Aku tinggal di rumah di rumah kakek yang sudah meninggal, karen ibu dan ayah telah bercerai.
Namun tiba-tiba mendengar kabar bahwa orang tua ku kena musibah dan meninggal, akupun pergi ke makam mereka,
lihat aku nyasar dan tak tahu harus pergi kemana, dan anehnya begitu aku sadar sudah berada di tengah hutan.
“Ini sudah larut malam, semoga nyasar nya gak terlalu dalam” ucap ku menghibur diri namun air mata sudah menjadi bukti ketakutan ku,
“Wah wah, bagaimana mungkin ada anak manusia, lagi ~” ucap seorang wanita yang muncul dari balik kegelapan pohon,
Senyumnya begitu menakutkan, tatapan tatapan menatap ke arahku, di sisi kiri dan kanan keoalanya, bajunya indah namun di sisi lain menakutkan, kedua, berbalut selendang manusia merah yang membelah malam, aku sadar kalau wanita itu berita terbaru.
“Hmp ~” ucap nya lagi bergumam.
Dan tiba tiba angin datang bersembus, namun terasa begitu menyakitkan saat ttangan wanita itu ikut menyayat lenganku,
Akupun terjatuh karena menahan sakit yang teramat di tangan kiriku, tubuhku pegang tanah kasar,
“Apakah aku akan mati?” bisik ku perlahan sebelum benar-benar hilang kesadaran, terasa darah segar mengalir dari tangan kiriku membasahi rumput dan tanah hutan lalu akupun pingsan.
Perlahan aku membuka mataku dan mendapati diriku ada di atas kasur king size, dengan tangan kiriku yang sudah di perban.
“Eh ini dimana?” ucap ku bingung sampai mataku tertuju pada pria dengan wajah tampan dan rambut panjangnya,
“Kau berada di kamarku” ucap pria itu dengan tubuhnya yang tinggi, baju kimono hitam dan nuansa merah,
anehnya di kening pria terhias (tertanam) permata dua di kiri dan dua di kanan, di tengahnya ada permata tidak berbentuk bulat seperti di kiri kanannya, yang di tengah berbentuk air mata.
“Ma-maaf, bi-bisakah aku pulang deh sekarang?” saat aku yakin pria di depan ku pun bukan manusia, ketakutan ku semakin menjadi,
“Tenanglah aku takkan melukaimu, jadi kau bisa tenang, aku mengatur” ucap pria itu dengan nada suara yang ramah, dia mengucapkannya pun sambil tersenyum lembut.
“Namaku Zora, siapa namamu?” ucap pria itu mengelus kepalaku lembut, di sanalah aku yakin bahwa pria itu memang bukan manusia namun dia merekomendasikan jahat seperti wanita tadi yang melukaiku.
“Aku, Mine” ucapku takut malu,
“Raja, sudah waktunya” tiba tiba entah dari mana, seorang pria lain dengan wajah tanpa ekspresi, menggunakan kata mata tampak seperti manusia, tetapi aku aku apakah dia manusia sungguhan atau bukan.
Yoza pelit! ucap Zora yang di panggil sebagai Raja, aku terlalu takut untuk bertanya mengapa Zora di panggil sebagai Raja, dan siapa pria itu dan mengapa aku di bawa ke sini.
"RAJA!"
“Iya” ucap Zora akhirnya menurut pada pria yang bernama Yoza.
Venus! ucap Zora lagi dan muncullah wanita anggun dan menawan dengan suaranya yang lembut dia menjawab.
“Iya, Raja” ucapnya.
“Venus tolong beri Mine pakaian dan jaga dia sementara aku pergi” ucap Raja, memerintah.
Ucap wanita “Baik” yang bernama Venus itu, sama seperti Yoza mereka sama tak memiliki banyak berekspresi.
“RAJA AYO!” bentak Yoza akhirnya Kehilangan kesabaran,
“Iya, iya. Yoza berisik ”ucap Zora akhirnya menurut dan melangkah pergi dengan enggannya.
“CEPATLAH!”
Namun aneh, saat Yoza dan Venus saling berpapasan, seperti ada kecanggungan di sana dan hanya aku yang bisa melihat itu,
“Tuan muda Mine, harap segera membersihkan badan” ucap Venus sangat sopan,
“Ba-baik” ucap ku.
