Angin malam di Jakarta Barat menyapa kulitnya, membawa serta aroma karat dan lembap tanah basah. Sarah berhenti di depan gerbang berkarat, paku-paku tajamnya mengarah ke langit, seolah mengusir siapa pun yang berani mendekat.
Bangunan di baliknya, sebuah rumah tua berarsitektur kolonial yang terlupakan, berdiri menjulang dengan angkuh. Jendela-jendela kosongnya menatapnya seperti sepasang mata buta, mencerminkan kegelapan abadi di dalamnya.
"Jadi ini dia," bisiknya, suaranya pelan, bercampur dengan desir dedaunan kering yang dihembus angin. Rambut hitamnya yang panjang berayun lembut di bahu telanjangnya, menari-nari di udara dingin yang menusuk.
Dia menggeser gerbang yang berderit nyaring, menciptakan melodi sumbang yang menusuk telinga. Suara itu seakan menarik perhatian seluruh sudut kegelapan, mengumumkan kedatangannya.
Sarah melangkah masuk, kakinya menjejak ilalang kering yang tumbuh setinggi lutut, menerabas jalur setapak yang hampir tidak terlihat.
Setiap langkahnya adalah deklarasi. Bebas. Setelah bertahun-tahun terkungkung di panti asuhan, setiap gerak tubuhnya kini adalah miliknya sendiri.
"Mereka bilang kau berhantu," dia berujar lagi, tatapan matanya menyisir fasad rumah. Cat putihnya telah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan lapisan batu bata yang rapuh. "Mari kita lihat, apakah kau seberani cerita-cerita itu."
Kemeja rajut tanpa lengan yang memeluk tubuhnya hanya menutupi dadanya, berhenti tepat di atas pusarnya yang kecil dan sempurna.
Bagian perutnya yang rata terentang mulus, memantulkan sedikit cahaya rembulan yang samar. Celana pendek denimnya yang sobek-sobek memamerkan pahanya yang jenjang dan seputih pualam.
Dia naik tangga teras yang beberapa anak tangganya sudah retak, mencium aroma jamur dan debu yang kental. Pintu kayu besar di depannya setengah terbuka, menganga seperti mulut goa.
"Selamat malam," sapanya, suaranya kini lebih lantang, penuh nada tantangan. "Aku datang berkunjung."
Dia mendorong pintu itu lebih lebar. Engselnya menggerutu, berdecit panjang seolah menolak kedatangannya.
Kegelapan di dalam menyambutnya, pekat dan dingin. Udara di dalam rumah itu terasa lebih padat, lebih tua dari usia bangunan itu sendiri.
"Dingin," katanya, mengusap lengannya sendiri. Sensasi geli menjalari kulitnya, bukan hanya karena dingin, melainkan karena gejolak gairah yang mulai membuncah di dalam dirinya.
Ini adalah kebebasan yang ia cari. Sebuah taman bermain baru. "Apakah ini caramu menyambut tamu?"
Sarah melangkah masuk, membiarkan pintu itu tertutup perlahan di belakangnya dengan suara keras yang menghantam keheningan.
Bumm!
Dia berada di dalam. Sepenuhnya.
Ruang tamu yang luas terhampar di depannya, diselimuti bayangan. Perabot-perabot tua yang diselubungi kain putih menyerupai hantu-hantu yang membeku dalam waktu.
Debu tebal menutupi segalanya, mengkilap samar di bawah sinar senter ponselnya. "Lumayan," Sarah berujar, suaranya bergema di ruangan itu. "Tapi bisa lebih menyeramkan."
Dia berjalan pelan, tumitnya berdecit di atas lantai parket yang lapuk. Setiap suaranya seperti mengundang, memanggil sesuatu dari relung-relung gelap.
"Kau tahu, aku selalu penasaran," dia meneruskan, menekan tombol pada ponselnya, mencari penerangan yang lebih baik. Cahaya itu menyorot sudut-sudut ruangan, menyibak sarang laba-laba dan lapisan debu yang tebal. "Apakah kalian benar-benar ada?"
Dia berputar, membiarkan tubuhnya berinteraksi dengan hawa dingin yang menyelimuti. Punggungnya merinding. Bukan takut, tapi terangsang.
Sensasi aneh menjalar dari punggungnya, turun ke perut, dan berpusar di antara pangkal pahanya. Perutnya berkedut.
