Bagian 1 – Bayangan di Balik Kebenaran
Pagi menyingsing dengan langit yang buram, awan abu-abu menggantung berat di atas kota. Di rumah aman itu, suara tetesan hujan semalam masih tersisa di talang air, meninggalkan nuansa muram yang sulit dihapus. Alena terbangun lebih dulu, tubuhnya masih letih setelah malam penuh ketegangan. Ia menoleh, melihat Arsen yang tertidur dengan balutan kain di bahunya. Luka itu belum pulih, namun wajahnya tampak lebih tenang dibanding malam sebelumnya.
Alena menarik napas panjang. Setiap detik bersama pria itu terasa seperti hadiah, meski setiap waktu mereka dihantui bayangan maut. Tangannya perlahan menyentuh map di meja, benda yang telah menyeret mereka semua ke pusaran konflik. Map itu ibarat kunci yang bisa membuka pintu kebenaran, tapi juga bisa menghancurkan segalanya.
Pintu kamar berderit, menampakkan sosok Seno dengan wajah lelah. “Kau sudah bangun?” tanyanya pelan, menjaga suara agar tidak mengganggu Arsen.
Alena mengangguk. “Dia masih tidur. Bagaimana keadaan di luar?”
“Tenang, untuk sementara. Tapi kita tidak bisa lama di sini,” jawab Seno sambil menutup pintu lagi. “Rafael pasti sudah mengirim orang untuk melacak. Kita harus bergerak sebelum mereka menemukannya.”
Alena memeluk map itu lebih erat. “Kalau begini terus, kapan semua ini akan berakhir, Seno? Kapan kami bisa hidup normal?”
Seno menatapnya sejenak, lalu tersenyum getir. “Jika kau bersama Arsen, normal bukanlah pilihan. Tapi mungkin, itulah jalan yang harus kalian tempuh.”
---
Di sisi lain kota, Rafael duduk di ruang kerjanya, ditemani Nadine. Mata pria itu menatap dokumen di meja, namun pikirannya jelas melayang pada keponakannya.
“Kau benar-benar akan membiarkan mereka lolos begitu saja?” tanya Nadine, suaranya penuh kebingungan.
Rafael mendongak, tatapannya menusuk. “Lolos? Tidak, Nadine. Mereka hanya menunda kehancuran. Kebenaran yang mereka pegang hanyalah sebagian. Ada potongan besar yang belum mereka ketahui. Dan saat itu terungkap, mereka akan saling meragukan.”
Nadine menggenggam tangannya sendiri, menahan gejolak di hatinya. Ia tahu Rafael punya cara yang kejam untuk memutarbalikkan fakta. Ia tahu, sebentar lagi akan ada kebohongan yang disulut hingga tampak seperti kebenaran. Dan saat itu terjadi, bukan hanya Arsen dan Alena yang akan terjebak, tapi juga dirinya sendiri.
---
Siang hari, Arsen akhirnya terbangun. Wajahnya pucat, tapi matanya masih menyala dengan keteguhan yang sama. Ia langsung menatap Alena, seakan memastikan gadis itu baik-baik saja.
“Apa kita aman?” tanyanya.
“Untuk sementara,” jawab Alena lembut. “Tapi Seno bilang kita harus segera pindah.”
Arsen mengangguk, lalu berusaha bangkit meski Alena menahannya. “Kau belum pulih.”
“Aku tidak bisa hanya berdiam,” balasnya pelan. “Setiap menit berharga, Lena. Jika Rafael bergerak lebih dulu, semua pengorbanan ini sia-sia.”
Alena menunduk, matanya berkaca. “Kau selalu seperti itu. Menganggap dirimu harus menanggung segalanya. Tapi bagaimana denganmu, Arsen? Bagaimana jika kebenaran yang kau perjuangkan ternyata menyakitkan?”
