PENDEKAR PEDANG GENI
****************************
Pagi itu dipuncak Gunung Salak udara yang sangat dingin menusuk sampai ke tulang seorang pemuda gagah bertampang keren bertelanjang d**a sedang melatih olah kanuragan.
Ditangannya dia memegang sebilah pedang yang tidak terlalu panjang tapi terbuat dari kayu.
Pemuda tersebut melatih jurus-jurus pedang dengan berdiri diatas tonggak-tonggak runcing yang sengaja dibuat untuk melatih keseimbangan dan keringanan tubuh.
Melihat gerakan yang sangat cepat diatas tonggak tersebut nyatanya pemuda tersebut memiliki ilmu peringan tubuh yang sudah mencapai puncaknya.
Gerakan yang dilakukan oleh pemuda seperti menusuk, membabat dan memainkan pedang tersebut terlihat sangat indah dan sudah sangat sempurna.
Tiba-tiba dari arah belakang berkelebat suara desingan yang sangat cepat mengarah kebagian tubuh yang mematikan terdengar oleh sang pemuda yang memiliki pendengaran yang tajam dan sangat terlatih.
Dengan gerakan yang tidak terlihat oleh mata biasa pemuda tersebut menangkis serangan tersebut dengan pedang kayu ditangannya yang sudah dialiri tenaga dalam hingga pedang tersebut patah dua, sambil berguling menjauh pemuda tersebut menghantam balik ketempat asal desingan. Dengan menyalurkan tenaga dalam, dari telapak tangan pemuda tersebut menggebu sinar kelabu yang menghantarkan hawa sangat panas ditambah lemparan patahan pedang yang melesat dengan sangat cepat.
Sinar pukulan tersebut menghantam sebuah pohon sampai tumbang dan menghitam sampai ke akar-akarnya akibat pukulan ganas yang dilepaskan oleh sang pemuda.
Tiba-tiba dari arah pohon dibelakang pemuda terdengar suara cekikan, “bocah edan siapa yang kau hantam, apa kau sudah gila ya?” Kau mau jambu tidak? Sang pemuda garuk-garuk kepala sambil berkata, "eyang Bima mau..."ucap sang pemuda yang wajahnya masih sangat polos.
"Ini ambillah..."ucap sang eyang sambil melempar 4 buah jambu ke 4 titik yang sangat berbahaya pada tubuh Bima. Sang murid terlihat tenang saat melihat serangan ganas tersebut sambil melipatgandakan tenaga dalamnya dari tangan si pemuda menggebu angin yang sangat besar menahan serangan sang guru.
"Bagus Bima ajian menara badai menghantam langit sudah sempurna kau latih"ucap sang nenek.
Eyang kendil melompat turun dengan sangat ringan tanpa terdengar suara sama sekali. "Edan coba kau tangkis pukulan yang satu ini!"ucap si nenek.
Sang eyang merapal ajian dan terlihat tangan sang eyang mulai berubah kemerah-merahan dengan hawa yang sangat panas.
Bima kaget dengan pukulan yang akan dilepas gurunya. "Eyang kau mau membunuh murid sendiri!"ucap sang pemuda tidak menyangka bahwa sang guru akan mengeluarkan ilmu yang sangat ganas itu.
"Kalau kau tidak mau mati tahanlah pukulan aji Geni Wisesa ini"perintah sang guru.
Sang murid tidak menunggu lebih lama dengan melipatgandakan tenaga dalam sampai dititik maksimal dan mulutnya merapal ajian dari sekeliling pemuda muncul cahaya yang berwarna-warni berputar melindungi sang pemuda yang semakin lama terus melebar ajian tameng pelangi dewa yang dipergunakan sang pemuda untuk melindungi dirinya selain sebagai benteng pertahanan yang sangat kuat untuk bertahan dapat pula dipakai untuk penyerangan yang sangat ampuh karena sinar pelangi yang mengitari tubuh sang pemuda dapat dipakai untuk menyerang .
