BAB 1
PERTEMUAN DI KANTOR
Pagi itu, suasana kantor sudah mulai dipenuhi kesibukan. Suara langkah kaki terdengar bersahutan di sepanjang lorong, bercampur dengan bunyi keyboard, dering telepon, dan percakapan para karyawan yang sedang mempersiapkan pekerjaan masing-masing.
Dewi berjalan memasuki lobi dengan langkah tergesa. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit.
"Semoga belum terlambat," gumamnya.
Ia mempercepat langkah menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, Dewi segera masuk dan menekan tombol lantai tempatnya bekerja.
Dewi merupakan salah satu karyawan yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut. Usianya masih tergolong muda, tetapi ia dikenal sebagai perempuan yang disiplin dan bertanggung jawab.
Bagi Dewi, pekerjaan bukan sekadar rutinitas untuk mendapatkan penghasilan. Ia ingin memiliki kehidupan yang mandiri. Ia tidak ingin terlalu bergantung kepada orang tua.
Sesampainya di lantai tempatnya bekerja, Dewi segera menuju meja kerjanya.
"Selamat pagi, Wi."
Dewi menoleh.
"Pagi, Rina."
Rina, rekan kerjanya, sedang menyalakan komputer.
"Kamu hampir telat lagi," goda Rina.
Dewi tersenyum kecil.
"Jalanan macet."
"Alasan klasik."
Dewi hanya tertawa. Ia kemudian meletakkan tas di samping kursi dan menyalakan komputer.
Beberapa menit kemudian, suasana kantor mulai berubah lebih tenang. Sebagian besar karyawan sudah berada di meja masing-masing.
Dewi membuka beberapa dokumen yang harus diselesaikannya hari itu.
Namun, belum lama ia mulai bekerja, seorang staf dari bagian administrasi datang menghampirinya.
"Dewi."
"Iya?"
"Pak Johan minta kamu ke ruangannya."
Dewi menghentikan pekerjaannya.
"Pak Johan?"
"Iya."
"Katanya ada pekerjaan yang mau dibicarakan."
Dewi mengangguk.
"Baik. Terima kasih."
Dewi kemudian berdiri dan berjalan menuju ruangan atasannya.
Johan merupakan salah satu atasan di perusahaan tersebut. Usianya tidak terpaut terlalu jauh dari Dewi. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas ketika bekerja, tetapi cukup mudah bergaul dengan para karyawan.
Dewi mengetuk pintu.
"Masuk."
Dewi membuka pintu.
"Pak, katanya saya dipanggil?"
Johan yang sedang melihat beberapa dokumen mengangkat kepalanya.
"Iya, Dewi. Duduk dulu."
Dewi duduk di kursi di depan meja Johan.
Johan mengambil sebuah berkas.
"Saya ingin membicarakan laporan yang kamu kerjakan kemarin."
Dewi sedikit tegang.
"Ada yang salah, Pak?"
Johan tersenyum.
"Justru sebaliknya. Laporan kamu cukup bagus."
Dewi menghela napas lega.
"Saya kira ada yang harus diperbaiki."
"Ada beberapa bagian kecil yang perlu disempurnakan. Tapi secara keseluruhan sudah bagus."
Johan menyerahkan berkas tersebut kepada Dewi.
Dewi membacanya dengan teliti.
"Bagian ini?"
"Iya. Tinggal sedikit penyesuaian."
Dewi mengangguk.
"Baik, Pak. Nanti saya perbaiki."
Johan memperhatikan Dewi beberapa saat sebelum kembali melihat dokumen di depannya.
"Kamu selalu mengerjakan semuanya sendiri?"
Dewi mengangkat wajah.
"Maksudnya?"
"Kalau ada pekerjaan yang berat, biasanya kamu meminta bantuan siapa?"
Dewi tersenyum.
"Kalau masih bisa saya kerjakan sendiri, biasanya saya selesaikan sendiri."
"Rajin."
Dewi hanya tersenyum.
Pembicaraan mereka sebenarnya masih berkaitan dengan pekerjaan. Namun sejak beberapa minggu terakhir, Johan mulai memperhatikan Dewi lebih dari sekadar sebagai bawahannya.
Dewi tidak menyadari hal itu.
Baginya, Johan hanyalah atasan yang selama ini cukup baik dalam memperlakukannya.
"Kalau sudah tidak ada lagi, saya kembali ke meja dulu, Pak."
"Sebentar."
Dewi berhenti.
"Ya?"
"Besok kamu ikut saya ke pertemuan dengan klien."
Dewi terlihat sedikit terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Tapi biasanya saya tidak ikut."
"Saya ingin kamu belajar langsung. Sekalian membantu mencatat hasil pertemuan."
Dewi berpikir sebentar kemudian mengangguk.
"Baik, Pak."
"Bagus."
Dewi berdiri.
"Kalau begitu saya permisi."
Johan mengangguk.
Dewi keluar dari ruangan tersebut tanpa mengetahui bahwa sejak pintu tertutup, Johan kembali memandang ke arah pintu cukup lama.
Ada sesuatu dalam diri Dewi yang belakangan ini menarik perhatiannya.
Bukan hanya karena Dewi rajin bekerja.
Ada kesederhanaan dalam sikap perempuan itu yang membuat Johan nyaman ketika berada di dekatnya.