Arsen terdiam, menatapnya lama. Dalam sorot mata itu, ada keraguan yang jarang sekali muncul. “Jika memang begitu, maka aku akan menerimanya. Karena kebohongan lebih menyakitkan daripada kebenaran, Lena. Dan aku sudah terlalu lama hidup dalam bayangannya.”
---
Sementara itu, Rafael mengatur langkah besar. Ia memerintahkan anak buahnya menyebarkan informasi palsu—potongan data yang dimanipulasi, seakan-akan menunjuk bahwa pengkhianatan berasal dari orang terdekat Arsen.
Targetnya jelas: memecah kepercayaan.
Dan di antara nama yang dipalsukan itu, satu nama muncul—nama yang tak pernah disangka Arsen akan terlibat.
Nama itu adalah Dinda Prameswari.
---
Bagian 2 – Retaknya Kepercayaan
Hari itu, sore turun dengan mendung kelabu. Suasana di rumah aman terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Seno baru kembali setelah berkeliling mencari jalur aman, wajahnya penuh ketegangan. Ia membawa sebuah amplop yang ditemukan di sebuah tempat yang tak seharusnya.
Arsen menatap benda itu dengan curiga. “Apa ini?”
Seno meletakkannya di meja. “Kurir anonim. Tak ada tanda siapa yang mengirim. Tapi… kau harus melihatnya sendiri.”
Alena, yang duduk di samping Arsen, merasa dadanya tiba-tiba sesak. Jari-jari Arsen gemetar samar saat membuka amplop itu, menyingkap lembaran-lembaran kertas berisi catatan transaksi, foto, dan dokumen dengan nama yang tidak asing.
Di bagian atas, tercetak jelas:
DINDA PRAMESWARI.
Alena menutup mulutnya dengan tangan, shock. “Tidak mungkin…”
Foto-foto itu menunjukkan pertemuan Dinda dengan seseorang yang berhubungan dengan Rafael. Ada catatan percakapan, seakan-akan Dinda telah memberi informasi tentang keberadaan Alena dan Arsen sebelumnya.
Arsen terdiam, rahangnya mengeras. Tatapannya menjadi dingin, penuh badai yang ditahan.
“Arsen…” suara Alena bergetar, mencoba menahan kemungkinan terburuk. “Ini bisa saja jebakan. Rafael—dia pintar memutarbalikkan fakta. Jangan langsung percaya.”
Seno ikut menambahkan, “Aku juga merasa ada yang janggal. Informasi ini datang terlalu mudah. Rafael tahu betul cara memecah kita.”
Namun luka lama Arsen membuatnya goyah. Ia ingat betul masa-masa ketika orang yang ia percaya justru menikam dari belakang. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh.
Arsen berdiri perlahan, tubuhnya masih lemah tapi sorot matanya tajam. “Jika ini benar… berarti sejak awal kita semua sudah ditipu. Bahkan oleh orang terdekat.”
Alena menggenggam tangannya, menahan dengan kuat. “Arsen! Dengarkan aku. Dinda adalah kakakku. Dia tidak mungkin—tidak mungkin mengkhianatiku. Aku mengenalnya. Jangan biarkan Rafael menang hanya karena kau meragukan orang yang kita cintai.”
Arsen menatapnya, hatinya berperang hebat. Ada bagian dirinya yang ingin percaya penuh pada Alena, tapi ada pula suara kecil yang terus berbisik—suara masa lalu, suara pengkhianatan, suara kebenaran pahit.
---
Di tempat lain, Rafael duduk santai dengan segelas anggur merah. Nadine berdiri di sisi jendela, matanya menatap jauh keluar. Ia tahu apa yang sedang terjadi: Rafael telah menyebarkan benih kebohongan.
“Benar-benar licik,” gumam Nadine pelan. “Kau menanam keraguan, membiarkan mereka saling meragukan hingga hancur sendiri.”
