Seperti biasa, disore hari Mira gadis yang cantik nan imut itu bergegas ke tempat dia bekerja paruh waktu hingga pukul 10.00 malam nanti.
Dia memang seorang mahasiswai, tapi dia juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membayar sewa, dan biaya kuliahnya sendiri. karena kedua orang tuanya sudah tidak sanggup untuk membiayai kuliah Mira. Hingga Mira memutuskan untuk pencari peruntungannya di ibukota dengan mencari biaya hidup sendiri , bekerja paruh waktu di beberapa tempat yang tidak berbenturan dengan jadwal kuliah dilakukannya setiap hari tanpa mengenal lelah.
Malam ini toserba cukup ramai pengunjung.
seperti hari biasa, Mira bekerja sendiri di sini sampai dia hampir kewalahan melayani para pelanggan.
" Harusnya aku dapat bonus hari ini"
gumannya sambil membereska meja kasir bergegas untuk pulang,
Sesaat terdengar suara mobil berhenti tepat di depan toserba tempat Mira bekerja, di melirik ke arah luar terlihat sebuah mobil mewah berhenti dan seorang pria yang sangat menawan turun dari mobilnya, usianya sekitar 32 tahun dangan pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya menambah kesan kelakiannya, wajaknya tampan dengan kulit putih bersih.
Pria itu menghampiri Mira
" Rokok 1" ucap pria itu dengan menyodorkan selembar uang pada Mira
" Ini tuan, trimakasih" ucap Mira memberikan sebungkus rokok pada pria yang ada dihadapannya tanpa melihat dan melanjutkan membereskan meja kasir yang sempat terhenti.
Tanpa Mira sadari pria itu sedari tadi masih memperhatikan wajah Mira yang terlihat lelah, entah apa yang diperhatikan olehnya sepertinya terpesona akan paras Mira yang memang cantik.
Hingga akhirnya Mira menyadari bahwa pria itu belum beranjak dari tempatnya
" Ada lagi yang anda butuhkan tuan? Toko segera tutup" ucap Mira membuat pria itu mengedarkan pandangan keseluruh toko ternyata sudah tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua
" Tidak" ucap pria itu sambil berlalu
Mira bergegas menutup toserba, kemudian menaiki taksi yang sudah dia pesan beberapa saat yang lalu untuk mengantarnya ke Club malam tempat bekerja paruh paktu berikutnya.
Sementara itu pria dari toserba tadi, yang sedari tadi diam-diam memperhatikan dan terus mengikuti taksi yang mengantar Mira menuju Club malam
" penampilan yang menipu, ternyata gadis liar " ucapnya sambil menyeringai.
Sesampainya club malam, Mira bersiap dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh pihak manager club malam yang terlihat seksi, dengan rok pendek diatas lutut, baju ketat sedikit terbuka hingga memperlihatkan sedikit keindahan kedua bukit Mira yang terlihat Putih dan berisi.
Bukan tanpa penolakan, Sebelumnya Mira pernah menentang, tapi tidak ada pilihan lain karena Mira membutuhkan pekerjaan ini.
Mira hanya pelayan yang bertugas menerima dan mengantar pesanan, tapi semua pekerja di club malam diwajibkan menggunakan baju yang sudah di sediakan oleh manager club malam tersebut untuk menarik perhatian para pelanggan.
Sementara itu pria toserba pun masuk dan mengedarkan bandangannya ke seluruh sudut club malam, tapi tidak menemukan sosok yang dia cari, akhirnya dia pun duduk. Disalah satu tempat yang kosong.
" Ada yang bisa saya bantu untuk pesanannya tuan" suara Mira membuat pria itu menoleh
" Kamu" ucap pria itu jarinya menunjuk Mira dan matanya tertuju pada kedua bukit Mira yang sedikit menggoda, tapi segera dia mengakihkan pandangannya kearah yang lain.
" Ada yang salah tuan" tanya Mira dengan tetap tersenyum ramah
" Tidak "balas pria itu kemudian memesan minunan untuknya.
