Bagian 1
Langit sore itu tampak kelabu, seolah meramalkan badai yang akan segera tiba. Arsen Digantara berdiri di balkon kantornya, menatap ke kejauhan dengan rahang mengeras. Ia tahu langkahnya bersama Alena telah menyalakan bara di mata banyak orang, terutama pamannya sendiri, Rafael Digantara.
Seno masuk dengan ekspresi cemas. “Arsen, aku baru dapat kabar. Nadine bergerak. Dia bertemu dengan salah satu orang Rafael. Sepertinya ini tidak akan sederhana.”
Arsen mengangguk pelan. “Aku sudah menduganya. Nadine tidak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi.”
Seno menatap tuannya dengan khawatir. “Kau sadar, kan? Permainan ini bukan lagi sekadar soal perasaan. Ada taruhannya, nyawa dan kehormatan keluarga.”
Arsen menoleh, tatapannya dingin namun tegas. “Aku tidak peduli, Seno. Jika harus masuk ke dalam permainan bahaya ini, maka aku akan melakukannya. Karena yang kucari bukan sekadar cinta, tapi kebenaran yang sudah terlalu lama disembunyikan.”
---
Di sisi lain kota, Alena Prameswari duduk di ruang tamu rumah besar keluarganya. Dinda, sang kakak, menatapnya penuh tanya. “Kau terlihat gelisah, Lena. Ada apa?”
Alena menggenggam tangannya sendiri, mencoba menyembunyikan kegundahan. “Aku takut, Kak. Sejak… sejak kejadian itu, aku merasa semua mata tertuju padaku. Seakan ada yang menunggu aku lengah.”
Dinda menarik napas panjang. “Kau sadar, kan, Lena? Jika kau benar-benar memilih Arsen, maka kau juga memilih jalan penuh duri. Nadine tidak akan tinggal diam. Rafael akan melawan habis-habisan. Dan kau… kau harus siap kehilangan banyak hal.”
Alena menunduk. “Aku tahu, Kak. Tapi hatiku sudah terikat. Aku tidak bisa mundur lagi.”
---
Malam harinya, Nadine Sasmita duduk di sebuah restoran mewah bersama Rafael. Senyum liciknya menghiasi wajah cantiknya yang penuh ambisi.
“Kau lihat sendiri, Om Rafael,” ujar Nadine lembut, namun penuh racun. “Arsen sudah terlalu jauh. Ia melupakan nama besar Digantara hanya demi seorang gadis. Jika kita biarkan, ia akan menghancurkan segalanya.”
Rafael menatap Nadine dengan tatapan tajam. “Dan apa yang kau inginkan?”
Nadine tersenyum samar. “Aku hanya ingin berada di sisinya. Jika aku mendapatkannya, aku bisa memastikan Arsen tidak akan mengkhianati keluarga. Aku akan menjinakkannya.”
Rafael mengetuk meja dengan jari-jarinya. “Kau pikir semudah itu? Arsen bukan lelaki yang bisa dikendalikan dengan mudah.”
“Kalau begitu,” bisik Nadine dengan senyum berbahaya, “biarkan aku yang membuatnya jatuh ke dalam permainan. Sekali ia masuk, ia tidak akan bisa keluar.”
---
Malam itu, permainan bahaya benar-benar dimulai.
---
Bagian 2
Hening malam menyelimuti kota, namun bagi Arsen Digantara, ketenangan hanyalah ilusi. Di ruang kerjanya, ia menatap tumpukan dokumen yang sudah diacak-acak, laporan dari berbagai sumber yang Seno bawa sepanjang hari. Ada nama-nama yang muncul berulang kali, jejak uang yang mengalir ke rekening-rekening tersembunyi, dan bahkan bukti bahwa Rafael terlibat dalam permainan yang lebih kotor dari sekadar bisnis.
“Ada sesuatu yang tidak beres,” gumam Arsen, menekankan jari di pelipisnya.