Rafael tersenyum tipis. “Itulah seni permainan, Nadine. Terkadang kita tak perlu menembakkan peluru untuk membunuh. Cukup racun yang tak terlihat—dan kepercayaan adalah racun paling mematikan.”
Nadine memejamkan mata, hatinya bergolak. Ia tahu bahwa jika kebohongan itu berhasil, bukan hanya Arsen yang akan kehilangan pegangan. Alena juga akan hancur. Dan entah kenapa, Nadine merasa ada sesuatu yang menusuk jauh di dalam dirinya, sesuatu yang menyerupai penyesalan.
---
Malamnya, suasana di rumah aman semakin mencekam. Arsen duduk sendirian di ruang tamu, map di tangannya. Alena menghampirinya, matanya penuh luka karena melihat jarak yang tiba-tiba tercipta.
“Arsen…” suaranya nyaris berbisik. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi aku mohon, jangan biarkan keraguan ini merenggut kita.”
Arsen menatapnya, sorotnya penuh kelelahan. “Lena, aku ingin percaya padamu. Tapi jika dokumen ini benar… bagaimana aku bisa menutup mata?”
Air mata menetes di pipi Alena. “Percayalah padaku, bukan pada kertas itu. Dinda mungkin punya rahasia, tapi dia bukan pengkhianat. Aku tahu itu.”
Sunyi memanjang, hanya suara hujan yang mengetuk jendela. Dalam keheningan itu, dua hati berperang hebat: antara kepercayaan dan kebohongan, antara cinta dan luka masa lalu.
---
Namun yang tak mereka sadari, seseorang telah mengawasi rumah aman itu dari kejauhan. Bayangan itu mengintai dalam gelap, membawa pesan baru yang akan semakin memperkeruh keadaan.
Kebohongan belum selesai. Justru baru saja dimulai.
---
Bagian 3 – Bayangan di Balik Nama
Hujan belum juga reda ketika dini hari menjemput. Rumah aman itu kini terasa seperti penjara sunyi bagi semua penghuninya. Arsen berjalan mondar-mandir di ruang kerja kecil yang digunakan untuk merancang strategi. Lembar-lembar dokumen tersebar di meja, sementara di layar laptop tampak deretan email terenkripsi yang baru saja dibongkar Seno.
“Tidak mungkin…” desis Arsen lirih. Matanya membaca ulang setiap baris, tapi tetap saja nama itu muncul: Dinda Prameswari.
Seno yang duduk di kursi tak jauh darinya ikut angkat bicara. “Aku sudah telusuri jalur pengiriman email ini. Sangat rapi, jejaknya dimanipulasi. Seolah-olah benar dari Dinda. Tapi entah kenapa aku merasa ini terlalu… bersih.”
Arsen berhenti melangkah. “Terlalu bersih?”
“Ya,” Seno mengangguk. “Kalau memang Dinda berkhianat, ia pasti meninggalkan celah. Orang dalam selalu punya pola, selalu ada sesuatu yang tak sempurna. Tapi ini seperti… seseorang sengaja membuat bukti sempurna agar kita percaya begitu saja.”
Arsen mendengarkan, namun hatinya tetap bergejolak. Luka masa lalunya—pengkhianatan yang pernah ia alami dari orang yang ia percayai penuh—membuatnya sulit menyingkirkan rasa ragu.
---
Sementara itu, Alena duduk di kamar, menatap foto dirinya bersama Dinda di ponsel. Wajah kakaknya tersenyum hangat, senyum yang selalu menjadi sandaran. Air mata menitik tanpa bisa ditahan.
“Dinda…” bisiknya. “Apa benar semua ini ulahmu? Atau hanya permainan kotor Rafael?”
Pintu kamar terbuka perlahan, Arsen masuk dengan langkah berat. Ia menatap Alena lama sebelum akhirnya berkata, “Kita harus bicara.”
Alena menegakkan tubuh, matanya masih basah. “Kalau ini tentang Dinda, aku tidak akan tinggal diam.”
