Hujan baru saja reda ketika asap pertama mengepul dari atap aula Perguruan Embun Pagi. Pemuda itu—yang kelak tak akan punya nama untuk diberikan pada siapa pun—sedang menimba air di sumur belakang ketika ia mendengar suara yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya: gemerincing pedang yang diayunkan dengan niat membunuh, bukan untuk berlatih.
Ia menjatuhkan ember. Air tumpah membasahi kakinya, dingin menusuk, tetapi yang lebih dingin adalah firasat yang menjalar di tengkuknya. Dari celah pagar bambu, ia melihat puluhan bayangan berjubah hitam bergerak rapi di antara bangunan padepokan. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak menuntut apa pun. Mereka hanya membunuh—tenang, terlatih, dan tanpa ampun.
"Guru…" bisiknya.
Gurunya, Pendekar Hong Liu yang rambutnya telah memutih namun punggungnya masih setegak tombak, berdiri di tengah halaman utama. Di sekelilingnya, murid-murid yang lebih senior berjatuhan satu per satu. Darah membasahi tanah yang baru saja diguyur hujan, mengalir di antara batu-batu seperti benang merah yang dirajut maut. Pemuda itu ingin berlari ke sana, ingin mengangkat pedang dan berdiri di samping gurunya. Tetapi tangan gurunya, walau tak menoleh, seakan memberi perintah: jangan.
Pendekar Hong Liu masih sanggup menahan empat, lima penyerang sekaligus. Pedangnya, Hujan Perak, berkelebat menjadi tirai cahaya. Setiap tebasan menumbangkan satu lawan. Tetapi musuh terlalu banyak, dan ada satu di antara mereka—seorang berjubah hitam dengan topeng perunggu menutupi separuh wajah—yang bergerak berbeda dari yang lain. Lebih lambat. Lebih tenang. Lebih mematikan.
Pemuda itu menahan napas saat sosok bertopeng perunggu itu melangkah maju. Pedang gurunya beradu dengan pedang sang penyerang, dan untuk pertama kalinya seumur hidup pemuda itu melihat Pendekar Hong Liu terhuyung. Bunga api memercik. Dentingan logam menggema sampai ke tulang.
"Embun Pagi sudah selesai," kata sosok bertopeng itu, suaranya datar seperti membaca daftar belanja. "Tak akan ada yang mengingatnya. Tak akan ada yang mengingatmu."
"Pengkhianat tetaplah pengkhianat, betapapun kau menutupi wajahmu," balas Pendekar Hong Liu, terengah. "Aku mengenalmu. Aku tahu siapa yang menyuruhmu. Dan dia tahu—aku adalah satu dari sedikit yang masih ingat wajahnya yang dulu."
Sosok itu diam sejenak. Lalu pedangnya bergerak—satu tusukan lurus yang tak mungkin dihindari oleh tubuh setua itu.
Pemuda itu menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia melihat gurunya—satu-satunya keluarga yang pernah ia kenal, lelaki yang memungutnya dari pinggir jalan ketika ia masih bayi dan membesarkannya tanpa pernah memberinya nama, karena katanya "nama harus kau dapatkan sendiri dengan jasamu"—jatuh berlutut, lalu rebah ke tanah.
Api kini telah melahap separuh padepokan. Panasnya menampar wajah pemuda itu, tetapi ia tak bisa bergerak. Ia hanya menatap, membeku, sementara dunia yang ia kenal terbakar menjadi abu di hadapannya. Aula tempat ia belajar membaca. Halaman tempat ia berlatih kuda-kuda hingga lututnya berdarah. Pohon tua tempat gurunya biasa duduk minum teh sambil bercerita tentang kehormatan. Semua menjadi bara.
Para penyerang mulai bergerak menyisir, memastikan tak ada yang tersisa. Pemuda itu sadar—jika ia tinggal, ia akan menjadi mayat berikutnya. Tetapi kakinya menolak melarikan diri. Bagaimana mungkin ia lari, sementara guru dan saudara-saudaranya membusuk dalam api?
Lalu ia mendengar suara gurunya, lirih, di dalam kepalanya. Bukan suara hantu, melainkan kenangan: "Pendekar sejati bukan yang mati paling gagah, melainkan yang hidup paling benar. Bertahan hidup juga butuh keberanian, Nak."
Pemuda itu menggigit bibir hingga berdarah. Lalu, dengan air mata yang mengalir deras, ia mundur perlahan ke dalam bayang-bayang. Setiap langkah terasa seperti pengkhianatan. Tetapi ia berjanji—pada gurunya, pada api, pada langit yang membara—bahwa ia tidak lari untuk menyelamatkan diri. Ia lari untuk membalas.
Ia berlari masuk ke hutan di belakang padepokan, menembus semak, jatuh, bangkit, jatuh lagi. Di belakangnya, langit malam berwarna jingga oleh nyala api Embun Pagi. Dan di dalam dadanya, sesuatu mengeras seperti besi yang ditempa di air dingin, membungkus rapat anak kecil yang dulu pernah tertawa di halaman padepokan itu.
Malam itu, sebuah perguruan musnah. Dan seorang pendekar—tanpa nama, tanpa rumah, tanpa apa pun selain dendam—lahir dari abunya.