Seno, yang berdiri di sampingnya, mengangguk. “Rafael tidak hanya mengatur pergerakan Nadine. Dia juga menggandeng orang-orang berbahaya dari luar negeri. Kalau kita salah langkah, bukan cuma perusahaan yang runtuh, Arsen… tapi kau dan Alena juga bisa jadi korban.”
Arsen menutup map dokumen itu dengan kasar. “Aku tidak bisa mundur sekarang. Mereka pikir aku hanya anak yang naif, yang bisa digiring sesuai kepentingan mereka. Tapi kali ini… biar mereka yang belajar siapa sebenarnya Arsen Digantara.”
---
Sementara itu, di rumah Prameswari, Alena duduk termenung di kamarnya. Pikirannya kacau. Ia memandangi layar ponsel, membaca pesan-pesan singkat dari Arsen. Kata-kata lelaki itu selalu menguatkan, tapi rasa takut tetap membelenggunya.
Pintu kamar terbuka pelan. Dinda masuk dengan wajah serius. “Kau masih memikirkannya?”
Alena mengangguk. “Aku takut, Kak. Bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk Arsen. Aku tahu pamannya tidak akan pernah merestui. Nadine… dia jauh lebih licik daripada yang terlihat. Dan semua ini membuatku merasa terjebak.”
Dinda duduk di samping adiknya, menggenggam tangan Alena erat. “Dengar, Lena. Kau memang sudah memilih jalan yang sulit. Tapi aku percaya, kekuatanmu bukan hanya ada pada cinta, melainkan juga pada keberanianmu menantang dunia. Jangan biarkan orang lain yang menentukan masa depanmu.”
Alena tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Kak. Aku hanya… aku hanya ingin jujur pada hatiku. Walau itu berarti aku harus melawan semua orang.”
---
Di sisi lain kota, Nadine tengah bersiap dengan langkah yang lebih berani. Malam itu ia menghadiri pesta rahasia yang diadakan oleh Rafael. Di sana, berkumpul para pengusaha, politisi, hingga orang-orang yang namanya sering berhubungan dengan dunia gelap.
Nadine melangkah anggun dengan gaun hitamnya, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menghampiri Rafael yang tengah berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya.
“Om Rafael,” bisiknya begitu mereka berdua menyendiri, “aku ingin ikut dalam langkah selanjutnya. Jangan hanya membuatku penonton. Aku ingin terjun langsung.”
Rafael menatapnya lama, mencoba menakar keseriusan gadis itu. “Apa kau sadar, Nadine? Begitu kau masuk lebih dalam, tidak ada jalan kembali. Ini bukan sekadar permainan cinta. Ini permainan yang bisa menelan nyawa.”
Nadine tersenyum tipis, tatapannya penuh determinasi. “Aku sudah siap. Karena jika aku tidak ikut, maka Alena yang akan menang. Dan itu tidak akan pernah kubiarkan.”
Rafael terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. “Baik. Mulai malam ini, kau resmi bagian dari permainan. Jangan menyesal jika kau harus mengorbankan sesuatu yang berharga.”
---
Sementara itu, di kantor Arsen, Seno menerima telepon darurat dari salah satu orangnya. Wajahnya menegang. Ia segera menutup telepon itu dan menatap Arsen.
“Kita punya masalah. Ada orang yang mengikuti Alena sejak sore tadi. Aku khawatir dia dalam bahaya.”
Arsen langsung berdiri, kursinya hampir terjatuh. “Apa?”
“Ya. Kita harus bergerak sekarang sebelum terlambat.”
Tanpa berpikir panjang, Arsen meraih kunci mobilnya. Amarah sekaligus ketakutan memenuhi dadanya. Ia tahu, permainan ini mulai merambah orang yang paling ingin ia lindungi.
“Tidak ada yang boleh menyentuh Alena,” ucapnya dingin, penuh tekad. “Kalau mereka ingin bermain kotor, maka aku akan balas dengan cara yang lebih berbahaya.”