Tidak menunggu lama pesanan pria itu datang, saat Mira meletakkan minuman diatas meja,
" Jadilah pacarku"
Pria itu kembali mengejutkan Mira,
Dengan perasaan sedikit terkejut Mira melihat kearah kiri dan kanan untuk memastikan bahwa dia adalah orang yang di ajaknya bicara,
Benar saja, itu memang Mira
" Kamu"lanjut pria itu kembaliali menunjuk Mira
"Maaf tuan, saya hanya pelayan disini. Kalau tuan menginginkan teman kencan anda bisa menghubungi atasan saya, permisi tuan" ucap Mira kemudian pergi meninggalkan pria itu sendiri.
" Huft, mengejutkan saja" ucap Mira sesampainya di dapur,
Bekerja di club malam membuat Mira sering mendapat permintaan-permintaan aneh dari para lelaki hidung belang yang coba untuk merayunya, tapi baru kali ini seseorang memintanya jadi pacar tanpa basa-basi.
Suasaba club malam yang bergemerlapan di iringi dengan musik yang dibawakan Dj tidak membuat pria itu terhibur, dalam pikirannya melayang pada gadis toserba yang juga pelayan di club malam yang belum dia ketahui namanya.
" Tuan boleh saya duduk" tanya seorang perempuan yang hendak merayunya
Ya, wajar saja jika ada yang merayu, pria itu sangat tampan dan dari penampilannya terlihat berdompet tebal, tentu saja banyak wanita yang mencoba mendekat dan merayu
"Tidak, pergilah" tolaknya
" Tuan, dengan wajah tuan yang tampan, tidak sepantasnya sendiri, harus ada wanita cantik yang menemani" memaksa duduk di sampingnya
"Pergi atau kuseret keluar" ucapnya dengan lirikan tajam.
Tanpa berucap wanita itu langsung pergi dengan rasa takut sekaligus kecewa karena gagal merayu.
Kemudian pria itu meraih handphone yang di letakkan diatas meja didepannya dan mulai menghubungi seseorang
"Cepat datang" perintahnya
Tak lama bos dari club malam itu datang menghampirinya
" Tuang Rein, sudah lama apa kabar?"
Sapanya dengan senyum sumringah
" Cukup basa-basinya Lan, ada yang harus kau lakukan untuk ku, dan itu harus sekarang"
Dengan wajahnya yang sedikit ragu
" Katakan tuan, aku akan melakukannya untukmu"
" Gadis pelayan, aku ingin kamu mengantarnya ke rumah ku sekarang juga"
"Gadis pelayan?" Tanya Lan sedikit kebingungan dengan permintaan pria yang disapanya Rein itu
"160 cm, berambut panjang kecoklatan, wajahnya kecil, kulitnya tidak terlalu putih" jelasnya
" Apa maksud tuan Mira pekerja paruh waktu?"
"Mira? Pekerja paruh waktu?"tanya pria bernama Rein
"Benar tuan, dia juga bekerja di toserba ujung jalan depan" jelasnya
" Benar, jadi namanya Mira?" Tanya Rein dengan senyum tipis
" Betul tuan"
"Aku tunggu dirumah, cepat bawa dia"perintahnya
" Tapi tuan, dia hanya seorang pelayan bagaimana jika dia menolak?" Tanya Lan dengan penuh rasa takut
"Apa aku harus menunjukkan caranya?" Balik tanya Rein dengan menangkat satu alis, membuat Lan semakin takut kalau-kalau orang yang sudah memberinya dana begitu besar untuk mendirikan clubnya marah bisa berakibat fatal, apa lagi dengan tempramen Rein yang sangat buruk dia bisa menghancurka seluruh club malam ini rata dengan tanah, membanyaknannya saja membuat merinding Lan.
Mira*
Melihat jam ditangan"hoam.... jam 3, waktunya pulang" ucap Mira sambil tangannya menutup mulut yang sedang menguap Menuju ruang ganti, dan memakai pakaiannnya kembali.
