Markas mereka bukan apa-apa. Hanya sebuah ruko tua tiga lantai di kawasan Mangga Dua yang separuh kosong. Lantai bawah pura-pura jadi bengkel servis HP yang jarang buka. Lantai dua gudang. Lantai tiga, tempat Damar tinggal dan tempat semuanya disimpan.
Bu Sari sudah menunggu ketika mereka naik. Perempuan paruh baya itu duduk di kursi rotan, kacamata bertengger di hidung, dikelilingi tumpukan buku tua dan beberapa laptop yang menyala. Ia menatap bahu Damar yang berdarah dan langsung berdiri.
"Duduk," perintahnya, nadanya tidak menerima bantahan. "Rendi, ambilin kotak P3K sama air rebusan daun yang di kompor."
"Cuma goresan, Bu," kata Damar.
"Goresan dari kuku mereka bisa bikin lo demam tiga hari kalau nggak dibersihin bener. Lo pikir gua nggak tau?" Bu Sari sudah menyobek lengan jaketnya. "Diam."
Damar menurut. Selalu menurut pada Bu Sari. Perempuan ini yang menemukannya dua belas tahun lalu, bocah berdarah yang meringkuk di bawah meja, satu-satunya yang selamat dari pembantaian keluarga Wirastra. Bu Sari yang membesarkannya, mengajarinya membaca tanda-tanda, dan memberitahunya kebenaran yang membuat orang lain akan tertawa.
Bahwa vampir itu nyata. Dan mereka ada di mana-mana.
"Yang tadi tier rendah," kata Damar sambil meringis ketika air rebusan menyentuh lukanya. "Tapi dia di Pasar Senen, Bu. Di tempat ramai. Biasanya yang liar ngumpet di pinggiran."
Bu Sari berhenti sejenak. "Berapa banyak yang lo temuin bulan ini?"
"Lima. Yang tadi keenam."
"Bulan lalu cuma dua." Bu Sari melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya. "Ada yang nggak beres. Mereka biasanya teritorial. Nggak akan masuk wilayah ramai kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali ada yang ngusir mereka dari wilayah lama." Bu Sari memasang lagi kacamatanya. "Atau ada yang manggil mereka ke sini."
Rendi yang baru kembali membawa kotak P3K ikut duduk. Anak itu baru sembilan belas tahun, enam tahun lebih muda dari Damar, mantan anak jalanan yang nyaris dijadikan santapan setahun lalu sebelum Damar menyelamatkannya. Sejak itu ia menempel pada Damar seperti adik pada kakak.
"Bu, gua mau nanya," kata Rendi. "Kita berburu mereka udah lama. Tapi sebenernya mereka ini dari mana sih? Kayak ada yang ngatur, atau gimana?"
Bu Sari dan Damar bertukar pandang. Pertanyaan itu pertanyaan lama. Pertanyaan yang tidak pernah punya jawaban memuaskan.
"Ada hierarki," kata Bu Sari pelan. "Yang lo temuin malam ini, tier rendah, itu vampir liar. Bekas manusia yang digigit terus ditinggalin. Otaknya udah rusak, cuma ngerti lapar. Di atas mereka ada yang lebih tua, lebih pintar. Yang bisa nyamar jadi manusia bertahun-tahun. Mereka yang ngatur."
"Dan di atasnya?" tanya Rendi.
Bu Sari diam. Tatapannya pindah ke Damar. "Di atasnya, kita nggak tau pasti. Tapi ada nama yang kadang muncul di catatan-catatan lama. Sebuah keluarga. Mereka nyebut diri mereka Klan Sangkala."
Sesuatu bergetar di dalam dada Damar mendengar nama itu. Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi tubuhnya bereaksi, seperti tubuh yang mengenali sesuatu yang ditolak oleh ingatannya.
"Lo kenapa?" tanya Bu Sari, memperhatikan wajahnya.
"Nggak apa-apa." Damar menggeleng. "Cuma capek."
Tapi malam itu, ketika ia berbaring di kasur tipisnya dan memandang langit-langit, nama itu terus berputar di kepalanya. Sangkala. Sangkala. Seperti lagu yang pernah didengarnya entah di mana, dengan lirik yang tak bisa diingat tapi nada yang tak bisa dilupakan.
Ia menyentuh dadanya, tempat di mana jantungnya berdetak. Pelan. Terlalu pelan, kalau dipikir-pikir. Selalu lebih pelan dari orang lain. Ia tidak pernah menganggapnya aneh.
Sampai malam itu.