---
Malam itu, roda permainan semakin berputar cepat, menarik semua orang ke dalam pusaran yang belum terlihat akhirnya.
---
Bagian 3
Langkah kaki Arsen terdengar terburu-buru menuruni tangga kantor. Seno mengikutinya di belakang dengan napas berat. Di parkiran, mesin mobil Arsen langsung meraung begitu dinyalakan. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya hanya tertuju pada satu hal: keselamatan Alena.
“Lokasinya di mana?” tanya Arsen dengan nada dingin, hampir tanpa emosi.
“Orangku bilang mereka kehilangan jejak di sekitar jalan raya dekat rumah Prameswari. Bisa jadi Alena sudah masuk, tapi ada kemungkinan besar mereka masih mengawasi dari jauh.”
Arsen menekan pedal gas kuat-kuat, membuat mobil melaju kencang di jalanan gelap. Lampu-lampu kota berkelebat di kaca depan, namun pikirannya hanya dipenuhi bayangan Alena.
“Seno,” suaranya serak, “jika sesuatu terjadi pada dia…”
Seno segera menimpali, “Itu tidak akan terjadi. Kau sendiri tahu, kita sudah menyiapkan orang untuk berjaga di sekitarnya. Tapi aku akui, lawan kita semakin berani.”
Arsen menggenggam setir erat-erat, seolah itu satu-satunya cara menahan amarah yang hampir meledak. “Mereka salah besar jika mengira aku akan diam.”
---
Di rumah Prameswari, Alena duduk di ruang tamu bersama Dinda. Malam terasa menegangkan meski tidak ada yang aneh secara kasat mata. Tapi insting Alena mengatakan ada sesuatu yang salah.
“Kak, kau merasa ada orang yang mengawasi kita?” bisiknya sambil menoleh ke jendela.
Dinda yang sejak tadi membaca majalah langsung mendongak. Ia menatap keluar, hanya gelap dan sunyi yang terlihat. “Jangan membuatku ikut panik, Lena. Tapi… jujur saja, aku juga merasa tidak nyaman.”
Alena menggenggam bantal di pangkuannya, tubuhnya menegang. “Aku takut.”
Dinda meraih tangan adiknya. “Tenang. Kita tidak sendiri. Aku yakin Arsen selalu punya cara untuk melindungimu.”
---
Tak lama, suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Alena segera berdiri, jantungnya berdegup cepat. Saat pintu rumah diketuk, Dinda yang membuka. Ternyata benar, Arsen dan Seno muncul dengan wajah serius.
“Arsen?” Alena mendekat dengan langkah ragu. “Ada apa?”
Arsen langsung menatapnya, matanya tajam sekaligus khawatir. “Kau baik-baik saja?”
“A-aku baik-baik saja. Kenapa? Kau terlihat tegang.”
Seno ikut masuk, menutup pintu dengan cepat. “Ada orang yang mengikuti Alena sejak sore tadi. Kami belum tahu siapa, tapi jelas mereka bukan orang biasa.”
Alena terdiam. Dinda menatap kaget. “Mengikuti? Untuk apa?”
Arsen berjalan mendekat, menatap Alena lekat-lekat. “Mereka ingin mengintimidasi. Atau lebih buruk, menculikmu.”
Alena terperanjat, tubuhnya gemetar. “Kenapa aku? Aku bukan siapa-siapa.”
Arsen mendekatkan wajahnya, suaranya rendah tapi penuh kepastian. “Karena kau adalah kelemahanku, Alena. Dan mereka tahu itu.”
Alena terpaku. Kata-kata itu menusuk jantungnya, membuat rasa takut bercampur dengan kehangatan aneh yang tak bisa dijelaskan. Dinda menatap keduanya, menyadari ada sesuatu yang semakin dalam terjalin antara mereka.
