itu dan Anggel mengumpulkan surat-suratnya. Dan aku? tentu saja aku hanya fokus pada buku ku. Aku melihat Anya mulai mengangkat kantong plastik besar yang sudah hampir penuh itu dan membawanya ke belakang.
"Gilaaa!!! ". Gumamku dalam hati
" Queen,, apa kau tidak ada niatan untuk mengontrak kami sebagai tukang bersih-bersih kado?? Kami bahkan sudah melakukannya setiap hari untukmu, Queen." Ucap Anya dengan muka polosnya itu, dan tentu saja hal itu langsung membuat kami tertawa.
"Anyaaa sayang,, Listen,, I'm not your Queen,right,,but I'm your best friend,,BEST FRIEND, jangan buat aku mengulangi kata-kata itu setiap hari,, panggil saja aku dengan namaku sendiri, Alana,A. L. A. N. A,, is it clear?? . Aku berusaha menegaskan. Bukannya aku tidak suka dengan panggilan itu tapi hanya saja aku merasa lebih nyaman jika dipanggil dengan namaku sendiri, terlebih-lebih oleh sahabat ku sendiri.
"No,, coz you're the real Queen for us, is it true guys?? So im gonna call you Queen..!" Ia kini memeluk ku dengan sangat erat dan penuh kasih sayang, semuanya terasa begitu tulus. I love you guys. Aku hanya memutar bola mataku ke atas dan Anya kini mencium pipiku.
"Iyuuuuuuu, Anyaaa...!!!!! " Aku berteriak namun ia hanya tertawa dan yang lain juga ikut menertawakannya.
***********
Deerrrrttttttttt..... Deeeeerrrttttt... Deerrttttt
Bell istirahat telah berbunyi yang tentu saja langsung disambut antusias oleh semua murid disekolah ini, tidak terkecuali aku sendiri tentunya. Walaupun aku suka belajar, namun tentu saja aku juga senang bermain seperti yang lain, apalagi kalau sudah main dengan sahabat-sahabat ku, kami sering lupa waktu dan lagi-lagi sebagai alarm pengingatku ialah orang tuaku. Mereka akan selalu menelpon ku setiap saat aku keluar main bersama Anya, Tiara dan Angel. Bukan maksut orang tuaku tidak mempercayaiku atau mempercayai sahabat-sahabat ku itu, hanya saja mereka begitu menghawatirkanku karna mengingat bahwa aku adalah anak satu-satunya dan aku perempuan, sudah pastinya mereka akan sangat mengkhawatirkanku. Takut jika hal-hal buruk akan menimpaku. Putri kesayangannya.
"Aku lapar". Tiara
"Yuk kita kekantin,, cacing diperutku juga rasanya sudah mulai menuntut hak-hak nya,, haha" Anya. Aku hanya tersenyum saat mendengar Anya berbicara.
"Let's go girls,, aku juga lapar". Lanjutku
Kini, Aku, Anggel, Anya dan Tiara sudah berlalu meninggal kan kelas menuju lantai bawah dekat taman sekolah karna disanalah tempat kantin sekolah ini berada. Aku dan ketiga sahabatku itu berjalan beriringan melalui lorong-lorong sekolah, seperti biasa, selalu banyak pasang mata yang menuju kearah kami namun kami hanya berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan-tatapan itu sampai kini kami tiba menuruni tangga menuju lantai satu, terlihat gerombolan yang sudah tidak asing lagi dimataku, aku menyunggingkan bibir atas ku dengan posisi kini tangan ku terlipat didepan d**a.
Aku dan yang lain berhenti sejenak setelah melihat sekelompok wanita itu juga berhenti didepan kami dengan ekspresi angkuhnya itu. Ia terlihat menyeringai didepan sana sembari mengunci tatapannya kearahku yang sudah bisa kupastikan bahwa itu adalah tatapan kebencian darinya.