“Namaku Venus”
“No-na Venus” ucapku,
“Venus hati-hati, nanti Yoza cemburu” ucap Zora menggoga Yoza dengan ucapannya.
"RAJA!" ucap Yoza kesal, lalu mereka pun pergi sampai malam menjemput,
Waktu pun berganti malam, akhirnya Zora dan Yoza pun kembali.
Venus, Yoza. Terima kasih sekarang kembalilah "ucap Zora tersenyum melihat Mine yang sudah tertidur pulas,
Baik "ucap menghilang secara langsung seolah mereka tak pernah ada di ruangan itu.
"Ah, apa aku terlalu larut kembali" namun Zora tetap senang karena bisa memandangi wajah Mine yang manis,
Tanpa terasa pagi menjelang dan aku mulai membuka mataku perlahan,
"Engh, sudah pagi ya?" gumam ku namun tiba tiba aku terkejut tanpa sadar berteriak.
"AAAAAAA!!!" dan ternyata teriakan ku membangunkan Zora yang tertidur di samping ku, kami tidur seranjang.
"Ada apa mine?" ucap Zora bangun dengan teriakan membuat moodnya sedikit buruk.
"Kenapa Zora tidur seranjang denganku!" ucap ku menarik selimut dan mencoba menutupi tubuhku yang ternyata tak menggunakan pakaian, begitu pula Zora.
"Kalau aku tak di sampingmu, bagaimana aku menjagamu?" ucap Zora menyentuh kepalaku lembut untuk sesaat aku terpesona dengan ke tampanannya.
"Menjaga Mine?"
"RAJA JANGAN PERCAYA PADA MANUSIA ITU! RAJA INGAT APA YANG DILAKUKAN MANUSIA DULU PADAMU!?" ucap seorang wanita meninggikan suaranya, dia masuk tanpa di undang dan ternyata wanita itulah yang kemarin melukai tanganku, bahkan sakit nya pun masih terasa, akupun menjadi ketakutan.
"T-ara, bila kau tidak menutup mulutmu sekarang, maka bersiaplah menghadapi hukumanku!" ancam Zora melindungi ku dengan punggungnya,
"Pergi!" perintah Zora
"Baik Raja" ucap wanita itu bahkan tanpa perlawanan, apakah Zora itu sehebat itu sampai mampu menakuti wanita kejam yang telah menyakitimu kemarin?
Akibat peristiwa itu aku demam dan tak sadarkan diri untuk beberapa waktu, Venus akhirnya kembali bertugas menjagaku yang sakit di saat Zora tetap harus melakukan tugasnya bersama Yoza namun semakin hati mood Zora semakin memburuk karena keadaan ku tak juga membaik.
"Venus bagaimana keadaannya?" ucap Zora yang kembali ke kamar,
"Maafkan saya Raja, panasnya memang sudah turun tetapi tuan muda Mine belum juga tersadar" ucap Venus takut di hukum oleh Zora.
"KALIAN BERDUA TINGGALKAN RUANGAN INI!" ucap Zora akhirnya kekesalannya memuncak.
"Baik Raja" ucap keduanya,
"Yoza bawa T-ara ke sini, ikat dia!" ucap Zora dingin.
"Baik"
Tanpa menunggu lama Yoza sudah kembali ke ruangan sang Raja dengan membawa wanita itu dengan kedua tangan dan kaki di ikat mulut pun di tutup dengan kain.
"Bunuh!" ucap Zora, hanya kata itu dan satu nyawa menghilang di tangan Yoza.
"Empppp !!!!!" T-ara mencoba memberontak,
"Baik" ucap Yoza pun membunuh T-ara tepat di depan Zora,
"Mutiara hitamnya!" ucap Zora, every silumat yang memiliki jiwa yang di sebut mutiara hitam, bila maka mutiara itu akan keluar dari mulut sang siluman, semakin tinggi kekuatan siluman itu maka lebih ajaib efek dari mutiara hitamnya.
"Ini, Raja" ucap Yoza,
Dan mutiara itu di jadikan mata kalung untuk Mine,
"Kau boleh mengambil darahnya" ucap Zora, karena Yoza merupakan siluman Vampir.
Baik "ucap Yoza bawa tubuh T-ara ke ruangannya untuk ambil darahnya.
Bersambung.