---
Di sisi lain kota, Nadine menerima kabar dari orang suruhannya. Ia tersenyum puas begitu mendengar laporan bahwa Alena hampir ketahuan sedang diawasi.
“Bagus. Terus awasi dia. Aku ingin tahu semua gerak-geriknya. Dan jangan biarkan Arsen merasa aman terlalu lama,” perintahnya dengan suara lembut namun dingin.
Setelah menutup telepon, Nadine meneguk segelas anggur merah. Di dalam hatinya, kecemburuan dan obsesi sudah menjadi racun yang membakar.
“Alena… kau pikir kau bisa mengambil segalanya dariku? Tidak. Permainan ini baru saja dimulai.”
---
Malam itu, Arsen memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah Prameswari. Ia duduk di ruang tamu, sementara Alena tak bisa memejamkan mata. Ia berjalan pelan menghampiri Arsen yang masih terjaga.
“Arsen,” panggil Alena lirih.
Arsen menoleh. Tatapan mata mereka bertemu dalam hening. “Kau belum tidur?”
“Tidak bisa. Aku terlalu gelisah.”
Arsen menepuk kursi di sampingnya. “Duduklah. Aku juga tidak bisa tidur.”
Alena duduk, lalu keduanya terdiam beberapa saat. Hanya suara detik jam yang terdengar.
“Kenapa kau begitu keras kepala menjaga aku, Arsen?” tanya Alena akhirnya.
Arsen menatapnya, lama, sebelum menjawab. “Karena aku tidak ingin kehilanganmu. Kau mungkin belum menyadarinya, tapi kehadiranmu sudah terlalu penting bagiku.”
Alena merasakan dadanya bergetar hebat. Kata-kata itu begitu jujur, begitu dalam, hingga ia tak tahu harus berkata apa.
Arsen tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada dingin, “Dan siapa pun yang mencoba menyentuhmu, akan menyesal karena berurusan denganku.”
---
Di luar rumah, seseorang berdiri dalam bayangan pohon. Sosok itu menatap rumah dengan sorot mata penuh misteri. Ia menyalakan rokok, menghisap dalam-dalam, lalu tersenyum samar.
“Permainan baru saja dimulai,” gumamnya. “Mari kita lihat, siapa yang lebih kuat bertahan.”
---
Bagian 4
Pagi menyapa dengan sinar matahari yang hangat, namun bagi Arsen, Alena, dan semua yang terlibat semalam, hangat itu tak cukup untuk mengusir rasa waspada. Burung-burung berkicau, anak-anak berlarian di halaman rumah tetangga, dunia terlihat biasa—tetapi bagi mereka, dunia sudah menjadi arena permainan bahaya yang tidak bisa diprediksi.
Alena keluar dari kamar dengan wajah pucat, rambutnya masih acak-acakan karena tidur yang tidak nyenyak. Ia melihat Arsen masih duduk di ruang tamu dengan kemeja yang kusut, jelas sekali ia tidak tidur sama sekali.
“Kau belum tidur?” tanya Alena pelan.
Arsen menoleh sekilas, matanya merah. “Tidak perlu. Aku lebih memilih berjaga.”
“Kau tidak bisa seperti ini, Arsen. Kau butuh istirahat juga,” Alena mendekat, suaranya lembut, penuh kepedulian.
Arsen tersenyum tipis, namun di balik senyumnya tersimpan luka. “Tidur bukan pilihan saat orang yang paling berarti bagiku terancam.”
Kata-kata itu membuat Alena terdiam. Dadanya sesak, tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa duduk di samping Arsen, memberi kehadiran yang diam-diam ia tahu sangat dibutuhkan pria itu.
---
Di dapur, Dinda menyiapkan sarapan. Ia menatap sekilas dari pintu, melihat adiknya dan Arsen duduk berdekatan tanpa menyadari dunia di sekitar mereka. Sebuah senyum samar muncul di wajah Dinda.
