Ryker memandang Arshen dengan serius. "Ayahmu dibunuh oleh seseorang yang sangat dekat dengannya," katanya.
Arshen merasa seperti tersengat listrik. "Siapa?" ia bertanya dengan nada yang keras.
Ryker mengambil napas dalam-dalam. "Nama orang itu adalah Victor," katanya. "Dia adalah teman ayahmu, tapi dia memiliki motif untuk membunuhnya."
Arshen merasa seperti dunia berputar di sekelilingnya. "Victor?" ia bertanya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Ryker mengangguk. "Ya, Victor. Dia memiliki dendam terhadap ayahmu dan memutuskan untuk membunuhnya."
Arshen merasa seperti api dendam di dalam hatinya semakin membakar. "Saya akan membalas dendam atas kematian ayah saya," ia berkata dengan nada yang tegas.
Ryker memandang Arshen dengan serius. "Saya tahu kamu akan mengatakan itu," katanya. "Tapi kamu harus berhati-hati. Victor tidak akan mudah dikalahkan."
Arshen mengangguk. "Saya siap," ia berkata. "Saya akan melakukan apa saja untuk membalas dendam atas kematian ayah saya."
Ryker tersenyum. "Saya percaya kamu," katanya. "Tapi kamu harus ingat, dendam tidak akan pernah membawa kebahagiaan."
Arshen memandang Ryker dengan serius. "Saya tidak mencari kebahagiaan," ia berkata. "Saya mencari keadilan."
Ryker mengangguk. "Baiklah, maka saya akan memberitahu kamu apa yang saya tahu tentang Victor."
"Victor adalah seorang pengusaha yang sukses," Ryker berkata. "Tapi dia memiliki sisi gelap yang tidak banyak orang tahu. Dia memiliki dendam terhadap ayahmu karena ayahmu menemukan beberapa kejanggalan dalam bisnis Victor."
Arshen merasa seperti ada yang tidak beres. "Apa yang kamu maksud?" ia bertanya.
"Victor memiliki bisnis yang tidak sepenuhnya sah," Ryker menjelaskan. "Ayahmu menemukan beberapa kejanggalan dan mengancam untuk melaporkannya kepada pihak berwajib. Victor tidak ingin reputasinya hancur, jadi dia memutuskan untuk membunuh ayahmu."
Arshen merasa seperti api dendam di dalam hatinya semakin membakar. "Saya akan membuatnya membayar," ia berkata dengan nada yang tegas.
Ryker mengangguk. "Saya percaya kamu," katanya. "Tapi kamu harus berhati-hati. Victor memiliki banyak koneksi dan sumber daya. Dia tidak akan mudah dikalahkan."
Arshen mengangguk. "Saya siap," ia berkata. "Saya akan melakukan apa saja untuk membalas dendam atas kematian ayah saya."
Ryker tersenyum. "Saya akan membantu kamu," katanya. "Tapi kamu harus ingat, kita harus berhati-hati. Victor tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan kita jika kita mengancamnya."
Arshen mengangguk. "Saya siap," ia berkata. "Mari kita mulai."
Ryker mengangguk dan memberikan Arshen sebuah folder yang berisi informasi tentang Victor. "Ini adalah semua yang saya tahu tentang Victor," katanya. "Saya harap ini bisa membantu kamu dalam misi kamu."
Arshen membuka folder itu dan mulai membacanya. Ia menemukan bahwa Victor memiliki banyak koneksi dengan orang-orang berpengaruh di kota itu. Ia juga menemukan bahwa Victor memiliki beberapa bisnis yang tidak sepenuhnya sah.
"Saya harus berhati-hati," Arshen berkata kepada dirinya sendiri. "Victor tidak akan mudah dikalahkan."
Arshen memutuskan untuk memulai dengan mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang Victor. Ia pergi ke kantor Victor dan berpura-pura menjadi seorang calon karyawan.
Ketika Arshen tiba di kantor Victor, ia melihat bahwa Victor sedang berbicara dengan beberapa orang yang terlihat seperti orang-orang berpengaruh. Arshen memutuskan untuk mendengarkan percakapan mereka dari jauh.
"Apa yang mereka bicarakan?" Arshen bertanya kepada dirinya sendiri. "Apakah ini ada hubungannya dengan kematian ayah saya?"
Arshen terus mendengarkan percakapan mereka dan menemukan bahwa Victor sedang merencanakan sesuatu yang besar. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia yakin bahwa itu tidak baik.
Arshen memutuskan untuk mengikuti Victor dan melihat apa yang sedang direncanakannya. Ia mengikuti Victor ke sebuah gudang di pinggiran kota.
Ketika Arshen tiba di gudang itu, ia melihat bahwa Victor sedang berbicara dengan beberapa orang yang terlihat seperti preman. Arshen memutuskan untuk bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka.
"Apa yang kamu inginkan, Victor?" salah satu preman itu bertanya.
"Aku ingin kamu mengurus seseorang untukku," Victor menjawab. "Aku tidak ingin orang itu mengganggu rencana-rencana ku."
Arshen merasa seperti ada yang tidak beres. Ia tidak tahu siapa orang yang dimaksudkan oleh Victor, tapi ia yakin bahwa itu tidak baik.
Tiba-tiba, Arshen mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia berbalik dan melihat seorang pria yang sedang mendekatinya.
"Kamu tidak seharusnya ada di sini," pria itu berkata dengan nada yang keras.
Arshen siap untuk melawan pria itu. Ia mengambil posisi bertahan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan.
Pria itu menyerang Arshen dengan cepat, tapi Arshen berhasil mengelak dan membalas dengan tendangan yang kuat. Pria itu terjatuh ke tanah, tapi ia segera bangun kembali dan menyerang Arshen lagi.
Arshen dan pria itu bertarung dengan sengit. Arshen menggunakan semua kemampuan bela dirinya untuk menghadapi serangan pria itu, tapi pria itu juga tidak mudah dikalahkan.
Setelah beberapa menit bertarung, Arshen berhasil mengalahkan pria itu. Ia berdiri di atasnya, merasa lega dan puas.
Tapi tiba-tiba, Arshen mendengar suara Victor yang sedang mendekatinya. "Kamu tidak seharusnya ada di sini," Victor berkata dengan nada yang keras.
Arshen siap untuk menghadapi Victor. Ia tahu bahwa Victor tidak akan mudah dikalahkan, tapi ia yakin bahwa ia bisa mengalahkannya.
"Apa yang kamu inginkan, Victor?" Arshen bertanya dengan nada yang tegas.
Victor tersenyum. "Aku ingin kamu mati," katanya. "Kamu telah mengganggu rencana-rencana ku."
Arshen siap untuk melawan Victor.