Pagi yang indah dan cerah itu terasa hangat untuk di rasakan. Rumput-rumput masih basah, bunga mulai bermekaran, kicauan suara burungpun mulai terdengar.
Marius duduk di depan makam Kimberly, memandangi batu nisannya yang memiliki ukiran indah. Marius menggenggam bucket bunga yang sengaja dia bawa dan dia rangkai sendiri di toko langganannya.
Perlahan Marius membungkuk, meletakan bunga itu di atas makam Kimberly.
Bibir Marius sedikit terbuka, dia mengambil napasnya dalam-dalam penuh rasa sesak, Marius menatap sendu makam Kimberly. Kilatan matanya menunjukan rasa bersalah sekaligus sedih.
Beberapa kali Marius harus mengatur napasnya hanya untuk bisa mengurangi debaran hebat yang bergejolak di hatinya karena setelah sekian lama hatinya dalam kebekuan, kini perlahan meleleh seperti es di