Namun senyum itu cepat memudar. Ia tahu hubungan keduanya penuh resiko. Arsen bukan pria biasa—hidupnya dikelilingi bahaya, dan kini bahaya itu juga mengintai Alena.
Dinda menghela napas panjang, bergumam sendiri, “Apakah ini jalan yang benar, Lena?”
---
Beberapa jam kemudian, Seno datang membawa kabar baru. Ia masuk ke ruang tamu dengan wajah serius.
“Ada perkembangan,” katanya tegas.
Arsen langsung berdiri. “Bicara.”
Seno menatap sekilas ke arah Alena, lalu kembali menatap Arsen. “Kami menemukan salah satu mobil yang dipakai orang-orang itu. Mereka sengaja meninggalkannya di gudang kosong dekat pelabuhan lama.”
“Itu jebakan,” potong Arsen cepat.
“Aku juga berpikir begitu. Tapi di mobil itu, kami menemukan sesuatu.” Seno mengeluarkan sebuah foto lusuh dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Arsen.
Alena mendekat, ikut melihat. Matanya membelalak begitu menyadari apa yang ada di foto itu.
Itu adalah foto dirinya, diambil diam-diam beberapa hari lalu saat ia sedang berjalan sendirian di kampus. Senyum alaminya tertangkap kamera, tapi di balik foto itu ada coretan spidol merah: Milik siapa kau sebenarnya?
Alena menutup mulut dengan tangan, tubuhnya bergetar. “Mereka… mereka sudah lama mengawasiku?”
Arsen meremas foto itu kuat-kuat, matanya menyala penuh amarah. “Mereka sudah melewati batas.”
Seno menambahkan dengan nada berat, “Dan ada sesuatu lagi. Di balik foto itu, ada tanda tangan… huruf ‘N’ besar. Aku yakin ini bukan kebetulan.”
Alena langsung menoleh pada Arsen. “Nadine?”
Arsen tidak menjawab, tapi sorot matanya sudah cukup untuk menjelaskan.
---
Di tempat lain, Nadine berdiri di balkon rumah mewahnya sambil memandang ke kejauhan. Ia memainkan segelas anggur merah di tangannya, matanya tajam penuh perhitungan.
Seorang pria berjas hitam melaporkan sesuatu di belakangnya. “Tuan Putri, pesan sudah sampai pada mereka. Tepat seperti yang Anda minta.”
Nadine tersenyum tipis. “Bagus. Arsen pasti sudah marah. Dan semakin marah dia, semakin mudah aku mengendalikannya.”
“Tapi Nona Nadine, bagaimana jika semuanya berbalik arah?”
Nadine menoleh, tatapannya tajam bak pisau. “Aku tidak pernah kalah. Ingat itu. Selama aku ada, Alena tidak akan pernah tenang.”
---
Sore harinya, Arsen memutuskan untuk mengunjungi Rafael, pamannya. Ia membawa Seno bersamanya, sementara Alena dan Dinda tetap di rumah dengan pengawasan ketat orang-orang Arsen.
Rafael menerima mereka di ruang kerja besar penuh buku tua. Pria itu menatap keponakannya dengan sorot bijaksana namun penuh kecemasan.
“Kau terlihat letih, Arsen. Matamu menyimpan api yang berbahaya.”
Arsen duduk, tangannya mengepal. “Paman, mereka berani mengusik Alena. Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.”
Rafael menghela napas, lalu menatap tajam. “Permainan ini bukan sekadar tentang wanita yang kau cintai, Arsen. Ada kekuatan besar yang bergerak di balik semua ini. Jangan hanya mengikuti emosi, atau kau akan terjebak dalam permainan mereka.”
Seno mengangguk. “Aku setuju dengan Tuan Rafael. Kita harus bertindak hati-hati. Mereka ingin membuatmu lengah.”
Arsen menatap keduanya dengan dingin. “Mereka bisa menyerang aku, menghancurkan semua yang kumiliki, aku tidak peduli. Tapi jika mereka menyentuh Alena… dunia ini akan aku balikkan.”