“Aku hanya ingin tahu pendapatmu,” kata Arsen, suaranya rendah tapi tegas. “Jika… aku harus memilih antara mempercayai bukti atau kata hatimu, apa kau berani menanggung semua risikonya?”
Alena bangkit berdiri. “Ya. Aku akan menanggungnya. Karena aku yakin Dinda tidak bersalah. Aku akan berdiri di sisinya, apapun yang terjadi.”
Arsen menatap dalam-dalam, seakan ingin memastikan bahwa keteguhan itu bukan sekadar kata. Lalu ia menghela napas panjang, duduk di kursi. “Baik. Tapi jika ternyata kebenaran berbeda… aku harap kau siap.”
Alena menggenggam tangannya erat. “Kalau aku harus hancur demi membuktikan kebenarannya, aku rela. Asalkan aku tahu kebenaran itu tidak datang dari keraguanmu padaku.”
Arsen menunduk, dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut—bukan pada Rafael, bukan pada ancaman maut, melainkan pada kemungkinan kehilangan orang yang ia cintai karena sebuah kebohongan.
---
Di sisi lain kota, Rafael mengamati layar monitor besar di ruang kendali rahasianya. Foto-foto rumah aman muncul jelas, hasil kamera pengintai yang ia pasang lewat orang dalam. Senyum tipis terlukis di wajahnya.
“Sudah mulai retak,” ujarnya pelan.
Nadine yang duduk tak jauh darinya menoleh. “Kau puas melihat mereka saling meragukan?”
“Puas?” Rafael terkekeh pelan. “Ini baru permulaan. Mereka belum benar-benar saling mencurigai. Tapi sebentar lagi… kepercayaan itu akan runtuh. Dan saat itu terjadi, mereka akan sibuk saling menyalahkan sementara aku merebut semua yang kumau.”
Nadine menggigit bibirnya, ada rasa getir yang sulit dijelaskan. “Tapi bagaimana kalau ternyata Dinda benar-benar tidak bersalah? Kau membuatnya terlihat seolah pengkhianat, padahal mungkin hanya pionmu.”
Rafael menoleh, menatap tajam. “Dalam permainan ini, siapa pun bisa jadi pion. Bahkan kau, Nadine.”
Ucapan itu membuat Nadine tercekat. Hatinya tiba-tiba menolak keras kemungkinan dirinya hanya alat bagi Rafael. Namun ia terlalu dalam terjerat untuk bisa mundur begitu saja.
---
Malam berikutnya, Dinda akhirnya muncul di hadapan mereka. Ia datang terburu-buru, wajahnya pucat dan mata sembab. Begitu memasuki rumah aman, ia langsung memeluk Alena.
“Lena… maafkan aku. Aku tidak bisa datang lebih cepat,” ucapnya dengan suara bergetar.
Arsen berdiri di sudut ruangan, menatapnya penuh curiga. Map berisi dokumen itu masih berada di tangannya.
“Dinda,” ucap Arsen dingin, “ada hal yang harus kau jelaskan.”
Dinda melepaskan pelukan Alena, lalu menatap Arsen. “Aku tahu… Rafael sedang berusaha menjebakku. Aku tidak pernah mengkhianati kalian.”
Arsen meletakkan map di meja, membuka lembar demi lembar. “Lalu bagaimana dengan ini?”
Wajah Dinda memucat. Tangannya gemetar saat mengambil salah satu foto. Itu adalah dirinya yang terlihat sedang berbicara dengan seorang pria asing—orang kepercayaan Rafael.
“Itu… itu tidak seperti yang kau pikirkan,” ucapnya gugup. “Aku memang bertemu orang itu, tapi bukan untuk mengkhianati kalian. Aku mencari informasi. Aku ingin tahu apa rencana Rafael sebenarnya.”