"Hello, bitch.. !!" Ia terlihat menyeringai sambil memajukan wajahnya kearahku. Rahangku mulai mengeras dan mataku memanas mendengar ucapan nya itu. Aku menatapnya dengan tatapan yang menyala. Ku lihat sekeliling dan yah, kini kami sudah menjadi pusat perhatian anak satu sekolah. Aku tidak ingin terpancing olehnya kali, jadi aku berusaha membuat diriku setenang mungkin atau kalau tidak, image ku akan rusak hanya dalam sekejap karna melayani wanita ini.
"Apa kau sudah meniduri semua pria yang tergila-gila padamu itu?? Oh, atau mungkin itu salah satu penyebab mereka tergila-gila padamu karna kelihaianmu bermain saat diatas ranjang dan dengan sentuhan-sentuhan yang kau berikan??!! Waaahhh Alana,, you're so Amazing..!! ". Sontak saja ucapan nya itu tentu mengundang amarah dari sahabat-sahabat ku dan langsung ingin menerkamnya serta memangsanya hidup-hidup, namun aku segere memberikan kode untuk tidak melakukannya dengan cara mengangkat tangan kananku, dan itu berhasil.
Dengan penuh keberanian dan nada yang menantang, aku memajukan tubuhku dan berbisik ditelinga wanita itu
"Hah, kenapa,?? Apa kau iri karna mereka tergila-gila hanya padaku dan bukan tergila-gila padamu??!! Oh, bahkan Richo pun begitu menggilaiku,, Aaaaiissshhhh ternyata aku tidak bisa meremehkan pesonaku ini hingga semua orang menggilaiku,,aku sebenarnya tidak menginginkannya tapi yaaa mau gimana lagi??!!Visual ku ini tidak mungkin ku tutupi dan tak mungkin bisa ku tutupi..!!! Sorry jika harus membuatmu merasa tersaingi,".
Aku sengaja memasang raut wajah menyesal namun tentu saja itu terlihat jelas mengejeknya, Aku menang.
"Mmmm and I'm sorry karna mencela perbincangan kita kali ini, tapi aku dan teman-temanku sudah mulai kelaparan disini,, kamu tidak mau kan melihat bintang sekolah ini mati kelaparan disini?? ! ! So, can you give us a space coz we need to go". Aku dengan nada mengejek kearahnya dan Ia kini menatapku dengan amarah yang semakin memuncak. Namun pada akhirnya Ia memberikan kode kepada antek-anteknya untuk memberi kan kami ruang agar bisa lewat.
"Oppsss,, Sorry,, Aku tidak sengaja melakukannya". Ucapnya setelah Ia dengan sengaja membuat kaki ku tersandung dengan kakinya yang Ia bentangkan ke samping, beruntungnya ada sahabat-sahabat ku yang selalu siap menjagaku dan aku tidak jadi terjatuh kelantai yang sangat keras ini. Anya dan Tiara yang sudah terlihat emosi dari tadi kini sudah benar-benar bersiap untuk menerkamnya namun aku dengan segera menarik lengannya dan memberikan tatapan agar mereka tidak terpancing oleh kelakuan Ara barusan.
"Bye Bitch.. . !! ! ". Ucapnya kini setelah aku dan ketiga sahabatku memutuskan pergi dari sana.
Jujur saja sebenarnya aku juga sama dengan ketiga sahabatku itu, sama-sama ingin menjambak rambutnya lalu membantingnya kelantai yang keras itu, namun aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian satu sekolah karna melakukannya yaaa walaupun anak satu sekolah tahu kalau aku dan Ara tidak pernah akur, dan tentu saja itu disebabkan karna rasa cemburunya yang berlebihan terhadapku, Ia tidak suka merasa tersaingi dan disaingi oleh siapapun and now you can see, right. Tidak lucu rasanya jika seorang Alana yang dikenal lembut, manis,dan cantik serta cerdas ini tiba-tiba membuat keributan disekolah hanya karna hal-hal seperti itu.
Anya dan Tiara terlihat masih berusaha meredam emosi mereka sendiri, mereka menghentak-hentakkan kakinya sebagai tanda bahwa mereka merasa tidak nyaman. Tiara meraih air mineral yang sudah biasa tersedia diatas meja makan dikantin itu, Ia meneguknya habis hanya dalam sekali tegukan lalu Ia menghempaskan tubuhnya untuk duduk dibangku yang sudah tersedia.