---
Di rumah Prameswari, malam menjelang dengan keheningan yang menegangkan. Alena berdiri di jendela, menatap bulan yang menggantung pucat di langit. Bayangan kata-kata Arsen terus terngiang di kepalanya.
“Kau kelemahanku, Alena.”
Ia menggenggam tirai erat-erat, perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Takut, rindu, dan sebuah ketertarikan yang kian sulit ia kendalikan.
Dinda masuk, menatap adiknya. “Kau jatuh cinta padanya, kan?”
Alena terkejut, wajahnya memerah. “K-Kak, bukan begitu…”
Dinda mendekat, menatapnya dengan penuh kasih sayang. “Lena, aku tahu. Aku bisa melihatnya dari caramu menatap Arsen. Tapi ingat, cinta pada pria seperti dia bukan hanya tentang kebahagiaan. Ada bahaya yang menyertainya.”
Air mata berkumpul di sudut mata Alena. “Aku tahu, Kak. Tapi aku tidak bisa menghentikan hatiku.”
Dinda memeluk adiknya erat. “Kalau begitu, bersiaplah. Karena cinta ini tidak akan mudah. Kau harus kuat.”
---
Di luar sana, seseorang kembali mengawasi rumah itu. Rokoknya menyala dalam gelap, matanya penuh misteri. Ia tersenyum tipis, lalu berkata pelan, “Permainan bahaya ini baru saja memanas.”
---
Bagian 5
Malam itu, rumah keluarga Prameswari seolah berada dalam benteng yang rapuh. Setiap suara angin, setiap bayangan yang melintas, seakan membawa ancaman. Arsen kembali, bersama Seno, dengan ekspresi yang lebih keras dari biasanya. Alena berlari menyambut, tapi langkahnya terhenti saat melihat sorot mata dingin itu.
“Ada apa?” suara Alena bergetar.
Arsen menggeleng perlahan. “Bukan sesuatu yang bisa kau dengar sekarang. Yang jelas, kita tidak bisa lagi berpura-pura hidup normal.”
Kalimat itu membuat Alena makin cemas. Dinda yang berdiri tak jauh langsung merangkul adiknya, mencoba menenangkan. Tapi dalam hatinya, ia pun tahu, badai yang lebih besar sedang menunggu.
---
Arsen masuk ke ruang kerja kecil di rumah itu, mengajak Seno menyusul. Di atas meja, ia menaruh foto Alena yang dicoret dengan spidol merah. Seno menatap benda itu lama, kemudian berkata, “Jelas Nadine ada di balik semua ini. Dia tidak sekadar cemburu. Dia ingin menghancurkan.”
Arsen mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kita harus lebih dulu menyerangnya.”
Seno menghela napas. “Arsen, aku tahu amarahmu. Tapi kau tidak bisa gegabah. Nadine punya koneksi. Dia licik, dia bisa membalik keadaan dan membuatmu jatuh ke dalam jebakan.”
Arsen membanting tangannya ke meja, suara kayu berderak. “Aku tidak peduli! Selama Alena masih menjadi target, aku tidak akan diam.”
Keheningan menguasai ruangan. Seno tahu, membujuk Arsen saat ini sia-sia. Yang bisa ia lakukan hanya mengawasi, agar keputusan yang lahir dari amarah itu tidak menjerumuskan mereka semua.
---
Di kamar, Alena duduk di ranjang dengan wajah pucat. Dinda duduk di sampingnya, memegang tangannya erat.
“Lena,” ujar Dinda pelan, “aku tahu kau takut. Tapi kau harus mempercayai Arsen. Dia akan melindungimu dengan segala cara.”
Alena menunduk. “Itu yang aku takutkan, Kak. Sampai sejauh mana ia harus terluka hanya untuk melindungiku? Sampai kapan ia harus berperang melawan orang-orang itu? Aku tidak ingin dia menderita karena aku.”