Alena menatap kakaknya dengan air mata penuh harap. “Aku percaya padamu, Kak. Tolong katakan yang sebenarnya pada Arsen.”
Dinda menggenggam tangan Alena. “Aku tidak akan pernah menyakitimu, Lena. Tidak pernah.”
Namun Arsen tetap terdiam, tatapannya penuh badai. Ia ingin mempercayai kata-kata itu, tapi bayangan masa lalu masih menghantui.
---
Ketegangan itu pecah ketika tiba-tiba terdengar ledakan kecil di luar rumah aman. Lampu padam sesaat, hanya tersisa kegelapan. Seno segera bergerak, mengeluarkan senjata dan mengintip lewat jendela.
“Rafael menemukan kita,” katanya cepat.
Arsen segera berdiri, matanya beralih dari Dinda ke Alena. “Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Kita harus keluar sekarang juga.”
Namun di dalam hatinya, keraguan itu tetap tinggal.
Apakah Dinda benar-benar korban jebakan Rafael, atau justru bagian dari permainannya?
Dan lebih dari itu—berapa lama lagi cinta dan kepercayaan mereka mampu bertahan di tengah kebohongan yang semakin membelit?
---
Bagian 4 – Dalam Kepungan Kebohongan
Suara ledakan susulan mengguncang dinding rumah aman. Asap tipis menyusup dari celah-celah jendela, membuat suasana semakin mencekam. Arsen langsung memimpin, suaranya tajam memberi instruksi.
“Seno, pastikan jalur belakang aman. Alena, ikut aku. Dinda…” ia terhenti sejenak, menimbang, “…tetap bersama kami. Jangan terpisah.”
Dinda mengangguk patuh, meski wajahnya menyimpan kegelisahan. Alena meraih tangannya erat, seakan menolak segala kemungkinan buruk.
---
Di luar, pasukan bayangan Rafael mengepung rapat. Senjata otomatis mereka diarahkan ke setiap sisi bangunan. Dari dalam mobil lapis baja hitam, Rafael menyaksikan semua lewat monitor kecil.
“Jangan habisi mereka,” katanya datar. “Aku hanya ingin mereka merasa tidak ada tempat yang benar-benar aman. Biarkan kepanikan yang menghancurkan kepercayaan mereka.”
Nadine yang duduk di kursi penumpang memejamkan mata sebentar, lalu berbisik, “Kau benar-benar menikmati melihat mereka saling mencurigai.”
Rafael tersenyum samar. “Kebenaran adalah senjata paling tajam, Nadine. Tapi kebohongan yang tampak seperti kebenaran… jauh lebih mematikan.”
---
Arsen memimpin keluar lewat pintu belakang, langkah cepat tapi tetap waspada. Hujan deras menyelimuti malam, membuat pandangan terbatas. Seno bergerak di depan, memeriksa tiap sudut.
Tiba-tiba, dari arah gang sempit, dua pria bersenjata muncul. Seno langsung mengangkat pistol, melepaskan tembakan singkat. Suara peluru berpadu dengan dentuman hujan. Kedua pria itu tumbang seketika.
“Cepat!” seru Seno.
Alena menggenggam tangan Dinda, berlari sekuat tenaga. Namun di tengah langkah, Dinda terhuyung. Ada rasa sakit di wajahnya, seolah menahan sesuatu.
“Dinda!” Alena menahan tubuh kakaknya.
Arsen berbalik cepat, matanya sempat menangkap kilatan aneh—ada darah tipis merembes di lengan Dinda.
“Kau terluka?” tanyanya tajam.
Dinda menggeleng cepat. “Bukan dari tadi. Aku hanya… tergores saat lari.”
Namun Arsen tak sepenuhnya yakin. Ia melihat sekilas sesuatu yang disembunyikan Dinda di balik mantel: sebuah perangkat kecil berlampu merah berkedip samar.