"Aku bisa merasakan kalian," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, lebih kepada kesadaran barunya akan tubuhnya sendiri. "Atau mungkin hanya imajinasiku?"
Dia mendekati sebuah cermin besar berbingkai ukiran yang tertutup kain putih. Tangannya terangkat, menarik kain itu. Cermin itu memantulkan siluetnya yang samar, namun cukup jelas untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Lihat aku," dia berujar pada bayangannya sendiri, atau mungkin pada mata yang tak terlihat yang mungkin mengawasinya dari kegelapan. "Aku di sini. Sendirian. Tidak ada yang melarangku."
Dia memiringkan kepalanya, senyum tipis terukir di bibirnya. Matanya berkelana ke bagian tubuhnya yang terbuka. Perutnya, pusarnya. Paha mulusnya. Dia menggeser tangannya perlahan, menyentuh tepi celana pendeknya, jemarinya membelai kulit di sana.
"Apakah ini cukup?" dia bertanya, suaranya kini lebih rendah, lebih sensual. "Apakah ini yang kalian cari?"
Udara di sekitarnya terasa menipis. Dingin semakin menusuk, tetapi kali ini, dingin itu terasa berbeda. Dingin yang memeluk, dingin yang menyentuh. Sebuah sensasi halus menyapu lehernya, seolah ada napas tak terlihat yang berembus di sana.
"Oh," Sarah mendesah pelan, matanya terpejam sejenak, menikmati sensasi itu. "Itu kau?"
Sebuah bisikan samar, seolah berasal dari dinding-dinding tua, menyelinap ke telinganya. Bahasa yang tidak ia mengerti, namun nadanya mengisyaratkan ketertarikan, sebuah undangan.
"Kau menginginkanku?" dia bertanya, membuka matanya, menatap lurus ke dalam kegelapan di balik cermin. "Sama seperti aku menginginkan kebebasan ini. Kebebasan untuk merasakan."
Dia mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh pusarnya, memutar-mutar perlahan. Sebuah sentuhan yang ringan, namun penuh arti. Gerakannya lambat, disengaja, seolah menari untuk penonton yang tak terlihat.
"Bukankah ini indah?" Sarah melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, namun bukan karena takut. "Tubuh ini. Sensasi ini. Kau juga bisa merasakannya, bukan?"
Udara di sekitarnya berputar, menjadi pusaran dingin yang melingkupinya. Rambutnya terangkat sedikit, seolah diusap oleh tangan tak kasat mata. Jantungnya berdebar kencang, memompa darah panas ke seluruh pembuluh darahnya.
"Ya," bisik suara itu lagi, kali ini lebih dekat, lebih jelas, seolah langsung di telinganya. Dinginnya membuat merinding, namun Sarah tidak mundur.
Justru, dia memiringkan kepalanya, mengundang sentuhan lebih lanjut. "Hangat sekali."
"Aku memang hangat," dia menjawab, bibirnya menyunggingkan senyum menggoda. Tangannya kini bergeser lebih rendah, melintasi tepi celana pendeknya, mendekati area terlarang. "Kau mau merasakan seberapa hangat?"
Bayangan di sudut ruangan terasa bergerak. Bukan bayangan fisik, melainkan pergeseran energi, sebuah kehadiran yang menguat.
Tekanan di sekitarnya meningkat, udara terasa tebal, beraroma tanah basah dan sesuatu yang manis, memabukkan.
"Aku bisa memberimu semua yang kau inginkan," suara itu berbisik lagi, lebih menggoda, lebih mendesak. "Kebebasan. Kenikmatan. Semua."
"Apa balasan yang kau inginkan?" Sarah bertanya, matanya menyipit, mengamati kegelapan di sekelilingnya.
Meskipun ia tahu tidak akan ada jawaban yang terlihat. "Kisah ini di forum tidak menyebutkan perjanjian."
Terdengar seperti desiran, seperti hela napas yang tertahan, atau mungkin hanya embusan angin yang kebetulan lewat.
Tapi di telinga Sarah, itu adalah tawa. Tawa yang dalam, kuno, dan penuh niat.
"Balasan?" bisikan itu datang lagi, seolah melingkari tubuhnya, menyentuh kulitnya. "Kau sudah memberikannya. Keinginanmu. Kebebasanmu yang membara."
Sarah merasakan sesuatu seperti jari-jari dingin menyentuh bagian belakang pahanya, naik perlahan. Sebuah sentuhan yang tidak kasat mata, namun begitu nyata hingga Sarah tersentak. Dia memutar tubuhnya, namun tidak ada apa-apa di sana selain kegelapan.