Namun Johan belum berniat mengatakan apa pun.
Ia hanya ingin mengenal Dewi lebih jauh.
Sementara itu, Dewi kembali ke meja kerjanya.
Rina langsung menatapnya dengan rasa penasaran.
"Kenapa kamu dipanggil Pak Johan?"
"Bahas laporan."
"Serius?"
"Iya."
Rina menyipitkan mata.
"Kok kelihatannya Pak Johan sering memperhatikan kamu?"
Dewi tertawa kecil.
"Ah, kamu jangan macam-macam."
"Saya serius."
"Dia atasan saya. Wajar kalau memperhatikan pekerjaan bawahannya."
Rina mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah."
Dewi kembali bekerja.
Hari itu berlalu seperti biasa.
Namun, setelah jam makan siang, Johan kembali menghampiri meja Dewi.
"Sudah makan?"
Dewi mendongak.
"Sudah, Pak."
"Bagus."
Johan hendak pergi, tetapi kemudian berhenti.
"Besok jangan lupa. Kita berangkat pukul sembilan."
"Baik."
Johan pergi.
Rina yang duduk tidak jauh dari Dewi kembali menatapnya.
Dewi sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan sahabatnya.
"Jangan mulai."
Rina tertawa.
"Saya belum bicara."
"Tapi wajahmu sudah bicara."
Rina mendekat.
"Menurut saya Pak Johan suka sama kamu."
Dewi menggeleng.
"Mustahil."
"Kenapa mustahil?"
"Dia atasan saya."
"Memangnya atasan tidak boleh suka sama bawahan?"
Dewi tidak langsung menjawab.
Ia sebenarnya pernah menyadari bahwa Johan beberapa kali memberikan perhatian lebih kepadanya.
Namun Dewi selalu berusaha menganggapnya sebagai sikap profesional.
Ia tidak ingin terlalu percaya diri.
Apalagi Johan adalah atasannya.
Baginya, hubungan antara atasan dan bawahan harus tetap memiliki batas.
Sore menjelang ketika pekerjaan Dewi akhirnya selesai.
Ia mematikan komputer, mengambil tas, lalu berpamitan kepada beberapa rekan kerja.
Saat berjalan menuju lift, ia tidak sengaja berpapasan dengan Johan.
"Sudah mau pulang?"
"Iya, Pak."
"Hati-hati."
Dewi mengangguk.
"Terima kasih, Pak."
Pintu lift terbuka.
Dewi masuk.
Sebelum pintu tertutup, ia melihat Johan masih berdiri di lorong.
Dewi tersenyum sopan.
Kemudian pintu lift menutup.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat tersebut akan menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupannya.
---
Keesokan harinya, Dewi dan Johan berangkat bersama untuk menghadiri pertemuan dengan salah satu klien perusahaan.
Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan pekerjaan.
Namun, setelah urusan pekerjaan selesai, percakapan mereka perlahan berubah menjadi pembicaraan pribadi.
"Dewi, kamu tinggal dengan orang tua?"
"Iya, Pak."
"Sudah lama?"
"Sejak kecil."
"Berarti kamu dekat dengan keluarga?"
Dewi tersenyum.
"Sangat dekat."
"Kamu punya saudara?"
"Saya punya kakak perempuan."
"Lebih tua berapa tahun?"
"Dua tahun."
"Namanya?"
"Dina."
Johan mengangguk.
"Berarti kakakmu cukup dekat dengan kamu."
"Iya. Kami sering berbicara."
Johan tersenyum.
"Bagus."
Dewi kemudian balik bertanya.
"Kalau Bapak sendiri?"
"Saya?"
"Iya."
Johan terdiam sebentar.
"Saya juga punya keluarga."
Percakapan itu kemudian berlanjut cukup lama.
Dewi mulai menyadari bahwa Johan ternyata berbeda ketika tidak sedang membicarakan pekerjaan.
Ia lebih santai.
Lebih banyak tersenyum.
Dan lebih mudah diajak berbicara.
Hari itu menjadi pertama kalinya Dewi melihat Johan bukan hanya sebagai seorang atasan.
Ada sisi lain dari pria tersebut yang perlahan membuatnya penasaran.
Namun, Dewi masih belum menyadari bahwa perhatian Johan kepadanya akan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Beberapa minggu berikutnya, komunikasi mereka semakin sering.
Awalnya hanya mengenai pekerjaan.
Kemudian mulai membahas hal-hal sederhana.
Tentang makanan.
Tentang keluarga.
Tentang hobi.
Tentang kehidupan sehari-hari.
Dewi merasa nyaman berbicara dengan Johan.
Dan tanpa disadarinya, sebuah perasaan mulai tumbuh.
Perasaan yang kelak akan membuat Dewi memberikan seluruh kepercayaannya kepada seorang pria.
Pria yang suatu hari nanti justru akan menjadi sumber luka terbesar dalam hidupnya.
Saat itu, Dewi belum tahu.
Ia masih percaya bahwa kebahagiaan yang sedang tumbuh di hadapannya adalah awal dari kehidupan yang indah.
Ia belum tahu bahwa di balik sebuah cinta, terkadang ada rahasia yang sedang menunggu waktu untuk terbuka.