---
Mereka akhirnya tiba di gudang tua, tempat persembunyian darurat yang sudah dipersiapkan Seno. Pintu besi dikunci rapat. Hanya ada deru napas tergesa di dalam ruangan sempit itu.
Arsen menatap Dinda lekat-lekat. “Apa itu yang kau sembunyikan?”
Dinda kaget, tubuhnya menegang. Alena refleks berdiri di antara mereka. “Arsen, jangan menuduh tanpa bukti.”
Arsen mengabaikan, langsung menarik mantel Dinda. Terlihat jelas sebuah transmitter kecil terpasang di balik kain, lampunya masih berkedip.
Semua terdiam. Suara hujan di luar seolah lenyap, digantikan dentuman jantung masing-masing.
“Itu… bukan milikku,” Dinda terbata. “Aku tidak tahu bagaimana bisa ada di sana. Seseorang pasti menyelipkannya padaku.”
Arsen mendekat, wajahnya keras. “Lalu bagaimana aku bisa percaya? Karena berkat alat ini, Rafael bisa menemukan lokasi kita.”
Alena bergetar, matanya berkaca-kaca. “Kak… tolong katakan yang sebenarnya.”
Dinda menatap balik adiknya, air matanya jatuh. “Aku bersumpah, Lena. Aku tidak pernah berniat mengkhianati kalian. Aku bahkan tidak tahu kapan alat itu dipasang. Aku hanya ingin melindungimu.”
Seno mengambil transmitter itu, menelitinya cepat. “Canggih. Ini bukan perangkat sembarangan. Rafael pasti sengaja menanamkannya. Pertanyaannya: lewat siapa? Kalau bukan Dinda sendiri, berarti ada orang lain yang menyusup lebih dekat.”
Ketegangan makin menebal. Arsen menatap Dinda, pikirannya terbelah. Separuh ingin percaya pada kata-katanya, separuh lagi tidak bisa menyingkirkan rasa curiga.
---
Di sisi lain, Rafael tersenyum puas saat melihat titik merah di layar monitornya. “Mereka sudah menyadarinya. Bagus. Biarkan mereka hancur oleh ketidakpercayaan.”
Nadine melirik sekilas. “Tapi jika terus begini, mereka akan tahu ini jebakanmu.”
“Itu tidak penting,” jawab Rafael enteng. “Yang penting, mereka saling meragukan. Itulah kehancuran sejati.”
---
Malam semakin larut. Di dalam gudang, keheningan menyelimuti. Alena duduk di samping kakaknya, mencoba menenangkan dengan genggaman tangan.
Arsen berdiri di pojok, matanya tak lepas dari Dinda. Ia tahu betul betapa lihainya Rafael dalam memainkan situasi. Tapi bayangan transmitter itu menghantui pikirannya.
Seno mendekat, berbisik, “Arsen, kita butuh keputusan. Apakah Dinda tetap bersama kita atau harus diamankan terpisah?”
Arsen terdiam. Kata-kata itu menusuk, seolah memaksanya memilih antara logika atau hati.
Alena bangkit, menatap Arsen penuh ketegasan. “Kalau kau memisahkan Dinda, aku ikut dengannya.”
Arsen terhenyak. “Alena…”
“Aku tidak akan meninggalkan kakakku sendirian saat semua orang menuduhnya,” suara Alena bergetar, tapi tegas.
Dinda menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca. “Lena, jangan… Kau berhak aman. Jangan korbankan dirimu demi aku.”
Namun Alena menggeleng kuat. “Kita keluarga. Itu artinya apa pun yang menimpamu, akan kutanggung juga.”
Hening panjang menyelimuti. Arsen menutup mata sejenak, lalu berkata dengan suara rendah tapi penuh luka:
“Baiklah. Kita tetap bersama. Tapi mulai sekarang, setiap langkah akan kuawasi. Sekali lagi kau membuat kesalahan, Dinda… aku tidak akan memberi kesempatan kedua.”