" Mira, kamu mau pulang?"tanya bos Lan
" Ia bos, sudah jam 3 nih" ucapnya
" aku juga mau pulang, kebetulan lewat depan rumahmu, mau barengan"
"Mau dong bos" balas Mira sambil tersenyum dengan wajah kantuknya
"Ok, saya tunggu dimobil ya"
"Siap" ucap Mira sambil mengangkat tanyannya memperi hormat
Mira pun bergegas menuju tempat parkir, Mira lanngsung bisa melihat mobil bosnya terparkir menunggunya, Mira membuka pintu mobil, dan duduk di samping kursi pengemudi,
" Sudah Mira" tanaya bos Lan
"Udah bos"
Selepar keluar parkiran, tiba-tiba ada yang membekap Mira dengan Bius dari belakang kursibya sehingga Mira pun pingsan dibuatnya.
Perlahan Mira mulai membuka mata dengan agaj berat, Mira mulai mengingat-ingat kembali bagaimana dia bisa sampai dirumah rumah.
Tunggu ..ini bukan kamarnya.
Mira semakin terkejut, pria toserba sedang duduk di dekat jendela sambil memandangnya. Rein sedari tadi memandangi Mira yang sedang tertidur, siapapun diposisi Mira akan mengiranya pria m***m.
Mira menarik selimut menutupi tubuhnya kemudian dia lihat tubuhnya masih utuh dengan pakaiannya semalam itu artinya tidak terjadi pada dirinya semalam.
"Siapa kamu? aku dimana? kenapa aku disini?" Tanya Mira
"Selamat pagi nona, ini rumah ku, semalam bos Lan yang mengantarmu kesini, sepertinya dia lupa alamat rumahmu, dan kau ketiduran saat diantar pulang" bohong Rein sambil berjalan mendekati mira yang terlihat kebingungan.
Mira kembali mengingat-ingat dengan keras.
Sepertinya Mira mengingat sesuatu, Mira langsung mencari tasnya dan mangambil handphone untuk menghubungi bos Lan,
" Halo bos, ada apa ini? Kenapa kamu membiusku semalam, apa yang kau lakukan pada ku? Kenpa mengantarku kerumah orang asing ini? Tanya Mira dengan emosi.
"Mira maafkan aku Mira, tapi kamu harus melayani Tuan Rein, dia akan memberimu uang yang banyak, mintalah padanya. aku tidak bisa menolak, atau usahaku akan hancur" ucapnya
"Apa urusanku, aku.."
Tut...tut....tut.... Tut ....
Belum selesai Mira bicara bos Lan sudah menutup telfon Mira dan Rein merebut handphone milik Mira dan memasukannya kedalam saku celana yang Rein kenakan.
Mira memandang Rein dengan wajah kesal
" Apa maksud semua ini, kamu menculikku?"
Tanya Mira pada Rein dengan wajah marahnya yang terlihat imut dimata Rein
" Hah,, menculikmu... Aku akan membayarmu, tetaplah disini dan jadi pacarku" ucap Rein sambil tersenyum.
" Kau gila ya? Kempalikan handphone ku" balas Mira sambil bangkit dari tempat tidur hendak keluar dari kamar
Tapi pintu kamar terkunci.
Mira berusaha membuka tapi tidak bisa.
" Buka pintunya aku mau pulang"bentak Mira.
Rein mendekat, semakin mendekat, menyudutkan Mira di pintu dan mendekatkan wajah tampan Rein pada wajah Mira yang sangat polos
"Sudah aku katakan, jadi pacarku aku akan memberi apa pun yang kamu inginkan, tidak ada yang boleh menolakku" bisik Rein pada Mira membuatnya ketakutan.
Rein semenjak kecil selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan, karena kedua orang tuanya sangat memanjakannya, terlebih saat kedua orang tuanya wafat, tidak ada lagi yang mengajari dan mengendalikan sifat manja dan semena Rein, hingga dia tumbuh menjadi orang yang sangat arogan dia tidak senang dengan penolakan, dan akan menghancurkan apa pun yang membuatnya marah.