"Mulailah guru murid siap" sahut bima dengan memasang kuda-kuda yang kokoh laksana batu karang.
“sombongnya kowe bersiaplah Bima!”ucap sang guru.
Cahaya semerah api berkilauan melesat dari tangan sang guru. Saat pukulan sang guru bersentuhan dengan tameng pelangi dewa menghasilkan dentuman yang hebat, tanah yang bergetar, pohon- pohon yang terkena imbas pukulan tersebut langsung menghitam gosong.
Sang pemuda terlempar kebelakang sejauh 3 tombak d**a berdenyut sakit sang pemuda sadar bahwa dia terluka dalam langsung menyalurkan hawa sakti untuk meringankan sakit tersebut. Sedangkan kaki Sang Guru pun melesak sampai sebatas betis didalam tanah akibat bertemunya dua pukulan sakti yang sempat mengegerkan dunia persilatan puluhan tahun silam.
"Edan....edan...."maki si nenek lalu berkata kembali.
"Bima kau tidak apa-apa?"tanya Eyang Kendil. "Tidak eyang Bima tidak apa-apa" sahut bima.
“Bima kemarilah ada yang mau Eyang sampaikan kepadamu!”ucap sang nenek.
Bima membuka matanya dan berdiri setelah menyembuhkan rasa nyeri pada dadanya lalu menghampiri sang nenek yang sedang bersila dan duduk didepan sang nenek.
”ada apa eyang? badan eyang sakit mau dipijit?"ucap sang pemuda.
"Diam bima dan dengarkan perkataan eyang!"hardik sang guru.
Bima tergagap tidak menyangka akan didamprat seperti itu.
Tidak biasanya eyang seperti ini, batin sang pemuda.
Bima terdiam dan menyimak dengan serius perkataan sang nenek.
"Bima sudah berapa lama engkau ada disini dipuncak gunung salak berlatih dan menuntut ilmu?" tanya sang nenek.
"Mmmmmmh mungkin 10 tahun kali eyang"ucap si pemuda acuh tak acuh.
"Jawab yang benar! Bentak sang nenek buat apa eyang ajarkan kau membaca dan menulis kalau kau tidak bisa menghitung atau kepalamu mau eyang getok dengan kayu supaya lempeng, dasar gelo"ucap sang nenek marah.
"Sekitar 17 tahun eyang" kata bima.
"Eyang rasa sekarang sudah tiba saatnya untuk kau menentukan jalan hidupmu sendiri"ucap sang eyang perlahan.
"Apa maksudmu Eyang?"ucap sang pemuda dan dia merasakan perasaan yang tidak enak dan tanda tanya yang besar.
"Sudah waktunya untukmu untuk turun dari tempat ini menempuh jalan hidup dan garis tanganmu sendiri. Mempergunakan setiap ilmu yang sudah eyang wariskan kepadamu untuk dipakai dijalan kebenaran, membantu orang yang lemah dan menghancurkan keangkaramurkaan dimanapun engkau berada. Ilmu kepandaian yang kau punya saat ini tidak ada apa-apanya dengan kuasa Gusti Allah sebab itu jangan sombong dan takabur. Diatas langit masih ada langit, nanti kau akan bertemu dengan orang-orang yang lebih hebat dari padamu. Gunakan otakmu dalam memecahkan masalah, jangan biarkan masalah yang menentukan jalan pikiranmu"ucap sang eyang. "Tapi eyang bagaimana kalau nanti eyang sakit siapa yang akan merawat eyang?"ucap sang pemuda.
"Anak edan, eyang sudah tua jangan terlalu dipikirkan eyang masih sanggup untuk merawat diri eyang sendiri. Sudah saatnya engkau mengetahui jati dirimu yang sebenarnya"ucap sang eyang.
Jantung bima tiba-tiba berdetak dengan cepat, hal ini sudah sering bima tanyakan perihal orang tuanya tapi sang nenek selalu memarahinya dengan alasan yang tidak jelas.
*****
Sang eyang mulai menceritakan peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam dan semuanya masih jelas dalam ingatan sang eyang.