"Kau suka bermain-main," kata Sarah. Suaranya sedikit bergetar, lebih karena gairah yang melonjak daripada rasa takut. "Aku juga."
Sarah mengangkat tangannya lagi, kali ini menyentuh kulit perutnya, perlahan melingkari pusarnya. Setiap sentuhannya disengaja, untuk memancing, untuk menggoda.
"Ini bukan sekadar permainan," suara itu mengoreksi, kini terdengar lebih dekat, seolah melingkari dirinya. "Ini adalah hasrat. Hasratmu. Hasratku."
Sarah menelan ludah, tenggorokannya kering. Tubuhnya bereaksi, kulitnya merinding, namun bukan karena ketakutan.
Sensasi yang menjalar di dalam dirinya, di antara kedua pahanya, semakin kuat. Ini adalah hal yang baru, sebuah pengalaman yang belum pernah ia bayangkan.
"Bagaimana aku tahu kau nyata?" Sarah menantang, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Bukan sekadar ilusi."
Terdengar hening sesaat, lalu cahaya rembulan yang masuk melalui jendela tiba-tiba meredup, seolah tertelan oleh kegelapan yang lebih pekat.
Bayangan-bayangan di ruangan itu memanjang, menari-nari seperti makhluk hidup. Udara menjadi lebih dingin, dingin yang membakar, dan aroma bunga melati yang terlalu kuat memenuhi indra penciumannya, memabukkan.
"Kau akan merasakannya," bisikan itu berjanji, kini tidak lagi seperti bisikan, melainkan seperti gema dari setiap sudut ruangan, menembus otaknya.
"Setiap sentuhan. Setiap napas. Sampai kau tidak bisa lagi membedakan antara mimpi dan kenyataan."
Sebuah sensasi lain, lebih kuat dari sebelumnya, menyentuh perutnya, melingkari pusarnya, seolah jari-jari tak kasat mata itu kini nyata, menyentuh dagingnya. Dinginnya menusuk, namun di bawahnya ada kehangatan aneh yang mulai berdenyut.
"Durja," bisikan itu memperkenalkan diri, mengisi seluruh ruang, mengisi benak Sarah.
Sebuah nama yang berat, kuno, dan penuh janji. "Aku akan tunjukkan padamu kebebasan yang sesungguhnya."
Sarah tersentak, nafasnya tercekat. Nama itu, Durja. Itu nama yang ia baca di forum. Siluman yang bersemayam di rumah ini.
Matanya terpejam, menikmati sensasi sentuhan yang kini terasa nyata di kulitnya, sebuah sentuhan yang bukan miliknya sendiri. Sebuah sentuhan yang asing, namun begitu memikat.
"Tunjukkan," Sarah menyerah, suaranya serak. Seluruh tubuhnya tegang, menanti, memohon. "Tunjukkan padaku."
Dan kegelapan di sekelilingnya terasa semakin dalam, semakin memeluk, seolah siap menelannya utuh. Aroma melati semakin pekat, memabukkan indranya.
Dia berdiri di tengah ruangan yang diselimuti bayangan, tubuhnya berbalut sweater crop top dan celana pendek, sendirian, namun tidak sepenuhnya sendiri.
Dia telah mengundang. Dan Durja telah menjawab. Kegelapan dan hasrat kini telah menjadi satu. Dirinya, sepenuhnya di antara keduanya.
"Ya," Durja berbisik, bisikan itu seolah mengalir ke dalam dirinya, menyentuh setiap sarafnya. "Rasakan ini, gadis kecil. Rasakan bagaimana kebebasan yang sesungguhnya memelukmu."
Dan Sarah, yang telah lama mendamba kebebasan, kini merasa terjerat, bukan oleh rantai, melainkan oleh janji kenikmatan yang belum pernah ia alami.
Sensasi sentuhan itu kini menjalar ke pinggulnya, ke pangkal pahanya, mengundang, membujuk, merayunya ke dalam jurang yang gelap dan sensual.
Dia tidak tahu apakah dia takut, atau apakah dia hanya ingin lebih. Mungkin keduanya. Ini adalah kebebasan yang ia pilih. Bebas untuk merasakan, bebas untuk terbakar.
Dan Durja akan menjadi api yang menyulutnya. Kini, permainan itu telah dimulai. Dan Sarah, dengan segala kenekatannya, siap bermain.