Dinda tersenyum pahit. “Itu bukan sesuatu yang bisa kau hentikan. Lelaki sepertinya… dia akan selalu memilih berkorban. Pertanyaannya, apakah kau siap mendampinginya dalam semua itu?”
Air mata jatuh di pipi Alena. Ia tahu jawabannya, meski bibirnya tak sanggup mengucapkannya.
---
Sementara itu, Rafael berdiri di beranda rumah besar miliknya, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Di tangannya, sebuah dokumen tua terbuka, berisi catatan-catatan lama mengenai organisasi rahasia yang dulu pernah menjadi musuh keluarganya.
Ia berbisik sendiri, “Sejarah berulang. Luka lama bangkit kembali. Dan kini, cucuku sendiri yang harus menanggungnya.”
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuatnya terdiam lama sebelum akhirnya ia mengangkat.
“Ya?” suaranya berat.
Dari seberang, terdengar suara seorang wanita. Nadine. “Tuan Rafael… bukankah menarik melihat bagaimana semua pion mulai bergerak?”
Rafael mengepalkan tangan. “Nadine… permainanmu sudah kelewat batas.”
Tawa dingin Nadine terdengar. “Batas hanya ada bagi mereka yang takut melangkah. Bagi saya, Tuan, ini baru pemanasan.”
Sambungan terputus, meninggalkan Rafael dengan d**a sesak. Ia tahu, perang ini bukan lagi soal cinta segitiga. Ini adalah permainan kekuasaan, balas dendam, dan harga diri.
---
Beberapa hari berikutnya, situasi makin menegang. Arsen mengatur strategi dengan Seno, membagi anak buahnya untuk berjaga di sekitar rumah Alena. Namun, entah bagaimana, lawan selalu satu langkah lebih maju.
Malam itu, salah satu penjaga melapor. “Tuan, kami menemukan tanda merah di gerbang belakang. Seperti lambang…”
Arsen bergegas memeriksa. Di pintu kayu yang berlumut, ada simbol aneh dicat dengan darah hewan. Bentuknya menyerupai huruf ‘N’ yang dipelintir.
Alena yang kebetulan ikut melihat langsung menjerit kecil, tubuhnya bergetar. Dinda buru-buru memeluknya, sementara Arsen berdiri kaku dengan rahang mengeras.
“Ini bukan ancaman biasa,” kata Seno pelan. “Mereka ingin menanamkan rasa takut di hati kita.”
Arsen menatap simbol itu dengan tatapan membara. “Kalau mereka ingin perang, akan kuberikan perang. Permainan ini akan berakhir dengan darah mereka sendiri.”
---
Namun di balik semua tekad itu, ada satu hal yang tak bisa ia kendalikan: perasaan terhadap Alena. Malam itu, setelah semua orang tertidur, Arsen berdiri di halaman, menatap ke langit. Suara langkah pelan membuatnya menoleh.
Alena berdiri di sana, dengan cardigan tipis, wajahnya masih menyimpan resah. “Aku tidak bisa tidur,” katanya lirih.
Arsen hanya menatapnya tanpa kata. Lalu Alena mendekat, berdiri tepat di hadapannya. “Arsen, jika semua ini karena aku… jika semua bahaya ini ada karena aku… kau boleh pergi. Aku akan baik-baik saja.”
Arsen langsung mendekat, menggenggam bahunya dengan kuat. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kau pikir aku akan meninggalkanmu? Tidak ada tempat di dunia ini yang lebih ingin aku jaga selain di sisimu.”
Alena terdiam, matanya berkaca-kaca. Dan saat itulah ia menyadari, bukan hanya bahaya yang mengikat mereka, tapi juga sebuah cinta yang makin tak bisa disangkal.
Di kejauhan, bayangan seseorang mengamati mereka dari balik pohon. Mata itu berkilat penuh dendam, dan senyum sinis menghiasi wajahnya. Permainan bahaya belum berakhir—justru baru saja dimulai.
---