Langit Jakarta hari itu tampak abu-abu, seperti perasaan Alya yang tak karuan sejak pagi. Dia saat ini sudah berdiri di depan gedung megah tempatnya akan mulai bekerja setelah dipindah tugaskan ke kantor pusat, disampaikan sebuah keputusan manajemen yang katanya sebagai "pengakuan atas dasar kinerjanya yang luar biasa."
Alya menghela napas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca lobi kantor. Ia menarik napas dalam-dalam dan membenarkan jas hitam yang membalut tubuh rampingnya. Semuanya tampak begitu sangat sempurna, kecuali hatinya yang tak pernah bisa benar-benar diperbaiki.
Langkahnya mantap untuk memasuki lobi, dan menyapa petugas keamanan, lalu naik lift untuk menuju lantai 18 tempat kerjanya yang baru. Dalam kepalanya saat ini, dia hanya memikirkan bagaimana nanti menghadapi atasan baru, rekan kerja baru, dan lingkungan yang sepenuhnya asing. Namun satu hal yang sungguh tak pernah ia duga nanti adalah kenyataan dimana dia akan bertemu kembali dengan lelaki dari masa lalunya, orang yang paling ia hindari, justru ada di puncak perusahaan ini.
***
“Selamat datang di kantor pusat, Mbak Alya,” sapa Dita, staf HRD yang tampak ramah dengan senyum lebarnya. “Hari ini kita mulai dengan pertemuan dengan CEO, beliau yang ingin menyambut langsung para karyawan yang baru dipindahkan ke sini.”
Alya membeku sesaat. “Maaf, CEO? Langsung?”
“Iya. Pak Raka Mahendra orangnya sangat hands-on, apalagi kalau ada karyawan dari divisi strategis seperti Mbak Alya.”
Nama itu menghantam seperti badai. Untuk sesaat dunia Alya seolah berhenti sejenak. Raka Mahendra? Tidak mungkin. Tidak. Tuhan, tolong jangan sampai itu dia…
Namun dunia tak peduli pada permintaan manusia yang patah. Dan ketika pintu ruangan CEO terbuka lebar, doa-doanya yang bertahun-tahun untuk tak bertemu lagi dengannya justru dikabulkan dengan cara paling menyakitkan dan tak pernah dia duga.
Di balik meja kaca besar dengan latar belakang jendela tinggi dan panorama kota, kini berdiri seorang pria dengan jas abu-abu, rapi dan berwibawa. Tatapan matanya yang tajam yang siapa saja yang melihatnya begitu segan, namun kini penuh keterkejutan saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
“Alya…,” suara itu lirih, nyaris seperti bisikan dari masa lalu. “Kamu... di sini?”
Alya menegakkan tubuh, menyembunyikan segala keguncangan yang kini dia rasakan di balik senyuman formal yang dia berikan. “Selamat pagi, Pak Raka. Terima kasih sudah menerima saya di perusahaan, Bapak.”
Raka masih terdiam, matanya tak lepas sedikitpun dari wajah Alya. Wajah itu masih sama, hanya lebih dewasa. Matanya masih memancarkan sorot yang dulu membuatnya jatuh cinta, namun kini juga membawa jarak yang dingin.
Dita yang belum menyadari ketegangan dari keduanya di ruangan itu berkata riang, “Pak Raka, ini Mbak Alya Nadhira. Dari tim marketing strategis cabang Bandung. Salah satu karyawan yang terbaik disana.”
“Iya…” Raka berdehem, mencoba kembali ke peran CEO-nya. “Saya tahu. Sangat tahu.”
***
Pertemuan itu hanya berlangsung lima belas menit. Raka bersikap profesional, tapi matanya justru terus menelusuri wajah Alya seolah dia ingin bicara lebih dari sekadar kerja. Sedangkan Alya sendiri menjaga sikap sebaik mungkin, meski pun dadanya kini terasa begitu sesak sepanjang waktu.
Saat keluar dari ruangan itu, napas Alya begitu menyesakan d**a. Ia bersandar di dinding lorong, matanya memejam kuat.
Takdir benar-benar sedang bermain kasar hari ini dengannya.