Dinda menunduk, air mata jatuh tanpa suara. Ia tahu kepercayaan itu nyaris lenyap.
Dan di balik itu semua, bayangan Rafael seakan tertawa puas dalam kegelapan, karena kebohongan yang ia taburkan sudah tumbuh menjadi jurang di antara mereka.
---
Bagian 5 – Retakan di Tengah Cinta dan Kebohongan
Malam itu hujan tak kunjung reda. Gudang tua bergetar tiap kali angin kencang menerpa dinding sengnya. Di dalam, keheningan mencekam. Tidak ada yang benar-benar tidur, hanya pura-pura memejamkan mata sambil berjaga.
Alena bersandar di bahu kakaknya, masih menggenggam tangan Dinda erat-erat. Seno duduk dekat pintu, pistol tergeletak di pangkuannya, matanya tajam menatap setiap celah yang berpotensi menjadi ancaman.
Arsen berjalan mondar-mandir, pikirannya terhimpit rasa marah, cemas, sekaligus sakit. Ia terbiasa dengan pengkhianatan di lingkar kekuasaan, tapi kali ini berbeda: kebohongan merayap masuk lewat orang-orang yang dekat dengan hatinya.
---
Tiba-tiba suara ponsel satelit Seno berdering singkat. Ia mengangkat cepat, suaranya rendah. Namun wajahnya berubah tegang setelah beberapa detik mendengarkan.
“Arsen…” suaranya berat. “…ada laporan, salah satu anak buah kita membelot. Dia mengaku pernah ditugaskan Rafael menyusup ke lingkaran terdekat.”
Semua mata langsung menoleh.
“Siapa?” tanya Arsen tajam.
Seno menelan ludah. “Kodenya Orion. Orang yang selama ini kita kira hanya kurir biasa. Dan menurut pengakuannya, ia menyerahkan sebuah perangkat kepada… seseorang yang mirip dengan Dinda.”
Alena langsung menegang. “Itu jebakan. Bisa saja dia hanya menyebut nama kakakku untuk mengadu domba.”
Arsen menatap Dinda, matanya menusuk. “Benarkah kau pernah bertemu seseorang dengan kode Orion?”
Dinda terlihat bingung, wajahnya pucat. “Aku… aku tidak ingat. Aku sering berpapasan dengan orang-orang suruhanmu, Arsen. Bagaimana aku tahu siapa Orion?”
Hening menyelimuti ruangan. Alena memeluk kakaknya lebih erat, seakan ingin melindungi dari tatapan semua orang.
---
Di tempat lain, Rafael menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit, menonton semua laporan lewat rekaman satelit. Senyum miringnya tak pernah pudar.
“Lihatlah, Nadine,” ujarnya pelan. “Tak perlu peluru untuk menghancurkan mereka. Cukup dengan satu kebohongan yang tak bisa dibuktikan. Sisanya akan mereka lakukan sendiri: saling curiga, saling melukai.”
Nadine menggigit bibir, ada kilatan bimbang di matanya. “Tapi… bagaimana jika kebohongan itu justru membuat mereka semakin kuat, karena bertahan bersama?”
Rafael menoleh, menatapnya tajam. “Kalau begitu, berarti kebohonganku belum cukup dalam. Dan aku akan membuatnya semakin tak terelakkan.”
---
Pagi menyingsing dengan langit kelabu. Hujan sudah mereda, tapi udara dingin menusuk tulang. Arsen akhirnya memutuskan untuk memindahkan persembunyian. Mereka keluar dari gudang dengan hati-hati, menyusuri jalanan licin yang sepi.
Di tengah perjalanan, langkah mereka dihentikan oleh bayangan seseorang yang sudah menunggu di persimpangan. Seorang pria bertubuh sedang, mengenakan mantel hitam basah oleh hujan.
“Orion,” bisik Seno.
Arsen langsung menodongkan pistol. “Kenapa kau ada di sini?”