"Aku mau pulang, ku mohon" pinta Mira
Rein berjalan menuju meja yang d atasnya sudah d sediakan sarapan untuk mereka berdua sejak tadi saat Mira masih tertidur
" Makanlah" perintah Rein
" Tidak, aku mau pulang saja" ucap Mira ditempat yang sama
Mendengar penolakan Mira Rein pun kesal dan melemparkan nampan berisi makanan ke arah Mira, namun tidak mengenai Mira.
"Sudah kukatakan aku tidak suka penolakan"ucapnya
Mira menangis, Rein semakin kesal dan bergegas ke kamar mandi, bersiap untuk kekantor.
Setelah siap dia pun meninggalkan Mira didalam kamar dalam keadaan menangis ketakutan dan kembali mengunci pintu kamar.
Setelah Rein pergi, Mira melihat kearah jendela mencari jalan untuk kabur, tapi rupanya dia berada d lantai 3 dan tidak ada jalannya untuk kabur.
Mira bingung, dia semakin ketakutan mengapa jadi begini, kenapa dia bisa diculik, apa yang diinginkan pria itu terhadapnya, mira tidak habis pikir ada orang yang mau menculiknya, tapi untuk apa? Sedangkan hidupnya tidak ada yang berharga.
Dia hilangpun tidak akan ada yang mencarinya, orang tuanya tidak pernah menanyakan kabarnya, teman pun Mira tidak punya selama 2 tahun kuliah Mira selalu menyendiri, Mira mendaftar di universitas bergengsi, semua dari keluarga kaya, hanya Mira yang banting tulang membiayai kuliahnya sendiri, jadi mana mungkin ada orang yang memperhatikan dirinya, apa lagi mencari ua.
Semakin Mira berfikir dia semakin bingung apa yang harus dilakukan, bagaimana bisa keluar, apa yang pria itu akan lakukan, aaah Mira tidak habis pikir.
Ditengah lamunannya Mira dikejutkan ketukan pintu kemudian dua orang pelayan masuk " permisi nona, saya membawakan sarapan untuk nona dan akan membersihankan lantainya" ucap salah satu pelayan ruamah itu dengan sopan
"Aku tidak mau makan, aku mau pulang saja" ucap Mira terlihat wajahnya yang memohon
" Maaf nona, nona tidak bisa pergi" ucap salah seorang pelayan itu dan segera mengunci pincu dengan cepat..
'sial' batin Mira
Setelah selesai membersihkan laintai kedua pelayan itu keluar dan tidak lupa segera menutup pintu membali
Sebelum menutup pintu pelayan itu sempat berkata" nona, jika ada yang dibutuhkan silahkan tekan tombol yang ada d sanping ranjang, kami akan segera datang" ucapnya
Mira melihat jam di tangannya lukul 10 pagi , perutnya terasa lapar, terpaksa dia makan agar tenaganya tetap terjaga dan bisa kabur sewaktu-waktu..
Jam sudah menunjuknan pukul 4 sore, Mira sedang melihat keluar jendela, terlihat mobil Rein datang, segera Mira lari ke kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam, dia melihat-lihat dan mencari benda yang bisa untuk menjaga dirinya, kalau-kalau Rein berbaut macam-macam padanya.
Cek..lek..
Pintu terbuka, Mira ketakutan didalam kamar mandi. Rein segera mencarinya tapi tidak ketemu, Rein melihat kamar mandi tertutup, Rein mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, Mira semakin ketakutan dan menangis.
"Mira..."
"Mira"
"Buka pintunya"
Mira tidak menjawab,
Rein kesal dan menendang pintu kamar mandi sampai terbuka, terlihat Mira yang sudah ketakutan berada di bawah wastafel sambil terus menangis memeluk kakinya sendiri,
Melihat itu Rein menarik lengan Mira keluar kamar mandi dan melemparnya ke atas ranjang miliknya
" Apa yang kami lakukan? Kamu takut?".