***
Malam itu, di apartemennya yang baru, Alya duduk sendiri di dekat jendela sambil menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Di luar, langit mulai menurunkan hujan. Dan seperti biasa, hujan selalu membawa kenangan yang tidak ia undang.
Ia masih ingat hari itu—hari ketika Raka yang pergi begitu saja. Saat itu mereka bertengkar hebat karena keputusan sepihaknya untuk mengambil beasiswa ke luar negeri tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Raka yang memilih pergi, memilih mimpi-mimpinya, dan meninggalkan Alya dalam pertanyaan tak berjawab. Tak ada kabar. Tak ada pamit yang layak. Hanya sepi yang panjang dan luka yang sangat dalam.
Alya tak pernah benar-benar tahu kenapa. Hingga ia berhenti mencoba memahami.
Dan sekarang, lelaki itu kini datang kembali. Dengan memakai jas mahal, jabatan yang tinggi, dan tatapan yang masih begitu menyakitkan.
***
Keesokan harinya, Alya mulai bergabung dengan tim barunya. Ia bekerja dengan tenang, menunjukkan profesionalisme yang membuat semua orang cepat menyukainya. Reyhan, salah satu kolega di divisi kreatif, dengan begitu cepat menjadi dekat dengannya.
“Lo cepat banget nyetel, ya. Gua aja waktu baru pindah ke sini tiga minggu masih salah jalan ke pantry,” kata Reyhan sambil tertawa.
Alya tersenyum. “Aku hafalin jalur-jalur penting dulu. Kayak pantry, musholla, dan jalan keluar darurat kalau butuh kabur.”
Reyhan tertawa lagi ketika mendengar jawabannya. “Lo lucu juga, ya. Serius tapi ada punchline-nya.”
Interaksi itu begitu ringan dan penuh hangat. Untuk sesaat, Alya lupa pada keberadaan Raka yang berada di lantai paling atas gedung ini.
Namun, lupa bukan berarti sembuh. Dan melupakan bukan berarti selesai.
***
Dua minggu berlalu, dan Raka belum juga menghubungi Alya secara pribadi. Tapi kehadirannya terasa di setiap rapat, setiap email dengan namanya, dan setiap kali lift terbuka dengan kemungkinan sosoknya ada di dalam.
Dan akhirnya, hari itu datang.
Alya dipanggil ke ruang CEO untuk membahas strategi baru dengan tim eksekutif. Sebuah kesempatan besar—dan jebakan emosional yang sangat sulit dihindari.
Ketika ia masuk, Raka menunggu sendirian.
“Yang lain belum datang,” katanya pelan. “Kamu... bisa duduk dulu.”
Alya berdiri tegak. “Saya lebih nyaman berdiri.”
Raka menatapnya lama, lalu berkata, “Alya... aku minta maaf.”
Seketika itu juga, udara dalam ruangan seperti berubah. Kata-kata itu mungkin terdengar sederhana, tapi memiliki beban yang begitu dalam.
“Maaf?” Alya mengangkat alisnya. “Setelah bertahun-tahun, kamu pikir cukup hanya dengan kata itu?”
Raka berdiri, berjalan pelan mendekatinya. “Aku tahu aku salah. Aku pengecut. Tapi aku nggak pernah berhenti mikirin kamu.”
“Berhenti,” potong Alya, suaranya bergetar. “Kita bukan dua orang yang sama lagi, Raka. Kamu bukan orang yang kutunggu lagi. Dan aku... aku bukan perempuan yang dulu rela menunggumu.”
Raka terdiam, namun matanya penuh luka. “Aku cuma mau kesempatan untuk menjelaskan. Sekali saja.”
Alya menatapnya tajam. “Kesempatan itu sudah kamu buang waktu kamu memilih pergi tanpa menoleh. Sekarang, aku yang memilih. Dan aku memilih untuk tidak lagi mengulang luka.”
Ia berbalik, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke belakang. Tapi di dalam dadanya, gemuruh itu kembali muncul. Luka yang pernah mengering, kini mulai terasa nyerinya lagi.
Dan ia tahu, pertemuannya kembali dengan Raka bukan akhir—tapi awal dari ujian yang jauh lebih rumit.
---