Pria itu mengangkat kedua tangan. “Aku menyerah. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu sebelum terlambat.”
Semua tegang. Alena merapatkan tubuhnya ke Dinda, sementara Seno siap menembak kapan saja.
“Aku memang bekerja untuk Rafael,” ucap Orion lantang. “Tapi aku dipaksa. Aku disuruh mendekati lingkaran kalian. Aku diberi perintah untuk memastikan seseorang selalu bisa dilacak.”
Arsen mendekat selangkah, matanya dingin. “Dan kau menyusupkan transmitter itu pada Dinda?”
Orion menatap ke arah Dinda, kemudian ke arah Arsen. Wajahnya sulit ditebak. “Aku hanya mengikuti perintah. Perangkat itu memang harus kuselipkan pada orang terdekat kalian. Dan saat itu… aku melihat celah pada dirinya.”
Alena langsung menjerit. “Kau pembohong! Kau hanya ingin kakakku dituduh!”
Namun sebelum Arsen sempat memutuskan, tiba-tiba peluru melesat. Orion terhuyung, darah muncrat dari dadanya. Ia roboh ke tanah, matanya terbuka lebar tanpa sempat menyelesaikan kata terakhirnya.
Semua menoleh ke arah datangnya peluru. Dari kejauhan, bayangan penembak menghilang di balik gedung kosong.
“Sniper!” seru Seno.
Mereka langsung berlindung, tapi sudah terlambat. Orion tewas, dan bersama nyawanya, kebenaran ikut lenyap.
---
Arsen menggertakkan rahang, matanya menatap tubuh Orion yang tergeletak.
“Rafael tidak ingin kita tahu kebenaran,” katanya getir. “Dan sekarang, kita hanya punya serpihan cerita tanpa kepastian.”
Dinda terisak, wajahnya penuh ketakutan. “Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa. Aku bukan pengkhianat, Alena… percaya aku.”
Alena memeluknya erat, menatap Arsen dengan tatapan memohon. “Percayalah padanya, Arsen. Jangan biarkan Rafael berhasil memecah kita.”
Arsen menatap dua saudari itu, hatinya berkecamuk. Ia ingin percaya, tapi bayangan transmitter, pengakuan Orion, dan segala kebohongan yang melingkupi mereka membuatnya nyaris gila.
Seno menatap Arsen, suaranya tegas. “Kita harus cepat pindah tempat. Rafael sudah tahu kita di sini. Kalau tidak, kita semua akan jadi buruan.”
Arsen mengangguk berat. “Baik. Kita pergi. Tapi dengarkan baik-baik…” ia menoleh pada Dinda. “…mulai sekarang, setiap langkahmu akan kupantau. Jika kau bohong lagi, aku sendiri yang akan mengakhirinya.”
Dinda menunduk, air matanya jatuh. Alena hanya bisa menggenggam tangannya lebih erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang hampir padam.
Dan di balik semua itu, Rafael kembali menyeringai dalam bayangan kekuasaan. Kebohongan sudah ia tanamkan. Hasilnya kini tumbuh menjadi jurang yang memisahkan hati mereka. Jurang yang perlahan-lahan akan menelan segalanya.
---
Mereka bergerak lagi, menyusuri jalanan kota yang perlahan hidup. Orang-orang lalu lalang, tak tahu bahwa di balik keramaian biasa, sebuah permainan kekuasaan sedang berlangsung. Permainan yang bisa menghancurkan nyawa siapa pun yang terjebak di dalamnya.
Alena menggenggam erat tangan kakaknya, sementara Arsen berjalan di depan, bahunya tegang, pikirannya diliputi badai. Seno menyapu pandangan ke segala arah, siap menembak siapa pun yang berani menghalangi.
Mereka tetap bersama. Namun retakan sudah nyata. Dan sekali retak, kebohongan tinggal menunggu waktu untuk membuat segalanya runtuh.
---