"17 tahun yang silam saat eyang memutuskan untuk meninggalkan dunia persilatan dan tidak ingin lagi campur tangan untuk setiap masalah didalamnya eyang melewati hutan bagaspati yang terkenal sangat angker dan dipenuhi oleh perampok. Sayup-sayup eyang mendengar bunyi suara orok ditengah hutan didalam semak-semak yang ditutup dengan sangat rapi dan eyang menemukanmu bima didalam keranjang tersebut..."ucap sang eyang menghentikan ceritanya. "Bagaimana dengan orang tua saya eyang?" Tanya bima. "Eyang tidak yakin bima tapi saat eyang menyelidiki sekitar tempat saat eyang menemukanmu. Eyang melihat pemandangan yang sangat menusuk hati dan mata eyang, seorang wanita muda telanjang tergantung diatas pohon tanpa sehelai kainpun menutupinya saat eyang menurunkan jenazah tersebut ada ciri-ciri pada tubuh perempuan tersebut ada tahi lalat dihidung bawah sebelah kanan. Perempuan malang itu berkulit putih, berwajah cantik dan melihat dari kondisinya sepertinya perempuan tersebut dirusak kehormatannya sebelum dibunuh dan setelah itu digantung dengan biadab"ucap sang eyang.
Tanpa terasa air mata jatuh dipipi bima.
"Apakah eyang tahu siapa jenazah tersebut? dan siapa yang melakukan kebiadaban tersebut?" Tanya Bima mencecar sang eyang.
"Yang Eyang tahu bahwa yang menguasai tempat itu adalah satu kelompok perompak yang sangat jahat yang dikenal dengan b******n Dari Timur terdiri dari 4 orang dengan pemimpinnya bernama Warok Ireng dan kambratnya seperti Warok Anom, Warok bajing dan Warok sanca. Kelompok perompak ini sangat jahat dan nyawa manusia tidak pernah ada artinya bagi mereka. Merampok, membunuh, memeras dan memperkosa setiap wanita baik anak gadis ataupun istri orang intinya apapun yang menghalangi mereka langsung mereka bunuh"ucap sang eyang. "Apakah eyang membiarkan saja hal tersebut terjadi?" Tanya Bima dalam hati dengan perasaan kecewa.
"Eyang mengerti apa yang ada dalam pikiranmu saat ini kau pasti bertanya kenapa eyang tidak turun tangan membasmi b******n-b******n tersebut bukan?"ucap sang eyang.
Bima mengangguk membenarkan sang eyang. "Eyang saat itu ingin sekali menghancurkan gerombolan tersebut tapi satu pikiran terlintas dibenak eyang bahwa orang yang pantas melakukannya adalah dirimu sendiri karena engkau berhak untuk itu"ucap sang eyang. "Apakah eyang tahu siapa nama wanita malang tersebut?"tanya sang pemuda.
"Dari penduduk yang membantu memakamkan wanita tersebut. Eyang tahu nama wanita malang tersebut. Ia bernama Harnum Suciwati dan dimakamkan di pekuburan Jati Asih. Mungkin engkau bisa ketempat pekuburan tersebut untuk mencari keterangan lebih jauh tentang wanita tersebut"ucap sang eyang.
Bima mengangguk.
"Bima ada yang eyang akan perlihatkan kepadamu"ucap sang eyang.
"Apa itu eyang?"ucap sang pemuda.
"Kau tunggulah disini"ucap sang eyang.
Nenek itu berdiri dan berkelebat ke pondokan yang terletak di puncak gunung salak.
"Bima balikkan badanmu!"ucap sang nenek.
Bima kaget dia tidak mendengar apapun mungkin karena terlalu larut dalam lamunannya.
Saat Bima berbalik dia melihat Sang Eyang memegang sesuatu ditangannya dan berbentuk seperti pedang.
Badan Pedang berwarna putih berkilauan dengan gagangnya berwarna keemasan.
Sang eyang terlihat angker dimata Bima....
Bersambung...