Mira terus menangis, Rein menarik nafas dalam
" Kamu jangan takut , kamu harus menuruti perkataanku, kamu harus tetap di sini "ucap Rein mengintimidasi, kemudian mendekati Mira dan membelai rambut Mira,
Kemudia Rein menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu kembali mendekati Mira dengan memberikan kantong yang berisikan pakaian untuk Mira
" Pakai ini" perintah Rein
Karena Mira takut dia pun mengikuti perintah Rein
Mira masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Rupanya itu gaun yang sangan cantik, lengkap dengan pakaian dalam wanita ukurannya sangat pas dan cocok dikenakan Mira, Mira ragu tapi dia tetap memakainya
Setelah keluar dari kamar mandi
" Duduk di sini" perintah Rein pada Mira untuk duduk di tepi ranjang.
Rein memegang sisir ditangannya dan mulai menyisir rambut Mira dengan lembut
' apa yang sebenarnya ingin dia lakukan? Apa maunya, kenapa dia lembut sekali' bating Mira terheran dengan sikap orang yang sudah menculiknua itu.
'jangan-jangan aku mau dual' prasangka Mira membuatnya geleng-geleng sendiri
" Apa yang sedang kau pikirkan" tanya Rein
Mira memberanikan diri untuk bertanaya
"Apa kamu mau menjualku" tanya mira sambil air matanya menetes
Mendengar itu, Rein menghentikan kegiatannya dan duduk d bawah tepat di depan Mira, akan menghapus air mata Mira dengan tangannya, tetapi Mira menghindar
"Kau pikir aku mucikari mau menjualmu?, Aku cuman ingin mengajakmu makan malam"
Rein berdiri mengambil selembar tisu dari atas meja di samping ranjang kemudian memberikannya pada Mira.
Rein memberikan tanagannya untuk Mira, sedikit berfikir akhirnya mira meraih tangan Rein.
Rein mengajaknya turun ke laintai satu menuju ruang makan, disana telah siap para pelayan dengan segala hidangannya, Rein menarik kursi dan mempersilahkan Mira duduk, Mira sedikit canggung
Mira tidak berani berkata apa-apa, dia pun makan dengan tenang disamping Rein. diakui makananya sangat enak dilidah Mira, dia tidak pernah makan semewah ini, biasanya hanya makan mie ataupun telur goreng untuk menghemat pengeluarannya karena banyak yang harus dia bayar untuk keperluan kuliahnya.
"makan yang banyak" ucap Rein membuyarkan selera makan Mira, mira kembali tersadar bahwa dia sedang diculik dan harus keluar dari rumah ini, tapi apa daya Rein sangat dekat dengannya.
akhirnya Mira melanjutkan makanya tanpa menjawab ucapan Rein.
usai makan malam Rein membawa Mira kembali ke kamarnya dan meninggalkannya sendiri, didalam kamar Mira terus berpikir bagaimana caranya keluar dari rumah Rein. dia memikirkan kuliahnya dan tempatnya bekerja, bisa bisa dia dipecat karena tidak bekerja tanpa memberi keterangan.
usai berfikir Mira melihat pakaiannya
"tidak mungkin menggunakan baju ini untuk tidur, pasti tidak nyaman" ucap Mira yang biasa tidur dengan pakaian longgar dan menanggakan bra.
"sepertinya pria itu tidak tidur di kamar ini, lebih baik aku mencari baju santai dilemarinya , besok pagi cepat cepat menggantinya lagi"
Mira pun menuju kamar ganti yang terhubung langsung dengan kamar Rein, tidak ada baju yang cocok dengannya, semua tampak sangat besar, kemudian Mira mengambil selembar kaos milik Rein lalu dikenakanya.
keluar dari kamar ganti Mira dibuat terkejut dengan kedatang Rein, Rein pun tak kalah terkejutnya dengan Mira yang sudah mengenakan pakaiannya, yang membuat Mira semakin terlihat seksi dengan pakaian longgar yang di pakainya, baju milik Rein seperti daster pada tubuh kecil mira, keduanya sama sama terpaku ditempat masing masing sampai akhirnya Rein memutar balik badannya dan sedikit tersenyum nakal dan memberikan sebuah kantong berisi pakaian tanpa membalikkan wajaknya, Mira perlahan mendekati Rein dan mengambil kantorng itu, ternyata pakaian untuk tidur.