"kenapa kau harus menahanku!!!! Haiissssttt aku kesal sekali dibuatnya, rasanya ingin ku banting dirinya dengan mulut kotornya itu". Ia mulai menggerutu dihadapan ku. Namun aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman sembari menggenggam tangannya dengan kedua tanganku.
" Guys, I don't want to see you get a trouble just because of me,,!! Biarkan Ia berkata apa saja namun aku mohon kalian jangan pernah terpancing oleh omongannya, oky?? " Kali ini aku memohon dan mereka hanya menghembuskan nafas kasar walaupun akhirnya mereka menyerah juga. Dan tentu saja hal itu membuat ku merasa senang.
"kenapa hatimu begitu lembut Alana,, kau memang benar-benar pantas kami sebut Queen, tidak salah lagi..!!". Anya dan yang lain terlihat mengangguk sebagai tanda mereka seolah-olah setuju dengan apa yang Angel katakan tadi dan aku hanya mengangkat kedua alisku karna mereka.
Derrtttt,, deerrrrttt.....!!!
Ponsel Tiara tiba-tiba terdengar berdering dari dalam saku bajunya, Ia segera meraihnya. Namun belum sempat Ia mengangkatnya Ia termangu dan terlihat me naikkan sebelah alisnya karna bingung.
"Nomor tidak di ketahui".
"Udah angkat aja, siapa tahu penting..! ". Anya menyarankan. Namun belum sempat ia menekan tombol answer panggilan sudah dimatikan dari sebrang sana. Karna penasaran, Tiara mencoba untuk menelpon balik namun tanpa disangka kuotanyapun abis. Dan kami semua pun dibuat tertawa olehnya. Ia lupa mengecek paketnya dari kmarin. Tanpa basa-basi Ia mengambil ponsel ku, dengan tatapan bingung aku mulai memandanginya dengan penuh tanda tanya. Terlihat Ia mulai sibuk mengetik disana dan aku mulai sadar kalau Ia mau menghubungi nomer asing itu lewat ponsel ku.
"Oh, Noooooooo....!!!!! "
Aku langsung terperanjat dan berusaha meraih ponsel ku namun gagal. Tiara menjulurkan lidahnya kearahku sebagai tanda kemenanganya dan yaa, aku hanya bisa pasrah.
Tuuttttt,,,,, tuutttt,,, tuuutttt.....!!!
"Hallo,, Ini siapa ya?? ini Tiara..!! "
"Oooo aku kira siapa, apa kamu sudah ganti nomer telpon? kenapa menelponku dengan nomer yang berbeda??! ". Terdengar suara pria dari sebrang sana, aku dan yang lain hanya mengernyitkan kening karna bingung.
" Aaa No,, cuma tadi pulsaku habis, jadi aku meminjam ponsel temanku, apa ada masalah sehingga kau menghubungi ku?? " Tanya Tiara penasaran
"Nope,, tapi aku hanya mau memberi tahumu nomer baruku karna ponselku hilang kemarin". Jelas seorang pria dari sebrang sana
" Bye the way, apa aku boleh berkenalan dengan temanmu ini?? " Godanya
" Haiiisssss dasar i***t,, jangan pernah bermimpi..!! "
"Waee-yooooo..?? Aku tampan dan aku single!! ".
" Yaaa i***t, kau tidak akan cocok dengannya, Ia terlalu sempurna jika bersamamu, kalian tidak akan cocok,aku berani jamin,,,ahahah".
"Sialaann,, kau memang saudara yang menyebalkan..!!! Untung aku begitu menyayangimu".
" Neee,, Kam-sa-ham-nida, Oppa, karna kau begitu menyayangiku,,, Aaaa aku sungguh merasa tersentuh ". Kali ini Tiara dengan ekspresi dan suara nya sedikit meledek.
" Aaa,, aku tutup dulu ya, sebentar lagi jam istirahat akan berahir".
Klik...!!