'ah.. biarlah, lagi pula aku pakai selimut' batin Mira sanbil berjalan meletakkan kantor yang diberikan Rein diatas meja dan naik di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut 'hmnm nyamanya' batin Mira sambil menutup matanya dan tersenyum tipis, sepertinya Mira lupa kalau dia sedang diculik
Rein melihat wajah Mira yang tersenyum dia ikut tersenyum tipis, dia senang bahwa Mira terlihat nyaman walaupun dia tidak tau apa yang sedang di pikirkan oleh Mira.
Rein berbaring disamping Mira
'dia tidak melakukan apa pun pada ku, dia juga memberiku makan dan pakaian, sebenarnya apa yang diinginkan pria ini' batin Mira penuh tanya
Mira akhirnya memberanikan diri bertanaya" sebenarnya apa yang kamu inginkan dari saya, kenapa membawaku ke sini dan tidak mengijinkanku pulang?" tanya mira
Rein terdiam, kemudian di berbalik ke arah Mira, sambil menatap Mira yang sedari tadi menunggu jawaban Rein
"aku suka sama kamu, aku mau kamu jadi pacarku, dan mau kamu di sini denganku"
mendengar itu' gila ni orang, kalau suka ya dideketin pelan pelan dong, masa main culik aja, emang aku ini anak kucing apa, main bawa pulang aja' batin Mira sedikit kesal dengan jawaban Rein
" kalau kamu suka, lepaskan aku. ijinkan aku pulang," ucap Mira
" kamu boleh menemuiku setiap hari" bujuk Mira
Rein sedikit berfikir' benar juga, tapi bagaimana kalau dia menolakku lalu kabur dan menghindar bertemu denganku' batin Rein
tanpa menjawab Rein menutup matanya pura pura tertidur, Mira melihat itu hanya bisa menghela nafas panjangnya.
" kalau kamu tidak mengijinkanku pulang, ijinkan aku kuliah, aku tidak bisa setiap hari meninggalkan kuliahku"ucap Mira mulai bernegosiasi
" aku sudah mengijinkanmu sampai minggu depan"
"hah..." Mira bingung Rein sudah mengijinkan kuliahnya, dia tidak menyangka pria itu sudah memikirkan hal itu
" aku juga sudah bicara dengan pemilik toserba tempatmu bekerja, aku sudah bilang kalau kamu tmsudah tidak bisa bekerja paruh waktu lagi ditempatnya"
" maksudmu? aku sudah tidak bekerja lagi ditoserba? " Mira panik, sulitnya mencari tempat bekerja paruh waktu seenaknya dihentikan oleh Rein
"kamu tidak tau ya sulitnya aku mencari pekerjaan itu, aku harus mencari uang untuk kuliahku" ucap mira semakin kesal
" aku akan membiayai mu, tidak usah bekerja lagi"
" maksudmu kamu mau mengurungku selamanya?" ucap mira senakin kesal pada Rein
"aku akan membiarkanmu keluar, tapi kamu tidak boleh kabur, dan akan ada pengawal yang akan mengawasimu" jelas Rein
Mira sedikit berfikir 'sepertinya bagus, ada kesempatan aku bisa kabur'
"baik"ucap mira lantang
" tidurlah, minggu depan kamu bisa mulai kuliah mu"
"hmm" sahut mira
mereka pun tertidur pulas
hingga esok pagi Rein sudah bangun mendahului mira, dia menatap wajah mira yang masih tertidur pulas, Rein tersenyum tipis, memperhatikan bibir Mira yang sedikit terbuka seolah menantang Rein, ingin rasanya Rein mendekati dan menciumi bibir Mira dengan mesra, tapi dia mengalihkan pikiran mesumnya, dan menyelimuti tubuh Mira dengan hangat.
Rein menuju kamar mandi, meninggalkan mira yang masih terlelap untuk bersiap ke kantornya, rein memang pemilik hotel dan restoran lintang lima, dia sudah kaya, tidak perlu berangkat bekerjapun uang relalu mengalir kerekeningnya, tetapi dia selalu disiplin untuk bekerja.
_Ncunstar_
terimakasih sudah membaca, semoga terhibur