Tiara menutup telpon sembari memberikan ponsel kepadaku. Namun aku dan yang lain hanya menatapnya dengan tatapan tajam yang sudah terlihat meng intimidasi karna penasaran dengan siapa Ia berbicara tadi, kenapa terlihat akrab sekali. Namun Ia dengan polosnya bertanya
"Why?? ". Namun akhirnya Ia mengerti dan malah tertawa karna melihat ekspresi kami yang mungkin terlihat menggemaskan menurutnya. Wanita berdarah Korea-Indo itu mengambil posisi duduk kembali diposisinya yang semula.
" Dia sepupuku, dia mau mengabarkan kalau Ia mengganti nomernya karna ponsel nya hilang kemarin,, haiissttt si i***t itu,,". Terangnya sambil mengumpat.
"Ooooooooo". Jawab kami serentak. Dan dia hanya menggelngkan kepalanya.
********************
Huffffffffffffff
Aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang, aku merasa lelah setelah seharian berada disekolah namun tentu saja aku menikmatinya, karna duniaku hanya tentang dunia sekolah dan bermain.
Baru saja aku memejamkan mataku menikmati suhu dingin yang keluar dari AC kamar ini, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara ponselku yang bergetar pertanda ada panggilan masuk.
"Siapa yang menelfon ku dijam segini?? ". Aku meraih ponselku dari samping karna kuhempaskan begitu saja saat aku memaski kamar. Aku lebih terkejut lagi karna ada Nomer Tidak diketahui yang masuk. Karna setahuku, yang mengetahui nomer telpon ku hanyalah orang-orang terdekatku dan tidak sembarangan. Kecuali akun media sosialku yang tentu saja semua orang mengetahui nya. Awalnya aku sempat ragu untuk mengangkatnya namun akhirnya kupituskan untuk menerimanya saja, Karna jujur saja aku penasaran dengan siapa yang ada disebrang sana.
Klikk
"Hallo,, sorry,,ini dengan Siapa?? ". Aku sedikit gugup karna tidak kunjung ada jawaban dari sebrang sana.
" Hallo,,, is there some one out there?? " Sekali lagi aku memastikan
"Oh Hi,, I'm Arnold, sepupu nya Tiara,, Sorry, Am I bothered your time?? ". Tanya nya ramah dari sebrang sana.
" Aaaa, No,,!! ". Jawabku santai
" Aaa syukurlaahh,, btw, Mmm may I know your name?? Sorry. " Ucapnya dengan nada yang sedikit canggung
"Tiara"
"Aa tiara??, maksutmu namamu sama dengan nama sepupuku?? ". Tanya nya memastikan dan terdengar sedikit tidak percaya. Aku yang menyadari kalau jawaban yang ku berikan ternyata salah segera memperbaikinya dengan cepat.
" Ooo no, noo, noo,,, I mean, my name is Alana, sorry. I'm not focus,, haha". Tawaku yang mungkin terdengar jelas dibuat-buat dan hal itu sungguh membuatku malu sendiri. Namun aku kini dibuat tidak percaya karna Ia yang tengah tertawa sangat keras dari sebrang sana.
"Oooh my God, you're so funny.. aku hampir mengekuarkan air mata karna tertawa terlalu keras"
"btw, nice to meet you Alana". Ucapnya dari seberang sana.
" Mmm nice to meet you too, Ar-nold?? ". Aku memastikan
" Yeah,, Arnold,, haha". Jawab nya lagi-lagi membenarkan dari sebrang sana dan aku hanya tersenyum malu.
"Well, Arnold. I think I need to go now, see you." Ucapku mengalihkan pembicaraan
"Ok, Alana, see you".
Klikkk
Panggilan terputus. Tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri setelah panggilan itu berahir.
" Wait,,,!! What?!!! "
"Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, dan kami hanya bebicara kali ini saja untuk pertama kalinya. Aku sudah gila..!! "
Well, aku tidak ingin memikirkannya, ku ambil handuk dari dalam lemari dan langsung bergegas kekamar mandi. Aku butuh mandi air dingin untuk menyegarkan pikiranku.